A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Memahami Anatomi Mata: Apa Itu Konjungtiva?
  2. Apa Sebenarnya Perdarahan Subkonjungtiva?
  3. Penyebab Perdarahan Subkonjungtiva
    1. Penyebab Spontan
    2. Kondisi Medis yang Mendasari
    3. Trauma Serius
  4. Gejala dan Tanda Klinis
    1. Apa yang Anda Rasakan:
    2. Apa yang Terlihat:
  5. Kapan Harus Mencari Bantuan Medis
    1. Segera Hubungi Dokter Jika:
    2. Pertanyaan untuk Dokter Anda
  6. Diagnosis dan Pemeriksaan
    1. Anamnesis (Wawancara Medis)
    2. Pemeriksaan Fisik
  7. Pengobatan dan Manajemen
    1. Perawatan Mandiri di Rumah
    2. Perawatan Medis
  8. Prognosis dan Pemulihan
  9. Pencegahan Perdarahan Subkonjungtiva
    1. Strategi Pencegahan Umum:
    2. Pencegahan pada Populasi Khusus:
  10. Mitos dan Fakta
  11. Kesimpulan

Pernahkah Anda terbangun di pagi hari dan melihat bayangan diri di cermin dengan mata yang tiba-tiba tampak merah seperti berdarah pada bagian putihnya? Atau mungkin orang lain yang lebih dulu menyadari kondisi mata Anda? Jika ya, kemungkinan Anda mengalami apa yang dalam dunia medis disebut perdarahan subkonjungtiva (subconjunctival hemorrhage).

Kondisi yang terlihat menakutkan ini sebenarnya umumnya tidak berbahaya. Mari kita bahas secara mendalam tentang apa sebenarnya perdarahan subkonjungtiva, mengapa bisa terjadi, dan bagaimana penanganannya berdasarkan keilmuan terkini.

Memahami Anatomi Mata: Apa Itu Konjungtiva?

Untuk memahami perdarahan subkonjungtiva, kita perlu mengenal terlebih dahulu struktur mata yang terlibat. Konjungtiva adalah membran tipis, transparan, dan lembap yang melapisi dua area penting mata:

  1. Bagian putih mata (disebut sklera)
  2. Permukaan dalam kelopak mata

Konjungtiva berfungsi sebagai lapisan pelindung terluar bola mata dan mengandung jaringan saraf serta jaringan pembuluh darah halus yang sangat kecil dan rapuh. Dalam kondisi normal, pembuluh darah ini hampir tidak terlihat karena ukurannya yang sangat kecil dan sifat konjungtiva yang transparan.

Namun, pembuluh darah konjungtiva ini dapat menjadi lebih jelas terlihat dalam beberapa kondisi, misalnya ketika terjadi peradangan mata yang menyebabkan pembuluh darah membesar (mata merah karena iritasi). Yang lebih dramatis, dinding pembuluh darah ini bisa pecah dengan mudah karena berbagai sebab, mengakibatkan darah keluar dan terkumpul di bawah konjungtiva—inilah yang disebut perdarahan subkonjungtiva.

Apa Sebenarnya Perdarahan Subkonjungtiva?

Perdarahan subkonjungtiva adalah kondisi di mana darah terkumpul di ruang antara konjungtiva dan sklera (bagian putih mata) akibat pecahnya pembuluh darah kecil di konjungtiva. Kondisi ini tampak sebagai bercak merah terang atau merah gelap yang terbatas jelas pada bagian putih mata, mirip seperti memar pada kulit namun lebih mencolok karena kontrasnya dengan warna putih sklera.

Berbeda dengan memar pada kulit yang terlihat melalui lapisan epidermis dan dermis, perdarahan subkonjungtiva terlihat sangat jelas karena konjungtiva bersifat transparan. Inilah yang membuat kondisi ini terlihat sangat dramatis meskipun umumnya tidak berbahaya.

Penyebab Perdarahan Subkonjungtiva

Menurut literatur medis terkini, termasuk penelitian yang dipublikasikan di PubMed, mayoritas kasus perdarahan subkonjungtiva terjadi secara spontan tanpa penyebab yang jelas. Pasien seringkali baru menyadari kondisi ini saat bercermin di pagi hari atau ketika orang lain memberitahu mereka.

Penyebab Spontan

Beberapa aktivitas atau kondisi yang dapat memicu perdarahan subkonjungtiva spontan meliputi:

Peningkatan Tekanan Mendadak:

  • Bersin keras
  • Batuk yang kuat atau berkepanjangan
  • Muntah
  • Mengedan saat buang air besar
  • Mengangkat beban berat
  • Melahirkan (mengejan)

Trauma Ringan:

  • Menggosok mata terlalu keras
  • Terbentur atau tertekan pada area mata
  • Cedera akibat aktivitas berkebun atau pekerjaan rumah tangga

Menurut penelitian yang dipublikasikan di American Journal of Emergency Medicine (DOI: 10.1016/j.ajem.2025.05.042), cedera mata akibat alat berkebun cukup sering terjadi, dengan perdarahan subkonjungtiva sebagai salah satu manifestasinya. Penelitian tersebut menemukan bahwa debris lingkungan adalah penyebab paling sering dari cedera mata saat berkebun.

Kondisi Medis yang Mendasari

Dalam beberapa kasus, perdarahan subkonjungtiva dapat mengindikasikan kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian:

Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko pecahnya pembuluh darah halus, termasuk di mata.

Gangguan Pembekuan Darah:

  • Hemofilia
  • Trombositopenia (jumlah trombosit rendah)
  • Penyakit von Willebrand
  • Penggunaan obat antikoagulan (pengencer darah)

Menurut PubMed, pasien yang menggunakan antikoagulan seperti warfarin memiliki risiko lebih tinggi mengalami berbagai manifestasi perdarahan, termasuk perdarahan subkonjungtiva (DOI: 10.1055/s-0042-1755223).

Infeksi Mata: Beberapa infeksi mata yang parah dapat menyebabkan perdarahan subkonjungtiva. Penelitian terkini di PubMed menunjukkan bahwa konjungtivitis adenovirus (terutama tipe Epidemic Keratoconjunctivitis/EKC) sering disertai dengan perdarahan subkonjungtiva (DOI: 10.1007/s10384-025-01194-3).

Studi multicenter di India yang dipublikasikan di Romanian Journal of Ophthalmology menemukan bahwa perdarahan subkonjungtiva terjadi pada 43% kasus konjungtivitis epidemik akut (DOI: 10.22336/rjo.2024.68).

Infeksi Sistemik: Demam berdarah dengue dapat menyebabkan perdarahan subkonjungtiva sebagai bagian dari manifestasi okularnya. Sebuah meta-analisis yang dipublikasikan di American Journal of Ophthalmology menemukan prevalensi perdarahan subkonjungtiva sebesar 18% pada pasien dengue (DOI: 10.1016/j.ajo.2025.08.021).

Diabetes Mellitus: Diabetes dapat melemahkan dinding pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk mata.

Trauma Serius

Perdarahan subkonjungtiva juga dapat terjadi sebagai bagian dari cedera yang lebih serius:

  • Trauma kepala atau mata yang berat
  • Fraktur tulang wajah, terutama fraktur zygomatico-orbital (tulang pipi dan area sekitar mata)
  • Pasca operasi mata atau kelopak mata

Penelitian di International Ophthalmology menemukan bahwa perdarahan subkonjungtiva sangat umum (79,83%) pada pasien dengan fraktur kompleks zygomatico-orbital (DOI: 10.1007/s10792-025-03566-7). Studi lain di India menemukan kejadian serupa pada 79,83% pasien dengan trauma maksilofasial (DOI: 10.1111/edt.13024).

Gejala dan Tanda Klinis

Salah satu karakteristik unik perdarahan subkonjungtiva adalah tidak adanya gejala signifikan selain penampilan mata yang merah. Inilah yang membedakannya dari kondisi mata merah lainnya yang lebih serius:

Apa yang Anda Rasakan:

Umumnya Tanpa Nyeri: Berbeda dengan konjungtivitis atau keratitis (peradangan kornea), perdarahan subkonjungtiva biasanya tidak disertai rasa nyeri. Beberapa pasien mungkin merasakan:

  • Sensasi ada sesuatu di mata atau di balik kelopak mata saat perdarahan pertama kali terjadi
  • Rasa tidak nyaman ringan atau iritasi minimal
  • Kesadaran psikologis yang meningkat terhadap mata mereka (cemas melihat kondisi mata)

Tidak Ada Gangguan Penglihatan: Ini penting: perdarahan subkonjungtiva tidak mempengaruhi ketajaman penglihatan. Jika Anda mengalami pandangan kabur, pandangan ganda, atau kesulitan melihat bersamaan dengan mata merah, ini kemungkinan bukan sekadar perdarahan subkonjungtiva sederhana dan memerlukan evaluasi segera.

Apa yang Terlihat:

Bercak Merah Terang yang Berbatas Jelas: Perdarahan tampak sebagai area merah terang atau merah tua yang terlokalisir pada bagian putih mata. Batasnya sangat jelas, seperti pulau merah di lautan putih. Dalam beberapa kasus, seluruh bagian putih mata pada satu sisi dapat tertutup darah sepenuhnya.

Tidak Ada Darah yang Keluar: Ini kriteria diagnostik penting. Jika Anda menempelkan tisu steril secara lembut pada permukaan mata, tidak akan ada darah yang menempel pada tisu. Darah berada di bawah membran konjungtiva, bukan di permukaan mata.

Perubahan Ukuran dan Warna:

  • Perdarahan cenderung tampak meluas atau bertambah besar dalam 24 jam pertama setelah onset
  • Setelah itu, secara bertahap ukurannya akan mengecil selama 1-2 minggu
  • Warna dapat berubah dari merah terang menjadi oranye, kemudian kekuningan saat darah diserap kembali—mirip dengan proses penyembuhan memar pada kulit

Kapan Harus Mencari Bantuan Medis

Meskipun mayoritas kasus perdarahan subkonjungtiva tidak berbahaya dan sembuh sendiri, ada beberapa situasi yang memerlukan evaluasi oftalmologi (dokter spesialis mata):

Segera Hubungi Dokter Jika:

  1. Perdarahan tidak membaik dalam 2 minggu atau justru memburuk
  2. Perdarahan subkonjungtiva multipel (terjadi di beberapa lokasi berbeda pada satu atau kedua mata)
  3. Perdarahan di kedua mata secara bersamaan
  4. Disertai gejala perdarahan di tempat lain:
    • Mudah memar atau lebam tanpa trauma jelas
    • Gusi berdarah
    • Mimisan spontan atau berkepanjangan
    • Perdarahan di tempat lain
  5. Nyeri mata yang menyertai perdarahan
  6. Gangguan penglihatan:
    • Pandangan kabur
    • Pandangan ganda
    • Penurunan ketajaman penglihatan
    • Melihat kilatan cahaya atau floaters (benda melayang)
  7. Riwayat trauma mata atau kepala, terutama jika:
    • Trauma cukup keras
    • Ada kemungkinan benda asing masuk mata
    • Disertai nyeri kepala hebat
  8. Memiliki kondisi medis tertentu:
    • Sedang mengonsumsi obat antikoagulan (pengencer darah) seperti warfarin, rivaroxaban, atau aspirin dosis tinggi
    • Memiliki riwayat gangguan pembekuan darah
    • Hipertensi yang tidak terkontrol
    • Diabetes mellitus

Pertanyaan untuk Dokter Anda

Jika Anda berkonsultasi dengan dokter mata, beberapa pertanyaan penting yang perlu ditanyakan meliputi:

  1. Apakah ada kerusakan pada struktur mata saya yang lebih dalam?
  2. Apakah kondisi ini akan meninggalkan jaringan parut atau menyebabkan gangguan penglihatan permanen?
  3. Apa penyebab pasti perdarahan subkonjungtiva pada kasus saya?
  4. Apakah saya perlu pemeriksaan lanjutan untuk menyingkirkan kondisi sistemik?
  5. Bagaimana cara mencegah kejadian berulang di masa depan?
  6. Apakah ada aktivitas yang perlu saya hindari selama masa pemulihan?

Diagnosis dan Pemeriksaan

Anamnesis (Wawancara Medis)

Dokter mata akan menanyakan berbagai hal untuk menentukan penyebab dan tingkat keparahan, termasuk:

  • Kapan Anda pertama kali menyadari mata merah
  • Apakah ada trauma atau aktivitas tertentu sebelum perdarahan terjadi
  • Apakah ada gejala lain yang menyertai
  • Riwayat kesehatan umum dan penggunaan obat-obatan
  • Apakah pernah mengalami hal serupa sebelumnya

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Mata Dasar:

  • Pemeriksaan ketajaman penglihatan (visus)
  • Pemeriksaan refleks pupil
  • Pemeriksaan gerakan bola mata
  • Inspeksi langsung konjungtiva dan sklera

Pemeriksaan Umum:

  • Pengukuran tekanan darah, terutama jika dicurigai hipertensi

Pemeriksaan Lanjutan (jika diperlukan):

  • Slit lamp examination: Pemeriksaan dengan mikroskop khusus mata untuk melihat struktur mata lebih detail, terutama jika ada riwayat trauma
  • Pemeriksaan funduskopi untuk melihat bagian belakang mata
  • Pemeriksaan laboratorium darah jika dicurigai gangguan pembekuan darah

Menurut penelitian terbaru, pemeriksaan oftalmologi yang komprehensif sangat penting terutama pada kasus trauma wajah. Studi di Jerman menemukan bahwa pasien dengan fraktur zygomatico-orbital harus menjalani evaluasi oftalmologi khusus dalam 24 jam pertama untuk mendeteksi cedera mata yang lebih serius (DOI: 10.1007/s10792-025-03566-7).

Pengobatan dan Manajemen

Perawatan Mandiri di Rumah

Kabar baik: sebagian besar kasus perdarahan subkonjungtiva tidak memerlukan pengobatan khusus. Tubuh akan secara alami menyerap kembali darah yang terkumpul, sama seperti proses penyembuhan memar pada kulit.

Yang Dapat Anda Lakukan:

  1. Kompres Dingin (24-48 jam pertama):
    • Gunakan kompres dingin atau es batu yang dibungkus kain bersih
    • Tempelkan pada kelopak mata tertutup selama 10-15 menit
    • Ulangi 3-4 kali sehari
    • Manfaat: mengurangi pembengkakan dan memberikan kenyamanan
  2. Air Mata Buatan (Artificial Tears):
    • Dapat dibeli bebas di apotek
    • Gunakan 3-4 kali sehari atau sesuai kebutuhan
    • Manfaat: melumasi mata dan mengurangi iritasi ringan
    • Pilih yang bebas pengawet untuk penggunaan sering
  3. Hindari Obat-obatan Tertentu:
    • Aspirin dan ibuprofen: Sebaiknya dihindari karena dapat memperburuk perdarahan
    • Jika Anda harus mengonsumsi pereda nyeri, pilih paracetamol (acetaminophen)
    • Penting: Jika Anda sedang mengonsumsi obat antikoagulan atas resep dokter untuk kondisi jantung atau pembuluh darah, JANGAN menghentikan obat tersebut tanpa konsultasi dengan dokter
  4. Jaga Kebersihan:
    • Cuci tangan sebelum menyentuh area mata
    • Jangan menggosok mata
    • Hindari penggunaan lensa kontak sampai perdarahan sembuh total
  5. Istirahat Cukup:
    • Hindari aktivitas berat yang meningkatkan tekanan darah
    • Hindari mengejan berlebihan
    • Kelola stres dengan baik

Perawatan Medis

Dalam kebanyakan kasus, dokter mata akan merekomendasikan pendekatan konservatif:

  1. Observasi:
    • Pemantauan perkembangan perdarahan
    • Evaluasi ulang jika tidak ada perbaikan dalam 2 minggu
  2. Air Mata Buatan yang Diresepkan:
    • Formulasi khusus yang mungkin lebih efektif untuk iritasi
  3. Manajemen Kondisi yang Mendasari:
    • Kontrol tekanan darah jika ada hipertensi
    • Penyesuaian dosis antikoagulan jika diperlukan (hanya oleh dokter)
    • Pengobatan infeksi jika perdarahan terkait dengan konjungtivitis
  4. Pemeriksaan Komprehensif untuk Trauma:
    • Jika perdarahan disebabkan trauma, dokter akan memeriksa kemungkinan kerusakan struktur mata lainnya
    • Mungkin diperlukan pencitraan (CT scan) jika dicurigai fraktur tulang wajah

Prognosis dan Pemulihan

Timeline Penyembuhan:

  • Hari 1-2: Perdarahan mungkin tampak meluas atau bertambah besar
  • Hari 3-5: Perdarahan mulai stabil, tidak bertambah luas
  • Minggu 1-2: Perdarahan mulai memudar, warna berubah dari merah terang ke oranye/kuning
  • Minggu 2-3: Mayoritas kasus sembuh total tanpa bekas

Hasil Akhir:

  • Pemulihan biasanya sempurna tanpa komplikasi jangka panjang
  • Tidak meninggalkan jaringan parut
  • Tidak ada gangguan penglihatan permanen
  • Tidak mempengaruhi fungsi mata

Perbedaan dengan Memar Kulit:

Perdarahan subkonjungtiva memang mirip dengan memar pada kulit dalam hal proses penyembuhannya—keduanya berubah warna dari merah ke kuning seiring waktu saat darah diserap kembali. Namun, karena konjungtiva transparan, perubahan warna tidak sekompleks memar kulit yang terlihat melalui beberapa lapisan jaringan.

Pencegahan Perdarahan Subkonjungtiva

Meskipun tidak semua kasus dapat dicegah (terutama yang spontan), beberapa langkah dapat mengurangi risiko:

Strategi Pencegahan Umum:

  1. Kontrol Tekanan Darah:
    • Periksa tekanan darah secara rutin
    • Minum obat antihipertensi sesuai anjuran dokter
    • Terapkan pola hidup sehat (diet rendah garam, olahraga teratur)
  2. Hindari Trauma Mata:
    • Gunakan pelindung mata saat bekerja dengan alat atau bahan berbahaya
    • Gunakan kacamata pelindung saat berkebun atau melakukan pekerjaan rumah tangga berisiko
    • Pakai sabuk pengaman saat berkendara
    • Gunakan helm pelindung saat bersepeda atau aktivitas olahraga kontak

Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pelindung mata dapat secara signifikan mengurangi cedera mata akibat aktivitas berkebun (DOI: 10.1016/j.ajem.2025.05.042).

  1. Kelola Kondisi Kesehatan:
    • Kontrol diabetes dengan baik
    • Jika menggunakan antikoagulan, lakukan pemeriksaan darah rutin sesuai anjuran dokter
    • Segera obati infeksi mata jika terjadi
  2. Hindari Aktivitas Berisiko:
    • Jangan menggosok mata terlalu keras
    • Batasi aktivitas yang menyebabkan peningkatan tekanan mendadak (mengejan berlebihan)
    • Kelola batuk atau bersin yang kronis dengan pengobatan yang tepat
  3. Pola Hidup Sehat:
    • Konsumsi makanan bergizi dengan antioksidan tinggi (sayuran, buah-buahan)
    • Hidrasi yang cukup
    • Hindari merokok dan konsumsi alkohol berlebihan
    • Istirahat yang cukup

Pencegahan pada Populasi Khusus:

Pasien dengan Antikoagulan:

  • Pemantauan INR (International Normalized Ratio) secara teratur
  • Diskusi dengan dokter tentang risiko dan manfaat terapi antikoagulan
  • Pertimbangkan penggunaan antikoagulan oral baru (NOAC) yang memiliki risiko perdarahan lebih rendah

Pasien dengan Gangguan Pembekuan Darah:

  • Konsultasi rutin dengan hematolog
  • Terapi profilaksis jika diperlukan
  • Edukasi tentang tanda bahaya

Mitos dan Fakta

Mitos: Perdarahan subkonjungtiva berarti ada darah di dalam bola mata. Fakta: Darah hanya berada di antara konjungtiva dan sklera, tidak masuk ke dalam bola mata.

Mitos: Kondisi ini akan menyebabkan kebutaan. Fakta: Perdarahan subkonjungtiva yang sederhana tidak menyebabkan gangguan penglihatan atau kebutaan.

Mitos: Saya harus segera ke dokter untuk mendapatkan obat khusus. Fakta: Mayoritas kasus akan sembuh sendiri tanpa pengobatan khusus dalam 1-2 minggu.

Mitos: Perdarahan subkonjungtiva selalu karena tekanan darah tinggi. Fakta: Meskipun hipertensi dapat menjadi penyebab, banyak kasus terjadi spontan atau karena trauma ringan tanpa ada masalah tekanan darah.

Mitos: Saya tidak boleh menggunakan komputer atau membaca selama masa penyembuhan. Fakta: Aktivitas normal termasuk membaca dan menggunakan komputer tidak akan memperburuk kondisi atau memperlambat penyembuhan.

Kesimpulan

Perdarahan subkonjungtiva adalah kondisi mata yang terlihat dramatis namun umumnya jinak dan tidak berbahaya. Meskipun penampilan mata yang merah darah dapat menimbulkan kecemasan, kondisi ini biasanya sembuh dengan sendirinya dalam 1-2 minggu tanpa meninggalkan komplikasi jangka panjang.

Namun, penting untuk mengenali tanda-tanda peringatan yang memerlukan evaluasi medis segera, terutama jika disertai nyeri, gangguan penglihatan, atau gejala sistemik lainnya. Bagi pasien dengan kondisi medis tertentu seperti hipertensi, diabetes, atau yang mengonsumsi obat antikoagulan, konsultasi dengan dokter tetap dianjurkan untuk memastikan tidak ada masalah yang lebih serius.

Dengan pemahaman yang tepat tentang perdarahan subkonjungtiva dan penerapan langkah-langkah pencegahan yang sederhana, Anda dapat mengurangi risiko terjadinya kondisi ini atau setidaknya tidak panik berlebihan jika kondisi ini terjadi.


Catatan Penting: Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional. Jika Anda mengalami gejala yang mengkhawatirkan atau memiliki pertanyaan spesifik tentang kondisi kesehatan Anda, selalu konsultasikan dengan dokter spesialis mata (oftalmolog) atau tenaga kesehatan yang berkompeten.


Referensi:

Artikel ini dikembangkan berdasarkan literatur medis terkini yang diakses melalui PubMed, dengan referensi utama meliputi:

  1. Haslam AX, et al. Ocular manifestations in Dengue Fever. Am J Ophthalmol. 2025. DOI: 10.1016/j.ajo.2025.08.021
  2. Lee MJ, et al. Gardening hazards to vision: Patterns of eye injuries in emergency care. Am J Emerg Med. 2025. DOI: 10.1016/j.ajem.2025.05.042
  3. Kitaichi N, et al. Evaluation of factors relating to the development of multiple subepithelial corneal infiltrates of adenoviral keratoconjunctivitis. Jpn J Ophthalmol. 2025. DOI: 10.1007/s10384-025-01194-3
  4. Kramer V, et al. Retrospective evaluation of ocular injuries in fractures of the zygomaticoorbital complex. Int Ophthalmol. 2025. DOI: 10.1007/s10792-025-03566-7
  5. Aishwarya A, et al. Clinical Features and Epidemiological Insights of Acute Epidemic Conjunctivitis. Rom J Ophthalmol. 2024. DOI: 10.22336/rjo.2024.68
  6. Khan TA, et al. Pattern of Ophthalmic Injuries in Patients With Maxillofacial Fractures. Dent Traumatol. 2024. DOI: 10.1111/edt.13024
  7. Patil AS, et al. Intramural Jejunal Hematoma Causing Intermittent Bowel Obstruction. Surg J (N Y). 2022. DOI: 10.1055/s-0042-1755223

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar