A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pada era di mana peradaban manusia telah mulai menjamah bintang-bintang di semesta membawa warisan-warisan lama, di sini kisah SkyFire Avenue dimulai. Sebuah planet kecil di Aliansi Timur bernama Planet Skyfire, di dalamnya adalah Kota Skyfire, dan tempat yang paling terkenal ada Skyfire Avenue, jalan sepanjang 2048 meter.

Terdapat 168 toko di sepanjang jalan ini, dan tiap-tiap pemilik toko ini adalah para ahli yang sangat tangguh.

Jalan ini tidak boleh dilalui oleh kendaraan atau robot apapun, apalagi mecha. Bahkan polisi yang berpatroli harus berjalan kaki. Ini karenakan, jalan ini hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki, jalur bagi para bangsawan, tersembunyi dari dunia yang bergemerlap dengan teknologi.

Lan Jue, yang merupakan prajurit bayaran terhebat, dengan julukan ‘Zeus’, telah mengasingkan diri di Skyfire Avenue setelah kematian istrinya. Nama tokonya adalah ‘Toko Permata Zeus’, dan di Skyfire Avenue ini dia diberi gelar, ‘Tuan Permata’.

Saya menyelesaikan membaca novel ringan ini dengan puas. Karena memang bukan bacaan berat, tentu saja menyenangkan untuk dibaca.

Politik, kebudayaan, romantisme, hingga bagaimana penulis membuat setiap karakter menjadi hidup sungguh menarik. Ceritanya juga meluas dengan baik, dan tidak rumit. Intrik yang muncul tertata dengan baik. Unsur psikologi mungkin tidak mencolok, tapi bukan bermakna kisahnya tidak menyentuh.

Meski berakhir baik, tidak bermakna kisah Skyfire Avenue tidak memiliki unsur tragedi. Kisahnya kadang sulit ditebak.

Kisahnya seputar ancaman besar yang mengancam umat manusia di alam semesta, dan bagaimana tokoh utama menjadi ‘tumbal’ oleh tokoh-tokoh elite di Skyfire Avenue untuk menjadi kunci dari bencana yang tidak pernah diduga oleh sebagian besar orang.

Setiap aliansi memiliki kepentingan sendiri, setiap organisasi raksasa juga demikian, bahkan setiap individu memiliki kecenderungannya. Bahkan ketika jalan besar cerita bisa ditebak, namun tidak dengan detailnya yang kerap mengejutkan.

Untuk novel xanxia ringan, saya akan memberi nilai delapan dari sepuluh.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca