Pernahkah Anda merasakan telinga terasa seperti “tersumbat”, berdengung, atau bahkan terasa nyeri saat pesawat mulai mendarat? Atau mungkin saat berkendara menuruni pegunungan, sensasi serupa muncul tanpa peringatan? Pengalaman yang terasa sepele ini sebenarnya memiliki nama medis yang spesifik: barotrauma telinga — dan memahaminya bisa membantu Anda mencegah serta mengatasinya dengan tepat.
Apa Itu Barotrauma Telinga?
Barotrauma adalah cedera jaringan yang terjadi akibat perbedaan tekanan udara antara suatu ruang tertutup di dalam tubuh dan lingkungan luar. Telinga tengah merupakan salah satu rongga tubuh yang paling rentan terhadap barotrauma, karena ruangnya yang kecil hanya memiliki satu jalur ventilasi: tuba Eustachius (Eustachian tube).
Secara sederhana, barotrauma telinga terjadi ketika tuba Eustachius gagal menyeimbangkan tekanan antara telinga tengah dan lingkungan luar, sehingga membran timpani (gendang telinga) mendapat tekanan mekanis yang berlebihan.
Anatomi yang Perlu Dipahami: Tuba Eustachius sebagai Kunci
Telinga manusia terbagi menjadi tiga bagian: telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga tengah adalah ruang berisi udara di belakang membran timpani, yang bertugas menghantarkan getaran suara ke telinga dalam melalui tiga tulang kecil (ossicles).
Tuba Eustachius adalah saluran yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian belakang rongga hidung dan tenggorokan atas (nasofaring). Saluran ini dalam keadaan normal berada dalam kondisi tertutup, namun akan terbuka secara refleks saat kita menelan, menguap, atau mengunyah. Saat tuba terbuka, udara dapat mengalir masuk atau keluar dari telinga tengah, menyeimbangkan tekanan di kedua sisi membran timpani.
Pada orang dewasa, tuba Eustachius berukuran sekitar 35 mm dan memiliki sudut kemiringan sekitar 45 derajat. Pada bayi dan anak kecil, tuba lebih pendek, lebih mendatar, dan lebih lembek — inilah mengapa anak-anak lebih rentan mengalami infeksi dan barotrauma telinga.
Bagaimana Barotrauma Telinga Terjadi?
Saat tekanan udara di sekitar kita berubah dengan cepat — seperti saat pesawat naik atau turun, saat menyelam, atau saat berkendara melewati pegunungan — tekanan di telinga tengah perlu disesuaikan secara aktif. Proses ini disebut ekualisasi tekanan (pressure equalization).
Jika tuba Eustachius berfungsi normal, proses ini terjadi secara otomatis dan hampir tanpa kita sadari. Namun, jika tuba tersumbat atau tidak berfungsi baik — misalnya karena peradangan akibat pilek, rinitis alergi, atau infeksi saluran napas atas — ekualisasi tekanan terganggu. Akibatnya, perbedaan tekanan antara telinga tengah dan lingkungan luar menumpuk, menarik atau mendorong membran timpani ke luar batas toleransinya.
Jika perbedaan tekanan terus meningkat tanpa teratasi, jaringan di telinga tengah mulai mengalami cedera mekanis: pembuluh darah menjadi bocor, cairan dan darah dapat berkumpul di belakang membran timpani, bahkan pada kasus yang parah membran timpani dapat sobek.

Situasi yang Berisiko Menyebabkan Barotrauma Telinga
Barotrauma telinga dapat terjadi pada berbagai aktivitas yang melibatkan perubahan tekanan lingkungan yang cepat:
Penerbangan: Meskipun kabin pesawat komersial dipressurisasi, tekanan udara di dalam kabin secara umum setara dengan ketinggian sekitar 1.800–2.400 meter di atas permukaan laut — bukan tekanan permukaan laut penuh. Saat lepas landas dan pendaratan, laju perubahan tekanan inilah yang memicu barotrauma.
Menyelam: Tekanan air meningkat sekitar 1 atmosfer untuk setiap kedalaman 10 meter. Seorang penyelam yang turun ke kedalaman 10 meter saja sudah menghadapi tekanan dua kali lipat dibandingkan di permukaan. Ini membuat penyelam sangat rentan terhadap barotrauma telinga jika tidak melakukan ekualisasi dengan benar.
Olahraga air lainnya: Terjun payung (skydiving), freediving, dan bahkan berenang di kolam renang dalam juga dapat memicu barotrauma, khususnya jika ada gangguan fungsi tuba Eustachius.
Berkendara di daerah pegunungan: Perubahan ketinggian saat berkendara di jalan pegunungan juga dapat memicu gejala ringan barotrauma, meskipun umumnya tidak separah saat menyelam atau terbang.
Terapi hiperbarik: Pasien yang menjalani terapi oksigen hiperbarik (hyperbaric oxygen therapy/HBOT) juga berisiko mengalami barotrauma telinga jika tidak mendapat persiapan yang memadai.
Faktor Risiko: Siapa yang Lebih Rentan?
Tidak semua orang mengalami barotrauma dengan intensitas yang sama. Beberapa kondisi meningkatkan risiko secara signifikan:
Infeksi saluran napas atas (ISPA) dan pilek: Peradangan pada mukosa hidung dan tuba Eustachius menyempitkan atau bahkan menutup total jalur ventilasi telinga tengah. Ini adalah faktor risiko paling umum dan paling dapat dicegah.
Rinitis alergi: Peradangan alergi kronis pada saluran napas atas menghasilkan efek yang serupa dengan ISPA — pembengkakan mukosa yang mengganggu fungsi tuba.
Sinusitis: Peradangan pada sinus paranasal sering beriringan dengan disfungsi tuba Eustachius.
Vegetasi adenoid: Khususnya pada anak-anak, pembesaran adenoid di nasofaring dapat menekan dan menyumbat muara tuba Eustachius secara mekanis.
Kelainan anatomi: Beberapa individu memiliki tuba Eustachius yang secara anatomis lebih sempit, lebih pendek, atau berorientasi abnormal — faktor yang meningkatkan risiko barotrauma seumur hidup.
Riwayat barotrauma sebelumnya: Barotrauma berulang dapat menyebabkan jaringan parut pada tuba Eustachius, membuatnya semakin sulit berfungsi dengan baik.
Usia anak-anak: Seperti disebutkan sebelumnya, geometri tuba Eustachius pada anak-anak secara inheren lebih rentan terhadap disfungsi.
Spektrum Barotrauma Telinga: Dari Ringan hingga Berat
Secara klinis, barotrauma telinga tengah dapat diklasifikasikan berdasarkan derajat keparahan berdasarkan temuan pada pemeriksaan otoendoskopi. Sistem klasifikasi Edmonds yang banyak digunakan dalam kedokteran penyelaman membagi barotrauma telinga tengah menjadi beberapa derajat, dari kondisi yang hanya menampilkan kemerahan ringan pada membran timpani hingga kondisi berat dengan perforasi membran timpani dan perdarahan.
Selain barotrauma telinga tengah, penting pula mengenal dua entitas klinis yang lebih serius:
Barotrauma Telinga Dalam (Inner Ear Barotrauma/IEBt)
Barotrauma telinga dalam adalah kondisi yang berbeda dan lebih serius dibandingkan barotrauma telinga tengah biasa. Kondisi ini terjadi ketika tekanan berlebihan merusak struktur di telinga dalam, seperti membran koklea atau labirin vestibular.
Berdasarkan tinjauan literatur yang dipublikasikan di Diving and Hyperbaric Medicine, barotrauma telinga dalam mencakup spektrum patologi yang luas, termasuk fistula perilimfe (perilymph fistula), robekan membran intra-labirin, dan perdarahan telinga dalam. Hal yang membuat IEBt penting untuk dikenali adalah gejalanya yang berbeda dari barotrauma telinga tengah biasa: selain nyeri dan rasa penuh, pasien dapat mengalami gangguan pendengaran sensorineural (sensorineural hearing loss) yang bisa permanen jika tidak ditangani, tinitus (suara berdengung atau berdenging di telinga), dan vertigo (sensasi berputar) yang dapat disertai mual muntah.
Fistula perilimfe — kebocoran cairan perilimfe dari telinga dalam ke telinga tengah akibat robeknya membran jendela oval atau jendela bulat — merupakan komplikasi IEBt yang memerlukan perhatian serius. Sebuah studi kasus yang dipublikasikan di Journal of International Advanced Otology melaporkan seorang wanita yang mengalami hilang pendengaran unilateral yang mendalam disertai vertigo akibat fistula perilimfe yang dipicu oleh aktivitas skydiving. Pemeriksaan video head impulse test dan CT temporal bone resolusi tinggi menjadi alat diagnostik penting dalam kasus tersebut.
Baroparesis Saraf Wajah (Facial Nerve Baroparesis)
Kondisi yang jarang dikenal namun penting untuk dipahami adalah baroparesis saraf wajah — kelumpuhan saraf wajah yang bersifat sementara akibat tekanan berlebih di telinga tengah yang menekan saraf kranial VII (saraf wajah) saat melewati salurannya di telinga tengah. Kondisi ini paling sering dilaporkan pada penyelam dan penumpang pesawat.
Artikel ulasan sistematis dalam Journal of Laryngology and Otology yang mengidentifikasi 23 kasus di kepustakaan menyimpulkan bahwa baroparesis saraf wajah umumnya bersifat sementara dan dapat ditangani dengan pemasangan tabung ventilasi. Namun, jika kelumpuhan wajah bertahan setelah pesawat mendarat, miringotomi segera diperlukan untuk mencegah kerusakan permanen pada saraf wajah.
Gejala: Apa yang Akan Anda Rasakan?
Gejala barotrauma telinga bervariasi tergantung pada derajat keparahannya:
Gejala ringan hingga sedang:
- Rasa penuh atau tekanan di dalam telinga
- Penurunan pendengaran yang bersifat sementara (suara terdengar lebih redup atau seperti tertutup kapas)
- Tinitus ringan (suara berdenging)
- Ketidaknyamanan atau nyeri ringan di telinga
Gejala sedang hingga berat:
- Nyeri telinga yang signifikan
- Penurunan pendengaran yang lebih nyata
- Perasaan telinga terisi cairan atau berderak saat menelan
- Pusing atau vertigo (jika telinga dalam terlibat)
Gejala berat yang memerlukan penanganan segera:
- Nyeri telinga yang hebat
- Gangguan pendengaran yang mendadak dan signifikan
- Vertigo yang berat disertai mual dan muntah
- Telinga berdarah atau keluar cairan
- Tinnitus yang tiba-tiba dan keras
- Kelumpuhan atau kelemahan otot wajah (tanda baroparesis saraf wajah)
Pemeriksaan Medis
Pada pemeriksaan oleh dokter, instrumen otoskop atau otoendoskop digunakan untuk melihat kondisi membran timpani. Pada barotrauma ringan, gendang telinga tampak kemerahan atau tertarik ke dalam. Pada kasus yang lebih berat, mungkin terlihat cairan atau darah di belakang membran timpani, atau bahkan sobekan (perforasi) membran.
Untuk barotrauma yang lebih berat, khususnya yang melibatkan telinga dalam, pemeriksaan audiometri diperlukan untuk mengukur derajat gangguan pendengaran, termasuk membedakan gangguan pendengaran konduktif dari gangguan sensorineural. Timpanometri digunakan untuk menilai tekanan di telinga tengah dan mobilitas membran timpani. Pada kasus yang dicurigai melibatkan fistula perilimfe, CT temporal bone resolusi tinggi atau eksplorasi bedah mungkin diperlukan.
Penanganan: Dari Mandiri hingga Medis
Tindakan Mandiri
Langkah pertama yang dapat dilakukan sendiri adalah mencoba membuka tuba Eustachius melalui berbagai manuver ekualisasi:
Manuver Valsava: Tarik napas dalam, tutup kedua lubang hidung dengan jari, tutup mulut, lalu hembuskan udara secara perlahan dan lembut melalui hidung yang tertutup. Tekanan yang dihasilkan akan mendorong tuba Eustachius terbuka. Hindari mengembuskan terlalu keras — tekanan berlebihan justru dapat memperburuk cedera, terutama jika ada barotrauma telinga dalam.
Manuver Toynbee: Tutup kedua lubang hidung, lalu telan ludah. Gerakan menelan sambil hidung tertutup menciptakan tekanan negatif yang dapat membuka tuba dari sisi nasofaring.
Manuver Frenzel: Tutup hidung dan mulut, lalu gerakkan dasar lidah ke atas seolah mengucapkan huruf “K”. Manuver ini sering digunakan oleh penyelam dan dianggap lebih aman dari Valsava karena tekanan yang dihasilkan lebih terkontrol.
Tindakan sederhana lainnya: Mengunyah permen karet, menghisap permen, atau menelan sambil menguap dapat merangsang pembukaan refleks tuba Eustachius. Bagi penumpang pesawat, sebaiknya tetap terjaga saat fase pendaratan agar dapat secara aktif melakukan manuver ekualisasi. Untuk bayi dan anak kecil, menyusui atau memberikan botol susu saat pesawat mendarat sangat dianjurkan.
Penanganan Farmakologis
Jika tindakan mandiri tidak berhasil dalam beberapa jam, obat-obatan dapat membantu mengurangi peradangan dan pembengkakan pada tuba Eustachius:
Dekongestan hidung: Obat seperti oksimetazolin (tetes atau semprot hidung) atau pseudoefedrin (oral) dapat mengecilkan pembuluh darah mukosa hidung dan tuba, membuka jalur ventilasi. Namun, penggunaan dekongestan semprot hidung sebaiknya tidak lebih dari 3–5 hari karena risiko rebound congestion (kemacetan berbalik yang justru lebih berat).
Antihistamin: Pada pasien dengan rinitis alergi yang mendasari, antihistamin dapat mengurangi peradangan mukosa secara keseluruhan. Namun, antihistamin generasi pertama dapat mengeringkan sekresi mukosa dan berpotensi mempersulit drainase.
Kortikosteroid: Pada kasus barotrauma dengan peradangan yang lebih signifikan, kortikosteroid — baik semprot hidung maupun oral jangka pendek — dapat dipertimbangkan untuk mengurangi pembengkakan mukosa.
Antibiotik: Diperlukan hanya jika terdapat tanda-tanda infeksi telinga tengah sekunder (otitis media akut), bukan untuk barotrauma itu sendiri.
Penanganan Bedah
Untuk kasus yang tidak membaik dengan terapi konservatif dan farmakologis, intervensi bedah mungkin diperlukan:
Miringotomi (myringotomy): Prosedur kecil di mana dokter spesialis telinga hidung tenggorokan (THT) membuat sayatan kecil pada membran timpani untuk memungkinkan drainase cairan dan ekualisasi tekanan langsung. Luka sayatan ini biasanya menutup sendiri dalam beberapa hari.
Pemasangan tabung ventilasi (pressure equalization tube/PET atau grommet): Pada kasus barotrauma berulang atau disfungsi tuba Eustachius kronis, tabung kecil dari bahan sintetis dapat dipasang melalui membran timpani untuk memberikan ventilasi permanen ke telinga tengah. Prosedur ini sangat efektif untuk mencegah episode berulang.
Dilatasi balon tuba Eustachius (Eustachian Tube Balloon Dilation/ETBD): Teknik yang lebih baru ini melibatkan penggunaan kateter balon kecil yang dimasukkan ke dalam tuba Eustachius dan dikembangkan untuk memperlebar lumennya secara mekanis. Sebuah studi retrospektif yang dipublikasikan di Annals of Otology, Rhinology and Laryngology melaporkan bahwa 80% pasien anak dengan disfungsi tuba Eustachius kronis melaporkan manfaat subjektif setelah ETBD, dengan perbaikan signifikan pada beberapa parameter objektif. Prosedur ini kini mulai tersedia di pusat-pusat THT tersier di Indonesia.
Terapi oksigen hiperbarik (hyperbaric oxygen therapy/HBOT): Untuk barotrauma telinga dalam dengan gangguan pendengaran sensorineural, HBOT menjadi modalitas terapi yang menjanjikan. Sebuah laporan kasus seri (case series) yang dipublikasikan di Diving and Hyperbaric Medicine memaparkan lima penyelam dengan gangguan pendengaran sensorineural akibat barotrauma telinga dalam yang seluruhnya menunjukkan perbaikan pendengaran yang bermakna setelah HBOT. Mekanisme yang diusulkan adalah koreksi iskemia pada aparatus koklea melalui peningkatan oksigenasi jaringan.
Panduan Khusus untuk Penyelam
Penyelam menghadapi risiko barotrauma yang jauh lebih tinggi dibandingkan penumpang pesawat karena gradien tekanan yang jauh lebih besar dan cepat. Beberapa panduan penting untuk penyelam:
- Jangan pernah menyelam saat mengalami pilek, flu, atau rinitis alergi yang aktif. Ini adalah prinsip keselamatan yang tidak boleh dikompromikan.
- Lakukan ekualisasi secara aktif dan berkala sejak awal penurutan (descent), setiap 1–2 meter kedalaman, sebelum merasa tidak nyaman. Jangan tunggu sampai nyeri muncul baru melakukan ekualisasi.
- Jika ekualisasi gagal, naik (ascend) beberapa meter, coba kembali, baru turun lagi secara perlahan.
- Hindari penyelaman di atas kondisi tekanan yang terlalu tinggi (forceful equalization) karena dapat memicu barotrauma telinga dalam.
- Penyelam yang pernah mengalami barotrauma telinga dalam (khususnya dengan vertigo atau gangguan pendengaran sensorineural) sebaiknya berkonsultasi dengan dokter spesialis kedokteran penyelaman (diving medicine) sebelum kembali menyelam. Berdasarkan rekomendasi dalam literatur, syarat untuk kembali menyelam meliputi gangguan pendengaran yang stabil dan tidak berat, tidak ada keterlibatan vestibular berdasarkan elektronitagmografi, dan tidak ada faktor anatomis predisposisi berdasarkan CT resolusi tinggi.
Panduan Perjalanan Udara
- Jika memungkinkan, tunda penerbangan saat mengalami ISPA atau rinitis alergi akut yang berat. Jika tidak bisa ditunda, pertimbangkan penggunaan dekongestan topikal (semprot hidung) 30–60 menit sebelum perkiraan waktu pendaratan.
- Tetap terjaga selama fase pendaratan untuk dapat melakukan manuver ekualisasi secara aktif.
- Pertimbangkan penggunaan earplug penerbangan khusus (filtered earplugs atau pressure-regulating earplugs) yang dirancang untuk memperlambat laju perubahan tekanan di saluran telinga luar.
- Minum air putih secara cukup selama penerbangan untuk menjaga hidrasi mukosa.
Komplikasi yang Perlu Diwaspadai
Meskipun kebanyakan kasus barotrauma telinga tengah sembuh tanpa komplikasi, kondisi yang berulang, parah, atau tidak ditangani dapat menimbulkan:
- Otitis media akut: Akumulasi cairan di telinga tengah menjadi medium pertumbuhan bakteri.
- Gangguan pendengaran persisten: Terutama jika melibatkan telinga dalam atau perforasi membran timpani yang tidak menutup.
- Perforasi membran timpani kronis: Sobekan yang tidak menutup sendiri memerlukan penanganan bedah (miringoplasti atau timpanoplasti).
- Kolesteatoma: Komplikasi jangka panjang yang jarang namun serius, di mana sel epitel telinga luar bermigrasi ke telinga tengah melalui perforasi membran timpani.
- Vertigo rekuren: Akibat kerusakan pada organ vestibuler di telinga dalam.
- Baroparesis saraf wajah: Kelumpuhan wajah yang umumnya bersifat sementara, namun dapat permanen jika tidak segera ditangani.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Segera cari pertolongan medis jika mengalami:
- Gangguan pendengaran mendadak atau signifikan yang tidak membaik dalam beberapa jam
- Vertigo berat, terlebih jika disertai mual dan muntah
- Keluar darah atau cairan dari telinga
- Demam
- Nyeri telinga yang sangat hebat
- Kelemahan atau kelumpuhan otot wajah
Gejala-gejala tersebut dapat mengindikasikan barotrauma telinga dalam, fistula perilimfe, perforasi membran timpani, atau baroparesis saraf wajah — kondisi yang memerlukan evaluasi segera oleh dokter spesialis THT.
Kesimpulan
Barotrauma telinga adalah kondisi yang sering dianggap sepele namun sesungguhnya mencakup spektrum klinis yang luas — dari ketidaknyamanan ringan yang sembuh sendiri hingga gangguan pendengaran permanen yang dapat mengubah kualitas hidup. Kunci penanganannya terletak pada pemahaman mekanisme yang mendasarinya, pencegahan aktif melalui teknik ekualisasi yang benar, dan pengenalan dini tanda-tanda bahaya yang memerlukan evaluasi medis segera.
Bagi mereka yang sering bepergian dengan pesawat atau melakukan aktivitas menyelam, membiasakan diri dengan manuver Valsava, Toynbee, atau Frenzel adalah investasi kesehatan sederhana yang nilainya tidak ternilai.
Daftar Referensi
Elliott, E. J., & Smart, D. R. (2014). The assessment and management of inner ear barotrauma in divers and recommendations for returning to diving. Diving and Hyperbaric Medicine, 44(4), 208–222.
Gärtler, N., & Honegger, F. (2024). Eustachian tube balloon dilation in children: Short- and long-term outcome. Annals of Otology, Rhinology and Laryngology, 133(4), 369–374. https://doi.org/10.1177/00034894231221888
Garrido Campos, M. A., Hindelang, B. A., De Carvalho, D. S., Urzúa Finke, I., Herrera, R., & Radon, K. (2019). Prevalence and risk factors for hearing loss in Chilean shellfish divers. Annals of Global Health, 84(3), 442–449. https://doi.org/10.29024/aogh.2310
Gutkovich, Y. E., Shlizerman, L., Paker, M., Mazzawi, S., Siag, K., & Shupak, A. (2023). Barotrauma-induced perilymph fistula: Video head impulse test and high-resolution temporal bones computed tomography role in evaluation and follow-up. Journal of International Advanced Otology, 19(4), 350–354. https://doi.org/10.5152/iao.2023.22771
Alnesr, A. (2024). Facial nerve baroparesis: A case report. Journal of Medical Case Reports, 18(1), 536. https://doi.org/10.1186/s13256-024-04878-5
Alwan, M., & Gordan, M. (2020). Facial nerve baroparesis during airflight: A case report and literature review. Journal of Laryngology and Otology, 135(1), 88–92. https://doi.org/10.1017/S0022215120002431
Caffrey, J. P., Adams, J. W., Costantino, I., Klepper, K., Kari, E., & Brown, L. A. (2020). Successful treatment of highly recurrent facial baroparesis in a frequent high-altitude traveler: A case report. Journal of Medical Case Reports, 14(1), 218. https://doi.org/10.1186/s13256-020-02557-9
Mitchell, S. J. (2024). Decompression illness: A comprehensive overview. Diving and Hyperbaric Medicine, 54(1 Suppl), 1–53. https://doi.org/10.28920/dhm54.1.suppl.1-53
Saliba, I., Bawazeer, N., & Belhassen, S. (2024). Suspicion and treatment of perilymphatic fistula: A prospective clinical study. Audiology Research, 14(1), 62–76. https://doi.org/10.3390/audiolres14010006
Smart, D. (2024). Five consecutive cases of sensorineural hearing loss associated with inner ear barotrauma due to diving, successfully treated with hyperbaric oxygen. Diving and Hyperbaric Medicine, 54(4), 360–367. https://doi.org/10.28920/dhm54.4.360-367
Catatan redaksi: Artikel ini merupakan pembaruan dari artikel “Barotrauma Telinga” yang pertama kali diterbitkan pada Oktober 2015. Artikel diperbarui dengan literatur ilmiah terkini dan perkembangan tata laksana mutakhir.

Tinggalkan komentar