A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pengantar
  2. Rantai Pertama: Menemukan dan Melaporkan Anak dengan AFP
    1. Jejaring Deteksi Multi-Lapis
    2. Surveilans Aktif di Fasilitas Kesehatan
    3. Surveilans Berbasis Komunitas
    4. Indikator Kinerja Rantai Pertama
  3. Rantai Kedua: Pengambilan dan Pengiriman Spesimen Tinja
    1. Tantangan Diagnosis Diferensial
    2. Protokol Pengambilan Spesimen yang Optimal
    3. Sistem Reverse Cold Chain
    4. Sistem Pelacakan Spesimen Digital
  4. Rantai Ketiga: Isolasi dan Karakterisasi Virus Polio di Laboratorium
    1. Jaringan Laboratorium Global
    2. Proses Isolasi Virus Konvensional
    3. Metode Deteksi Langsung: Inovasi untuk Kecepatan
    4. Target Ketepatan Waktu
  5. Rantai Keempat: Pemetaan dan Pelacakan Transmisi Virus
    1. Whole Genome Sequencing untuk Epidemiologi Molekuler
    2. Database Referensi dan Analisis Filogenetik
    3. Aplikasi Praktis dalam Respons Wabah
    4. Pemantauan Keragaman Genetik
  6. Integrasi Empat Rantai: Sistem yang Koheren
    1. Target Kinerja Terintegrasi
    2. Penguatan Kapasitas Berkelanjutan
  7. Tantangan Kontemporer dan Solusi
    1. Keterlambatan Pengiriman Spesimen Internasional
    2. Dampak Konflik dan Krisis Kemanusiaan
    3. Pandemi COVID-19 dan Pemulihan Surveilans
  8. Kesimpulan dan Prospek Masa Depan
  9. Referensi

Pengantar

Surveilans merupakan tulang punggung dalam upaya pemberantasan polio di seluruh dunia. Tanpa sistem surveilans yang kuat, tidak mungkin untuk menentukan lokasi dan jalur penyebaran poliovirus, atau memastikan bahwa virus telah berhasil dieliminasi dari alam liar. Menurut Global Polio Surveillance Action Plan 2025-2026, surveilans berkualitas tinggi dengan sensitivitas dan ketepatan waktu yang optimal merupakan fondasi untuk mendeteksi, menginvestigasi, dan merespons setiap kasus atau wabah polio secara efektif.

Surveilans acute flaccid paralysis (AFP)1 atau lumpuh layuh akut merupakan standar emas (gold standard)2 dalam deteksi kasus poliomielitis di seluruh dunia. Sistem ini mengidentifikasi kasus-kasus baru dan mendeteksi sirkulasi poliovirus di suatu wilayah, termasuk importasi dari daerah lain. Proses surveilans AFP dapat dipahami sebagai empat rantai yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, di mana kegagalan di satu rantai dapat mengancam keseluruhan sistem deteksi poliovirus.

Rantai Pertama: Menemukan dan Melaporkan Anak dengan AFP

Jejaring Deteksi Multi-Lapis

Rantai pertama surveilans AFP adalah jaringan deteksi kasus yang melibatkan berbagai tingkat fasilitas kesehatan dan sumber daya masyarakat. Staf di semua fasilitas kesehatan—mulai dari pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) di setiap kecamatan hingga rumah sakit rujukan tersier—harus secara aktif melaporkan setiap kasus AFP pada anak di bawah usia 15 tahun dalam waktu 24 jam setelah identifikasi.

Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Health, Population, and Nutrition (DOI: 10.1186/s41043-025-01115-7) menunjukkan bahwa inovasi teknologi telah signifikan meningkatkan efektivitas deteksi kasus. Sistem alert SMS (short message service), platform Open Data Kit (ODK)3 untuk pengumpulan data digital, dan alat pemetaan geospasial telah meningkatkan sensitivitas pelaporan dan pemantauan cakupan surveilans.

Surveilans Aktif di Fasilitas Kesehatan

Sebagai tambahan dari pelaporan pasif, petugas surveilans kesehatan masyarakat melakukan kunjungan rutin ke rumah sakit dan pusat rehabilitasi untuk mencari kasus AFP yang mungkin terlewatkan atau salah didiagnosis. Kegiatan ini dikenal sebagai active surveillance4 dan merupakan komponen kritis untuk memastikan tidak ada kasus yang luput dari deteksi.

Menurut pedoman AFP terbaru dari GPEI, surveilans aktif di rumah sakit universitas besar lebih efisien ketika dilakukan oleh staf senior yang berpengalaman bekerja dengan klinisi. Mereka dapat dibimbing oleh staf junior, yang pada gilirannya akan belajar membangun hubungan baik dengan tenaga medis. Pengalaman menunjukkan bahwa pergantian staf yang tinggi memerlukan sesi pelatihan berkala untuk mempertahankan sensitivitas surveilans.

Surveilans Berbasis Komunitas

Di area dengan terbatasnya tenaga kesehatan formal, sejumlah negara menggunakan surveilans komunitas (community-based surveillance)5, di mana kader kesehatan, dukun bayi (traditional birth attendants), atau relawan masyarakat menjadi sumber informasi penting tentang anak-anak dengan kelumpuhan. Pendekatan ini sangat penting di daerah terpencil atau konflik di mana akses ke fasilitas kesehatan formal terbatas.

Studi kasus dari Nigeria yang dipublikasikan dalam Frontiers in Public Health (DOI: 10.3389/fpubh.2025.1690423) menggambarkan bagaimana keterlibatan pemimpin tradisional dan agama berperan krusial dalam mengatasi resistensi vaksin dan meningkatkan pelaporan kasus di negara bagian Kano, yang sebelumnya merupakan episentrum WPV di Afrika.

Indikator Kinerja Rantai Pertama

Jumlah kasus AFP yang dilaporkan setiap tahun digunakan sebagai indikator sensitivitas sistem surveilans suatu negara dalam mendeteksi polio. Menurut standar WHO, sistem surveilans harus cukup sensitif untuk mendeteksi minimal satu kasus AFP (non-polio AFP rate)6 dari setiap 100.000 anak di bawah 15 tahun per tahun di negara non-endemik, atau minimal dua kasus per 100.000 di negara endemik—bahkan ketika tidak ada polio yang beredar.

Data dari CDC menunjukkan bahwa pada 2022-2023, dari 28 negara prioritas, sensitivitas surveilans bervariasi dengan beberapa negara mencapai non-polio AFP rate di atas 3 per 100.000, menunjukkan sistem yang sangat sensitif. Indonesia, setelah KLB polio 2022-2024, meningkatkan target dari 2 menjadi 3 per 100.000 untuk memperkuat kemampuan deteksi dini.

Rantai Kedua: Pengambilan dan Pengiriman Spesimen Tinja

Tantangan Diagnosis Diferensial

Pada tahap awal penyakit, polio sulit dibedakan dari bentuk kelumpuhan flasid akut lainnya seperti Guillain-Barré syndrome7, mielitis transversa8, atau neuritis traumatik9. Oleh karena itu, semua anak dengan AFP harus dilaporkan dan diuji untuk poliovirus dalam waktu 48 jam sejak onset kelumpuhan, bahkan jika para dokter yakin berdasarkan penilaian klinis bahwa anak tersebut tidak menderita polio.

Menurut laporan dalam Annals of Medicine and Surgery (DOI: 10.1097/MS9.0000000000004125), Guillain-Barré syndrome merupakan penyebab utama AFP di era pasca-polio, terutama di zona konflik dan krisis kemanusiaan di mana sistem sanitasi runtuh dan infeksi penyebab GBS seperti Campylobacter jejuni meningkat.

Protokol Pengambilan Spesimen yang Optimal

Untuk menguji poliovirus, spesimen tinja dianalisis untuk keberadaan virus. Karena ekskresi virus bervariasi, dua spesimen harus diambil dengan interval 24-48 jam, dalam waktu 14 hari sejak onset kelumpuhan. Standar WHO menetapkan bahwa minimal 80% kasus AFP harus memiliki spesimen yang memenuhi kriteria kecukupan (adequate stool specimen)10.

Kecepatan sangat penting karena konsentrasi tertinggi poliovirus dalam tinja anak yang terinfeksi ditemukan pada dua minggu pertama setelah onset kelumpuhan. Setelah periode ini, kemungkinan isolasi virus menurun drastis, mengurangi sensitivitas diagnostik.

Sistem Reverse Cold Chain

Spesimen tinja harus segera ditempatkan dalam wadah tertutup rapat dan disimpan sesegera mungkin dalam lemari pendingin atau dikemas dengan ice pack beku pada suhu 4-8°C dalam kotak pendingin (cold box)11, siap untuk dikirim ke laboratorium.

Penundaan atau paparan berkepanjangan terhadap panas selama perjalanan menuju laboratorium dapat merusak virus dan menghasilkan hasil negatif palsu. Spesimen harus tiba di laboratorium WHO yang terakreditasi dalam waktu 72 jam setelah pengumpulan. Jika tidak memungkinkan, sampel harus dibekukan pada suhu -20°C, kemudian dikirimkan dalam kondisi beku, idealnya dikemas dengan es kering (dry ice)12 atau kantong pendingin. Prosedur ini dikenal sebagai “reverse cold chain13—berbeda dengan cold chain vaksin yang menjaga suhu dingin dari pusat distribusi ke titik pelayanan, reverse cold chain mempertahankan suhu dingin dari titik pengambilan sampel hingga laboratorium.

Menurut laporan WHO Regional Office for the Eastern Mediterranean, tantangan utama bagi petugas surveilans polio adalah mempertahankan sampel pada suhu rendah yang stabil saat mereka bepergian dengan mobil, berjalan kaki, naik keledai, sepeda motor, perahu, atau pesawat. Mempertahankan reverse cold chain sehingga sampel tiba di laboratorium dalam kondisi dapat diuji merupakan indikator kinerja kritis surveilans AFP.

Sistem Pelacakan Spesimen Digital

Untuk mengatasi masalah keterlambatan pengiriman spesimen, GPEI telah memperkenalkan sistem pelacakan spesimen elektronik yang memungkinkan pemantauan sampel secara real-time dari titik pengambilan hingga hasil laboratorium akhir. Sistem ini memastikan program negara dapat melacak lokasi spesimen dan mengambil tindakan jika terjadi keterlambatan di titik mana pun dalam proses.

Rantai Ketiga: Isolasi dan Karakterisasi Virus Polio di Laboratorium

Jaringan Laboratorium Global

Di laboratorium yang terakreditasi WHO dalam Global Polio Laboratory Network (GPLN)14, ahli virus (virologis) memulai tugas mengisolasi poliovirus dari sampel tinja. Saat ini terdapat lebih dari 140 laboratorium GPLN di seluruh dunia yang menyediakan layanan diagnostik berkualitas tinggi untuk mendukung surveilans polio global.

Di Wilayah Mediterania Timur, terdapat 12 laboratorium nasional di Mesir, Iran, Irak, Yordania, Kuwait, Maroko, Oman, Pakistan, Arab Saudi, Sudan, Suriah, dan Tunisia yang mengisolasi dan menguji poliovirus dari sampel tinja yang dikumpulkan dari kasus AFP menggunakan prosedur dan reagen standar. Negara tanpa laboratorium nasional dilayani oleh laboratorium lain dalam jaringan.

Proses Isolasi Virus Konvensional

Algoritma standar saat ini untuk mengidentifikasi poliovirus dari spesimen tinja dan sampel lingkungan melibatkan isolasi virus dan karakterisasi molekuler dari isolat. Analisis sampel di laboratorium dapat memakan waktu 2-3 minggu, rata-rata, dari penerimaan sampel hingga hasil sekuensing akhir.

Langkah-langkah dalam proses standar meliputi:

  1. Kultur sel untuk isolasi virus: Menggunakan sel sensitif poliovirus (L20B) dan sel sensitif enterovirus (RD)
  2. Intratypic differentiation (ITD)15: Membedakan antara virus liar dan virus vaksin menggunakan quantitative PCR
  3. Sekuensing Sanger: Untuk membedakan antara poliovirus vaksin, vaccine-derived, dan tipe liar

Diferensiasi ini sangat penting karena vaksin polio oral (oral poliovirus vaccine/OPV) mengandung virus polio hidup yang dilemahkan dan menyerupai virus liar di laboratorium. Jika poliovirus liar diisolasi, virologis akan mengidentifikasi tipe spesifik virus (saat ini hanya tipe 1 yang masih beredar di alam liar, karena WPV tipe 2 terakhir tercatat pada 1999 dan tipe 3 pada 2012).

Metode Deteksi Langsung: Inovasi untuk Kecepatan

Saat ini terdapat dua teknologi deteksi langsung alternatif yang sedang dinilai untuk implementasi rutin:

  1. Direct Detection with Intratypic Differentiation (DD-ITD)16: Metode yang mendeteksi poliovirus langsung dari spesimen tanpa kultur sel
  2. Direct Detection Nanopore Sequencing (DDNS)17: Teknologi sekuensing yang lebih cepat menggunakan platform nanopore

Kedua metode ini lebih cepat dan lebih aman dibandingkan kultur sel standar terkait risiko kontainmen yang terkait dengan menumbuhkan virus hidup. Penggunaan metode deteksi langsung bertujuan untuk meningkatkan ketepatan waktu dalam deteksi dan respons wabah.

Menurut publikasi dalam Viruses tentang tantangan terakhir eradikasi polio, metode DD-ITD dan DDNS sedang diuji paralel dengan metode yang saat ini direkomendasikan di beberapa laboratorium GPLN, dan data ditinjau secara teratur untuk menilai apakah metode tersebut memenuhi semua kriteria evaluasi. Keputusan untuk implementasi ke dalam penggunaan rutin diharapkan pada 2024-2025 setelah validasi penuh oleh GPLN.

Meskipun kecepatan memperoleh hasil laboratorium akan meningkat dengan menggunakan metode deteksi langsung, hambatan tambahan untuk pelaporan kasus tepat waktu terletak pada infrastruktur logistik, dengan transportasi sampel/isolat sebagai penggerak utama keterlambatan. Village Reach baru-baru ini mulai mengimplementasikan program di 15 negara berisiko tinggi untuk transmisi poliovirus di Afrika untuk mengurangi waktu transportasi sampel-ke-lab melalui keterlibatan langsung dengan pemerintah lokal dan mitra untuk membuat rencana yang disesuaikan.

Target Ketepatan Waktu

Global Polio Surveillance Action Plan 2022-2024 menetapkan target bahwa spesimen harus mencapai laboratorium dalam 14 hari sejak onset kelumpuhan, dengan hasil pengujian dan sekuensing dilaporkan dalam 35 hari sejak onset kelumpuhan. Namun, saat ini target ini hampir tidak tercapai, terutama karena keterlambatan dalam pengiriman sampel lapangan-ke-lab dan antar-laboratorium.

Data menunjukkan bahwa negara dengan kapasitas laboratorium penuh (isolasi virus, ITD, dan sekuensing) seperti Pakistan lebih mudah memenuhi target ini. Keterlambatan dalam pengiriman internasional spesimen tinja dan sampel air limbah terus menjadi tantangan yang memerlukan intervensi berbeda untuk memastikan deteksi poliovirus tepat waktu.

Rantai Keempat: Pemetaan dan Pelacakan Transmisi Virus

Whole Genome Sequencing untuk Epidemiologi Molekuler

Begitu poliovirus liar atau vaccine-derived poliovirus diidentifikasi, tes lebih lanjut dilakukan untuk menentukan asal galur (strain)18 virus tersebut. Dengan menentukan konstitusi genetik yang tepat dari virus menggunakan whole genome sequencing (WGS)19, virus-virus dapat dibandingkan satu sama lain dan dikelompokkan ke dalam keluarga genetik yang mengarah pada area geografis tertentu.

Penelitian dari Indonesia menunjukkan bahwa pelatihan WGS yang dilaksanakan pada Juli 2025 di Bandung telah memperkuat kapasitas tiga laboratorium nasional polio dalam melakukan sekuensing genom utuh virus polio dan mengintegrasikan pemeriksaan ini ke dalam surveilans polio.

Database Referensi dan Analisis Filogenetik

Urutan virus polio yang baru ditemukan diperiksa dengan bank data referensi (reference database)20 dari virus-virus polio yang telah diketahui, memberikan dugaan asal geografis virus yang baru ditemukan. Analisis filogenetik21 memungkinkan penelusuran jalur transmisi dan identifikasi linkage epidemiologis antara kasus-kasus.

Studi dari Israel yang dipublikasikan dalam The Science of the Total Environment (DOI: 10.1016/j.scitotenv.2025.181020) mendemonstrasikan kekuatan WGS dan analisis filogenetik. Dua galur cVDPV2 berbeda yang berasal dari Afrika teridentifikasi di Israel pada awal 2025. WGS mengungkap pola mutasi unik dan peristiwa rekombinasi, memberikan data berharga untuk melacak deteksi internasional lebih lanjut dari galur-galur ini.

Aplikasi Praktis dalam Respons Wabah

Ketika poliovirus telah dipetakan ke area geografis yang tepat, menjadi mungkin untuk:

  1. Mengidentifikasi sumber masuknya virus ke wilayah tersebut, termasuk importasi jarak jauh atau melintasi perbatasan
  2. Menentukan durasi sirkulasi virus di suatu area
  3. Mengidentifikasi celah dalam surveilans berdasarkan diversitas genetik yang tidak terduga
  4. Merancang strategi imunisasi yang tepat untuk menghentikan penyebaran virus lebih lanjut

Penelitian dari Senegal yang dipublikasikan dalam International Journal of Infectious Diseases (DOI: 10.1016/j.ijid.2025.108122) menunjukkan bahwa analisis filodinamik22 dapat memperkirakan waktu introduksi virus. Virus NIE-ZAS-1 diperkirakan diperkenalkan ke Senegal sekitar 2010 (95% Highest Posterior Density: 2003-2017) dan baru-baru ini menyebar ke Republik Guinea dan Mauritania pada 2023 sambil terus beredar di Senegal antara 2023 dan 2024.

Pemantauan Keragaman Genetik

Pemantauan keragaman genetik poliovirus sangat penting untuk memahami intensitas transmisi. Penurunan keragaman genetik menunjukkan berkurangnya transmisi, sementara peningkatan keragaman dapat mengindikasikan celah imunitas populasi atau surveilans.

Menurut pernyataan Emergency Committee IHR, terjadi penurunan keragaman genetik secara keseluruhan antara 2020 dan 2023 untuk WPV1. Namun, peningkatan keragaman genetik diamati pada 2024, yang memerlukan pemisahan dua kluster genetik menjadi delapan kluster genetik, tiga di antaranya aktif pada 2025. Hal ini menunjukkan perlunya peningkatan kualitas program di negara endemik.

Integrasi Empat Rantai: Sistem yang Koheren

Keempat rantai surveilans AFP ini tidak beroperasi secara independen, melainkan membentuk sistem terintegrasi di mana kinerja setiap rantai memengaruhi efektivitas keseluruhan. Kegagalan pada satu rantai dapat mengkompromikan seluruh sistem deteksi poliovirus.

Target Kinerja Terintegrasi

Menurut Global Polio Surveillance Action Plan 2025-2026, target kinerja terintegrasi meliputi:

  1. Deteksi kasus: Non-polio AFP rate ≥2 per 100.000 anak <15 tahun (negara endemik) atau ≥1 (negara non-endemik)
  2. Kecukupan spesimen: ≥80% kasus AFP memiliki dua spesimen tinja yang memenuhi kriteria kecukupan
  3. Ketepatan waktu pengiriman: Spesimen tiba di laboratorium dalam 14 hari sejak onset kelumpuhan
  4. Ketepatan waktu pelaporan: Hasil isolasi virus dan sekuensing dilaporkan dalam 35 hari sejak onset kelumpuhan
  5. Follow-up klinis: ≥80% kasus AFP memiliki pemeriksaan follow-up untuk kelumpuhan residual pada 60 hari setelah onset kelumpuhan

Penguatan Kapasitas Berkelanjutan

Pengalaman Indonesia dalam menangani KLB polio 2022-2024 mendemonstrasikan pentingnya penguatan kapasitas di semua empat rantai secara simultan. Peningkatan non-polio AFP rate dari 2 menjadi 3 per 100.000, peningkatan kualitas spesimen, penguatan kapasitas laboratorium dengan WGS, dan penggunaan data sekuensing untuk pelacakan transmisi semuanya berkontribusi pada keberhasilan penutupan KLB pada November 2025.

Studi kasus dari Nigeria menunjukkan bahwa inovasi teknologi seperti AVADAR (Auto-Visual AFP Detection and Reporting)23 dan pemetaan GIS (Geographic Information System)24 dapat meningkatkan kinerja surveilans di semua rantai, dari deteksi hingga respons.

Tantangan Kontemporer dan Solusi

Keterlambatan Pengiriman Spesimen Internasional

Salah satu tantangan terbesar yang diidentifikasi dalam Global Polio Surveillance Action Plan 2025-2026 adalah pengiriman internasional spesimen tinja dan sampel air limbah yang terus menjadi hambatan untuk mencapai target ketepatan waktu 35 hari. Negara tanpa kapasitas laboratorium nasional sangat terpengaruh oleh masalah ini.

Solusi yang sedang diimplementasikan termasuk:

  • Program Village Reach untuk optimalisasi transportasi sampel di 15 negara Afrika berisiko tinggi
  • Sistem pelacakan spesimen elektronik untuk identifikasi dan penyelesaian cepat keterlambatan
  • Peningkatan kapasitas laboratorium regional untuk mengurangi kebutuhan pengiriman jarak jauh

Dampak Konflik dan Krisis Kemanusiaan

Penelitian dalam Annals of Medicine and Surgery tentang Guillain-Barré syndrome di zona perang menekankan bahwa konflik dan krisis kemanusiaan secara signifikan mengganggu semua empat rantai surveilans AFP. Runtuhnya sistem sanitasi, tempat penampungan yang penuh sesak, dan infeksi yang tersebar luas bertindak sebagai pemicu kunci untuk AFP non-polio, sambil juga meningkatkan risiko wabah polio karena cakupan imunisasi yang rendah dan gangguan surveilans.

Dalam konteks seperti ini, surveilans berbasis komunitas dan keterlibatan pemimpin lokal menjadi sangat penting untuk mempertahankan rantai pertama deteksi kasus.

Pandemi COVID-19 dan Pemulihan Surveilans

Pandemi COVID-19 secara signifikan mengganggu surveilans AFP di banyak negara. Penelitian tentang Indonesia selama pandemi menunjukkan bahwa pada 2020, non-polio AFP rate Indonesia hanya seperempat (0,64/100.000) dari tahun 2019 (2,27/100.000), jauh di bawah target untuk negara endemik (2/100.000), mengindikasikan gangguan parah pada surveilans AFP.

Namun, sistem telah pulih dengan baik. Selama respons KLB 2022-2024, Indonesia tidak hanya memulihkan tetapi meningkatkan kinerja surveilans, mendemonstrasikan ketahanan sistem ketika didukung dengan sumber daya dan komitmen politik yang memadai.

Kesimpulan dan Prospek Masa Depan

Empat rantai surveilans AFP—deteksi dan pelaporan kasus, pengambilan dan pengiriman spesimen, isolasi dan karakterisasi virus, serta pemetaan dan pelacakan transmisi—membentuk sistem terintegrasi yang merupakan fondasi upaya eradikasi polio global. Keberhasilan di setiap rantai bergantung pada kinerja rantai lainnya, dan kelemahan di satu titik dapat mengkompromikan seluruh sistem.

Inovasi teknologi seperti sistem pelaporan digital, metode deteksi langsung, WGS, dan sistem pelacakan spesimen elektronik terus meningkatkan efisiensi dan ketepatan waktu surveilans. Namun, tantangan fundamental seperti keterbatasan infrastruktur, konflik, dan ketidakstabilan politik di beberapa wilayah tetap menjadi hambatan yang memerlukan solusi berkelanjutan.

Pembelajaran dari pengalaman Indonesia dalam menangani KLB polio 2022-2024 dan Nigeria dalam transformasi dari episentrum WPV menjadi bebas polio menunjukkan bahwa dengan komitmen politik, kemitraan multi-sektor, dan penerapan teknologi yang tepat, bahkan sistem surveilans yang sebelumnya lemah dapat diperkuat menjadi standar global.

Seiring dunia bergerak menuju eradikasi polio final dengan target sertifikasi WPV1 pada 2027 dan eliminasi cVDPV2 pada 2029, mempertahankan dan memperkuat keempat rantai surveilans AFP akan tetap menjadi prioritas utama. Sistem surveilans polio yang kuat yang telah dibangun selama beberapa dekade juga akan menjadi aset berharga untuk surveilans penyakit menular lainnya dan kesiapsiagaan pandemi di masa depan.


Referensi

  1. Gemechu H, Biru G, Gebremeskel E, et al. A review on health system-based surveillance for acute flaccid paralysis: technological advancements, challenges, and outlooks. J Health Popul Nutr. 2025;44(1):396. https://doi.org/10.1186/s41043-025-01115-7
  2. Nwaze EO, Ieren II, Okafor C. The global poliovirus eradication initiatives in Kano state, Nigeria: a case report on the African regional commission pre-certification visit and lessons learnt. Front Public Health. 2025;13:1690423. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1690423
  3. Adnan Z, Kashif A, Raza AA, Samadi A. Guillain-Barré Syndrome in war-torn regions: the forgotten neurological emergency in humanitarian crises. Ann Med Surg (Lond). 2025;87(12):9117-9118. https://doi.org/10.1097/MS9.0000000000004125
  4. Zuckerman NS, Eliyahu H, Lustig Y, et al. Multiple African-origin circulating poliovirus-2 emergences identified in Israel: A reminder of an ongoing global challenge. Sci Total Environ. 2025;1009:181020. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2025.181020
  5. Ndiaye N, Diop B, Kébé O, et al. Recent emergence of vaccine-derived poliovirus type 2 in Senegal and virus spread to neighboring countries. Int J Infect Dis. 2025;161:108122. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2025.108122
  6. World Health Organization. Global Polio Surveillance Action Plan 2025-2026. WHO; 2025. Tersedia dari: https://www.who.int/publications/b/76243
  7. Global Polio Eradication Initiative. Surveillance – The four steps of acute flaccid paralysis (AFP) surveillance. GPEI; 2025. Tersedia dari: https://polioeradication.org/what-we-do/
  8. Global Polio Eradication Initiative. Global AFP Surveillance Guidelines. GPEI; 2025. Tersedia dari: https://polioeradication.org/wp-content/uploads/2025/03/AFP-Guidance-for-surveillance.pdf
  9. WHO Regional Office for the Eastern Mediterranean. Surveillance. WHO EMRO. Tersedia dari: https://www.emro.who.int/polio-eradication/about-eradication/surveillance.html
  10. Centers for Disease Control and Prevention. Surveillance To Track Progress Toward Polio Eradication – Worldwide, 2022-2023. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 2024;73:304-311. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/mmwr/volumes/73/wr/mm7313a1.htm
  11. Thompson KM, Duintjer Tebbens RJ. The Last Mile in Polio Eradication: Program Challenges and Perseverance. Viruses. 2024;16(4):640. Tersedia dari: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11053864/
  12. World Health Organization. Global Polio Surveillance Action Plan 2022-2024. Geneva: World Health Organization; 2022. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO. Tersedia dari: https://apps.who.int/iris/handle/10665/354479
  13. World Health Organization Indonesia. Sekuensing Genom Utuh Memperkuat Surveilans Polio Indonesia. 5 September 2025. Tersedia dari: https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/05-09-2025-whole-genome-sequencing-boosts-indonesia-s-polio-surveillance
  14. World Health Organization Indonesia. Indonesia announces closure of polio outbreak. 21 November 2025. Tersedia dari: https://www.who.int/indonesia/news/detail/21-11-2025-indonesia-announces-closure-of-polio-outbreak
  15. Macha J, Bijlmakers L, van Basten Batenburg M, et al. Maintaining Polio-Free Status in Indonesia During the COVID-19 Pandemic. Glob Health Sci Pract. 2022;10(1):e2100310. https://doi.org/10.9745/GHSP-D-21-00310

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan literatur ilmiah terkini dari PubMed, pedoman WHO, dan publikasi GPEI hingga Desember 2025. Informasi dapat berubah seiring perkembangan teknologi dan strategi surveilans polio global.

  1. Acute Flaccid Paralysis (AFP): Sindrom klinis yang ditandai dengan onset mendadak kelemahan otot dan penurunan tonus otot pada satu atau lebih ekstremitas, yang merupakan manifestasi klasik infeksi poliovirus meskipun dapat juga disebabkan oleh berbagai kondisi neurologis lainnya. ↩︎
  2. Gold Standard: Metode atau prosedur yang dianggap sebagai yang terbaik dan paling dapat diandalkan untuk mendiagnosis atau mendeteksi suatu kondisi tertentu. ↩︎
  3. Open Data Kit (ODK): Platform perangkat lunak sumber terbuka yang memungkinkan pengumpulan data lapangan secara digital menggunakan perangkat seluler, mengurangi kesalahan dan meningkatkan kecepatan pelaporan. ↩︎
  4. Active Surveillance: Pendekatan surveilans di mana petugas surveilans secara proaktif mencari kasus dengan mengunjungi fasilitas kesehatan, berbeda dengan surveilans pasif yang mengandalkan pelaporan sukarela dari tenaga kesehatan. ↩︎
  5. Community-Based Surveillance: Sistem surveilans yang melibatkan anggota masyarakat, termasuk tokoh non-medis, dalam identifikasi dan pelaporan kasus penyakit di komunitas mereka. ↩︎
  6. Non-Polio AFP Rate: Angka kasus AFP yang bukan disebabkan oleh poliovirus per 100.000 anak di bawah 15 tahun per tahun, yang digunakan sebagai indikator sensitivitas sistem surveilans. ↩︎
  7. Guillain-Barré Syndrome (GBS): Gangguan neurologis autoimun yang menyebabkan kelemahan otot progresif dan dapat menyerupai polio, sering dipicu oleh infeksi sebelumnya. ↩︎
  8. Mielitis Transversa: Peradangan pada sumsum tulang belakang yang dapat menyebabkan kelumpuhan, gangguan sensorik, dan disfungsi kandung kemih. ↩︎
  9. Neuritis Traumatik: Peradangan saraf akibat trauma atau cedera yang dapat menyebabkan kelemahan atau kelumpuhan pada area yang dipersarafi. ↩︎
  10. Adequate Stool Specimen: Dua spesimen tinja dengan volume minimal 8-10 gram per sampel, diambil minimal 24 jam terpisah dalam 14 hari onset kelumpuhan, dan tiba di laboratorium dalam kondisi baik melalui reverse cold chain. ↩︎
  11. Cold Box: Kotak pendingin yang dirancang khusus untuk mempertahankan suhu rendah selama transportasi spesimen atau vaksin, biasanya menggunakan ice pack atau gel pendingin. ↩︎
  12. Dry Ice: Karbon dioksida padat (CO₂) dengan suhu -78,5°C yang digunakan untuk mempertahankan spesimen biologis dalam kondisi beku selama pengiriman jarak jauh. ↩︎
  13. Reverse Cold Chain: Sistem logistik untuk menjaga spesimen biologis pada suhu rendah (2-8°C) atau beku (-20°C) dari titik pengambilan sampel di lapangan hingga tiba di laboratorium, kebalikan dari cold chain vaksin. ↩︎
  14. Global Polio Laboratory Network (GPLN): Jaringan laboratorium yang terakreditasi WHO yang menyediakan layanan diagnostik berkualitas tinggi untuk isolasi, diferensiasi, dan karakterisasi genetik poliovirus dari spesimen AFP dan lingkungan. ↩︎
  15. Intratypic Differentiation (ITD): Tes laboratorium untuk membedakan antara virus polio liar (wild poliovirus) dan virus polio yang berasal dari vaksin (vaccine-derived poliovirus) dalam tipe yang sama. ↩︎
  16. Direct Detection with Intratypic Differentiation (DD-ITD): Metode diagnostik yang mendeteksi dan membedakan poliovirus langsung dari spesimen klinis tanpa memerlukan kultur sel, menggunakan teknik amplifikasi asam nukleat. ↩︎
  17. Direct Detection Nanopore Sequencing (DDNS): Teknologi sekuensing generasi ketiga yang menggunakan pori-pori protein untuk membaca urutan DNA/RNA secara langsung dan real-time, memungkinkan identifikasi cepat poliovirus. ↩︎
  18. Strain: Varian genetik dalam spesies virus yang dapat dibedakan melalui karakteristik genetik atau antigeniknya, memungkinkan pelacakan jalur transmisi. ↩︎
  19. Whole Genome Sequencing (WGS): Proses penentuan urutan lengkap DNA genom organisme, yang untuk poliovirus mencakup sekitar 7.500 pasangan basa, memungkinkan karakterisasi genetik yang komprehensif. ↩︎
  20. Reference Database: Kumpulan data sekuens genetik virus polio dari berbagai lokasi dan waktu yang digunakan sebagai pembanding untuk mengidentifikasi hubungan genetik dan asal geografis virus yang baru diisolasi. ↩︎
  21. Analisis Filogenetik: Metode untuk merekonstruksi hubungan evolusioner antara organisme atau virus berdasarkan perbandingan sekuens genetik mereka, divisualisasikan sebagai pohon filogenetik. ↩︎
  22. Analisis Filodinamik: Pendekatan yang mengintegrasikan data filogenetik dengan informasi epidemiologis dan temporal untuk memperkirakan parameter seperti waktu introduksi virus, laju evolusi, dan dinamika populasi virus. ↩︎
  23. AVADAR (Auto-Visual AFP Detection and Reporting): Sistem surveilans inovatif yang menggunakan teknologi telepon seluler untuk mengirim gambar dan informasi kasus AFP secara real-time dari petugas surveilans di lapangan ke koordinator program. ↩︎
  24. GIS (Geographic Information System): Sistem informasi yang dirancang untuk menangkap, menyimpan, memanipulasi, menganalisis, mengelola, dan menyajikan semua jenis data geografis, digunakan dalam surveilans untuk pemetaan kasus dan identifikasi celah cakupan. ↩︎

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar