Sangkakala Senja

Usiamu belum jua beranjak tua, namun batinmu terasa telah menua sehingga seratus windu pun tak cukup menggambarkan kepenatanmu akan bergerumul dan bercumbu di lorong waktu.

Apakah kamu tersenyum hari ini? Apakah kamu tersenyum esok?

Embed from Getty Images

Napas ini hanya sekajap, seperti sesaat waktu yang kamu perlukan untuk membelai senja, meneguk hangat secangkir kopi dan meniupkan sankakalnya – sedemikian hingga dunia tahu, bahwa kita telah mewariskan hari kepada generasi selanjutnya.

Berhentilah menyangkal, bahwa engkau jatuh hati pada hari ini, pada saat-saat yang tak pernah akan abadi, kecuali di dalam apa yang tertulis di lubuk nurani.

Karena engkau dan aku adalah kita yang meniup sankalala senja.

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

%d blogger menyukai ini: