A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Penyakit jantung bukan lagi hanya masalah orang tua atau kalangan tertentu saja. Data terbaru dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi penyakit jantung secara nasional sebesar 0,85%, dengan Daerah Istimewa Yogyakarta menempati posisi tertinggi di angka 1,67% (Kementerian Kesehatan RI, 2023). Yang pasti, beban finansial akibat penyakit kardiovaskular terus meningkat: pada 2023, biaya penyakit jantung dan stroke dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menembus Rp22,8 triliun—lebih dari separuh total anggaran penyakit katastropik (Kementerian Kesehatan RI, 2024).

Di tingkat global, jantung iskemik bertanggung jawab atas sekitar 16% seluruh kematian di dunia. Di Indonesia, berdasarkan data Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME), stroke menjadi penyebab kematian tertinggi (19,42%), disusul jantung iskemik atau serangan jantung (14,38%) (Kementerian Kesehatan RI, 2023). Secara total, kematian akibat penyakit kardiovaskular di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 651.000 jiwa per tahun (IHME, 2019).

Pertanyaannya: apakah angka yang besar ini tidak bisa dikurangi? Sebagian besar jawabannya ada pada pengenalan gejala lebih awal dan tindakan yang tepat waktu.

Mengapa Kita Sering Terlambat Menyadari?

Salah satu hambatan terbesar dalam penanganan serangan jantung adalah keterlambatan pasien dalam mencari pertolongan medis. Sebuah studi lintas-sektional di Swedia menemukan bahwa hanya satu dari lima pasien dengan ST-elevation myocardial infarction (STEMI) yang langsung merespons gejalanya dalam 20 menit pertama dan memanggil ambulans (Ericsson et al., 2022). Faktor utama keterlambatan ini adalah salah menginterpretasikan gejala—pasien tidak mengira bahwa apa yang mereka rasakan adalah masalah jantung.

Hal ini sangat relevan untuk kita di Indonesia, mengingat tingkat literasi kesehatan masyarakat yang masih bervariasi, serta pola pikir “menunggu dan melihat dulu” sebelum ke fasilitas kesehatan. Padahal, pada serangan jantung, waktu adalah nyawa secara harfiah: semakin lama otot jantung tidak mendapat aliran darah, semakin luas kerusakan yang terjadi.

Tiga Kondisi Jantung yang Paling Sering Menyebabkan Gejala

Sebelum membahas gejala satu per satu, penting untuk memahami bahwa gejala-gejala yang akan disebutkan bisa berasal dari tiga kondisi utama yang berbeda.

Serangan jantung (acute myocardial infarction/AMI) terjadi ketika pembuluh darah koroner tersumbat, sehingga otot jantung kekurangan oksigen. Ini adalah kondisi darurat yang memerlukan penanganan segera.

Gagal jantung (heart failure) adalah kondisi jantung yang tidak mampu memompa darah secara efektif, sehingga terjadi penumpukan cairan di paru-paru dan bagian tubuh lain. Gejalanya berkembang lebih bertahap dibandingkan serangan jantung.

Aritmia adalah gangguan irama listrik jantung yang dapat menyebabkan jantung berdenyut terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak teratur. Beberapa jenis aritmia bersifat jinak, namun ada pula yang dapat berujung pada kematian mendadak.

Gejala-Gejala Masalah Jantung yang Perlu Diwaspadai

1. Rasa Tidak Nyaman di Dada

Ini adalah gejala yang paling dikenal, dan dengan alasan yang kuat. Nyeri atau rasa tidak nyaman di dada adalah gejala tersering pada serangan jantung. Namun, pengalaman setiap orang bisa berbeda: sebagian merasakannya sebagai tekanan berat di dada seolah ada sesuatu yang menindih, sebagian lainnya merasakan rasa terbakar, kram, atau sekadar rasa penuh yang tidak nyaman. Perlu diingat: tidak semua serangan jantung disertai nyeri dada yang khas, dan tidak semua nyeri dada berasal dari jantung.

2. Sesak Napas atau Napas Pendek

Dyspnea—istilah medis untuk sesak napas—adalah salah satu gejala yang bisa muncul baik pada serangan jantung maupun gagal jantung. Pada gagal jantung, sesak napas biasanya memburuk saat berbaring (orthopnea) atau muncul tiba-tiba di malam hari (paroxysmal nocturnal dyspnea). Waspada jika Anda merasakan sesak napas yang tidak proporsional dengan aktivitas—misalnya kehabisan napas hanya karena berjalan ke kamar mandi atau menaiki beberapa anak tangga.

3. Kelelahan yang Tidak Biasa

Kelelahan (fatigue) yang terkait masalah jantung memiliki karakter khas: berat, tidak proporsional dengan aktivitas, dan tidak membaik dengan istirahat. Kelelahan adalah gejala prodromal yang cukup sering dilaporkan, terutama pada perempuan. Sebuah tinjauan sistematis terbaru yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa kelelahan tidak biasa adalah salah satu gejala prodromal AMI yang paling umum dialami perempuan dalam hari-hari hingga minggu-minggu sebelum serangan terjadi (Giordano et al., 2025).

4. Nyeri yang Menjalar ke Bagian Tubuh Lain

Nyeri akibat serangan jantung tidak selalu terpusat di dada. Nyeri ini bisa menjalar ke bahu, lengan (terutama lengan kiri pada laki-laki), punggung, leher, rahang, atau perut bagian atas. Pada perempuan, nyeri lebih sering dirasakan pada kedua lengan, punggung, dan rahang dibandingkan laki-laki (Schulte & Mayrovitz, 2023). Pola ini berbeda dari gambaran “klasik” yang selama ini lebih banyak dikomunikasikan kepada masyarakat umum.

5. Pusing, Kepala Terasa Melayang, atau Pingsan

Rasa pusing yang tiba-tiba atau kehilangan kesadaran bisa menjadi tanda bahwa jantung tidak memompa darah dengan cukup baik ke otak. Beberapa aritmia seperti ventricular tachycardia atau fibrilasi ventrikel dapat menyebabkan sinkop (pingsan) mendadak. Bahkan aritmia yang tampak ringan seperti fibrilasi atrium (atrial fibrillation/AF), bila dibiarkan, meningkatkan risiko stroke lima kali lipat (Bragg et al., 2024).

6. Jantung Berdebar atau Irama Tidak Teratur

Merasakan jantung berdebar kencang, “melewat” satu denyut, atau berdetak tidak beraturan perlu diwaspadai, terutama jika disertai pusing, sesak napas, atau rasa lemah. Ini adalah gambaran klasik dari aritmia. Menurut Bragg et al. (2024), aritmia ventrikel tetap menjadi penyebab utama henti jantung mendadak (sudden cardiac arrest) yang dapat berujung pada kematian mendadak bila tidak ditangani. Dokter perlu diberitahu meskipun debar jantung hanya terasa sesekali dan singkat.

7. Batuk Menetap atau Mengi

Batuk kronis atau suara mengi yang tidak dapat dijelaskan sebagai infeksi saluran napas bisa jadi merupakan tanda gagal jantung. Ketika jantung tidak memompa secara efisien, cairan bisa menumpuk di paru-paru—suatu kondisi yang disebut pulmonary edema—sehingga memicu batuk. Pada kasus berat, pasien dapat batuk disertai dahak berbusa atau sedikit bernoda darah.

8. Pembengkakan Tungkai, Pergelangan Kaki, atau Perut

Gagal jantung menyebabkan tubuh menahan cairan secara berlebihan. Akibatnya, pembengkakan (edema) paling sering terlihat di kaki, pergelangan kaki, dan betis. Penderita juga bisa mengalami penambahan berat badan secara tiba-tiba dalam beberapa hari tanpa perubahan pola makan. Pada kondisi yang lebih lanjut, perut pun bisa tampak membesar akibat penumpukan cairan (ascites).

9. Mual, Rasa Tidak Nyaman di Perut, atau Hilang Nafsu Makan

Gejala saluran cerna ini kurang umum dikaitkan dengan masalah jantung, namun cukup sering terjadi terutama pada perempuan. Pada serangan jantung inferior (yang melibatkan dinding bawah jantung), gejala seperti mual dan muntah bisa lebih menonjol karena kedekatan anatomis dengan nervus vagus.

10. Berkeringat Dingin Secara Tiba-Tiba

Keringat dingin yang muncul tanpa aktivitas fisik atau suhu panas adalah salah satu tanda yang cukup khas dari serangan jantung. Berbeda dengan keringat biasa, keringat dingin ini muncul tiba-tiba dan tidak proporsional—Anda bisa beristirahat santai namun tiba-tiba basah kuyup. Mekanismenya berkaitan dengan aktivasi sistem saraf simpatis sebagai respons tubuh terhadap iskemia miokard.

11. Kelemahan Mendadak

Kelemahan otot yang parah dan tiba-tiba—seperti tidak sanggup menggenggam benda, atau kesulitan mengangkat lengan—bisa menjadi tanda serangan jantung yang akan segera terjadi atau sedang berlangsung. Gejala ini sering diabaikan karena dianggap sebagai kelelahan biasa.

12. Rasa Cemas yang Berlebihan atau Tidak Biasa

Perasaan cemas yang intens tanpa pemicu yang jelas, atau perasaan “akan terjadi sesuatu yang buruk,” kadang mendahului atau menyertai serangan jantung. Meski tampak psikologis, ini adalah respons nyata tubuh terhadap kondisi kardiovaskular yang memburuk.

Perbedaan Gejala pada Perempuan dan Laki-Laki

Persepsi umum bahwa penyakit jantung adalah “penyakit laki-laki” sudah lama terbantahkan oleh bukti ilmiah. Di Indonesia, data Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi penyakit jantung koroner lebih tinggi pada perempuan (1,6%) dibandingkan laki-laki (1,3%) (Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Penelitian Schulte & Mayrovitz (2023) menegaskan bahwa perempuan cenderung lebih sering mengalami gejala atypical seperti kelelahan ekstrem, nyeri rahang atau punggung, mual, dan sesak napas tanpa nyeri dada yang menonjol. Tinjauan sistematis Giordano et al. (2025) juga menemukan bahwa kelelahan tidak biasa, gangguan tidur, dan sesak napas adalah gejala peringatan yang muncul berminggu-minggu sebelum serangan besar—memberikan jendela kesempatan penting untuk intervensi lebih dini.

Studi berbasis data Survei Kesehatan Nasional Indonesia menemukan bahwa lemak abdominal memiliki hubungan yang lebih kuat dengan risiko kardiovaskular 10 tahun pada perempuan dibandingkan laki-laki (Sigit et al., 2024). Artinya, perempuan dengan lingkar pinggang besar perlu mendapat perhatian khusus meski indeks massa tubuhnya tampak normal.

Situasi Penyakit Jantung di Indonesia: Tantangan Nyata

Studi yang dilakukan di Makassar Cardiac Center menemukan fakta yang mengejutkan: hanya 1,8% pasien penyakit jantung koroner di Indonesia yang berhasil mencapai semua target pengendalian faktor risiko sesuai panduan nasional (Arsyad et al., 2025). Pengendalian kadar LDL-kolesterol menjadi yang paling rendah capainya (hanya 5,1%), padahal ini merupakan salah satu faktor paling kritis dalam mencegah kejadian kardiovaskular berulang.

Kementerian Kesehatan RI sendiri telah menggalakkan program CERDIK (Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet gizi seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres) dan PATUH (Periksa rutin, Atasi penyakit dengan tepat, Tetap diet gizi seimbang, Upayakan aktivitas fisik, Hindari rokok dan alkohol) sebagai strategi pencegahan dan pengelolaan penyakit kardiovaskular di tingkat primer (Kementerian Kesehatan RI, 2024).

Kapan Harus Segera ke Unit Gawat Darurat?

Jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami kombinasi dari gejala-gejala berikut secara tiba-tiba, jangan tunda untuk pergi ke unit gawat darurat (UGD) atau hubungi layanan gawat darurat:

  • Nyeri atau tekanan dada yang berlangsung lebih dari beberapa menit, atau yang mereda lalu kambuh lagi
  • Sesak napas mendadak yang tidak biasa
  • Nyeri yang menjalar ke lengan, rahang, punggung, atau leher
  • Keringat dingin mendadak disertai pusing atau mual
  • Pingsan atau hampir pingsan
  • Jantung berdebar sangat cepat atau tidak teratur disertai rasa lemah

Waktu adalah faktor kritis. Studi Ericsson et al. (2022) menegaskan bahwa pasien yang keliru menginterpretasikan gejalanya akan menunda mencari pertolongan, dan keterlambatan ini secara langsung memperburuk outcome klinis.

Penutup

Penyakit jantung tidak selalu datang dengan tanda yang dramatis. Dalam kenyataan, gejalanya sering halus, ambigu, dan mudah dikaitkan dengan kondisi lain yang lebih ringan. Kenali gejalanya. Jangan abaikan. Dan jika ragu, selalu lebih baik untuk memeriksakan diri lebih awal daripada menunggu sampai terlambat.

Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter atau tenaga medis profesional. Jika Anda mengalami gejala yang mengkhawatirkan, segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan terdekat.

Referensi

Arsyad, D. S., Qalby, N., Qanitha, A., Mappangara, I., Milayanti, W., Wahiduddin, Ansariadi, Visseren, F. L. J., Cramer, M. J., Doevendans, P. A., & Hageman, S. H. J. (2025). Low attainment of treatment targets for cardiovascular risk factors in Indonesian adults with established coronary artery disease. Journal of Evaluation in Clinical Practice, 31(1), e14311. https://doi.org/10.1111/jep.14311

Bragg, S., Brown, B., & DeCastro, A. O. (2024). Arrhythmias and sudden cardiac death. Primary Care: Clinics in Office Practice, 51(1), 35–50. https://doi.org/10.1016/j.pop.2023.07.008

Ericsson, M., Thylén, I., Strömberg, A., Ängerud, K. H., Moser, D. K., & Sederholm Lawesson, S. (2022). Factors associated with patient decision time in ST-segment elevation myocardial infarction, in early and late responders—an observational cross-sectional survey study. European Journal of Cardiovascular Nursing, 21(7), 694–701. https://doi.org/10.1093/eurjcn/zvab124

Giordano, V., Nocerino, R., Mercuri, C., Rea, T., & Guillari, A. (2025). Prodromal symptoms of acute myocardial infarction in women: A systematic review of current evidence. Nursing Open, e70211. https://doi.org/10.1002/nop2.70211

Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME). (2019). Global burden of disease study 2019: Indonesia country profile. University of Washington.

Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Nasional Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dalam angka. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan RI. (2024, September 23). Kenali gejala jantung sejak dini. https://kemkes.go.id/id/rilis-kesehatan/kenali-gejala-jantung-sejak-dini

Schulte, K. J., & Mayrovitz, H. N. (2023). Myocardial infarction signs and symptoms: Females vs. males. Cureus, 15(4), e37522. https://doi.org/10.7759/cureus.37522

Sigit, F. S., Tahapary, D. L., Riyadina, W., & Djokosujono, K. (2024). Sex disparities in the associations of overall versus abdominal obesity with the 10-year cardiovascular disease risk: Evidence from the Indonesian National Health Survey. PLOS ONE, 19(9), e0307944. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0307944

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar