Kelabang adalah tamu tak diundang yang kehadirannya sering mengejutkan—terutama karena sengatannya yang terasa membakar dan menusuk. Di Indonesia, sengatan kelabang termasuk kasus yang cukup sering dijumpai di layanan kesehatan primer, khususnya di daerah yang berbatasan langsung dengan lahan pertanian, perkebunan, atau kawasan berhutan. Meskipun sebagian besar kasus berakhir dengan pemulihan penuh tanpa komplikasi serius, memahami apa yang harus dilakukan—dan tidak dilakukan—setelah sengatan terjadi tetap penting sebagai bekal setiap keluarga.
Mengenal Kelabang: Bukan Sekadar Hewan Menjijikkan
Kelabang termasuk dalam kelas Chilopoda, filum Arthropoda. Spesies yang paling sering terlibat dalam kasus sengatan pada manusia di kawasan Asia Tenggara dan tropis umumnya adalah dari genus Scolopendra, termasuk Scolopendra subspinipes yang banyak ditemukan di Indonesia (Haddad Júnior et al., 2025). Hewan ini bersifat nokturnal—aktif di malam hari—dan umumnya bersembunyi di bawah batu, kayu lapuk, tumpukan daun kering, atau di sudut-sudut gelap rumah.

Yang perlu diluruskan sejak awal: kelabang tidak “menggigit” dalam pengertian biasa. Ia menggunakan sepasang forcipules—organ modifikasi dari pasangan kaki pertamanya yang memiliki cakar beracun—untuk menyengat dan menyuntikkan racun ke dalam kulit. Inilah mengapa istilah yang lebih tepat secara medis adalah “sengatan” (envenomation), bukan gigitan.
Tanda sengatan kelabang umumnya berupa dua luka tusuk kecil yang membentuk pola menyerupai huruf V atau lambang chevron, yang merupakan jarak antara kedua forcipules tersebut.
Apa yang Ada di Dalam Racun Kelabang?
Selama bertahun-tahun, racun (venom) kelabang dianggap relatif sederhana dan tidak berbahaya. Namun penelitian biokimia terkini mengungkap gambaran yang jauh lebih kompleks. Racun kelabang mengandung berbagai peptida dan protein bioaktif dengan aktivitas farmakologis yang beragam, termasuk toksin peptida bermolekul rendah (low-molecular-weight peptide toxins) yang bekerja pada kanal ion (ion channels)—khususnya kanal natrium (Nav), kalium (Kv), dan kalsium (Cav) yang berperan dalam hantaran sinyal saraf dan nyeri (Han et al., 2022; Chu et al., 2020).
Racun ini juga mengandung komponen yang memiliki sifat alergenik (allergenic proteins), sehingga menjelaskan mengapa sebagian orang dapat mengalami reaksi alergi sistemik meskipun sengatan yang sama pada orang lain hanya menimbulkan nyeri lokal (Nayak et al., 2024). Pemahaman tentang komposisi racun ini penting secara klinis karena berdampak langsung pada cara penanganannya.
Gejala Klinis: Dari yang Biasa hingga yang Mengkhawatirkan
Sebuah studi retrospektif selama 10 tahun di Bangkok, Thailand yang melibatkan 245 kasus sengatan kelabang—populasi tropis dengan ekologi serupa Indonesia—memberikan gambaran klinis yang sangat informatif (Niruntarai et al., 2021). Temuan utamanya adalah:
Gejala lokal terjadi pada hampir semua kasus:
- Nyeri lokal: 99,5% pasien
- Pembengkakan (edema) pada area sengatan: 87% pasien
- Lokasi tersering: kaki (38,3%) dan tangan (19,1%)
- Puncak kejadian terjadi pada Oktober hingga Desember
Nyeri pada sengatan kelabang bisa sangat intens dan tidak jarang resisten terhadap analgesik konvensional. Sebuah laporan kasus dari Afrika Selatan mendokumentasikan nyeri akibat sengatan kelabang yang bahkan tidak respons terhadap analgesik opioid, dan baru teratasi setelah pemberian anestesi lokal, antihistamin, dan kortikosteroid (Pallett et al., 2019).
Gejala sistemik lebih jarang, namun ada dan perlu diwaspadai:
- Ruam urtikaria (urticarial rash): 5,7% kasus
- Demam: 4,1% kasus
- Anaphylaxis (reaksi alergi sistemik berat): 5% kasus (Niruntarai et al., 2021)
Komplikasi yang lebih langka namun serius juga telah dilaporkan dalam literatur medis terkini, antara lain:
- Complex Regional Pain Syndrome (CRPS): Sindrom nyeri neuropatik kronik yang dapat berkembang beberapa minggu setelah sengatan. Sebuah laporan kasus mendokumentasikan seorang wanita yang mengalami CRPS tipe 1 setelah disengat kelabang di jari kaki, dengan gejala nyeri berat, allodynia, dan hiperpigmentasi yang baru membaik setelah 9 bulan pengobatan dengan gabapentin, amitriptilin, dan rehabilitasi fisik (Thumtecho et al., 2019).
- Superinfeksi bakteri berat: Dilaporkan terjadi pada kasus langka di mana area sengatan mengalami infeksi sekunder yang menyebar secara hematogen, memerlukan debridemen bedah dan antibiotik intravena (Puzzo et al., 2021).
- Anafilaksis sistemik: Meskipun hanya 5% kasus, kondisi ini dapat mengancam jiwa. Sebuah laporan kasus dari India mendokumentasikan pasien dengan nyeri perut hebat pasca sengatan kelabang yang ternyata merupakan manifestasi anafilaksis sistemik, dan berhasil diatasi dengan pemberian adrenalin (Nayak et al., 2024).
Dalam studi Bangkok, tidak ada satu pun kematian yang tercatat di antara 245 pasien—menegaskan bahwa sengatan kelabang umumnya tidak fatal, meskipun tetap perlu penanganan yang tepat (Niruntarai et al., 2021).
Pertolongan Pertama: Langkah Demi Langkah
Berikut panduan pertolongan pertama berbasis bukti untuk sengatan kelabang:
1. Tetap tenang dan jauhkan dari kelabang Kepanikan tidak membantu proses pertolongan. Pastikan kelabang sudah tidak lagi berada di area yang membahayakan korban maupun penolong.
2. Cuci luka dengan air mengalir dan sabun Segera bersihkan area sengatan dengan air mengalir yang bersih selama beberapa menit, menggunakan sabun yang lembut dan netral. Ini membantu membersihkan sisa racun yang mungkin masih ada di permukaan kulit. Jika racun terkena mata, bilas dengan air bersih dalam jumlah banyak.
3. Kompres dingin untuk mengurangi nyeri dan peradangan Gunakan kompres dingin—es yang dibungkus kain bersih—pada area sengatan selama 10 menit, istirahat 10 menit, lalu kompres lagi. Kompres dingin terbukti efektif membantu mengurangi proses inflamasi lokal. Bagi penderita yang memiliki gangguan sirkulasi darah, persingkat waktu kompres untuk mencegah kerusakan kulit.
4. Analgesik jika nyeri signifikan Nyeri sengatan kelabang dapat sangat mengganggu. Analgesik oral seperti parasetamol atau ibuprofen dapat membantu. Apabila nyeri sangat berat dan tidak merespons analgesik biasa, pertimbangkan untuk segera ke fasilitas kesehatan, karena mungkin dibutuhkan anestesi lokal atau analgesik yang lebih kuat.
5. Pantau tanda bahaya
Yang Tidak Boleh Dilakukan
- Jangan menyedot bisa/racun: Tidak efektif dan berisiko memasukkan bakteri ke dalam luka.
- Jangan mengompres dengan air panas atau panas: Dapat memperburuk respons inflamasi.
- Jangan mengoleskan bahan iritatif: Alkohol, pasta gigi, minyak tanah, atau ramuan tradisional lainnya tidak terbukti bermanfaat dan berpotensi mengiritasi atau menginfeksi luka.
- Jangan membebat luka: Tidak diperlukan dan tidak bermanfaat untuk jenis sengatan ini.
Kapan Harus Segera ke Dokter atau Unit Gawat Darurat?
Pergi ke fasilitas kesehatan segera jika muncul salah satu tanda berikut:
- Tanda anafilaksis: Tenggorokan terasa sesak atau bengkak, sulit bernapas, detak jantung cepat, turunnya tekanan darah secara tiba-tiba, pusing, mual-muntah hebat, pingsan
- Tanda alergi sistemik: Ruam urtikaria yang menyebar, pembengkakan di area yang jauh dari luka
- Nyeri yang sangat berat dan tidak merespons analgesik yang tersedia di rumah
- Luka menunjukkan tanda infeksi: Kemerahan yang meluas, keluar cairan purulen, demam, atau pembengkakan yang semakin memburuk dalam hari-hari setelah sengatan
- Korban adalah anak kecil, lansia, ibu hamil, atau memiliki kondisi kesehatan tertentu
- Mati rasa atau kelemahan yang menyebar melampaui area sengatan
Di fasilitas kesehatan, penanganan bergantung pada kondisi klinis pasien. Pada kasus lokal tanpa komplikasi, analgesik oral atau injeksi cukup memadai. Anestesi lokal (local anesthetic) dapat menjadi pilihan efektif untuk nyeri yang berat (Pallett et al., 2019). Antihistamin dan/atau kortikosteroid dapat diberikan sesuai indikasi. Antibiotik dipertimbangkan bila ada risiko atau tanda infeksi sekunder. Pada kasus anafilaksis, epinefrin (adrenalin) adalah terapi utama yang harus segera diberikan (Nayak et al., 2024). Tidak ada antivenom spesifik yang tersedia untuk sengatan kelabang saat ini (Haddad Júnior et al., 2025).
Kapan Gejala Membaik?
Pada kasus tanpa komplikasi, gejala lokal—nyeri, bengkak, kemerahan—umumnya membaik secara bertahap dalam 24 hingga 48 jam. Namun, seperti yang diilustrasikan oleh berbagai laporan kasus terkini, sebagian kecil pasien dapat mengalami perjalanan klinis yang lebih panjang, terutama jika terjadi CRPS atau infeksi sekunder. Oleh karena itu, meskipun tidak perlu panik, tetaplah memantau kondisi luka dan gejala umum korban dalam beberapa hari ke depan.
Penutup
Sengatan kelabang adalah kasus yang jauh lebih sering terjadi daripada yang banyak disadari, terutama di kawasan tropis seperti Indonesia. Pemahaman yang baik tentang apa yang harus dilakukan—mencuci luka, mengompres dingin, memberikan analgesik, dan segera mencari bantuan medis bila ada tanda bahaya—dapat membuat perbedaan yang nyata dalam hasil perawatan. Yang terpenting: hampir semua kasus berakhir baik tanpa komplikasi serius, selama ditangani dengan tepat dan tenang.
Daftar Referensi
Chu, Y., Qiu, P., & Yu, R. (2020). Centipede venom peptides acting on ion channels. Toxins, 12(4), 230. https://doi.org/10.3390/toxins12040230
Haddad Júnior, V., Haddad, A. M. V., & Barreiros, J. P. (2025). Myriapods (Diplopoda and Chilopoda): Medical aspects of envenomations. Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical, 58, e0030. https://doi.org/10.1590/0037-8682-0104-2025
Han, Y., Kamau, P. M., Lai, R., & Luo, L. (2022). Bioactive peptides and proteins from centipede venoms. Molecules, 27(14), 4423. https://doi.org/10.3390/molecules27144423
Nayak, C. A., Naik, V. R., Kurdikar, S. U., & Pereira, M. I. (2024). Systemic anaphylaxis following centipede envenomation: A case report and review of literature. Journal of Family Medicine and Primary Care, 13(11), 5418–5420. https://doi.org/10.4103/jfmpc.jfmpc_948_24
Niruntarai, S., Rueanpingwang, K., & Othong, R. (2021). Patients with centipede bites presenting to a university hospital in Bangkok: A 10-year retrospective study. Clinical Toxicology, 59(8), 721–726. https://doi.org/10.1080/15563650.2020.1865543
Pallett, S. J. C., Dickson, N., & Moles, I. (2019). Challenges of remote medical care in South Sudan: Centipede bites. Wilderness & Environmental Medicine, 30(2), 203–207. https://doi.org/10.1016/j.wem.2019.01.003
Puzzo, A., Pari, C., Bettinelli, G., Raggini, F., Paderni, S., & Belluati, A. (2021). An unusual two-stage infection following a Scolopendra bite. Acta Bio-Medica: Atenei Parmensis, 91(14-S), e2020009. https://doi.org/10.23750/abm.v91i14-S.10783
Thumtecho, S., Schimmel, J., & Trakulsrichai, S. (2019). Complex regional pain syndrome following a centipede bite: A case report. Clinical Toxicology, 58(7), 777–779. https://doi.org/10.1080/15563650.2019.1686515

Tinggalkan komentar