Mungkin ada yang ingat, atau mungkin juga tidak — karena kita termasuk generasi yang tumbuh di bawah perlindungan program imunisasi nasional. Batuk rejan, atau dalam dunia medis dikenal sebagai pertussis, seolah menjadi penyakit masa lalu yang sudah tersingkir dari radar kekhawatiran kita. Namun kenyataannya, penyakit ini tidak benar-benar pergi. Ia hanya bersembunyi, dan kini mulai kembali muncul ke permukaan.
Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan mencatat lonjakan yang mengkhawatirkan: pada tahun 2022, hanya tercatat 437 kasus suspek pertusis. Setahun kemudian, angka itu melonjak menjadi 2.163 kasus yang tersebar di 199 kabupaten/kota di 30 dari 38 provinsi — peningkatan lebih dari lima kali lipat dalam satu tahun. Pada tahun 2024, laporan menunjukkan 1.017 kasus di 147 kabupaten/kota. Yang lebih memprihatinkan: hampir 72 persen dari kasus-kasus tersebut terjadi pada anak-anak yang belum pernah mendapatkan imunisasi pertusis sama sekali.
Apa Itu Pertusis?
Pertusis adalah infeksi saluran napas akut yang sangat menular, disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Nama “batuk rejan” berasal dari bunyi khas yang dihasilkan — lengkingan inspirasi bernada tinggi (whoop) setelah rentetan serangan batuk yang panjang dan tidak terkendali. Dalam bahasa Inggris, penyakit ini dikenal dengan nama whooping cough, sementara di masyarakat Indonesia ia juga dikenal sebagai “batuk seratus hari” — merujuk pada lamanya gejala yang bisa bertahan berbulan-bulan.
Bakteri B. pertussis menginfeksi lapisan epitel bersilia di saluran napas bagian atas — trakea dan bronkus. Ia menghasilkan sejumlah toksin, termasuk toksin pertusis, yang merusak silia dan mengganggu mekanisme pembersihan lendir alami saluran napas. Akibatnya, lendir menumpuk, bakteri menetap lebih lama, dan batuk menjadi satu-satunya mekanisme tubuh untuk membersihkan saluran napas yang sudah “terlumpuhkan” ini. Inilah mengapa batuk pada pertusis bisa berlangsung begitu lama dan begitu hebat.

Beban Global yang Sesungguhnya Jauh Lebih Besar
Selama bertahun-tahun, angka resmi kasus pertusis global dianggap sudah cukup terkendali berkat program vaksinasi. Namun sebuah systematic review dan meta-analysis terbaru yang diterbitkan di The Journal of Infection mengungkapkan gambaran yang sangat berbeda. Berdasarkan analisis studi seroepidemiologi dari berbagai penjuru dunia antara tahun 2010 hingga 2023, seroprevalensi anti-pertussis (anti-PT) IgG secara global mencapai 23,39%, dengan estimasi insiden infeksi B. pertussis sekitar 5,11%. Angka ini setara dengan perkiraan 386 juta kasus pertusis per tahun secara global — jauh lebih tinggi dari data yang dilaporkan ke Global Health Observatory WHO maupun perkiraan Global Burden of Disease (Ma et al., 2026).
Kesenjangan antara angka yang dilaporkan dan kenyataan di lapangan ini bukan kejutan bagi kalangan klinis. Pertusis sangat sering salah diagnosis, terutama pada orang dewasa dan remaja, di mana gejalanya lebih ringan atau tidak khas dibandingkan pada bayi. Di Indonesia, IDAI juga mengakui bahwa banyak kasus pertusis yang terlambat terdeteksi karena gejala awalnya menyerupai batuk biasa, asma, atau bahkan tuberkulosis paru.
Pandemi COVID-19 dan Celah Imunitas yang Berbahaya
Fenomena kebangkitan pertusis di era pasca-pandemi menjadi fokus penelitian global. Selama pandemi COVID-19, pembatasan sosial dan pengurangan kontak fisik secara tidak langsung juga menekan sirkulasi B. pertussis — sehingga kasus pertusis sempat menurun drastis di banyak negara. Namun penurunan ini membawa konsekuensi yang tidak terduga: berkurangnya paparan alami berarti berkurangnya dorongan imunitas (immune boosting) secara alami di populasi, dan terputusnya rangkaian vaksinasi rutin akibat penurunan kunjungan ke fasilitas kesehatan menciptakan apa yang para peneliti sebut sebagai immunity gap — celah imunitas yang semakin melebar.
Sebuah analisis beban penyakit pertusis global yang diterbitkan di Human Vaccines & Immunotherapeutics menunjukkan bahwa penurunan kasus selama pandemi bukan karena perlindungan biologis silang dari COVID-19, melainkan semata akibat terganggunya pola transmisi. Begitu pembatasan sosial dicabut dan kontak antar manusia kembali normal, celah imunitas yang terbentuk selama pandemi menjadi pemicu gelombang kebangkitan kasus pertusis (Zhang et al., 2026).
Sebuah narrative review yang diterbitkan di Infectious Diseases and Therapy mencatat bahwa hingga pertengahan 2025, wabah pertusis pasca-pandemi telah dilaporkan di setidaknya 42 negara, termasuk negara-negara dengan cakupan vaksinasi yang selama ini dianggap tinggi (Vargas-Zambrano et al., 2025). Pola ini menggambarkan tantangan yang semakin kompleks: vaksin yang ada tidak memberikan perlindungan seumur hidup, dan kelalaian terhadap dosis penguat (booster) di segala usia merupakan kerentanan yang nyata.
Perjalanan Klinis: Tiga Fase yang Perlu Dikenali
Pertusis berkembang melalui tiga fase klinis yang berbeda, dan memahaminya sangat penting untuk mengenali penyakit ini lebih awal.
Fase kataral berlangsung sekitar satu hingga dua minggu pertama sejak terinfeksi. Pada fase ini, gejalanya hampir tidak dapat dibedakan dari batuk pilek biasa: hidung berair, bersin, sedikit demam, dan batuk ringan. Tidak ada yang tampak luar biasa. Namun justru pada fase inilah penderita paling menular — B. pertussis menyebar dengan efisiensi yang luar biasa melalui droplet pernapasan, dan satu orang yang terinfeksi dapat menularkan bakteri ini kepada 12 hingga 17 orang lain yang rentan.
Fase paroksismal adalah fase yang paling khas dan paling mengkhawatirkan, berlangsung antara dua hingga enam minggu. Batuk berubah menjadi episode yang intens dan tidak terkendali — rentetan batuk keras yang berulang tanpa jeda napas, hingga penderita kehabisan udara. Ketika akhirnya bisa menarik napas, terdengarlah bunyi whoop yang khas. Serangan batuk ini sering diakhiri dengan muntah, wajah memerah atau bahkan kebiruan, dan kelelahan ekstrem. Episode ini bisa terjadi 15 hingga 25 kali dalam sehari, terutama di malam hari.
Perlu diperhatikan bahwa pada bayi di bawah tiga bulan, bunyi whoop mungkin tidak terdengar sama sekali. Bayi yang sangat kecil justru berisiko mengalami apnea — henti napas sesaat — yang jauh lebih berbahaya dan mengancam jiwa.
Fase konvalesen atau fase pemulihan berlangsung beberapa minggu hingga bulan, ditandai dengan batuk yang berangsur-angsur berkurang frekuensi dan keparahannya. Meski demikian, selama fase ini saluran napas masih rentan terhadap infeksi lain, dan batuk dapat kambuh kembali jika terpicu.
Komplikasi: Lebih dari Sekadar Batuk
Pertusis bukan penyakit ringan, terutama bagi bayi dan balita. Sekitar 50 persen bayi di bawah usia satu tahun yang terinfeksi memerlukan perawatan di rumah sakit. Komplikasi yang dapat terjadi meliputi pneumonia (yang merupakan penyebab kematian tersering), kejang akibat kekurangan oksigen ke otak, ensefalopati, penurunan berat badan akibat muntah berulang, bahkan patah tulang rusuk akibat kekerasan batuk yang terus-menerus. Pada bayi, kematian masih bisa terjadi, terutama pada bayi yang sangat muda dan yang belum mendapat vaksinasi.
Pada orang dewasa dan remaja, pertusis umumnya tidak seberat pada bayi, namun batuk yang berkepanjangan dapat menyebabkan gangguan tidur yang serius, fraktur tulang rusuk, inkontinensia, bahkan perdarahan di pembuluh darah kecil pada mata. Mereka juga berperan sebagai sumber penularan kepada bayi di sekitarnya yang belum terlindungi.
Diagnosis: Tidak Semudah yang Dikira
Mendiagnosis pertusis pada tahap awal merupakan tantangan klinis yang nyata. Pada fase kataral, tidak ada temuan yang spesifik, dan kemungkinan dokter akan menganggapnya sebagai infeksi saluran napas atas biasa. Diagnosis baru lebih mudah dipertimbangkan saat batuk khas muncul — namun justru di fase itu, efektivitas antibiotik sudah mulai berkurang.
Sebuah konsensus pakar internasional yang diterbitkan di World Journal of Pediatrics merekomendasikan pendekatan diagnostik yang terstruktur: anamnesis riwayat batuk yang berkepanjangan (lebih dari dua minggu) disertai setidaknya satu gejala khas (bunyi whoop, muntah setelah batuk, atau apnea pada bayi), didukung oleh pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan standar adalah swab nasofaring untuk kultur atau PCR (polymerase chain reaction) deteksi DNA B. pertussis, yang paling sensitif bila dilakukan sebelum hari ke-21 sejak gejala dimulai. Pemeriksaan darah sering menunjukkan leukositosis dengan limfositosis yang mencolok. Serologi (pengukuran titer antibodi anti-PT IgG) berguna terutama pada fase lanjut di mana kultur dan PCR sudah kurang sensitif (Mi et al., 2024).
Pengobatan: Antibiotik dan Perawatan Suportif
Antibiotik adalah tulang punggung pengobatan pertusis, meskipun efektivitasnya sangat bergantung pada ketepatan waktu pemberian. Pada fase kataral, antibiotik dapat menghentikan atau sangat melemahkan perjalanan penyakit. Pada fase paroksismal, antibiotik sudah tidak banyak mengubah perjalanan klinis, namun tetap bermanfaat untuk menghilangkan bakteri dari nasofaring dan memutus rantai penularan.
Lini pertama yang direkomendasikan adalah golongan makrolida, terutama azitromisin dan klaritromisin. Namun sebuah tinjauan yang diterbitkan di Journal of Microbiology, Immunology, and Infection memperingatkan tentang meningkatnya resistensi B. pertussis terhadap eritromisin (dan makrolida pada umumnya) di beberapa negara, termasuk China dan beberapa negara Asia lainnya. Kondisi ini menjadi tantangan baru dalam penanganan pertusis secara global (Yang et al., 2026). Di Indonesia, pemantauan pola resistensi ini perlu mendapat perhatian, meskipun data lokal yang terstandar masih terbatas.
Untuk bayi yang sakit berat, perawatan di rumah sakit diperlukan dengan pemantauan ketat, pemberian oksigen bila perlu, dan dukungan nutrisi — karena muntah berulang dapat menyebabkan dehidrasi dan malnutrisi yang memperparah kondisi.
Vaksinasi: Perlindungan Terbaik yang Sudah Ada
Vaksinasi tetap menjadi strategi perlindungan paling efektif terhadap pertusis. Di Indonesia, vaksin pertusis tersedia dalam bentuk kombinasi — paling umum adalah vaksin pentavalen DTP-HB-Hib yang menjadi bagian dari program imunisasi nasional. Sesuai rekomendasi IDAI 2024, jadwal pemberian DPT adalah tiga dosis primer pada usia 2, 3, dan 4 bulan, dilanjutkan dosis penguat pada usia 18 bulan dan 5–7 tahun. Pada remaja, dosis booster Tdap (dengan dosis antigen yang lebih rendah) direkomendasikan pada usia 10 tahun.
Namun ada hal penting yang perlu dipahami: imunitas dari vaksin pertusis tidak bertahan seumur hidup. Perlindungan dari vaksin aseluler (acellular pertussis/aP) yang kini banyak digunakan mulai melemah dalam waktu 5–10 tahun setelah pemberian dosis terakhir. Inilah mengapa orang dewasa dan remaja yang merasa sudah “kebal” karena pernah divaksinasi sewaktu kecil sebenarnya tidak sepenuhnya terlindungi. PAPDI dan KOMNAS (Komite Nasional) Ahli Imunisasi menyarankan orang dewasa mendapatkan satu dosis Td atau Tdap setiap 10 tahun.
Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus adalah ibu hamil. Vaksinasi Tdap selama kehamilan — idealnya antara minggu ke-27 hingga 36 — terbukti efektif melindungi bayi baru lahir di bulan-bulan pertama kehidupan, sebelum mereka dapat menerima vaksinasi sendiri. Antibodi protektif dari ibu ditransfer melalui plasenta kepada janin, memberikan perlindungan pasif yang sangat kritis pada periode paling rentan. Strategi ini direkomendasikan pada setiap kehamilan, bukan hanya kehamilan pertama.
Pertusis Bukan Hanya Penyakit Bayi
Salah satu pergeseran epidemiologi yang perlu dipahami masyarakat umum adalah bahwa pertusis kini bukan lagi eksklusif milik bayi dan anak kecil. Data Kemenkes 2024 menunjukkan bahwa remaja dan orang dewasa kini menjadi reservoir utama bakteri B. pertussis di komunitas. Mereka terinfeksi dengan gejala yang sering tersamar — batuk berkepanjangan yang dianggap biasa, tanpa bunyi whoop yang khas — dan tanpa sadar menularkan bakteri kepada bayi di rumah yang belum mendapat vaksinasi lengkap.
Pola ini dikenal dengan istilah cocooning yang terbalik: alih-alih melindungi bayi lewat vaksinasi orang-orang di sekitarnya, justru orang dewasa yang tidak ter-booster menjadi “jembatan” penularan kepada bayi. Kesadaran akan perlunya booster pertusis di kalangan orang dewasa masih sangat rendah di Indonesia.
Apa yang Harus Dilakukan?
Bagi orang tua, langkah paling konkret adalah memastikan anak mendapatkan vaksinasi DPT lengkap sesuai jadwal IDAI. Jangan menunda atau melewatkan dosis apapun — setiap dosis yang terlewat adalah celah perlindungan yang terbuka. Jika anak atau anggota keluarga mengalami batuk yang tidak biasa — terutama batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu dengan karakteristik serangan panjang, diakhiri muntah atau bunyi napas keras — segera konsultasikan ke dokter dan jangan ragu untuk menyebutkan kemungkinan pertusis.
Bagi tenaga kesehatan, kewaspadaan terhadap pertusis perlu ditingkatkan, terutama dalam mendiagnosis kasus pada orang dewasa yang sering datang dengan keluhan “batuk tidak sembuh-sembuh” yang sudah berbulan-bulan. Pelaporan kasus ke puskesmas atau dinas kesehatan setempat sangat penting untuk kepentingan surveilans dan respons epidemi.
Pertusis memang bukan penyakit baru. Tapi ia adalah penyakit yang masih sangat nyata, masih sangat berbahaya bagi yang paling rentan, dan masih dapat dicegah dengan alat yang sudah kita miliki: vaksinasi yang lengkap dan tepat waktu.
Referensi
Ma, Q. Y., Li, T., Gong, S., Li, J., Wei, Y., & Hao, Y. (2026). A global systematic literature review of Bordetella pertussis anti-PT IgG seroprevalence 2010 to 2023. The Journal of Infection, 92(3), 106708. https://doi.org/10.1016/j.jinf.2026.106708
Mi, Y. M., Deng, J. K., Zhang, T., Cao, Q., Wang, C. Q., Ye, S., Chen, Y. H., He, H. Q., Wu, B. B., Liu, Y., Zeng, M., Li, W., Wu, F., Xu, H. M., Zhao, S. Y., Liu, G., Hua, W., Xu, D., Bai, G. N., … Hua, C. Z. (2024). Expert consensus for pertussis in children: New concepts in diagnosis and treatment. World Journal of Pediatrics, 20(12), 1209–1222. https://doi.org/10.1007/s12519-024-00848-5
Vargas-Zambrano, J. C., Abrudan, S., & Macina, D. (2025). Understanding the epidemiology and contributing factors of post-COVID-19 pertussis outbreaks: A narrative review. Infectious Diseases and Therapy, 15(1), 19–41. https://doi.org/10.1007/s40121-025-01277-1
Yang, Q., Yang, Y., Liu, B., Xu, L., Ma, Y., Zhou, J., Wang, Y., Hao, C., & Jiang, W. (2026). Global perspectives on pertussis epidemiology, macrolide resistance, and management in the post-COVID-19 era (2020–2024). Journal of Microbiology, Immunology, and Infection. https://doi.org/10.1016/j.jmii.2026.03.002
Zhang, S., Chen, C., Qi, J., Xu, Y., & Xiao, Y. (2026). Impact of the COVID-19 pandemic on the global burden of pertussis: An analysis of trends and the emergence of an immunity gap. Human Vaccines & Immunotherapeutics, 22(1), 2621476. https://doi.org/10.1080/21645515.2026.2621476
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2024). Jadwal imunisasi anak usia 0–18 tahun, rekomendasi Ikatan Dokter Anak Indonesia tahun 2024. https://www.idai.or.id/professional-resources/rekomendasi/jadwal-imunisasi-anak-usia-0-18-tahun
Ikatan Dokter Anak Indonesia. (2024). Pedoman imunisasi di Indonesia edisi 7 tahun 2024. https://www.idai.or.id/publications/buku-idai/pedoman-imunisasi-di-indonesia-edisi-7-tahun-2024
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Penyakit batuk rejan. https://ayosehat.kemkes.go.id/penyakit/batuk-rejan
Catatan editorial: Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan sebelumnya (Pertussis – Si Batuk Rejan, 2016) dengan data epidemiologi dan evidens klinis terkini. Di legawa.com juga tersedia artikel pengantar serupa bertajuk Memahami Pertusis: Gejala, Pencegahan, dan Pentingnya Vaksinasi (2024) yang dapat menjadi bacaan pelengkap.

Tinggalkan komentar