A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Saya tidak memiliki televisi, tidak juga aktif membaca surat kabar, namun kabar pertikaian antara dua ormas (pemuda?) di Bali masih tetap bisa sampai pada saya. Melalui lini masa pada situs jejaring sosial yang membludak, mau tidak mau informasi ini saya terima juga. Ini juga menunjukkan betapa pedulinya masyarakat Bali akan situasi ini.

Kecamuk yang terjadi di Teuku Umar (menurut kabar) merupakan salah satu letupan bom waktu dari keberadaan pihak-pihak yang tidak memiliki kemampuan untuk duduk bersama, menyelesaikan masalah dengan diskusi. Tentu saja ini hanya sekadar opini saya, tapi seandainya mereka bisa duduk berdiskusi – apakah akan ada nyawa yang meregang?

Organisasi masyarakat kepemudaan bukanlah sebuah ide buruk, namun ketika – seperti banyak keluhan di media sosial – kemudian menuju pada arah premanisme berjamaah dan terorganisir, maka ini akan sangat disayangkan.

Pemuda selayaknya membangun negeri, berada di tengah sebagai mesin penggerak. Namun ketika pemuda justru menjadi sumber belenggu dan memberikan rasa ngeri pada masyarakat di sekitarnya – maka layak-kah masyarakat masih menaruh harapan pada pemuda-pemuda seperti ini?

Maka ketika banyak suara yang kemudian – seakan menyatu – menyatakan penolakan terhadap premanisme berjamaah ini di sekitar mereka, maka saya rasa itu adalah sebentuk kewajaran yang bisa diterima oleh norma sosial kita. Selayaknya tidak ada kelompok-kelompok yang menimbulkan keresahan dan ketakutan di tengah masyarakat yang telah berdaulat di negaranya sendiri.

Bahkan ada petisi pembubaran ormas ini, jika ada masyarakat yang setuju – saya rasa akan sangat baik menyatukan suara di sini. Karena, ketika pelaksanaan kegiatan sebuah organisasi tidak memberikan nilai positif bagi lingkungan, dan bisa dibilang justru pagar makana tanaman, maka tiadakan saja organisasi tersebut.

Lalu bagaimana ke depannya?

Organisasi kepemudaan di Bali bisa ada, namun sesuatu yang memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan lingkungannya. Lihat saja contohnya – yang saat ini saya nilai cukup baik, yaitu Gerakan Pemuda ANSOR. Dan saya rasa pemuda Bali memiliki banyak potensi untuk ini dibandingkan untuk menumpahkan darah sesama saudara.

Artikel Baru Terbit

  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca