A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Salah satu karya menarik dari Lí tiān (Bajak Langit) adalah Sānjiè dú zūn (Penguasa Tiga Loka) atau dalam terjemahan bebas bahasa Inggris yang populer di kalangan penggemar sering disebut dengan judul Sovereign of the Three Realms (SOTR). Novel SOTR menurut saya adalah salah satu xanxia yang paling renyah untuk dibaca sehari-hari.

SOTR berkisah tentang tokoh utama Jiang Chen, putra dari Kaisar Langit – Maharaja Kahyangan. Tanpa sengaja bereinkarnasi ke dalam raga seorang putra bangsawan yang tidak disukai banyak orang. Dari sini dia memulai perjalanan hidupnya yang keras untuk menghadapi semua rintangan dan tantangan.

Tidak ada orang, pendekar, tabib yang bisa mengatakan diri mereka jenius di hadapan Jiang Chen, oleh karena tidak ada yang lebih memahami isi serta misteri langit dibandingkan putra kaisar langit. Slogannya, “Jenius? Siapa yang mendampingiku akan kutinggikan, dan mereka yang menghalangiku akan menemukan tempat di neraka.”

Novel berseri sebanyak 24 buku ini cukup memikat saya. Dan ketika saya merencanakannya hanya untuk mengisi waktu luang, ternyata justru cukup asyik dibaca dalam beberapa bulan terakhir.

Tokoh utama memang ditampilkan ekstrem jenius dalam novel ini. Hampir setiap strateginya cukup matang, walau kadang keterbatasannya sangat kentara. Bagi seseorang yang hidup hampir satu juta tahun di kahyangan dengan menghabiskan waktu belajar pelbagai gulungan mistik dan pengetahuan rahasia, menjadikan otaknya sebagai senjata pamungkas untuk melawan musuh-musuhnya yang jauh lebih hebat.

Penampilan tokoh utama sebagai ahli strategi jauh lebih memikat dibandingkan ketika ia ditampilkan sebagai ahli obat atau sebagai pendekar.

Jika bukan karena ‘plot armor’ yang terlalu kental, saya mungkin akan mengacungi sepuluh jempol untuk karya sastra ini. Sebagaimana kebanyakan xanxia yang terlalu panjang, kadang ada unsur-unsur pengulangan yang bisa menjemukan dalam novel ini. Apalagi novel terakhir sepertinya hanya sekadar sebagai pemanis saja, sedemikian hingga berakhir dengan sempurna ekstra bahagia.

Adanya unsur tragedi dalam novel ini tidak terlalu menyentuh, sehingga tidak terasa seperti ada tragedi yang ditampilkan. Unsur romantis dan percintaan cukup kental di pertengahan novel, namun kemudian hambar pada bagian-bagian selanjutnya, bagaikan tebu yang dikunyah terlalu lama. Sedangkan komedi, kadang ada kadang hilang, tidak berlebihan tidak juga kurang.

Novel SOTR merupakan fantasi klasik dalam bungkus modern, dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami. Versi terjemahan bebas juga cukup baik, hanya saja belum sampai pada akhir cerita.

Jika Anda tidak memiliki pilihan xanxia atau wuxia lain, mungkin novel ini bisa menjadi pertimbangan.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca