A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Damai merupakan sebuah koin, di satu sisi ada di mana-mana jika kita berkenan melihatnya, di sisi lain begitu mahal sedemikian hingga darah anak manusia mengalir seperti sungai pun kadang tidak cukup untuk menebusnya. Peperangan tercatat dalam lembar sejarah peradaban manusia, sejak sebelum aksara dikenal luas, hingga hari ini.

No Peace in the Name of God

Tidak ada jiwa yang damai akan memulai perang!

Ini adalah sebuah catatan yang bermakna. Pikiran seseorang mungkin tenang, namun jiwanya selalu menghendaki sesuatu. Tidak harus selalu berupa ‘harta, takhta dan wanita’, kita bisa menyebutkan dengan pelbagai ‘nama’, namun itu tetaplah sebentuk kehendak, atau sewujud hasrat.

Jika ada yang takut atau merasa kekurangan, maka ‘harta’ adalah pengobatannya, jika ada yang takut atau merasa tertindas, maka ‘takhta’ adalah perisainya, jika ada yang takut atau merasa sendiri nan terasing, maka ‘wanita’ adalah pelariannya.

Apa pun yang menjadi landasannya, atas nama siapa, dengan alasan apa, di situ selalu ada kehendak untuk mengesampingkan damai, ketika manusia memulai pembantaian atas manusia lainnya.

Sayangnya, dan memang sungguh sayang, kadang perang adalah jalan keluar satu-satunya yang dapat kita temukan, oleh karena kita telah menuliskan sebelum tanda titik – sebuah pernyataan, ‘Tiada damai di antara kita’.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar