Pendahuluan
Di negara tropis seperti Indonesia, banjir dan genangan air bukan hanya masalah infrastruktur, tetapi juga pembawa ancaman biologis serius: Leptospirosis. Penyakit zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia) ini disebabkan oleh bakteri Leptospira dan sering kali menjadi “pembunuh senyap” karena gejalanya yang menyerupai penyakit umum lainnya.
Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP)—seperti Puskesmas, Klinik Pratama, atau Dokter Keluarga—memiliki peran yang sangat vital. Mengapa? Karena prognosis (harapan kesembuhan) pasien leptospirosis sangat bergantung pada seberapa cepat diagnosis ditegakkan dan antibiotik diberikan. Keterlambatan diagnosis di tingkat primer sering kali berujung pada komplikasi fatal seperti gagal ginjal akut atau perdarahan paru saat pasien dirujuk ke rumah sakit.
Mengenal Musuh: Bagaimana Penularannya?
Tikus adalah reservoir (inang) utama, meskipun hewan ternak seperti sapi dan anjing juga bisa terinfeksi. Bakteri Leptospira keluar melalui urin hewan terinfeksi dan mencemari tanah atau air. Manusia terinfeksi ketika air atau tanah yang terkontaminasi tersebut masuk melalui kulit yang luka, selaput lendir mata, atau tertelan. Risiko meningkat drastis pada musim hujan, daerah rawan banjir, atau pada profesi tertentu seperti petani dan petugas kebersihan.

Tantangan Diagnosis: “The Great Mimicker”
Leptospirosis sering disebut peniru ulung. Gejala awalnya sangat mirip dengan Dengue (DBD), Malaria, Tifoid, atau Influenza berat, membuat diagnosis klinis menjadi tantangan tersendiri.
Secara umum, perjalanan penyakit dibagi menjadi dua fase (bifasik):
- Fase Septikemia (Akut): Bakteri beredar di darah. Gejala berupa demam tinggi mendadak, sakit kepala, dan nyeri otot.
- Fase Imun: Tubuh membentuk antibodi. Gejala mungkin mereda sebentar lalu demam kembali naik disertai tanda kerusakan organ (kuning pada mata, gangguan ginjal).
Strategi Deteksi di Layanan Primer
Sesuai dengan Panduan Praktik Klinis terbaru, dokter di layanan primer harus waspada jika menemukan kombinasi gejala berikut:
1. Anamnesis (Wawancara Medis)
Keluhan utama biasanya adalah demam mendadak yang disertai menggigil. Tanda khas yang harus ditanyakan:
- Mialgia Hebat: Nyeri otot yang intens, terutama pada betis (gastrocnemius), paha, dan pinggang. Pasien seringkali sulit berjalan karena nyeri ini.
- Sakit Kepala: Terutama di bagian frontal (depan).
- Riwayat Risiko: Paparan terhadap banjir, selokan, sawah, atau adanya tikus di lingkungan rumah dalam 2 minggu terakhir.
2. Pemeriksaan Fisik
Dokter akan mencari tanda-tanda objektif:
- Conjunctival Suffusion: Mata merah tanpa disertai belek/kotoran mata (eksudat). Ini adalah tanda yang cukup spesifik untuk leptospirosis, namun sering terlewatkan.
- Nyeri Tekan Otot Betis: Sangat karakteristik.
- Ikterik: Warna kuning pada kulit atau sklera mata, menandakan gangguan hati.
- Tanda Lain: Pembesaran kelenjar getah bening (limfadenopati), pembesaran hati/limpa, atau tanda perdarahan (bintik merah/petekie).
3. Alat Bantu Skor: Kriteria Faine yang Dimodifikasi
Karena keterbatasan alat diagnostik canggih di Puskesmas, WHO menyarankan penggunaan Modified Faine’s Criteria. Skor ini menggabungkan gejala klinis, epidemiologi, dan data laboratorium sederhana. Jika skor memenuhi ambang batas tertentu, diagnosis presumptive leptospirosis dapat ditegakkan untuk segera memulai pengobatan.
Pemeriksaan Penunjang Sederhana
Di layanan primer, pemeriksaan laboratorium canggih seperti MAT (Microscopic Agglutination Test) mungkin tidak tersedia. Namun, pemeriksaan darah rutin bisa memberikan petunjuk:
- Leukositosis: Peningkatan sel darah putih dengan pergeseran ke kiri (dominasi neutrofil), berbeda dengan DBD atau Tifoid yang seringkali leukopenia (leukosit rendah).
- Trombositopenia: Penurunan trombosit ringan, namun jarang serendah DBD.
- Urinalisis: Adanya protein, leukosit, atau eritrosit dalam urin bisa menjadi tanda awal keterlibatan ginjal.
- Rapid Diagnostic Test (RDT): Saat ini banyak Puskesmas mulai dilengkapi RDT Leptospira. Hasil positif sangat membantu, namun hasil negatif tidak serta merta menyingkirkan diagnosis jika gejala klinis kuat.
Tatalaksana Komprehensif di FKTP
Prinsip utama tatalaksana leptospirosis adalah: Jangan menunggu konfirmasi laboratorium untuk memulai antibiotik jika kecurigaan klinis kuat.
1. Terapi Farmakologis (Antibiotik)
Pemilihan antibiotik bergantung pada berat-ringannya gejala:
- Kasus Ringan (Rawat Jalan):
- Pilihan utama: Doxycycline 2 x 100 mg selama 7 hari. (Kontraindikasi untuk ibu hamil dan anak-anak).
- Alternatif (Aman untuk Ibu Hamil/Anak): Amoxicillin 3 x 500 mg atau Ampicillin.
- Profilaksis (Pencegahan Pasca-Paparan):
- Doxycycline 200 mg (dosis tunggal) mingguan dapat diberikan kepada warga yang memiliki luka terbuka dan terpaksa masuk ke area banjir/berisiko tinggi.
2. Terapi Suportif
- Istirahat cukup.
- Obat penurun panas (Parasetamol). Hindari penggunaan NSAID (seperti Aspirin/Ibuprofen) jika belum bisa menyingkirkan kemungkinan DBD karena risiko perdarahan.
- Nutrisi dan cairan yang adekuat.
3. Kriteria Rujukan: Kapan Harus ke Rumah Sakit?
Pasien harus segera dirujuk ke fasilitas sekunder (RS) jika ditemukan Tanda Bahaya (Red Flags):
- Tanda vital tidak stabil (Hipotensi/Syok).
- Kuning (Ikterik) yang jelas.
- Oliguria/Anuria (Tidak kencing atau urin sedikit, tanda gagal ginjal).
- Sesak napas atau batuk darah (Tanda perdarahan paru).
- Perdarahan spontan (Mimisan, gusi berdarah, muntah darah).
- Penurunan kesadaran atau kejang (Tanda meningitis).
Catatan Penting untuk Klinisi: Waspadai reaksi Jarisch-Herxheimer setelah pemberian antibiotik pertama, yaitu reaksi tubuh akibat racun yang dilepaskan bakteri mati secara massal, menyebabkan demam dan menggigil hebat sesaat.
Pencegahan dan Edukasi Masyarakat
Layanan primer juga berperan dalam promotif dan preventif:
- APD: Menggunakan sepatu bot dan sarung tangan saat membersihkan selokan atau beraktivitas di sawah.
- Kebersihan Lingkungan: Menutup tempat sampah dan menyimpan makanan tertutup rapat untuk menghindari tikus.
- Hygiene Diri: Segera mandi dengan sabun setelah terpapar air banjir atau tanah kotor.
Kesimpulan
Leptospirosis adalah penyakit yang sangat bisa disembuhkan jika dideteksi dini. Layanan kesehatan primer memegang kunci keberhasilan ini. Dengan anamnesis yang tajam, mengenali tanda fisik khas seperti nyeri betis dan conjunctival suffusion, serta keberanian memulai antibiotik segera, angka kematian akibat leptospirosis dapat ditekan secara signifikan.
Catatan Kaki & Glosarium:
- Zoonosis: Penyakit yang menular dari hewan ke manusia.
- Reservoir: Hewan yang menjadi tempat hidup dan berkembang biak bibit penyakit.
- Conjunctival Suffusion: Pelebaran pembuluh darah pada selaput mata putih (sklera) yang menyebabkan mata tampak merah, namun tanpa infeksi (tidak ada belek).
- Trombositopenia: Kondisi kadar trombosit darah di bawah normal.
- Oliguria/Anuria: Kondisi medis di mana tubuh memproduksi urin sangat sedikit atau tidak sama sekali.
Referensi:
- Bhyllabus l’énigme. Leptospirosis di Layanan Kesehatan Primer. Legawa.com. (Diakses dan diolah dari sumber tahun 2017).
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Tatalaksana Kasus Leptospirosis di Indonesia.
- World Health Organization (WHO). Human Leptospirosis: Guidance for Diagnosis, Surveillance and Control.
Disclaimer: Tulisan ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi ilmiah populer bagi masyarakat dan tenaga kesehatan. Informasi ini tidak menggantikan peran konsultasi medis langsung. Jika Anda mengalami gejala yang disebutkan, segera kunjungi fasilitas kesehatan terdekat.

Tinggalkan komentar