Memar adalah cedera yang nyaris semua orang pernah alami — mungkin karena tersandung, terbentur pinggiran meja, atau terjatuh saat berolahraga. Meski tampak sepele, cara kita menangani memar selama ini ternyata tidak seluruhnya benar. Beberapa kebiasaan yang sudah mengakar luas, seperti langsung mengompres dengan es atau meminum obat antiinflamasi, kini ditinjau ulang oleh komunitas ilmiah.
Artikel ini membahas apa yang sebenarnya terjadi ketika kulit memar, bagaimana cara menangganinya berdasarkan bukti terkini, dan tanda-tanda yang menunjukkan bahwa memar Anda bukan sekadar urusan sepele.
Apa yang Terjadi Saat Terjadi Memar?
Memar — dalam istilah medis disebut contusio atau ecchymosis — terjadi ketika benturan fisik merusak pembuluh darah kapiler di bawah permukaan kulit, namun tidak sampai melukai kulit itu sendiri. Darah bocor ke jaringan sekitarnya dan terperangkap, menghasilkan perubahan warna khas yang kita kenal.
Perubahan warna memar bukanlah sekadar estetika — ia mencerminkan proses biokimiawi yang sedang berlangsung. Penelitian menggunakan diffuse reflectance spectroscopy telah menunjukkan secara objektif bagaimana kandungan darah di jaringan kulit berubah dari waktu ke waktu selama dua minggu proses pemulihan: oksigenasi darah menurun di hari-hari awal, lalu muncul bilirubin (pigmen kuning) saat hemoglobin mulai dipecah, dan akhirnya semua parameter kembali normal sekitar 14 hari pasca cedera (Marin et al., 2021).
Secara kasar, inilah tahapan perubahan warna yang umum terjadi:
- Hari 0–2: Merah hingga ungu kebiruan
- Hari 2–5: Biru atau ungu tua
- Hari 5–7: Kehijauan
- Hari 7–14: Kuning kecokelatan, lalu memudar
Waktu pemulihan bervariasi tergantung kedalaman memar, luas area yang terlibat, usia, status gizi, dan ada tidaknya kondisi kesehatan yang mendasari.
Paradigma Lama vs. Pendekatan Baru
RICE: Masih Relevan, tapi Perlu Revisi
Selama puluhan tahun, pendekatan Rest, Ice, Compression, Elevation (RICE) menjadi standar pertolongan pertama cedera jaringan lunak. Namun, pendekatan ini kini dipertanyakan — bahkan oleh Dr. Gabe Mirkin, dokter yang pertama kali memopulerkan istilah RICE pada 1978. Ia kemudian mencabut rekomendasinya sendiri, terutama menyangkut penggunaan es dan istirahat total.
Inti keberatan terhadap RICE adalah bahwa proses inflamasi — yang selama ini coba ditekan — sesungguhnya merupakan bagian penting dari penyembuhan jaringan. Menghambatnya secara agresif bisa justru memperlambat pemulihan.
PEACE & LOVE: Paradigma yang Lebih Komprehensif
Pada 2019, Dubois dan Esculier menerbitkan konsep baru di British Journal of Sports Medicine untuk menggantikan pendekatan lama: PEACE & LOVE (Dubois & Esculier, 2020). Konsep ini membagi manajemen cedera jaringan lunak menjadi dua fase:
Fase Akut (0–3 hari) — PEACE:
- P — Protection (Perlindungan): Batasi gerakan yang menyakitkan selama 1–3 hari untuk mencegah cedera lebih lanjut, tapi hindari imobilisasi total.
- E — Elevation (Elevasi): Tinggikan area yang cedera di atas posisi jantung untuk membantu aliran cairan keluar dari jaringan.
- A — Avoid anti-inflammatory modalities (Hindari antiinflamasi): Fase inflamasi diperlukan untuk perbaikan jaringan. Penggunaan non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAID) dosis tinggi dalam fase ini berpotensi menghambat proses penyembuhan jangka panjang.
- C — Compression (Kompresi): Perban elastis dapat membantu membatasi pembengkakan pada fase awal.
- E — Education (Edukasi): Pahami bahwa tubuh memiliki kemampuan menyembuhkan diri; hindari ketergantungan berlebih pada terapi pasif.
Fase Lanjutan (3 hari ke depan) — LOVE:
- L — Load (Pembebanan): Mulai kembali beraktivitas secara bertahap segera setelah gejala memungkinkan. Gerak aktif lebih baik daripada imobilisasi berkepanjangan.
- O — Optimism (Optimisme): Ekspektasi positif yang realistis berhubungan dengan hasil pemulihan yang lebih baik.
- V — Vascularization (Vaskularisasi): Aktivitas aerobik ringan yang tidak menimbulkan nyeri membantu meningkatkan aliran darah ke area cedera.
- E — Exercise (Latihan): Latihan aktif memulihkan mobilitas, kekuatan, dan koordinasi.
Pertolongan Pertama Memar di Rumah: Langkah Praktis
48–72 Jam Pertama
Kompres dingin — untuk pereda nyeri, bukan “menghilangkan” memar. Bukti menunjukkan bahwa cryotherapy (terapi dingin) efektif sebagai pereda nyeri jangka pendek. Sebuah uji klinis acak (randomized controlled trial) di unit gawat darurat menemukan bahwa kompres es yang tepat memberikan penurunan nyeri yang signifikan lebih baik dibanding cold pack kimiawi, sekaligus dikaitkan dengan penggunaan opioid yang lebih rendah (Leroux et al., 2021). Namun, manfaat es pada penyembuhan itu sendiri — bukan sekadar pereda nyeri — masih diperdebatkan.
Cara yang disarankan:
- Bungkus es batu atau ice pack dengan handuk tipis — jangan menempelkan es langsung ke kulit
- Kompres 15–20 menit, ulangi setiap 2–3 jam
- Terutama dalam 48–72 jam pertama
Elevasi. Jika kaki atau lengan yang memar, tinggikan di atas level jantung saat berbaring.
Istirahat relatif. Kurangi beban pada area yang memar, tapi hindari imobilisasi total. Gerakan ringan yang tidak menyebabkan nyeri bermakna boleh dimulai bahkan sejak hari berikutnya.
Yang sebaiknya dihindari:
- Kompres hangat dalam 48–72 jam pertama — panas justru memperluas pembuluh darah dan memperparah perdarahan jaringan
- Pijat pada area memar — dapat memperburuk kerusakan jaringan yang belum pulih
- Aspirin sebagai pereda nyeri — efek antiplateletnya dapat memperpanjang perdarahan jaringan
Tentang Obat Pereda Nyeri
Untuk nyeri ringan-sedang, paracetamol (acetaminophen) adalah pilihan pertama yang lebih aman karena tidak memiliki efek antiinflamasi yang berpotensi mengganggu penyembuhan.
NSAID seperti ibuprofen memang efektif untuk nyeri dan bengkak, tetapi penelitian pada model hewan menunjukkan bahwa penggunaan ibuprofen selama fase inflamasi aktif dapat mengganggu proses remodeling matriks ekstraselular dan melemahkan sifat biomekanis jaringan (Bittermann et al., 2018). Ini masih menjadi area penelitian yang aktif, dan pada manusia, NSAID tetap bisa dipertimbangkan untuk nyeri yang cukup mengganggu — terutama dalam jangka pendek dan dosis minimal efektif.
3 Hari ke Depan dan Seterusnya
Setelah fase akut berlalu, kompres hangat (15–20 menit, 2–3 kali sehari) kini dapat membantu meningkatkan aliran darah lokal dan mempercepat reabsorpsi sisa darah di jaringan. Ini juga saat yang tepat untuk mulai melatih gerakan area yang cedera secara bertahap.
Memar dengan Luka Terbuka
Jika memar disertai luka robek atau lecet, bersihkan luka dengan air mengalir dan larutan antiseptik yang sesuai. Luka yang cukup dalam atau panjang (lebih dari 1–2 cm) perlu dievaluasi oleh tenaga medis — bisa jadi memerlukan jahitan.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Sebagian besar memar akan sembuh dalam 1–2 minggu tanpa intervensi khusus. Namun, ada situasi yang memerlukan perhatian medis:
Segera ke IGD jika:
- Memar terjadi setelah benturan kepala, disertai pusing, mual, muntah, atau kebingungan
- Ada kecurigaan patah tulang (bentuk tidak normal, nyeri hebat, tidak bisa menahan beban)
- Memar sangat luas dan membesar dengan cepat — terutama pada paha, panggul, atau perut
- Tanda-tanda compartment syndrome: nyeri yang tidak sebanding dengan cedera, mati rasa atau kesemutan, anggota gerak terasa dingin atau pucat
- Memar di sekitar kedua mata atau di belakang telinga setelah trauma kepala — bisa menandakan fraktur tulang tengkorak
Konsultasikan ke dokter dalam 1–2 hari jika:
- Nyeri tidak membaik setelah 3–5 hari
- Memar sangat luas (lebih dari 10 cm) tanpa penyebab yang sepadan
- Ada benjolan teraba yang tidak mengecil (kemungkinan hematoma yang perlu dievakuasi)
- Memar tidak menunjukkan perbaikan warna setelah 2 minggu
Evaluasi ke dokter untuk kondisi yang lebih mendasar jika:
- Memar muncul dengan mudah tanpa cedera yang jelas, atau berulang-ulang
- Disertai perdarahan di tempat lain: gusi, hidung yang sering mimisan, darah dalam urin atau feses, atau menstruasi yang jauh lebih berat dari biasanya
- Muncul bintik-bintik merah kecil (petechiae) di kulit
Penelitian dari American Family Physician menekankan bahwa evaluasi memar yang mudah muncul atau berulang harus mencakup riwayat lengkap, pemeriksaan fisik, dan bila perlu pemeriksaan laboratorium dasar termasuk hitung darah lengkap, waktu protrombin (PT), dan activated partial thromboplastin time (aPTT) untuk menyingkirkan gangguan pembekuan darah (Hughes et al., 2024).
Kelompok yang Perlu Perhatian Khusus
Lansia. Seiring bertambahnya usia, kulit menipis, lemak subkutan berkurang, dan pembuluh darah menjadi lebih rapuh — semua ini membuat memar lebih mudah terjadi bahkan dari benturan ringan. Memar yang muncul berulang di punggung tangan dan lengan bawah pada lansia sering kali merupakan actinic purpura (memar akibat paparan sinar matahari kronis) yang tidak memerlukan pengobatan khusus.
Pengguna antikoagulan dan antiplatelet. Pasien yang mengonsumsi warfarin, dabigatran, rivaroxaban, apixaban, atau aspirin dosis rendah memiliki risiko memar yang lebih tinggi dan perdarahan jaringan yang lebih luas. Jika memar tidak proporsional dengan cedera yang terjadi, segera konsultasikan ke dokter — namun jangan menghentikan obat tanpa rekomendasi dokter.
Anak-anak. Memar pada area yang tidak lazim — seperti bokong, punggung, leher, atau telinga — pada anak (terutama bayi yang belum bisa berjalan) perlu mendapat evaluasi medis untuk menyingkirkan kemungkinan cedera non-aksidental (Carpenter et al., 2022).
Ringkasan: Yang Perlu Anda Ingat
Memar adalah respons normal tubuh terhadap trauma tumpul dan umumnya sembuh sendiri dalam 1–2 minggu. Paradigma penanganannya telah bergeser dari sekadar “tekan, dinginkan, dan istirahat” menuju pendekatan yang lebih menghormati proses alami penyembuhan — dengan kompres dingin hanya untuk pereda nyeri jangka pendek, istirahat relatif bukan total, dan kembali bergerak secara bertahap sesegera mungkin.
Yang paling penting: kenali tanda-tanda yang menunjukkan bahwa memar Anda adalah bagian dari masalah yang lebih besar. Jika ada keraguan, berkonsultasilah dengan dokter.
Referensi
Bittermann, A., Gao, S., Rezvani, S., Li, J., Sikes, K. J., Sandy, J., Wang, V., Lee, S., Holmes, G., Lin, J., & Plaas, A. (2018). Oral ibuprofen interferes with cellular healing responses in a murine model of Achilles tendinopathy. Journal of Musculoskeletal Disorders and Treatment, 4(2). https://doi.org/10.23937/2572-3243.1510049
Carpenter, S. L., Abshire, T. C., Killough, E., Anderst, J. D., & American Academy of Pediatrics. (2022). Evaluating for suspected child abuse: Conditions that predispose to bleeding. Pediatrics, 150(4). https://doi.org/10.1542/peds.2022-059277
Dubois, B., & Esculier, J.-F. (2020). Soft-tissue injuries simply need PEACE and LOVE. British Journal of Sports Medicine, 54(2), 72–73. https://doi.org/10.1136/bjsports-2019-101253
Hughes, P. R., Lewis, M. N., & Adams, S. S. (2024). Bleeding and bruising: Primary care evaluation. American Family Physician, 110(5), 504–514.
Leroux, E. J., Kaufman, E. A., Kontaxis, C. N., & Lipman, G. S. (2021). Intensive cryotherapy in the emergency department (ICED): A randomized controlled trial. Western Journal of Emergency Medicine, 22(2), 445–449. https://doi.org/10.5811/westjem.2020.10.48831
Marin, A., Verdel, N., Milanič, M., & Majaron, B. (2021). Noninvasive monitoring of dynamical processes in bruised human skin using diffuse reflectance spectroscopy and pulsed photothermal radiometry. Sensors (Basel), 21(1), 302. https://doi.org/10.3390/s21010302
Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan yang pertama kali diterbitkan pada Oktober 2015. Untuk pembahasan yang lebih mendalam tentang jenis-jenis memar, penanganan berdasarkan kondisi khusus, dan terapi topikal berbasis bukti, Anda dapat membaca artikel lanjutan: Memar Kulit: Panduan Lengkap Penanganan dan Kapan Harus Waspada.

Tinggalkan komentar