Saat kecil, Tarzan merupakan salah satu tokoh cerita dan film yang kental di ingatan hingga saat ini, bahkan adaptasinya pada masa itu ke dalam karya-karya lokal tidaklah sedikit. Namun seiring waktu, ikon Tarzan mungkin mulai memudar.
Film the Legend of Tarzan bisa dikatakan membangkitkan sedikit kenangan akan masa-masa lama itu.
Hanya saja, satu-satunya saya yang membuat saya kaget, karena mungkin belum membaca resensinya waktu itu, adalah film ini tidak mengisahkan awal ketika Tarzan kecil dan tumbuh besar di hutan. Namun kisahnya setelah dia pergi dan menetap di Inggris, kemudian karena sebab tertentu, dia bersama istrinya Jane kembali ke Kongo untuk menyelidiki masalah yang mungkin menimpa ‘rumah’-nya.
Film berlatar dasawarsa terakhir abad ke-19 ini meski pun saya berharap ditampilkan petualangan, namun entah kenapa saya merasa justru nuansa dramanya agak kental. Ada romantisme yang tertselubung indah, hingga sedikit adegan ranjang yang tak kentara.
Ini membawa saya ke dalam kisah Tarzan yang tidak pernah saya dengar sebelumnya (mungkin karena saya melewatkan sesuatu).
Menampilkan hanya sedikit hubungan antara Tarzan dan para hewan, sehingga kesannya sebagai ‘king of the jungle’ terasa hambar di sebagian besar jalan cerita. Titik berat kisah berada pada situasi pergulatan psikologis dari tokoh utama, yang mungkin membuat film tampak tidak menarik bagi mereka yang tidak terlalu berminat menikmati drama psikologi.
Bagi saya sendiri, apa yang ditampilkan dalam film the Legend of Tarzan tahun lalu, benar-benar menarik. Setidaknya sebagai film keluarga (tanpa anak kecil), film ini bisa mengisi liburan bersama.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan