WHO – Organisasi Kesehatan Dunia baru-baru ini merilis sebuah paket pendekatan guna meningkatkan keselamatan berlalu lintas yang dikampanyekan sebagai “Save LIVES”. Terdiri dari 6 strategi dan 22 intervensi.
Setiap tahun, 1,25 juta orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas dan sebanyak 50 juta orang terluka. Mereka adalah penyebab utama kematian di kalangan orang berusia 15-29 tahun. Hampir setengah (49%) orang-orang yang meninggal di jalanan dunia adalah pejalan kaki, pengendara sepeda dan pengendara sepeda motor. Selain kesedihan dan penderitaan yang mereka timbulkan, kecelakaan lalu lintas merupakan masalah kesehatan dan pembangunan publik yang penting dengan biaya kesehatan dan sosioekonomi yang signifikan. Banyak yang telah diketahui tentang mencegah kematian lalu lintas dan luka-luka. Berdasarkan pengetahuan ini, paket teknis keselamatan jalan telah dikembangkan untuk mendukung para pengambil keputusan dan praktisi dalam upaya mengurangi kematian dan cedera lalu lintas lalu lintas dan mencapai Sasaran Pembangunan Berkelanjutan yang ditargetkan 3.6 dan 11.2.
Logo Save LIVES mungkin agak unik, karena terdiri S & LIVES. “S” di awal ditujukan bagi Speed Management, atau Pengelolaan Laju. Anggapan kelajuan merupakan inti permasalahan lalu lintas, sehingga intervensi efektif diperlukan untuk mengatur kelajuan ini, sehingga tidak menjadi terlalu tinggi.
“L” adalah untuk Leadership, bagi siapapun pemangku kebijakan. Mereka membangun strategi keamanan berlalu lintas.
“I” adalah untuk infrakstruktur. Jalan dan area lalu lintas yang menjamin keselamatan pengguna lalu lintas akan menjadi penekanan dalam strategi ini.
“V” adalah untuk vehicles atau kendaraan. Kendaraan yang baik akan memenuhi baku keamanan, dan melindungi mereka yang ada di dalam maupun di luar kendaraan.
“E” adalah enforcement atau penegakan peraturan lalu lintas dan angkutan. Menindak dan memberikan sanksi terhadap pelanggar dapat membantu memberikan efek jera, dan meningkatkan ketaatan berlalu lintas.
Dan “S” yang terakhir adalah untuk survival atau penanganan korban kecelakaan lalu lintas guna memastikan segeranya bantuan kegawatdaruratan dan mengurangi keparahan cedera.
Semua ini akan diharapkan memberikan kita kondisi lalu lintas yang lebih aman bagi semuanya. Informasi lebih lengkap dapat diakses melalui: goo.gl/MjUztQ.
Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.
Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Demensia 2026 memberikan panduan untuk penanganan demensia di Indonesia. Dengan jumlah penderita yang diproyeksi meningkat, pedoman ini mencakup diagnosis, penanganan, dan strategi pencegahan. Kaya akan rekomendasi medis, hal ini penting untuk memastikan perawatan yang efektif bagi pasien demensia.
Kejang pertama pada orang dewasa tidak otomatis berarti epilepsi, tetapi tidak boleh diabaikan. Artikel ini merangkum Pedoman Nasional Pelayanan Klinis epilepsi dewasa 2026: cara membedakan kejang dari pingsan, pertolongan pertama yang benar, peran pemeriksaan penunjang, prinsip terapi, hingga tantangan stigma dan akses obat di Indonesia. Untuk awam dan tenaga kesehatan.
Indonesia kini memiliki Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Sifilis (KMK 291/2026). Artikel ini merangkum stadium penyakit, alur tes serologi, terapi penisilin, tindak lanjut, penanganan pasangan, serta perlindungan ibu hamil dan bayi, disertai catatan kritis agar fasilitas kesehatan, dari Puskesmas hingga rumah sakit rujukan, siap menerapkannya dengan aman dan konsisten.
Keputusan Menteri Kesehatan 294/2026 mengatur syarat rekomendasi untuk membuka program studi kesehatan baru, mencakup kajian kesesuaian dengan kebutuhan tenaga kesehatan, kerja sama dengan fasilitas terakreditasi, dan penjaminan mutu. Tujuan utama adalah menyeimbangkan jumlah lulusan dengan kebutuhan layanan kesehatan di Indonesia, terutama yang berkaitan dengan pemerataan tenaga medis.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan