A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pengantar
  2. Komponen Sistem Surveilans Polio
    1. 1. Surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP)
      1. Metodologi Surveilans AFP
      2. Pengambilan dan Pengelolaan Spesimen
    2. 2. Surveilans Lingkungan (Environmental Surveillance)
      1. Implementasi Surveilans Lingkungan
    3. 3. Surveilans Immunodeficiency-Associated Vaccine-Derived Poliovirus (iVDPV)
  3. Jaringan Laboratorium Polio Global
    1. Standar dan Target Laboratorium
  4. Indikator Kinerja Surveilans
    1. 1. Non-Polio AFP Rate
    2. 2. Stool Specimen Adequacy
  5. Tantangan Kontemporer dalam Surveilans Polio
    1. 1. Transmisi WPV1 yang Persisten
    2. 2. Wabah cVDPV yang Berkembang
    3. 3. Risiko Importasi di Negara Berpenghasilan Tinggi
  6. Inovasi Teknologi dalam Surveilans Polio
    1. 1. Whole Genome Sequencing (WGS)
    2. 2. Sistem Pelaporan Digital
    3. 3. Novel Oral Polio Vaccine Type 2 (nOPV2)
  7. Konteks Indonesia: Pembelajaran dari KLB Polio 2022-2024
    1. Kronologi Wabah
    2. Respons Wabah
    3. Evaluasi Independen
    4. Pengumuman Penutupan KLB
    5. Rekomendasi Post-KLB
  8. Integrasi dengan Sistem Kesehatan yang Lebih Luas
  9. Kesimpulan dan Rekomendasi
  10. Referensi

Pengantar

Poliomielitis1 atau polio tetap menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat yang memerlukan kewaspadaan global, meskipun kemajuan signifikan telah dicapai dalam upaya eradikasi. Global Polio Eradication Initiative (GPEI)2 menargetkan sertifikasi eradikasi wild poliovirus tipe 1 (WPV1)3 pada tahun 2027 dan eliminasi circulating vaccine-derived poliovirus tipe 2 (cVDPV2)4 pada tahun 2029. Di tengah target ambisius ini, sistem surveilans polio menjadi instrumen krusial yang menentukan keberhasilan program eradikasi global.

Surveilans polio bukan sekadar kegiatan pencatatan kasus penyakit, melainkan sistem terintegrasi yang menggabungkan deteksi dini, investigasi epidemiologi, analisis laboratorium, dan respons cepat terhadap setiap indikasi sirkulasi poliovirus. Sebagaimana dinyatakan dalam Global Polio Surveillance Action Plan 2025-2026, surveilans berkualitas tinggi dengan sensitivitas dan ketepatan waktu yang optimal merupakan fondasi untuk mendeteksi, menginvestigasi, dan merespons setiap kasus atau wabah polio secara efektif.

Komponen Sistem Surveilans Polio

1. Surveilans Acute Flaccid Paralysis (AFP)

Surveilans AFP merupakan tulang punggung sistem deteksi polio global. Acute flaccid paralysis atau lumpuh layuh akut adalah kondisi klinis yang ditandai dengan onset mendadak kelemahan otot dan penurunan tonus otot, yang merupakan manifestasi klasik infeksi poliovirus, meskipun dapat juga disebabkan oleh berbagai kondisi neurologis lainnya.

Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Health, Population, and Nutrition (DOI: 10.1186/s41043-025-01115-7), surveilans AFP telah mengalami transformasi signifikan dengan adopsi teknologi digital. Sistem pelaporan berbasis SMS (short message service), platform Open Data Kit (ODK)5 untuk pengumpulan data, dan sistem pelacakan spesimen digital telah meningkatkan sensitivitas dan ketepatan waktu pelaporan kasus.

Metodologi Surveilans AFP

Sistem surveilans AFP dimulai dari identifikasi kasus di tingkat komunitas melalui jejaring yang melibatkan:

  1. Petugas kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan primer dan rujukan
  2. Tenaga surveilans yang terlatih dalam identifikasi dan investigasi kasus
  3. Kader kesehatan yang berperan sebagai sistem deteksi dini di masyarakat
  4. Partisipasi masyarakat dalam melaporkan kasus kelumpuhan mendadak pada anak

Setiap anak berusia di bawah 15 tahun yang mengalami AFP harus dilaporkan sebagai kasus suspek polio dalam waktu 24 jam, terlepas dari status imunisasinya. Hal ini mengikuti prinsip “lebih baik melaporkan kasus yang ternyata bukan polio, daripada melewatkan satu kasus polio sejati”.

Pengambilan dan Pengelolaan Spesimen

Pengambilan spesimen tinja dilakukan dalam waktu 14 hari sejak onset kelumpuhan, dengan dua sampel yang diambil dengan interval minimal 24 jam. Spesimen harus memenuhi kriteria kecukupan (adequate stool specimen)6 yang mencakup:

  • Volume minimal 8-10 gram per sampel
  • Kondisi spesimen baik (tidak bocor, tidak kering)
  • Transportasi dalam kondisi rantai dingin 2-8°C
  • Tiba di laboratorium nasional dalam waktu maksimal 72 jam

Penelitian di Haiti yang dipublikasikan dalam Applied and Environmental Microbiology (DOI: 10.1128/aem.01179-25) menunjukkan bahwa kualitas pengelolaan spesimen sangat menentukan keberhasilan isolasi virus. Kendala logistik, terutama di negara dengan sumber daya terbatas, dapat menyebabkan keterlambatan yang signifikan dalam pengiriman spesimen ke laboratorium.

2. Surveilans Lingkungan (Environmental Surveillance)

Surveilans lingkungan atau environmental surveillance (ES)7 merupakan komplemen penting untuk surveilans AFP, terutama dalam mendeteksi sirkulasi poliovirus sebelum munculnya kasus kelumpuhan. ES melibatkan pengumpulan sampel air limbah atau sewage dari sistem pembuangan kota untuk mendeteksi keberadaan poliovirus.

Studi terbaru dari Israel yang dipublikasikan dalam The Science of the Total Environment (DOI: 10.1016/j.scitotenv.2025.181020) mengidentifikasi dua galur cVDPV2 berbeda yang berasal dari Afrika melalui surveilans lingkungan pada awal 2025. Galur pertama terdeteksi di Israel tengah pada Januari 2025, terkait dengan emergence NIE-ZAS-1, sementara galur kedua ditemukan di Yerusalem satu bulan kemudian, terkait dengan emergence SUD-RED-1. Temuan ini mendemonstrasikan peran kritis ES dalam deteksi dini importasi poliovirus dan pencegahan wabah.

Implementasi Surveilans Lingkungan

Menurut Global Polio Surveillance Action Plan 2025-2026, jaringan ES global harus dioptimalkan untuk:

  1. Cakupan geografis: Prioritas di wilayah endemik, area berisiko tinggi, dan jalur perdagangan/migrasi internasional
  2. Frekuensi sampling: Minimal bulanan di lokasi rutin, dapat ditingkatkan saat respons wabah
  3. Lokasi pengambilan: Titik strategis di sistem pembuangan air yang merepresentasikan populasi besar
  4. Metode konsentrasi: Menggunakan teknik standar seperti concentration and filtration elution (CaFÉ)8

Data dari Haiti menunjukkan bahwa tingkat deteksi enterovirus (indikator kualitas ES) bervariasi dari 12% hingga 91% antara 2020-2023, dengan beberapa lokasi di bawah target optimal 50%. Hal ini mengakibatkan penutupan dua lokasi sampling pada 2023, menekankan pentingnya evaluasi kinerja ES secara berkala.

3. Surveilans Immunodeficiency-Associated Vaccine-Derived Poliovirus (iVDPV)

Pasien dengan gangguan imun primer (primary immunodeficiency disorders/PID)9 dapat mengalami infeksi poliovirus berkepanjangan setelah menerima vaksin polio oral, yang dapat mengakibatkan ekskresi virus dalam jangka panjang dan evolusi menjadi vaccine-derived poliovirus (VDPV).

Laporan kasus dari Rusia yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Virology (DOI: 10.1002/jmv.70704) menggambarkan kompleksitas diagnostik vaccine-associated paralytic poliomyelitis (VAPP)10 pada anak dengan penyakit Bruton yang divaksinasi dengan empat dosis IPV11 diikuti satu dosis bOPV12. Kasus ini melibatkan virus rekombinan dari galur vaksin Sabin tipe 3 dan 1 dengan mutasi neurovirulence yang diketahui dan beberapa mutasi unik.

Surveilans iVDPV memerlukan:

  • Identifikasi dan pemantauan pasien PID
  • Skrining rutin spesimen tinja dari pasien imunokompromais
  • Sekuensing genetik untuk karakterisasi virus
  • Protokol isolasi dan manajemen khusus

Jaringan Laboratorium Polio Global

Global Polio Laboratory Network (GPLN)13 merupakan komponen integral sistem surveilans polio yang terdiri dari lebih dari 140 laboratorium di seluruh dunia yang terakreditasi WHO. GPLN menyediakan:

  1. Isolasi virus: Menggunakan kultur sel sensitif poliovirus (L20B) dan enterovirus (RD)
  2. Diferensiasi intratypic (ITD): Membedakan virus liar dari virus vaksin
  3. Whole genome sequencing (WGS): Karakterisasi genetik lengkap untuk pelacakan transmisi
  4. Jaminan kualitas: Program profisiensi dan akreditasi laboratorium

Menurut laporan dari Indonesia, pelatihan WGS yang dilaksanakan pada Juli 2025 di Bandung dengan bimbingan Medicines and Healthcare Products Regulatory Agency (MHRA) Inggris telah memperkuat kapasitas tiga laboratorium nasional polio Indonesia dalam deteksi, investigasi, dan respons terhadap poliovirus.

Standar dan Target Laboratorium

Global Polio Surveillance Action Plan 2025-2026 menetapkan target bahwa spesimen harus:

  • Tiba di laboratorium dalam 14 hari sejak onset kelumpuhan
  • Hasil isolasi virus dan sekuensing dilaporkan dalam 35 hari sejak onset kelumpuhan

Penelitian dalam The Last Mile in Polio Eradication menunjukkan bahwa target 35 hari saat ini hampir tidak tercapai, terutama karena keterlambatan dalam pengiriman sampel dari lapangan ke laboratorium dan antar-laboratorium. Negara dengan laboratorium polio nasional yang dapat menyelesaikan semua prosedur secara internal, seperti Pakistan, lebih mudah memenuhi target ini.

Indikator Kinerja Surveilans

Kualitas surveilans AFP dinilai menggunakan dua indikator utama:

1. Non-Polio AFP Rate

Target global adalah minimal 2 per 100.000 anak di bawah 15 tahun per tahun di negara endemik, dan minimal 1 per 100.000 di negara non-endemik. Indikator ini mengukur sensitivitas sistem surveilans dalam mendeteksi kasus AFP.

Studi dari Iran yang dipublikasikan dalam Infectious Diseases (DOI: 10.1080/23744235.2025.2591714) menunjukkan bahwa non-polio AFP rate Iran meningkat dari 4,19 per 100.000 pada 2014 menjadi 5,49 pada 2023, jauh melampaui target WHO. Data menunjukkan 8.368 kasus AFP dilaporkan selama periode 2014-2023, dengan 19 kasus suspek VAPP yang semuanya dikonfirmasi sebagai penyebab non-polio setelah investigasi menurut kriteria WHO.

2. Stool Specimen Adequacy

Target global adalah minimal 80% kasus AFP memiliki spesimen tinja yang memenuhi kriteria kecukupan. Iran mempertahankan stool adequacy di atas 80% sepanjang periode 2014-2023, mendemonstrasikan sistem logistik dan kapasitas laboratorium yang kuat.

Di Indonesia, kualitas surveilans AFP mengalami peningkatan signifikan selama respons KLB. Menurut Kementerian Kesehatan RI, target AFP rate ditingkatkan dari 2 per 100.000 menjadi 3 per 100.000 anak di bawah 15 tahun, dengan peningkatan sensitivitas deteksi kasus dan kecukupan spesimen tinja.

Tantangan Kontemporer dalam Surveilans Polio

1. Transmisi WPV1 yang Persisten

Berdasarkan pernyataan Emergency Committee IHR ke-43 (November 2025), transmisi WPV1 tetap terbatas di Afghanistan dan Pakistan, namun dengan tren mengkhawatirkan. Pada 2025 (hingga 17 September), dilaporkan 28 kasus WPV1: 4 di Afghanistan dan 24 di Pakistan, dibandingkan dengan 99 kasus pada seluruh tahun 2024. Untuk surveilans lingkungan, total 443 sampel positif WPV1 telah dilaporkan, menunjukkan intensitas transmisi yang signifikan.

Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap persistensi transmisi meliputi:

  • Ketidakmampuan melaksanakan kampanye house-to-house di Afghanistan
  • Keterlibatan terbatas petugas kesehatan perempuan yang menempatkan bayi dan anak, terutama perempuan, pada risiko tinggi terlewat vaksinasi
  • Kantong populasi dengan kualitas kampanye tidak konsisten di Pakistan
  • Pergerakan populasi antar negara endemik termasuk migran yang kembali dari Pakistan ke Afghanistan

2. Wabah cVDPV yang Berkembang

Meskipun transmisi global cVDPV1 dan cVDPV3 tetap pada tingkat lebih rendah dibandingkan cVDPV2, tren meningkat diamati pada 2025. Wabah cVDPV1 dikonfirmasi di Djibouti dan Israel berdasarkan deteksi surveilans lingkungan. Kamerun dan Chad melaporkan ko-sirkulasi cVDPV2 dan cVDPV3 pada 2025.

Studi dari Senegal yang dipublikasikan dalam International Journal of Infectious Diseases (DOI: 10.1016/j.ijid.2025.108122) melaporkan emergence baru cVDPV2 pada 2023-2024, pertama kali terdeteksi di air limbah kemudian pada sampel tinja anak dengan AFP, khususnya di Senegal tenggara. Analisis filodinamik menunjukkan bahwa sekuens cVDPV2 2023-2024 dari Senegal termasuk dalam grup monofiletik dengan galur dari Republik Guinea, dan termasuk dalam grup emergence NIE-ZAS-1. Virus NIE-ZAS-1 diperkirakan diperkenalkan ke Senegal sekitar 2010 dan baru-baru ini menyebar ke Republik Guinea dan Mauritania pada 2023.

3. Risiko Importasi di Negara Berpenghasilan Tinggi

Komite menekankan pentingnya negara berpenghasilan tinggi mempertahankan surveilans berkualitas tinggi untuk poliovirus, mengingat risiko importasi yang berkelanjutan, seperti yang baru-baru ini ditunjukkan oleh deteksi cVDPV di Wilayah Eropa (Spanyol, Prancis Guyana, Jerman, Polandia, dan Inggris).

Inovasi Teknologi dalam Surveilans Polio

1. Whole Genome Sequencing (WGS)

WGS telah menjadi alat standar untuk karakterisasi poliovirus, memungkinkan:

  • Pelacakan linkage genetik dan jalur transmisi
  • Identifikasi mutasi neurovirulence
  • Deteksi rekombinasi antar galur
  • Penentuan asal geografis virus

Penelitian dari Israel menunjukkan bahwa WGS dan analisis filogenetik mengungkap pola mutasi unik dan peristiwa rekombinasi, memberikan data berharga untuk melacak deteksi internasional lebih lanjut dari galur-galur ini.

2. Sistem Pelaporan Digital

Review dalam Journal of Health, Population, and Nutrition mengidentifikasi beberapa inovasi teknologi:

  • Sistem alert SMS: Meningkatkan pelaporan kasus
  • Platform ODK: Pengumpulan dan manajemen data yang efisien
  • Sistem pelacakan spesimen digital: Pengelolaan sampel yang lebih baik
  • Alat pemetaan geospasial: Pemantauan cakupan surveilans
  • Kampanye kesadaran: Melibatkan petugas kesehatan dan komunitas

3. Novel Oral Polio Vaccine Type 2 (nOPV2)

nOPV2 terus menunjukkan stabilitas genetik tinggi dibandingkan dengan Sabin OPV2. Namun, risiko emergence cVDPV2 baru tetap ada dalam kondisi interval kampanye respons wabah yang panjang (>4 minggu) dan kualitas vaksinasi yang rendah.

Konteks Indonesia: Pembelajaran dari KLB Polio 2022-2024

Kronologi Wabah

Indonesia mengalami wabah cVDPV2 yang dimulai pada Oktober 2022 ketika kasus pertama yang dikonfirmasi dilaporkan di provinsi Aceh. Selama dua tahun berikutnya, kasus muncul di provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Total 15 kasus polio dilaporkan di sembilan provinsi antara November 2022 hingga Juli 2024. Kasus cVDPV2 terakhir yang dikonfirmasi di Papua Selatan pada 27 Juni 2024.

Wabah ini muncul sebagai akibat dari cakupan imunisasi polio yang rendah dalam beberapa tahun terakhir. Cakupan IPV menurun menjadi hanya 37,3% pada 2020, kemudian meningkat menjadi 66,2% pada 2021, masih jauh dari target 90% yang diperlukan untuk mencapai kekebalan komunitas.

Respons Wabah

Indonesia melaksanakan respons komprehensif yang meliputi:

  1. Kampanye imunisasi massal: Dua putaran kampanye nasional menggunakan nOPV2 antara akhir 2022 dan triwulan ketiga 2024, dengan distribusi lebih dari 60 juta dosis vaksin polio
  2. Penguatan surveilans AFP: Meningkatkan target non-polio AFP rate dari 2 per 100.000 menjadi 3 per 100.000 anak di bawah 15 tahun, dengan peningkatan sensitivitas deteksi kasus dan kualitas spesimen
  3. Peningkatan cakupan imunisasi rutin: Cakupan dosis kedua IPV meningkat dari 63% pada 2023 menjadi 73% pada 2024
  4. Introduksi vaksin heksavalen: Dimulai Oktober 2025 di DIY, NTB, Bali, dan enam provinsi Papua, dengan rencana pelaksanaan nasional pada 2026. Vaksin ini memberikan perlindungan terhadap enam penyakit: polio, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, serta pneumonia dan meningitis akibat Haemophilus influenzae tipe b

Evaluasi Independen

Sesuai protokol GPEI, tim independen global menilai kualitas respons KLB polio melalui Outbreak Response Assessment (OBRA) pada Juli 2023, Desember 2024, dan Juni 2025. Berdasarkan penilaian ini, disimpulkan bahwa Indonesia telah melaksanakan upaya respons yang berkualitas, melakukan serangkaian upaya penguatan dan peningkatan pelaksanaan program sebagaimana direkomendasikan tim OBRA, serta membuktikan tidak adanya kasus baru.

Pengumuman Penutupan KLB

Pada 19 November 2025, WHO secara resmi menyatakan penutupan KLB polio tipe 2 di Indonesia setelah tidak ditemukan lagi virus polio pada anak-anak maupun lingkungan sejak Juni 2024. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, “Kita berhasil menghentikan penyebaran polio di Indonesia berkat dedikasi tenaga kesehatan, komitmen orang tua dan seluruh masyarakat agar anak-anak diimunisasi, serta dukungan mitra.”

Dr. Saia Ma’u Piukala, Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat, menekankan, “Keberhasilan Indonesia menandai langkah vital menuju dunia bebas polio. Ini juga memperkuat kemampuan seluruh Wilayah Pasifik Barat WHO untuk mempertahankan status bebas polio, pencapaian yang kami raih dengan bangga 25 tahun yang lalu.”

Rekomendasi Post-KLB

Meskipun OBRA-3 memastikan bahwa penularan polio di Indonesia telah terhenti, sejumlah rekomendasi disusun untuk mempertahankan progres yang telah dicapai, terutama di daerah berisiko tinggi seperti Tanah Papua yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Prioritas meliputi:

  • Mempertahankan kualitas surveilans AFP
  • Meningkatkan cakupan imunisasi rutin
  • Mengatasi keraguan terhadap imunisasi (vaccine hesitancy)
  • Percepatan introduksi imunisasi heksavalen di Tanah Papua

Integrasi dengan Sistem Kesehatan yang Lebih Luas

Salah satu fokus Global Polio Surveillance Action Plan 2025-2026 adalah memfasilitasi integrasi surveilans polio dengan surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin (vaccine-preventable diseases/VPD) lainnya yang rentan epidemi. Program negara perlu menyeimbangkan prioritas integrasi dengan mempertahankan standar surveilans tinggi yang diperlukan untuk mencapai eradikasi WPV.

Kunci keberhasilan adalah memastikan tenaga kerja dilengkapi dan dipersiapkan untuk mempromosikan integrasi surveilans polio dengan surveilans penyakit rentan epidemi lainnya. Bersama dengan mitra dan pemangku kepentingan, termasuk departemen Imunisasi, Vaksin dan Biologis (IVB) WHO dan program Kedaruratan Kesehatan WHO (WHE), langkah-langkah akan diambil untuk menilai kebutuhan bersama dan mendukung keberlanjutan jangka panjang surveilans polio, khususnya sebagai bagian dari perencanaan pasca-sertifikasi.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Surveilans polio merupakan sistem kompleks dan terintegrasi yang menggabungkan surveilans AFP, surveilans lingkungan, surveilans iVDPV, dan jaringan laboratorium global. Keberhasilan eradikasi polio global bergantung pada pemeliharaan dan peningkatan kualitas surveilans, terutama di wilayah endemik dan berisiko tinggi.

Pembelajaran kunci dari pengalaman global dan Indonesia meliputi:

  1. Pentingnya surveilans berkualitas tinggi: Sensitivitas dan ketepatan waktu deteksi menentukan efektivitas respons wabah
  2. Integrasi teknologi: Sistem pelaporan digital, WGS, dan pemetaan geospasial meningkatkan kinerja surveilans
  3. Kemitraan multi-sektor: Kolaborasi antara pemerintah, WHO, UNICEF, dan mitra lainnya esensial untuk keberhasilan program
  4. Kewaspadaan berkelanjutan: Bahkan negara bebas polio harus mempertahankan surveilans berkualitas tinggi mengingat risiko importasi
  5. Penguatan imunisasi rutin: Cakupan imunisasi tinggi (>90%) merupakan fondasi untuk mencegah wabah dan mempertahankan status bebas polio

Untuk Indonesia, meskipun KLB telah dinyatakan berakhir, komitmen berkelanjutan diperlukan untuk:

  • Mempertahankan non-polio AFP rate ≥3 per 100.000 anak
  • Meningkatkan cakupan imunisasi rutin hingga mencapai >90%
  • Memperkuat kapasitas laboratorium nasional dengan WGS
  • Melanjutkan surveilans lingkungan di wilayah berisiko tinggi
  • Mengatasi keraguan vaksin melalui edukasi dan komunikasi risiko yang efektif

Surveilans polio bukan hanya tentang deteksi penyakit, tetapi merupakan investasi dalam infrastruktur kesehatan masyarakat yang dapat diperluas untuk surveilans penyakit menular lainnya, berkontribusi pada ketahanan sistem kesehatan secara keseluruhan dan kesiapsiagaan terhadap ancaman kesehatan masa depan.


Referensi

  1. Zuckerman NS, Eliyahu H, Lustig Y, et al. Multiple African-origin circulating poliovirus-2 emergences identified in Israel: A reminder of an ongoing global challenge. Sci Total Environ. 2025;1009:181020. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2025.181020
  2. Shakaryan AK, Mikhailova YM, Chirova AV, et al. Acute Flaccid Paralysis in a Vaccinated Child With Primary Immunodeficiency: Difficulties With Diagnostics of Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis. J Med Virol. 2025;97(12):e70704. https://doi.org/10.1002/jmv.70704
  3. Ndiaye N, Diop B, Kébé O, et al. Recent emergence of vaccine-derived poliovirus type 2 in Senegal and virus spread to neighboring countries. Int J Infect Dis. 2025;161:108122. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2025.108122
  4. Talebi M, Zahraei SM, Mahmoudi S, et al. Trends in acute flaccid paralysis and vaccine-associated paralytic polio among children in Iran: epidemiological profile and performance of the surveillance system (2014-2023). Infect Dis (Lond). 2025:1-13. https://doi.org/10.1080/23744235.2025.2591714
  5. Belgasmi-Allen H, Hill J, Jeffries Miles S, et al. Tracking poliovirus through wastewater: environmental surveillance insights from Haïti (2020-2023). Appl Environ Microbiol. 2025:e0117925. https://doi.org/10.1128/aem.01179-25
  6. Gemechu H, Biru G, Gebremeskel E, et al. A review on health system-based surveillance for acute flaccid paralysis: technological advancements, challenges, and outlooks. J Health Popul Nutr. 2025;44(1):396. https://doi.org/10.1186/s41043-025-01115-7
  7. Nwaze EO, Ieren II, Okafor C. The global poliovirus eradication initiatives in Kano state, Nigeria: a case report on the African regional commission pre-certification visit and lessons learnt. Front Public Health. 2025;13:1690423. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1690423
  8. World Health Organization. Global Polio Surveillance Action Plan 2025-2026. WHO; 2025. Tersedia dari: https://www.who.int/publications/b/76243
  9. World Health Organization. Statement of the Forty-third meeting of the Polio IHR Emergency Committee. WHO; 11 November 2025. Tersedia dari: https://www.who.int/news/item/11-11-2025-statement-of-the-forty-third-meeting-of-the-polio-ihr-emergency-committee
  10. World Health Organization. Global Polio Surveillance Action Plan 2022-2024. Geneva: World Health Organization; 2022. Licence: CC BY-NC-SA 3.0 IGO. Tersedia dari: https://apps.who.int/iris/handle/10665/354479
  11. World Health Organization Indonesia. Sekuensing Genom Utuh Memperkuat Surveilans Polio Indonesia. 5 September 2025. Tersedia dari: https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/05-09-2025-whole-genome-sequencing-boosts-indonesia-s-polio-surveillance
  12. World Health Organization Indonesia. Indonesia announces closure of polio outbreak. 21 November 2025. Tersedia dari: https://www.who.int/indonesia/news/detail/21-11-2025-indonesia-announces-closure-of-polio-outbreak
  13. Global Polio Eradication Initiative. Indonesia announces closure of polio outbreak. 21 November 2025. Tersedia dari: https://polioeradication.org/news/indonesia-announces-closure-of-polio-outbreak/
  14. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Indonesia Berhasil Tangani KLB Polio dengan Penguatan Surveilans dan Imunisasi. ANTARA News; 21 November 2025.
  15. Macha J, Bijlmakers L, van Basten Batenburg M, et al. Maintaining Polio-Free Status in Indonesia During the COVID-19 Pandemic. Glob Health Sci Pract. 2022;10(1):e2100310. https://doi.org/10.9745/GHSP-D-21-00310

Catatan: Artikel ini disusun berdasarkan literatur ilmiah terkini dari PubMed, pedoman WHO, dan data resmi Kementerian Kesehatan RI hingga Desember 2025. Informasi dapat berubah seiring perkembangan situasi epidemiologi polio global dan nasional.

  1. Poliomielitis: Penyakit infeksi virus akut yang menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan permanen atau kematian, terutama pada anak-anak di bawah 15 tahun. ↩︎
  2. Global Polio Eradication Initiative (GPEI): Inisiatif global yang diluncurkan pada 1988 oleh WHO, Rotary International, CDC, UNICEF, dan mitra lainnya untuk memberantas polio di seluruh dunia. ↩︎
  3. Wild Poliovirus Type 1 (WPV1): Virus polio liar tipe 1, satu-satunya tipe virus polio liar yang masih beredar di dunia, saat ini terbatas di Afghanistan dan Pakistan. ↩︎
  4. Circulating Vaccine-Derived Poliovirus Type 2 (cVDPV2): Virus polio yang berasal dari vaksin oral dan mengalami mutasi genetik sehingga dapat menyebabkan kelumpuhan seperti virus liar. ↩︎
  5. Open Data Kit (ODK): Platform perangkat lunak open-source yang memungkinkan pengumpulan data lapangan secara digital menggunakan perangkat seluler. ↩︎
  6. Adequate Stool Specimen: Spesimen tinja yang memenuhi kriteria kuantitas, kualitas, dan waktu pengiriman yang ditetapkan WHO untuk memaksimalkan kemungkinan isolasi virus polio. ↩︎
  7. Environmental Surveillance (ES): Surveilans sistematik terhadap sampel lingkungan (terutama air limbah) untuk mendeteksi keberadaan poliovirus sebagai indikator sirkulasi virus di komunitas. ↩︎
  8. Concentration and Filtration Elution (CaFÉ): Metode standar WHO untuk mengkonsentrasi virus dari sampel air limbah dalam volume besar menjadi volume kecil yang dapat dianalisis di laboratorium. ↩︎
  9. Primary Immunodeficiency Disorders (PID): Kelompok gangguan genetik yang menyebabkan sistem imun tidak berfungsi dengan baik, meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. ↩︎
  10. Vaccine-Associated Paralytic Poliomyelitis (VAPP): Kelumpuhan yang sangat jarang terjadi akibat virus vaksin polio oral yang mengalami reversi ke bentuk virulen. ↩︎
  11. IPV (Inactivated Poliovirus Vaccine): Vaksin polio yang mengandung virus yang telah diinaktivasi (dimatikan), diberikan melalui suntikan. ↩︎
  12. bOPV (Bivalent Oral Poliovirus Vaccine): Vaksin polio oral yang mengandung virus hidup yang dilemahkan untuk tipe 1 dan 3. ↩︎
  13. Global Polio Laboratory Network (GPLN): Jaringan laboratorium terakreditasi WHO yang menyediakan layanan diagnostik berkualitas tinggi untuk mendukung surveilans polio global. ↩︎

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar