Saya tidak memiliki televisi, tidak juga aktif membaca surat kabar, namun kabar pertikaian antara dua ormas (pemuda?) di Bali masih tetap bisa sampai pada saya. Melalui lini masa pada situs jejaring sosial yang membludak, mau tidak mau informasi ini saya terima juga. Ini juga menunjukkan betapa pedulinya masyarakat Bali akan situasi ini.
Kecamuk yang terjadi di Teuku Umar (menurut kabar) merupakan salah satu letupan bom waktu dari keberadaan pihak-pihak yang tidak memiliki kemampuan untuk duduk bersama, menyelesaikan masalah dengan diskusi. Tentu saja ini hanya sekadar opini saya, tapi seandainya mereka bisa duduk berdiskusi – apakah akan ada nyawa yang meregang?
Organisasi masyarakat kepemudaan bukanlah sebuah ide buruk, namun ketika – seperti banyak keluhan di media sosial – kemudian menuju pada arah premanisme berjamaah dan terorganisir, maka ini akan sangat disayangkan.
Pemuda selayaknya membangun negeri, berada di tengah sebagai mesin penggerak. Namun ketika pemuda justru menjadi sumber belenggu dan memberikan rasa ngeri pada masyarakat di sekitarnya – maka layak-kah masyarakat masih menaruh harapan pada pemuda-pemuda seperti ini?
Maka ketika banyak suara yang kemudian – seakan menyatu – menyatakan penolakan terhadap premanisme berjamaah ini di sekitar mereka, maka saya rasa itu adalah sebentuk kewajaran yang bisa diterima oleh norma sosial kita. Selayaknya tidak ada kelompok-kelompok yang menimbulkan keresahan dan ketakutan di tengah masyarakat yang telah berdaulat di negaranya sendiri.
Bahkan ada petisi pembubaran ormas ini, jika ada masyarakat yang setuju – saya rasa akan sangat baik menyatukan suara di sini. Karena, ketika pelaksanaan kegiatan sebuah organisasi tidak memberikan nilai positif bagi lingkungan, dan bisa dibilang justru pagar makana tanaman, maka tiadakan saja organisasi tersebut.
Lalu bagaimana ke depannya?
Organisasi kepemudaan di Bali bisa ada, namun sesuatu yang memberikan sumbangsih kepada masyarakat dan lingkungannya. Lihat saja contohnya – yang saat ini saya nilai cukup baik, yaitu Gerakan Pemuda ANSOR. Dan saya rasa pemuda Bali memiliki banyak potensi untuk ini dibandingkan untuk menumpahkan darah sesama saudara.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan