A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sudah berapa bulan sejak rilis openSUSE Leap 42.1? Selama ini saya masih cukup betah menggunakan Antergos, meskipun bersifat rolling release, Arch dan turunannya memang sudah membuktikan stabilitas mereka. Namun beberapa hari yang lalu saya mendapatkan wangsit, entah mengapa tiba-tiba ada suara yang membisikkan, “Hei…, mengapa tidak mencoba Leap dan stabilitasnya?” Maka dari sana saya menyapu bersih seluruh isi cakram keras pada notebook Asus saya, dan memasang openSUSE Leap 42.1 dengan fitur otomatis penuhnya – Tancap!

Memasang openSUSE memang mudah, bahkan saya bisa melakukannya sambil memimpin rapat kerja di kantor. Karena tidak banyak hal yang harus diperhatikan. Tinggal colokkan UFD Bootable yang sudah saya sediakan instalasi openSUSE Leap sejak akhir tahun lalu, maka semua proses berjalan tanpa perlu setelan tambahan.

Tentu saja, pilihan saya tetaplah menggunakan Desktop Gnome. Meskipun Xfce menarik, namun kebiasaan menggunakan Gnome sudah terlanjur melekat.

Mungkin saya sudah terlalu hapal dengan bagaimana membuat desain Gnome nyaman untuk saya gunakan.

Pertama, saya tahu Thunderbird tidak pernah terpasang pada openSUSE Gnome, karena kesetiaannya pada Evolution. Sehingga saya sebagai pengguna Thunderbird akan memilih memasangnya seawal mungkin. Demikian juga dengan paket hplip untuk printer HP.

Kedua, ketika desktop siap pertama kali – dan terhubung dengan Internet, maka pembaruan sistem dan perangkat lunak adalah hal yang penting. Walau pun demikian, saya masih mendapati Gnome 3.16 di sini pasca pembaruan, sedangkan Antergos sendiri sebelumnya sudah sampai pada Gnome 3.18.

Ketiga, memasang Codec, saya memerlukannya untuk memainkan berkas multimedia yang saya miliki, walau tidak selalu, tapi kadang menjadi hal yang esensia.

http://opensuse-guide.org/codecs.php

Keempat, memasang perangkat lunak lain yang biasa saya gunakan. Misalnya Opera dan Dropbox. Sayangnya, Shutter belum bisa saya pasang dengan baik, ada berkas ketergantungan yang sepertinya terlupakan oleh pihak pemaketan berkas instalasi.

Kelima, sentuhan akhir untuk tampilan, ada tema ikon seperti Faenza, Moka, Pacificia, Paper, hingga Numix yang bisa digunakan. Anda tinggal memilih dan mengaplikasikannya. Meskipun kebanyakan ikon yang cantik memerlukan tindakan manual untuk bisa menggunakannya di desktop, demikian halnya juga dengan tema gnome dan tema shell.

https://numixproject.org/

Keenam, saya menambahkan online-account sebagai fitur ekstra pada desktop Gnome. Tapi seberapa banyak bermanfaat, paling melihat pembaruan informasi agenda yang saya sinkronkan dengan kalender daring saya. Ya, saya pernah mencoba mengakses Google Drive melalui fitur ini pada Antergos, namun pada openSUSE kali ini, saya tidak terlalu memerlukan fitur tersebut.

Ketujuh, menggunakan ekstensi yang saya anggap perlu. Tidak semua ekstensi diperlukan, dan tidak semua orang memerlukan esktensi. Hanya jika tangan ini malas melakukan beberapa tahapan klik, kadang ekstensi akan sangat membantu.

https://extensions.gnome.org/

Kedelapan, sebuah desktop sederhana siap digunakan.

Memang secara umum menggunakan Gnome pada openSUSE akan terasa lebih berat dibandingkan menggunakan Gnome pada Antergos. Hanya saja pada versi Leap ini, tampaknya netbook saya masih bisa memberikan kinerja yang cukup menjamin produktivitas saya ke depan.

Maka dengan ini ke depannya, saya akan menggunakan openSUSE Leap sebagai sistem operasi harian saya.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

10 tanggapan

  1. […] saya menggunakan Leap selama sekitar kurang dari setahun (dan sebenarnya masih ada dukungan untuk enam bulan ke depan) […]

    Suka

  2. gadgetboi Avatar

    bli untuk “burning” ke usb sekarang masih menggunakan unetbootin? di linux? karena sudah setahunan saya kalau mau memburn ke usb harus ke windows dulu dengan rufus karena menurut saya itu yg paling stabil untuk sekarang …

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Saya pakai ‘dd’ jika tidak keliru. Habis itu UFD, ndak bisa dipulihkan lagi kecuali lewat Magic Partition Wizard atau yang sejenis ?.

      Suka

    2. gadgetboi Avatar

      versi KDE ada kan yah? di DVD iso? *teteup KDE*

      Suka

    3. Cahya Avatar

      Kayanya openSUSE itu pakai DVD semua Mas, baik yang cuma satu desktop untuk live edition maupun yang DVD untuk semua desktop. Ya, pakai KDE juga bisa ?

      Suka

    4. gadgetboi Avatar

      oh sekarang cuman DVD ya tersedianya … soalnya terakhir install openSUSE kemarin masih ada opsi GNOME (1GB-an) dan DVD …

      Suka

    5. Cahya Avatar

      Ya Gnome 1 GB kan DVD Mas, masa masuk CD yang cuma maksimal 700-an MB. ?

      Suka

    6. gadgetboi Avatar

      engga.. maksudnya yg hanya GNOME … bukan yg 4GB lebih

      Suka

    7. Cahya Avatar

      Versi yang itu masih kok Gnome dan KDE . Tapi ya DVD juga.

      Suka

    8. gadgetboi Avatar

      dulu kan ada iso berbagai versi … GNOME, KDE …

      Suka

Tinggalkan komentar