Alergi makanan bukan sekadar perut mual setelah makan seafood atau ruam setelah konsumsi susu — ia adalah reaksi imunologis yang kompleks, bisa mengancam jiwa, dan pengelolaannya terus berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan terdahulu di situs ini (2017) yang bersumber dari Permenkes No. 5 Tahun 2014. Sejak saat itu, sejumlah panduan internasional telah dirilis ulang, terapi baru telah mendapat persetujuan regulasi, dan pemahaman kita tentang pencegahan alergi makanan mengalami perubahan mendasar. Pembahasan ini berfokus pada aspek diagnostik dan tata laksana klinis, sebagai pelengkap artikel-artikel sebelumnya di situs ini yang sudah mengulas gejala dan pemahaman umum tentang alergi makanan.
Gambaran Umum dan Epidemiologi
Secara global, alergi makanan diperkirakan memengaruhi sekitar 10% populasi, dengan tren peningkatan yang konsisten dalam dua hingga tiga dekade terakhir. Anak-anak memiliki prevalensi lebih tinggi (~8%) dibandingkan orang dewasa (~3,7%), meski alergi terhadap makanan laut dan kacang-kacangan justru lebih sering menetap hingga dewasa.
Di Indonesia, data epidemiologi nasional yang komprehensif tentang alergi makanan masih terbatas. Sebuah studi epidemiologi di Surabaya mendapatkan prevalensi atopik pada anak-anak usia sekolah sebesar 61%, sementara data nasional mengenai alergi makanan secara spesifik belum tersedia. Satu studi berbasis survei daring di Jakarta mendapatkan prevalensi alergi makanan sebesar 10,5% pada anak usia di bawah 3 tahun, dengan susu sapi sebagai penyebab tersering. Studi dari wilayah Yogyakarta dan Jawa pada responden dewasa usia 20–40 tahun mendapatkan insidensi alergi makanan sebesar 33% (berdasarkan survei daring), dengan alergen terbanyak adalah udang (29,2%), kepiting (16,7%), kerang (14,6%), dan ikan (12,5%).
Pola alergen di Indonesia memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan negara Barat. Menurut IDAI, makanan yang sering menimbulkan alergi di Indonesia meliputi udang, susu, telur, kedelai, ikan, kacang, gandum, kerang, kepiting, dan kelapa. Dominasi makanan laut mencerminkan pola konsumsi masyarakat Indonesia, berbeda dari negara Barat di mana kacang tanah (peanut) merupakan alergen paling signifikan.
Mekanisme Imunologi: Memahami Jenisnya
Tidak semua reaksi terhadap makanan adalah “alergi” dalam pengertian klinis yang ketat. Alergi makanan secara spesifik merujuk pada respons imun yang maladaptif terhadap protein makanan. Berdasarkan mekanismenya, reaksi ini terbagi menjadi:
Reaksi IgE-mediated (tipe cepat): Terjadi dalam hitungan menit hingga dua jam setelah paparan. Tubuh memproduksi antibodi imunoglobulin E (IgE) yang spesifik terhadap alergen makanan. Saat paparan ulang terjadi, IgE memicu pelepasan mediator inflamasi dari sel mast dan basofil, menghasilkan gejala klasik seperti urtikaria, angioedema, rinokonjungtivitis, hingga anafilaksis.
Reaksi non-IgE-mediated (tipe lambat): Diperantarai terutama oleh limfosit T. Gejala muncul lebih lambat (beberapa jam hingga hari), umumnya berupa keluhan gastrointestinal seperti diare kronis, muntah berulang, atau malabsorbsi — contohnya food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES) dan penyakit seliak.
Reaksi campuran IgE- dan non-IgE-mediated: Contohnya esofagitis eosinofilik (eosinophilic esophagitis) dan dermatitis atopik terkait makanan.
Pembedaan mekanisme ini penting karena memengaruhi pilihan pemeriksaan diagnostik dan strategi tata laksana.
Pendekatan Diagnostik
Mendiagnosis alergi makanan memerlukan integrasi antara anamnesis yang cermat, pemeriksaan penunjang, dan uji provokasi. Tidak ada pemeriksaan tunggal yang memiliki akurasi sempurna.
Anamnesis dan Catatan Makanan
Fondasi diagnosis adalah riwayat klinis yang terperinci: jenis makanan yang dikonsumsi, waktu antara konsumsi dan munculnya gejala, sifat dan keparahan gejala, serta apakah gejala berulang secara konsisten saat mengonsumsi makanan yang sama. Faktor penyerta seperti olahraga atau penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) sebelum gejala muncul juga perlu ditanyakan, karena dapat menjadi ko-faktor yang memperberat reaksi.
Pencatatan harian makanan dan gejala (food and symptom diary) sangat membantu untuk mengidentifikasi pola, terutama pada kasus yang tidak jelas. Pendekatan ini tidak memerlukan biaya dan dapat dilakukan di layanan primer.
Uji Kulit (Skin Prick Test/SPT)
Skin prick test dilakukan dengan menempatkan ekstrak alergen makanan pada permukaan kulit, kemudian dicukit ringan. Hasil positif ditandai dengan pembentukan papul (benjolan merah) berdiameter ≥3 mm dibandingkan kontrol negatif, diukur 15–20 menit kemudian.
Panduan EAACI terbaru menegaskan bahwa SPT memiliki sensitivitas tinggi, khususnya untuk alergi tertentu. SPT dengan susu sapi segar dan telur mentah memiliki sensitivitas tinggi (masing-masing 90% dan 94%) untuk mendeteksi alergi susu dan telur yang dimasak. Namun perlu dipahami bahwa hasil SPT positif saja tidak cukup untuk menegakkan diagnosis alergi makanan — ia menunjukkan adanya sensitisasi IgE, yang harus diinterpretasikan dalam konteks klinis.
SPT dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat anafilaksis berat yang belum stabil, serta pada pasien yang menggunakan antihistamin (perlu dihentikan 5–7 hari sebelumnya). Pada kondisi demikian, pemeriksaan in vitro lebih disarankan.
IgE Spesifik (specific IgE/sIgE) dan Diagnostik Berbasis Komponen
Pemeriksaan kadar IgE spesifik dalam darah (radioallergosorbent test — RAST, atau teknik terkini berbasis ImmunoCAP) memungkinkan deteksi sensitivitas tanpa risiko reaksi sistemik, sehingga lebih aman untuk pasien dengan riwayat anafilaksis.
Perkembangan terkini yang penting adalah component-resolved diagnostics (CRD) — pemeriksaan IgE terhadap komponen protein spesifik dari alergen, bukan ekstrak utuh. IgE spesifik terhadap komponen alergen memiliki spesifisitas tinggi: Ara h 2 (kacang tanah) 92%, Cor a 14 (hazelnut) 95%, Ana o 3 (mete/cashew) 94%, kasein (susu sapi) 93%, dan ovomukoid (telur) 91–92%. CRD sangat berguna untuk membedakan alergi sejati dari reaksi silang (cross-reactivity) akibat sensitisasi terhadap serbuk sari tanaman — kondisi yang sering menyebabkan positif palsu pada SPT dan sIgE standar.
Pemeriksaan sIgE dan CRD tersedia di beberapa laboratorium rumah sakit rujukan di Indonesia, meski belum merata di fasilitas primer.
Basophil Activation Test (BAT)
BAT adalah pemeriksaan darah yang mengukur aktivasi basofil sebagai respons terhadap alergen ex vivo. Pemeriksaan ini memiliki spesifisitas tinggi, khususnya untuk alergi kacang tanah dan wijen, dan berguna bila SPT serta sIgE memberikan hasil meragukan. Namun keterbatasan praktisnya — memerlukan darah segar, peralatan khusus, dan tenaga terlatih — membuat BAT saat ini belum tersedia secara luas di Indonesia.
Uji Provokasi Makanan (Oral Food Challenge/OFC)
OFC tetap menjadi baku emas (gold standard) diagnosis alergi makanan. Prosedur ini dilakukan dengan memberikan makanan yang dicurigai secara bertahap dalam dosis yang meningkat, di bawah pengawasan medis ketat di fasilitas yang siap menangani anafilaksis.
Panduan EAACI menegaskan bahwa OFC sebaiknya dilakukan dalam kasus-kasus yang meragukan — di mana riwayat klinis dan hasil pemeriksaan tidak konklusif. Untuk alasan praktis, uji terbuka (open challenge) cocok digunakan pada sebagian besar kasus klinis, meski double-blind placebo-controlled food challenge (DBPCFC) tetap menjadi standar penelitian.
OFC dikontraindikasikan pada pasien dengan riwayat anafilaksis berat yang jelas terkait makanan tertentu, kondisi medis yang tidak stabil, serta pada kehamilan. Pada kondisi tersebut, keputusan diagnostik didasarkan pada riwayat klinis dan pemeriksaan in vitro.
OFC juga berperan penting untuk pemantauan berkala — khususnya pada anak-anak dengan alergi susu atau telur, yang mungkin mengalami toleransi spontan seiring bertambahnya usia. Pemeriksaan ulang berkala memungkinkan reintroduksi makanan ke dalam diet bila toleransi telah terbentuk.
Diet Eliminasi
Diet eliminasi — menghilangkan makanan yang dicurigai dari asupan selama 2–4 minggu, kemudian mengamati perubahan gejala — merupakan alat diagnostik tambahan yang berguna, terutama untuk reaksi non-IgE-mediated yang lebih sulit dideteksi dengan pemeriksaan imunologis. Pencatatan sistematis gejala sebelum dan selama eliminasi sangat penting untuk interpretasi yang akurat.
Tata Laksana
1. Penghindaran Alergen dan Edukasi
Penghindaran alergen (allergen avoidance) tetap menjadi pilar utama tata laksana alergi makanan. Ini bukan hanya soal tidak memakan makanan yang diketahui berbahaya — melainkan keterampilan aktif yang mencakup:
- Membaca label makanan: Di Indonesia, BPOM mewajibkan pencantuman informasi alergen pada label produk pangan olahan. Pasien perlu memahami nama-nama tersembunyi alergen (misalnya “kasein” atau “whey” untuk susu sapi, “serum albumin bovine” untuk produk sapi, dll.).
- Komunikasi saat makan di luar: Pasien perlu terampil menginformasikan kondisinya kepada restoran atau penjual makanan.
- Mengenali risiko kontaminasi silang (cross-contamination): Terutama penting saat makan di tempat yang juga mengolah makanan alergen.
Panduan EAACI merekomendasikan bahwa edukasi pasien idealnya didukung oleh ahli gizi (dietitian) yang terlatih di bidang alergi, khususnya untuk memastikan kecukupan nutrisi saat menjalani diet eliminasi jangka panjang. Anak-anak yang menghindari susu sapi, misalnya, membutuhkan pemantauan asupan kalsium dan vitamin D.
2. Rencana Aksi Tertulis (Written Action Plan)
Setelah diagnosis alergi makanan IgE-mediated dikonfirmasi, panduan EAACI merekomendasikan pemberian rencana tata laksana tertulis kepada pasien, yang mencakup edukasi tentang pengenalan gejala alergi dan instruksi penggunaan obat-obatan darurat termasuk epinefrin dengan auto-injector. Rencana aksi ini harus mudah dipahami, tersedia dalam bahasa yang dimengerti pasien, dan diberikan kepada semua pihak yang relevan (orang tua, guru, pengasuh).
3. Penanganan Reaksi Ringan hingga Sedang
Untuk reaksi ringan seperti urtikaria terlokalisir atau rinitis ringan, antihistamin generasi kedua (loratadin, cetirizin, fexofenadin) merupakan terapi lini pertama. Kortikosteroid oral (prednison, metilprednisolon) dapat digunakan untuk reaksi sedang yang tidak responsif terhadap antihistamin saja, atau pada reaksi yang melibatkan saluran napas atas.
Antihistamin generasi pertama (difenhidramin, klorfeniramin) kurang dianjurkan sebagai pilihan utama karena efek sedasi dan durasi kerja yang lebih pendek, meski masih tersedia luas di Indonesia.
4. Penanganan Anafilaksis
Anafilaksis adalah kegawatan medis yang memerlukan penanganan segera. Ini adalah manifestasi paling berat dari alergi makanan — ditandai dengan keterlibatan minimal dua sistem organ (atau satu sistem organ pada paparan alergen yang diketahui), dan dapat berkembang ke syok anafilaktik yang mengancam jiwa dalam hitungan menit.
Epinefrin intramuskular adalah terapi lini pertama anafilaksis — selalu, tanpa pengecualian.
Pemberian epinefrin intramuskular segera ke paha anterolateral adalah terapi lini pertama anafilaksis dan selalu aman diberikan bahkan bila diagnosis masih belum pasti. Dosis epinefrin yang direkomendasikan adalah 0,3–0,5 mg (0,3–0,5 mL larutan 1:1000) untuk dewasa, dan 0,01 mg/kgBB (maksimum 0,3 mg) untuk anak-anak, diberikan secara intramuskular di paha anterolateral.
Kesalahan yang masih sering terjadi di lapangan adalah memberikan antihistamin atau kortikosteroid sebagai terapi pertama. Perlu dipahami dengan tegas: antihistamin dan kortikosteroid bukan terapi anafilaksis — keduanya memiliki onset kerja terlalu lambat untuk mengatasi reaksi yang mengancam jiwa. Epinefrin adalah satu-satunya obat yang dapat membalik dengan cepat semua komponen patofisiologis anafilaksis.
Setelah epinefrin diberikan, pasien harus:
- Diposisikan berbaring dengan kaki ditinggikan (bila tidak ada gangguan pernapasan)
- Mendapatkan akses intravena
- Mendapatkan oksigen bila diperlukan
- Dipantau di fasilitas kesehatan minimal 4–6 jam (atau lebih lama bila reaksi berat) karena risiko biphasic reaction — kekambuhan gejala beberapa jam setelah perbaikan awal
Panduan World Allergy Organization (WAO) menegaskan bahwa setelah episode anafilaksis, pasien harus dirujuk ke spesialis untuk mengevaluasi penyebab dan mendapatkan edukasi tentang pencegahan rekurensi dan tata laksana mandiri.
Epinephrine auto-injector (EAI) — dikenal dengan merek dagang seperti EpiPen — seharusnya diberikan kepada semua pasien dengan riwayat anafilaksis untuk digunakan sebagai pertolongan pertama mandiri. Di Indonesia, ketersediaan EAI masih sangat terbatas dan harganya mahal. Dalam kondisi ini, pasien dapat dilatih menggunakan epinefrin ampul standar dengan jarum suntik biasa, meski ini memerlukan pelatihan yang lebih intensif.
Pembaruan panduan anafilaksis 2023 dari American College of Allergy, Asthma & Immunology menegaskan pentingnya konseling dan pelatihan spesifik kepada pasien dan pengasuh mengenai kapan dan bagaimana menggunakan epinephrine auto-injector, serta kapan harus menghubungi layanan gawat darurat.
5. Imunoterapi Oral (Oral Immunotherapy/OIT)
Perkembangan paling signifikan dalam tata laksana alergi makanan sejak artikel 2017 adalah hadirnya imunoterapi sebagai pilihan terapi aktif. OIT dilakukan dengan memberikan alergen makanan dalam dosis sangat kecil yang ditingkatkan secara bertahap selama berbulan-bulan, dengan tujuan mencapai desensitisasi — yaitu kemampuan pasien mentoleransi paparan alergen dalam jumlah tertentu tanpa reaksi berat.
Panduan EAACI 2024 merekomendasikan OIT untuk anak-anak dan remaja dengan alergi kacang tanah, serta menyarankan OIT untuk alergi susu sapi dan telur (umumnya mulai usia 4 tahun ke atas).
Bukti klinis menunjukkan efektivitas yang bermakna:
- Untuk alergi susu sapi pada anak, meta-analisis 19 randomized controlled trial menunjukkan bahwa OIT secara signifikan meningkatkan desensitisasi dibandingkan penghindaran (relative risk 2,51; 95% CI: 1,54–4,09).
- Untuk alergi kacang tanah, OIT memiliki relative risk desensitisasi sebesar 11,94 dibandingkan penghindaran atau plasebo.
Namun OIT bukan tanpa risiko. Penelitian pada kelompok dewasa menunjukkan bahwa OIT berhasil mendesensitisasi sebagian besar pasien (61,5%), namun orang dewasa mengalami lebih banyak efek samping yang membutuhkan epinefrin dibandingkan anak-anak, terutama pada OIT susu sapi. Efek samping yang paling umum adalah reaksi gastrointestinal (mual, nyeri perut, muntah). Komplikasi jangka panjang yang perlu diwaspadai adalah esofagitis eosinofilik.
OIT saat ini hanya boleh dilakukan oleh spesialis alergi dan imunologi di fasilitas yang memiliki kapasitas penanganan anafilaksis, dengan protokol yang ketat. Di Indonesia, fasilitas ini baru tersedia di beberapa rumah sakit tersier di kota besar.
Selain OIT, tersedia pula imunoterapi sublingual (SLIT) dan epikutan (EPIT), namun keduanya memiliki efikasi lebih terbatas dibandingkan OIT dan belum tersedia di layanan rutin.
6. Terapi Biologis: Omalizumab
Omalizumab adalah antibodi monoklonal yang bekerja dengan menghambat IgE bebas, sehingga mengurangi ketersediaan IgE untuk berikatan dengan reseptor sel mast. Omalizumab telah mendapat persetujuan dari FDA Amerika Serikat untuk tata laksana alergi makanan pada anak ≥1 tahun dan dewasa.
Meta-analisis menunjukkan bahwa omalizumab sebagai monoterapi secara signifikan meningkatkan ambang dosis toleransi untuk berbagai makanan, termasuk susu, telur, gandum, dan susu yang dipanggang, serta meningkatkan kualitas hidup pasien dengan alergi makanan IgE-mediated.
Panduan EAACI menyarankan penggunaan omalizumab untuk tata laksana alergi makanan IgE-mediated pada anak mulai usia 1 tahun dan orang dewasa. Omalizumab juga sering digunakan sebagai terapi adjuvan untuk OIT, guna meningkatkan keamanan prosedur desensitisasi pada pasien dengan risiko reaksi berat yang tinggi.
Di Indonesia, omalizumab tersedia (teregistrasi BPOM) namun harganya sangat mahal dan belum masuk dalam jaminan BPJS Kesehatan untuk indikasi alergi makanan, sehingga aksesibilitasnya sangat terbatas.
Pencegahan: Perubahan Paradigma
Salah satu perubahan terbesar dalam dekade terakhir adalah pemahaman tentang pencegahan primer alergi makanan. Pandangan lama yang menganjurkan penundaan pengenalan makanan alergen pada bayi telah terbukti keliru — bahkan kontraproduktif.
Untuk anak-anak yang dianggap berisiko tinggi (terutama karena memiliki alergi makanan lain atau eksim berat), bukti untuk pengenalan dini makanan alergen — khususnya kacang tanah dan telur — sangat kuat. Konsensus saat ini menegaskan bahwa makanan alergen tidak boleh ditunda, bahkan sebaiknya diperkenalkan pada sekitar usia 4 hingga 6 bulan untuk meminimalkan risiko perkembangan alergi makanan.
Studi LEAP (Learning Early About Peanut) yang monumental telah membuktikan bahwa pengenalan kacang tanah sejak bayi pada anak berisiko tinggi (eksim sedang-berat atau alergi telur) menurunkan prevalensi alergi kacang tanah hingga 80% pada usia 5 tahun. Prinsip serupa berlaku untuk telur.
Selain pengenalan dini kacang tanah dan telur, penelitian sedang mengeksplorasi berbagai strategi pencegahan yang lebih luas, termasuk faktor diet ibu selama kehamilan, suplementasi, menyusui, suplementasi formula susu sapi sejak dini, manipulasi mikrobiom, dan terapi skin barrier.
Untuk konteks Asia Tenggara, data dari Singapura menunjukkan nuansa yang berbeda. Studi kohort GUSTO di Singapura menemukan bahwa waktu pengenalan makanan padat dan kualitas diet bayi tidak secara signifikan berhubungan dengan risiko alergi makanan hingga usia 8 tahun pada populasi Asia ini, yang mengindikasikan perlunya penelitian lebih lanjut tentang generalisasi pendekatan pencegahan ini di berbagai populasi.
Konteks Layanan Kesehatan di Indonesia
Penerapan panduan internasional di Indonesia memerlukan adaptasi terhadap realitas layanan kesehatan yang ada:
Di layanan primer (Puskesmas dan klinik pratama):
- Anamnesis terperinci dan edukasi penghindaran alergen adalah intervensi yang paling mudah diimplementasikan
- SPT dapat dilakukan di layanan sekunder; rujukan tepat waktu penting bila dicurigai alergi sedang-berat
- Penanganan anafilaksis dengan epinefrin IM harus tersedia di setiap fasilitas kesehatan — ini adalah standar akreditasi yang wajib dipenuhi
- Pemeriksaan sIgE (RAST/ImmunoCAP) tersedia di beberapa laboratorium klinik swasta di kota besar
Di layanan sekunder dan tersier:
- OFC dilakukan di bagian alergi-imunologi anak (SpA Subsp. A.Im) atau penyakit dalam sub spesialis alergi
- OIT hanya dilakukan di pusat alergi tersier dengan protokol yang disetujui dan fasilitas emergensi lengkap
- CRD dan BAT saat ini terbatas di fasilitas riset dan rumah sakit tersier tertentu
Terkait Sistem JKN/BPJS: Pemeriksaan sIgE dan penanganan anafilaksis dalam kondisi akut dapat diklaim melalui JKN. OIT dan omalizumab untuk indikasi alergi makanan saat ini belum masuk dalam tanggungan BPJS Kesehatan, sehingga pasien menanggung biaya sendiri — hambatan signifikan dalam aksesibilitas terapi terkini.
Label pangan: BPOM telah mengatur kewajiban pencantuman 14 kelompok alergen pada label pangan olahan melalui Peraturan BPOM tentang Label Pangan Olahan. Edukasi masyarakat untuk membaca label ini perlu terus ditingkatkan, karena kepatuhan industri dan pemahaman konsumen masih bervariasi.
Kesimpulan
Tata laksana alergi makanan telah mengalami evolusi yang signifikan. Dari sekadar “hindari makanan penyebab dan berikan antihistamin”, kini kita memiliki:
- Alat diagnostik yang lebih presisi (CRD, BAT, OFC terstandarisasi)
- Terapi aktif yang dapat mengubah perjalanan penyakit (OIT, omalizumab)
- Pemahaman pencegahan yang lebih baik melalui pengenalan dini makanan alergen
Kunci utama tata laksana tetap adalah: diagnosis yang tepat, edukasi komprehensif tentang penghindaran alergen, rencana aksi darurat — terutama aksesibilitas epinefrin dan pelatihan penggunaannya — serta pemantauan berkala untuk mendeteksi toleransi yang berkembang pada anak-anak.
Di Indonesia, tantangan terbesar adalah kesenjangan antara kemajuan ilmu pengetahuan global dan aksesibilitas terapi di lapangan. Advokasi untuk ketersediaan epinephrine auto-injector yang terjangkau dan inklusi terapi alergi makanan terkini dalam skema JKN merupakan agenda mendesak.
Daftar Referensi
Abrams, E. M., Alqurashi, W., Fischer, D. A., Vander Leek, T. K., & Ellis, A. K. (2024). Anaphylaxis. Allergy, Asthma, and Clinical Immunology, 20(Suppl 3), 62. https://doi.org/10.1186/s13223-024-00926-3
Azizah, N., & [penulis lain]. (2024). Frekuensi alergi makanan berdasarkan survei pada orang dewasa di wilayah Yogyakarta dan Jawa. Majalah Farmaseutik, 20. https://doi.org/10.22146/mf.85546
Cardona, V., Ansotegui, I. J., Ebisawa, M., El-Gamal, Y., Fernandez Rivas, M., Fineman, S., … Worm, M. (2020). World Allergy Organization anaphylaxis guidance 2020. World Allergy Organization Journal, 13(10), 100472. https://doi.org/10.1016/j.waojou.2020.100472
Epstein-Rigbi, N., Levy, M. B., Nachshon, L., Koren, Y., Katz, Y., Goldberg, M. R., & Elizur, A. (2022). Efficacy and safety of food allergy oral immunotherapy in adults. Allergy, 78(3), 803–811. https://doi.org/10.1111/all.15537
Golden, D. B. K., Wang, J., Waserman, S., Akin, C., Campbell, R. L., Ellis, A. K., … Stukus, D. R. (2023). Anaphylaxis: A 2023 practice parameter update. Annals of Allergy, Asthma & Immunology, 132(2), 124–176. https://doi.org/10.1016/j.anai.2023.09.015
Herman, K., Brough, H. A., Pier, J., Venter, C., & Järvinen, K. M. (2024). Prevention of IgE-mediated food allergy: Emerging strategies through maternal and neonatal interventions. The Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice, 12(7), 1686–1694. https://doi.org/10.1016/j.jaip.2024.04.029
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 5 Tahun 2014 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer. Kemenkes RI.
Riggioni, C., Oton, T., Carmona, L., Du Toit, G., Skypala, I., & Santos, A. F. (2024). Immunotherapy and biologics in the management of IgE-mediated food allergy: Systematic review and meta-analyses of efficacy and safety. Allergy, 79(8), 2097–2127. https://doi.org/10.1111/all.16129
Riggioni, C., Ricci, C., Moya, B., Wong, D., van Goor, E., Bartha, I., … Santos, A. F. (2023). Systematic review and meta-analyses on the accuracy of diagnostic tests for IgE-mediated food allergy. Allergy, 79(2), 324–352. https://doi.org/10.1111/all.15939
Santos, A. F., Riggioni, C., Agache, I., Akdis, C. A., … Skypala, I. (2023). EAACI guidelines on the diagnosis of IgE-mediated food allergy. Allergy, 78(12), 3057–3076. https://doi.org/10.1111/all.15902
Santos, A. F., Riggioni, C., Agache, I., Akdis, C. A., … Skypala, I. (2024). EAACI guidelines on the management of IgE-mediated food allergy. Allergy, 80(1), 14–36. https://doi.org/10.1111/all.16345
Sindher, S. B., Hillier, C., Anderson, B., Long, A., & Chinthrajah, R. S. (2023). Treatment of food allergy: Oral immunotherapy, biologics, and beyond. Annals of Allergy, Asthma & Immunology, 131(1), 29–36. https://doi.org/10.1016/j.anai.2023.04.023
Suaini, N. H. A., Koh, Q. Y., Toh, J. Y., Soriano, V. X., Colega, M. T., Riggioni, C., … Tham, E. H. (2024). Maternal and infant dietary patterns are not related to food allergy risk in Singapore children: GUSTO cohort study. The Journal of Nutrition, 154(7), 2157–2166. https://doi.org/10.1016/j.tjnut.2024.05.002
Tanukusumah, M., & [penulis lain]. (2016). Prevalensi alergi makanan pada anak usia kurang dari 3 tahun di Jakarta berbasis survei dalam jaringan. Sari Pediatri, 15(4). https://doi.org/10.14238/sp15.4.2013.213-8
Trogen, B., Jacobs, S., & Nowak-Wegrzyn, A. (2022). Early introduction of allergenic foods and the prevention of food allergy. Nutrients, 14(13), 2565. https://doi.org/10.3390/nu14132565
Wang, Y., Liu, S., Lu, M., Guo, J., Lv, C., & Huang, L. (2025). Oral immunotherapy for cow’s milk allergy in children: A systematic review and meta-analysis. Frontiers in Immunology, 16, 1570050. https://doi.org/10.3389/fimmu.2025.1570050
Zuberbier, T., Wood, R. A., Bindslev-Jensen, C., Fiocchi, A., Chinthrajah, R. S., Worm, M., … Tassinari, P. (2022). Omalizumab in IgE-mediated food allergy: A systematic review and meta-analysis. The Journal of Allergy and Clinical Immunology: In Practice, 11(4), 1134–1146. https://doi.org/10.1016/j.jaip.2022.11.036

Tinggalkan komentar