Catatan pembaruan: tulisan ini pertama terbit pada 5 Oktober 2017 dan disusun ulang sepenuhnya pada 9 Oktober 2026 dengan definisi, data, dan panduan terbaru.
Ibu Sri (32), penjual sayur di sebuah pasar kecamatan di Banyumas, sudah hampir lima bulan berobat TBC di puskesmas. Batuknya belum reda, berat badannya turun lagi, dan dahaknya masih positif. Pemeriksaan tes cepat molekuler (TCM) membawa kabar yang tidak diharapkan: kumannya resistan terhadap rifampisin. Beberapa tahun lalu, kabar itu berarti pengobatan yang bisa berlangsung hingga dua tahun, dengan obat suntik dan efek samping berat. Hari ini, bila memenuhi syarat, ia dapat ditawari paduan oral enam bulan di rumah sakit rujukan TBC resistan obat (TBC RO). (Tokoh ini rekaan untuk ilustrasi.)
Pada 2017, saya menulis tentang TBC resistan obat ketika XDR-TB masih didefinisikan dengan obat suntik dan istilah seperti TDR ramai diperbincangkan. Hampir semuanya telah bergeser. Tulisan ini memperbarui peta tersebut: istilah, besaran masalah, pengobatan, dan apa yang masih tertinggal di Indonesia.
Memahami istilahnya: MDR, pre-XDR, dan XDR
Pada Januari 2021, World Health Organization (WHO) merevisi definisi TBC resistan obat. Alasannya, paduan modern tidak lagi bertumpu pada obat suntik; yang kini menentukan adalah resistansi terhadap fluorokuinolon, bedaquiline, dan linezolid (WHO, 2021a, 2021b). Hasilnya tersaji pada Tabel 1.
| Istilah | Definisi (berlaku sejak 2021) | Catatan |
|---|---|---|
| RR-TB | Resistan terhadap rifampisin, dengan atau tanpa resistansi obat lain | Dalam pelaporan WHO, RR-TB dan MDR-TB digabung menjadi MDR/RR-TB |
| MDR-TB | Resistan terhadap rifampisin dan isoniazid | Definisi tidak berubah |
| Pre-XDR-TB | MDR/RR-TB yang juga resistan terhadap fluorokuinolon apa pun | Kategori baru sejak 2021; sekitar 18% kasus MDR/RR-TB global pada 2024 |
| XDR-TB | MDR/RR-TB yang resistan terhadap fluorokuinolon dan sedikitnya satu dari bedaquiline atau linezolid | Sebelum 2021, XDR-TB ditentukan oleh resistansi fluorokuinolon dan sedikitnya satu obat suntik lini kedua (amikasin, kapreomisin, kanamisin); itulah definisi yang saya tulis pada 2017 |
Tabel 1. Klasifikasi TBC resistan obat menurut WHO. Disusun penulis dari WHO (2021a, 2025a).
Istilah seperti TDR atau XXDR yang sempat ramai pada 2017 tidak termasuk klasifikasi WHO yang berlaku saat ini (WHO, 2025a). Di Indonesia, Kementerian Kesehatan memakai sebutan “TBC resistan obat” atau TBC RO (Kementerian Kesehatan RI, 2025), sejalan dengan pembakuan kata resistan dalam KBBI.
Seberapa besar masalahnya?
Menurut Laporan TBC Global WHO 2025, sekitar 390.000 orang di dunia jatuh sakit akibat TBC MDR/RR pada 2024, dan penyakit ini menyebabkan sekitar 150.000 kematian (WHO, 2025a). Estimasi jumlah kasus menurun sejak 2015, tetapi jumlah orang yang memulai pengobatan ikut menurun: 164.545 pada 2024, dibanding 177.017 pada 2023 (WHO, 2025b). Tabel 2 merangkum angka kuncinya.
| Indikator | Angka | Sumber |
|---|---|---|
| Estimasi kasus baru MDR/RR-TB global, 2024 | 390.000 (rentang 360.000–430.000) | WHO (2025a) |
| Estimasi kematian akibat MDR/RR-TB, 2024 | 150.000 (rentang 93.000–210.000) | WHO (2025a) |
| Proporsi MDR/RR-TB pada kasus TBC baru | 3,2% (4,7% pada 2015) | WHO (2025a) |
| Proporsi MDR/RR-TB pada kasus yang pernah diobati | 16% (19% pada 2015) | WHO (2025a) |
| Kasus MDR/RR-TB yang tergolong pre-XDR-TB | 18% (rentang 15–20%) | WHO (2025a) |
| Keberhasilan pengobatan MDR/RR-TB, kohort 2022 | 71% (50% pada 2012) | WHO (2025b) |
| Pasien MDR/RR-TB yang memakai paduan 6 bulan, 2024 | 21% (34.256 orang; 5.653 pada 2023) | WHO (2025b) |
| Indonesia: porsi kesenjangan global antara estimasi kasus dan yang diobati, 2024 | 7,3% (ketiga terbesar setelah India dan Filipina) | WHO (2025b) |
| Indonesia: kasus TBC RO tercatat dan keberhasilan pengobatan, 2024 | Lebih dari 12.000 kasus; keberhasilan 59% | Kemenkes RI (2025) |
Tabel 2. Angka kunci TBC MDR/RR global dan Indonesia. Disusun penulis dari WHO (2025a, 2025b) dan Kemenkes RI (2025).
Dua hal layak dicatat. Pertama, sebagian kasus TBC baru sudah resistan sejak awal (3,2% secara global). Menurut tafsiran saya, ini menunjukkan bahwa resistansi tidak hanya lahir dari pengobatan sebelumnya yang tidak tuntas, tetapi juga dapat ditularkan langsung dari orang ke orang.
Kedua, jurang di Indonesia masih lebar. Kemenkes menyebut lebih dari 12 ribu kasus TBC RO tercatat pada 2024, tetapi hanya sebagian yang menjalani pengobatan dan keberhasilannya baru 59% (Kementerian Kesehatan RI, 2025). Sebagai pembanding, WHO memperkirakan sekitar 31.000 kasus baru pada 2022 dengan rentang ketidakpastian 18.000–43.000 (WHO, n.d.). Tahunnya berbeda sehingga bukan perbandingan langsung, namun cukup menggambarkan kesenjangan antara kasus yang diperkirakan dan yang berhasil ditemukan. Sejak Mei 2025, WHO juga mencatat Indonesia dalam Wilayah Pasifik Barat, bukan lagi Asia Tenggara (WHO, 2025b).
Pengobatan: dari dua tahun menjadi enam bulan
Selama bertahun-tahun, pengobatan TBC resistan obat identik dengan obat suntik, efek samping berat, dan durasi lebih dari satu setengah tahun. Sejak 2018, WHO merekomendasikan paduan oral penuh tanpa suntikan, dan kini rekomendasinya dikelompokkan menjadi tiga kategori. Paduan 6 bulan diprioritaskan, sedangkan paduan terpanjang menjadi pilihan terakhir (WHO, 2025b). Gambar 1 memperlihatkan perbedaan lamanya.
Gambar 1. Lama pengobatan MDR/RR-TB menurut jenis paduan. Ilustrasi penulis berdasarkan WHO (2025b); kisaran durasi paduan lama adalah perkiraan umum. FQ = fluorokuinolon.
| Kategori | Contoh paduan | Siapa yang memenuhi syarat | Catatan |
|---|---|---|---|
| 6 bulan (diprioritaskan) | BPaLM: bedaquiline, pretomanid, linezolid, moksifloksasin. BDLLfxC: bedaquiline, delamanid, linezolid, levofloksasin, klofazimin (disetujui 2024) | BPaLM: MDR/RR-TB atau pre-XDR-TB, usia 14 tahun ke atas, apa pun status HIV-nya; tidak untuk TB sistem saraf pusat, tulang-sendi, atau diseminata multiorgan | Linezolid 600 mg sekali sehari. Uji kepekaan fluorokuinolon dianjurkan tetapi tidak boleh menunda pengobatan; bila resistan, moksifloksasin dihentikan (menjadi BPaL) |
| 9 bulan, oral | Beberapa kombinasi oral, termasuk bedaquiline dan linezolid | MDR/RR-TB tanpa resistansi fluorokuinolon | Dipakai di 99 negara pada 2024 |
| 18–20 bulan | Paduan individual, dapat memuat amikasin | Bila paduan yang lebih pendek tidak dapat diberikan | Masih dipakai pada 54% pasien MDR/RR-TB global pada 2024 |
Tabel 3. Tiga kategori paduan MDR/RR-TB. Disusun penulis dari WHO (2025b, 2025c).
Dasar bukti utama BPaLM adalah uji acak TB-PRACTECAL di Uzbekistan, Belarus, dan Afrika Selatan. Pada analisis akhir, hasil yang tidak menguntungkan (gagal, meninggal, putus obat, kambuh, atau hilang dari pemantauan) terjadi pada 12% peserta BPaLM dan 41% peserta terapi standar pada minggu ke-72. Efek samping derajat 3 atau lebih, atau yang serius, tercatat pada 23% peserta BPaLM dibanding 48% pada terapi standar (Nyang’wa et al., 2024).
Angka itu perlu dibaca dengan hati-hati. Pesertanya berusia 15 tahun ke atas dan tidak berasal dari Indonesia, sedangkan hasil di puskesmas dan rumah sakit kita turut ditentukan oleh akses pemeriksaan, ketersediaan obat, dan pemantauan efek samping. Rekomendasi WHO untuk BPaLM sendiri berstatus bersyarat dengan kepastian bukti sangat rendah (WHO, 2025c). Panduan WHO edisi kedua (2026) menyempurnakan pilihan untuk pre-XDR-TB menurut keparahan penyakit paru serta menambahkan rekomendasi perawatan paliatif; rinciannya saya bahas pada tulisan Tidak Semua Pre-XDR-TB Sama.
Di Indonesia: sudah bergerak, tetapi belum cukup
Target nasionalnya jelas: Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 menetapkan eliminasi TBC pada 2030. Dari sisi pengobatan, WHO mencatat Indonesia termasuk 18 negara yang pada 2024 memakai paduan oral 6 bulan pada sedikitnya 20% pasien MDR/RR-TB (WHO, 2025b). Menurut pemberitaan yang mengutip Kemenkes, paduan BPaL/M dipakai secara luas sejak Agustus 2023 (IDN Times, n.d.).
Kemenkes sendiri menegaskan bahwa ketersediaan obat saja tidak cukup. Keberhasilan sangat bergantung pada kesiapan dokter, perawat, dan apoteker untuk mendiagnosis, mengobati, dan mendampingi pasien hingga akhir terapi (Kementerian Kesehatan RI, 2025). Pelatihan itu sudah berjalan di daerah. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, misalnya, menggelar lokakarya tata laksana BPaL/BPaLM di Medan pada Agustus 2024 bagi dinas kesehatan kabupaten/kota dan rumah sakit layanan TBC RO, dengan pesan agar rumah sakit menjadwalkan mini-cohort setiap bulan untuk meninjau mutu layanan (Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, 2024).
Menurut tafsiran saya, hambatan terbesar kini bukan lagi ketersediaan paduan, melainkan menemukan pasien dan memasukkannya ke pengobatan. Secara global, hanya 64% pasien TBC paru yang terdiagnosis pada 2024 terkonfirmasi secara bakteriologis, padahal uji resistansi memerlukan konfirmasi itu (WHO, 2025b).
Menemukan lebih dini, melindungi yang serumah
Dua pekerjaan rumah yang saya tulis pada 2017 tetap relevan: menemukan kasus lebih awal dan melibatkan kader kesehatan. Yang berubah adalah perangkatnya. Inovasi uji molekuler dekat pasien dibahas pada tulisan Revolusi Deteksi TBC, sedangkan tata laksana TBC sensitif obat yang terbaru diulas dalam Era Baru Eliminasi TBC.
Untuk orang yang serumah dengan pasien TBC RO, WHO sejak 2024 merekomendasikan levofloksasin harian selama 6 bulan sebagai terapi pencegahan. Pada anak kontak dan orang dengan gangguan imun, tidak perlu uji infeksi TBC lebih dulu, tetapi seluruh kontak serumah tetap perlu diskrining untuk TBC aktif. Kontak pasien RR-TB umumnya diperlakukan seperti kontak MDR-TB, kecuali kepekaan isoniazid pada kasus indeks terbukti (WHO, 2024).
Bayangkan seorang balita di Kota Kupang yang serumah dengan ayahnya yang baru terdiagnosis TBC RO. Langkah pertama adalah memastikan ia tidak sedang sakit TBC aktif. Bila tidak, ia menjadi kandidat terapi pencegahan, dan keputusannya sebaiknya diambil bersama tim ahli (tafsiran penulis). Latar belakang terapi pencegahan dibahas pada Melindungi Sebelum Sakit.
Tantangan yang tidak hilang
Pengobatan yang lebih singkat tidak otomatis menyelesaikan masalah. Beberapa tantangan yang saya tulis pada 2017 masih berlaku:
- Pemantauan efek samping. Enam bulan tetap berarti kontrol rutin. Pada TB-PRACTECAL, pemanjangan QTc yang bermakna klinis jarang terjadi, tetapi itu pada peserta yang dipantau ketat (Motta et al., 2024). Temuan ini menegaskan nilai pemantauan, bukan alasan melonggarkannya.
- Biaya. Paduan TBC resistan obat berkisar US$ 200–600 per orang, dibanding sekitar US$ 50 untuk TBC sensitif obat (WHO, 2025b).
- Faktor pasien dan keluarga. Stigma, kecukupan gizi, kebiasaan merokok, penyakit penyerta seperti diabetes dan HIV, serta dukungan keluarga memengaruhi apakah pengobatan dapat dijalani sampai tuntas (tafsiran penulis berdasarkan praktik layanan).
- Kelompok khusus. Anak di bawah 14 tahun, ibu hamil atau menyusui, dan TB di lokasi tertentu memerlukan jalur lain dan pertimbangan tim ahli klinis.
- Beban psikososial. TBC resistan obat membawa beban fisik dan emosional yang berat; pembahasan tentang kapan perawatan paliatif layak ditawarkan ada pada tulisan Paliatif Bukan Tanda Menyerah.
Pesan praktis
- Konfirmasi bakteriologis dan uji resistansi rifampisin adalah pintu masuk seluruh rangkaian ini; upayakan sedini mungkin.
- Pasien MDR/RR-TB yang memenuhi syarat layak dinilai tim ahli klinis untuk paduan 6 bulan.
- Lindungi kontak serumah: skrining TBC aktif, lalu pertimbangkan terapi pencegahan.
- Pantau efek samping, dan sertakan dukungan gizi serta psikososial sejak awal.
- Panduan WHO bukan regulasi nasional; acuan di fasilitas tetap pedoman Kemenkes yang berlaku.
Catatan Transparansi
Tulisan ini adalah ulasan, bukan terjemahan resmi dokumen WHO, dan tidak berarti WHO atau Kementerian Kesehatan mendukung isinya. Saya membaca langsung bagian 1.3 dan 2.4 Laporan TBC Global WHO 2025, abstrak laporan rapat WHO tentang definisi XDR-TB, abstrak TB-PRACTECAL dan analisis EKG-nya di PubMed, serta siaran pers Kemenkes (2 Oktober 2025). Isi rekomendasi WHO Modul 4 (2025) dan Modul 1 (2024) saya ambil dari ringkasan rekomendasi, bukan dari pembacaan penuh dokumen. Rincian panduan WHO edisi kedua (2026) tidak saya baca ulang di sini dan merujuk pada tulisan terdahulu. Target eliminasi 2030 dalam Perpres 67/2021 saya ambil dari kutipan teks yang dapat diakses, bukan dari telaah penuh. Informasi mulai dipakainya BPaL/M sejak Agustus 2023 berasal dari pemberitaan (IDN Times, n.d.), sedangkan profil WHO untuk Indonesia memuat data 2022 sehingga lebih tua dibanding data lain dalam tulisan ini; keduanya perlu diverifikasi pada sumber primer. Kisah Ibu Sri dan balita di Kupang adalah rekaan ilustratif. Kisaran durasi paduan lama pada Gambar 1 adalah perkiraan umum. Bagian bertanda “tafsiran penulis” adalah opini saya. Referensi dan video dari versi 2017, termasuk gambar yang tertaut langsung dari situs WHO, saya ganti atau hapus karena sudah usang atau tidak dapat diverifikasi lagi. Gambar sampul dibuat dengan bantuan AI. Tulisan ini bukan pengganti keputusan klinis tim ahli.
Ringkasan
Tuberkulosis resistan obat kini lebih mungkin diobati dengan paduan oral enam bulan, bukan lagi hingga dua tahun dengan obat suntik. Indonesia sudah memakainya, tetapi keberhasilan pengobatan baru sekitar 59% dan banyak kasus belum terjaring. Deteksi resistansi, perlindungan kontak serumah, dan kesiapan tenaga kesehatan menentukan langkah berikutnya.
Daftar Pustaka
Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. (2024). Dinkes Provinsi Sumut lakukan lokakarya tatalaksana pengobatan TB RO dengan paduan BPaL/BPaLM. https://dinkes.sumutprov.go.id/artikel/dinkes-provinsi-sumut-lakukan-lokakarya-tatalaksana-pengobatan-tb-ro-dengan-paduan-bpalbpalm-1724634394
IDN Times. (n.d.). Pengobatan lebih singkat, terobosan baru atasi TB resisten obat. https://www.idntimes.com/health/medical/pengobatan-lebih-singkat-terobosan-baru-atasi-tb-resisten-obat-00-6kn2w-940w42
Kementerian Kesehatan RI. (2025, 2 Oktober). Platform MOOC Upskill TB, langkah strategis menuju Indonesia bebas TBC 2030 [Siaran pers]. https://kemkes.go.id/id/platform-mooc-upskill-tb-langkah-strategis-menuju-indonesia-bebas-tbc-2030
Motta, I., Cusinato, M., Ludman, A. J., Lachenal, N., Dodd, M., Soe, M., Abdrasuliev, T., Usmanova, R., Butabekov, I., Nikolaevna, T. Z., Liverko, I., Parpieva, N., Moodliar, R., Solodovnikova, V., Kazounis, E., Nyang’wa, B.-T., Fielding, K. L., & Berry, C. (2024). How much should we still worry about QTc prolongation in rifampicin-resistant tuberculosis? ECG findings from TB-PRACTECAL clinical trial. Antimicrobial Agents and Chemotherapy, 68(7), Article e00536-24. https://doi.org/10.1128/aac.00536-24
Nyang’wa, B.-T., Berry, C., Kazounis, E., Motta, I., Parpieva, N., Tigay, Z., Moodliar, R., Dodd, M., Solodovnikova, V., Liverko, I., Rajaram, S., Rassool, M., McHugh, T., Spigelman, M., Moore, D. A., Ritmeijer, K., du Cros, P., & Fielding, K. (2024). Short oral regimens for pulmonary rifampicin-resistant tuberculosis (TB-PRACTECAL): An open-label, randomised, controlled, phase 2B-3, multi-arm, multicentre, non-inferiority trial. The Lancet Respiratory Medicine, 12(2), 117–128. https://doi.org/10.1016/S2213-2600(23)00389-2
Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis. (2021). Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2021 Nomor 166.
World Health Organization. (n.d.). Tuberculosis profile: Indonesia [Data 2022]. https://www.aidsdatahub.org/sites/default/files/resource/indonesia-tb-profile.pdf
World Health Organization. (2021a). Meeting report of the WHO expert consultation on the definition of extensively drug-resistant tuberculosis, 27–29 October 2020. https://www.who.int/publications/i/item/9789240018662
World Health Organization. (2021b, 27 Januari). WHO announces updated definitions of extensively drug-resistant tuberculosis [Berita]. https://www.who.int/news/item/27-01-2021-who-announces-updated-definitions-of-extensively-drug-resistant-tuberculosis
World Health Organization. (2024). WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 1: Prevention – Tuberculosis preventive treatment (2nd ed.). https://www.who.int/publications/i/item/9789240096196
World Health Organization. (2025a). Global tuberculosis report 2025: 1.3 Drug-resistant TB. https://www.who.int/teams/global-programme-on-tuberculosis-and-lung-health/tb-reports/global-tuberculosis-report-2025/tb-disease-burden/1-3-drug-resistant-tb
World Health Organization. (2025b). Global tuberculosis report 2025: 2.4 Drug-resistant TB: Treatment enrolment, coverage and outcomes. https://www.who.int/teams/global-programme-on-tuberculosis-and-lung-health/tb-reports/global-tuberculosis-report-2025/tb-diagnosis-and-treatment/2-4-drug-resistant-tb-treatment
World Health Organization. (2025c). WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 4: Treatment and care. https://iris.who.int/handle/10665/380799





Tinggalkan Balasan