Dulu melihat cuplikannya, kok kesannya keren ya, seperti pas melihat cuplikan film 2012. Tapi setelah selesai menonton jadi bingung apakah harus bilang bagus atau buruk, mungkin karena tidak terlalu bagus, juga tidak terlalu buruk. Film ini dibandingkan film fiksi ilmiah, mungkin lebih pas sebagai film keluarga yang sedikit “menegangkan”.
Poster promosi film “San Andreas” 2015. Sumber gambar: Sullykhan.
Jika kita belajar sedikit geografi, atau kemudian geologi, atau kemudian ditaburi seismologi, maka film ini tidak sulit dipahami. Hanya saja, unsur ilmiah itu terasa tidak banyak mendapat tempat yang “bermakna” dalam film ini, atau mungkin dibuat tidak terlalu kentara. Atau sisi drama lebih banyak mengambil ruang?
Mengambil latar patahan San Andreas (batas tektonik antara lempeng Pasifik dan Amerika Utara, jika tidak keliru) yang merupakan area di mana gempa bisa terjadi kapan saja. Bagi yang penasaran mungkin bisa membayangkan “the next big one” – yang mungkin terjadi di sana, seperti yang ada dalam film ini. Tapi bagi yang tidak mengenal latar cerita ini, mungkin tidak akan terlalu memahaminya, kecuali menyaksikan adegan bencana kolosal dan aksi penyelamatan yang heroik.
Saya rasa Dwayne Johnson tetap menjual untuk film ini. Walau karakter dan alur cerita tidak terlalu kuat, tapi ada bintang yang bisa membuat penonton tetap di kursi. Dan tentu saja efek khusus yang membuat bencana tampak nyata, dan rasanya tidak mungkin selamat dari situ, kecuali sepertinya film San Andreas ini memang berakhir dengan keajaiban.
Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan