Les pèlerins au-dessus des nuages

Pagi itu antrean di poli umum sebuah puskesmas di Gianyar, Bali, sudah mengular. Seorang bapak berusia 54 tahun duduk sambil memegangi pinggangnya. “Disuntik saja, Dok, biar cepat sembuh,” pintanya. Permintaan seperti ini kita dengar di banyak tempat, dari Aceh sampai Papua. Di baliknya ada dua pertanyaan yang jarang terucap: apakah suntikan benar-benar diperlukan, dan apakah alat yang akan menembus kulit itu baru, steril, serta hanya dipakai untuknya?

Suntikan adalah salah satu prosedur medis yang paling sering dilakukan di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) memperkirakan jumlahnya sekitar 16 miliar per tahun, baik untuk imunisasi, pengobatan, maupun menyelamatkan nyawa (WHO, 2015). Namun, suntikan yang tidak aman dapat menularkan hepatitis B, hepatitis C, dan HIV. Penyebabnya bisa sesederhana alat suntik (syringe) yang dipakai lebih dari sekali atau dipakai bergantian oleh beberapa pasien.

Seberapa besar masalahnya?

Pada tahun 2000, WHO memperkirakan suntikan tidak aman menjadi penyebab 5% infeksi HIV baru, 32% infeksi hepatitis B baru, dan 40% infeksi hepatitis C baru di negara berkembang dan negara transisi. Kabar baiknya, pemodelan ulang oleh Pépin dkk. (2014) menunjukkan penurunan tajam dalam satu dekade: infeksi HIV dan hepatitis C akibat suntikan turun masing-masing 87% dan 83%, sedangkan hepatitis B turun 91% dengan bantuan vaksinasi. Meski begitu, pada 2010 masih diperkirakan terjadi 16.939–33.877 infeksi HIV, 157.592–315.120 infeksi hepatitis C, dan sekitar 1,68 juta infeksi hepatitis B akibat suntikan tidak aman (Pépin dkk., 2014).

Data hepatitis terbaru menegaskan bahwa pekerjaan rumah belum selesai. WHO melaporkan 287 juta orang hidup dengan hepatitis B atau C kronis pada 2024, dan kedua infeksi itu merenggut 1,34 juta nyawa (WHO, 2026). Untuk Indonesia, WHO memperkirakan hepatitis B menyebabkan sekitar 60.000 kematian dan hepatitis C lebih dari 6.000 kematian setiap tahun (WHO, 2024). Perlu diingat, suntikan tidak aman hanyalah salah satu jalur penularan; penularan dari ibu ke bayi dan kontak darah lainnya tetap berperan besar. Namun, ini adalah jalur yang sepenuhnya berada dalam kendali fasilitas kesehatan.

Bentuk suntikan tidak amanContohPenangkal
Pemakaian ulang alatJarum diganti, tetapi alat suntik yang sama dipakai untuk pasien berikutnyaSatu jarum, satu alat suntik, sekali pakai. Mengganti jarum saja tidak cukup (CDC, n.d.)
Praktik vial obat yang keliruVial dosis tunggal dipakai untuk lebih dari satu pasien; vial ditusuk dengan jarum atau alat suntik bekasVial dosis tunggal hanya untuk satu pasien; vial multidosis sebaiknya dikhususkan untuk satu pasien (CDC, n.d.; Dolan dkk., 2016)
Suntikan yang sebenarnya tidak perluMeminta suntikan untuk keluhan ringan padahal obat minum setaraPertimbangkan obat oral; edukasi bersama antara petugas dan pasien (Luby, 2001)
Cedera tusuk jarum dan limbah benda tajamMenutup kembali jarum bekas; wadah limbah tidak tahan tusuk atau tidak tersediaWadah benda tajam (safety box), tanpa recapping, perangkat berfitur pengaman (WHO, 2016; Kemenkes, 2017)
Tabel 1. Empat wajah suntikan yang tidak aman dan cara mencegahnya

Satu jarum, satu alat suntik, sekali pakai

Kalimat ini adalah inti kampanye keselamatan suntikan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat. Aturan praktisnya jelas: gunakan jarum dan alat suntik baru untuk setiap pasien dan setiap penyuntikan; jangan pernah memasukkan jarum atau alat suntik bekas ke dalam vial obat; dan jangan memakai satu alat suntik untuk lebih dari satu pasien walaupun jarumnya diganti (CDC, n.d.).

Vial dosis tunggal tidak boleh dipakai untuk lebih dari satu pasien. Vial multidosis sebaiknya dikhususkan untuk satu pasien. Bila terpaksa dipakai bersama, simpan dan akses di area penyiapan obat yang bersih, jauh dari area perawatan pasien (CDC, n.d.). Rekomendasi rinci mulai dari persiapan hingga teknik aseptik dirangkum dalam pernyataan sikap APIC (Dolan dkk., 2016).

Alur enam langkah suntikan amanEnam langkah berurutan: cuci tangan dan siapkan obat di area bersih, cocokkan pasien dan obat, buka alat suntik baru di depan pasien, disinfeksi kulit lalu suntik secara aseptik, jangan menutup kembali jarum bekas, dan buang segera ke wadah benda tajam.1Cuci tangan, lalusiapkan obat di areayang bersih2Cocokkan pasien,obat, dan dosis;periksa kemasan3Buka alat suntik danjarum baru steril didepan pasien4Disinfeksi kulit,suntik dengan teknikaseptik5Jangan tutup kembalijarum bekas pakai(tanpa recapping)6Buang segera kewadah benda tajamyang tahan tusukSatu jarum, satu alat suntik, sekali pakai
Gambar 1. Alur ringkas suntikan aman, disusun penulis berdasarkan prinsip CDC (n.d.) dan rekomendasi WHO (2016)

Video berikut membantu menggambarkan praktik penyuntikan yang aman di meja tindakan.

Suntikan yang sebenarnya tidak diperlukan

Suntikan yang paling aman adalah suntikan yang tidak perlu diberikan. Untuk banyak keluhan, obat minum bekerja sama baiknya dengan obat suntik, sehingga pasien berhak bertanya kepada dokter atau perawat apakah tersedia alternatif oral. Harapan pasien ikut berperan, sebab di banyak tempat suntikan dianggap sebagai tanda pengobatan yang manjur (Luby, 2001). Perilaku ini dapat diubah: salah satu intervensi yang dirangkum Luby (2001) di Indonesia mencatat proporsi pasien yang disuntik turun dari 73% menjadi 14% setelah diskusi kelompok antara petugas kesehatan dan pasien.

Setelah suntikan selesai: benda tajam dan keselamatan petugas

Keamanan suntikan tidak berakhir ketika jarum ditarik. Prüss-Ustün dkk. (2005) memperkirakan bahwa pada tahun 2000 cedera perkutan menyebabkan sekitar 66.000 infeksi hepatitis B, 16.000 hepatitis C, dan 1.000 HIV pada tenaga kesehatan di seluruh dunia, dan infeksi-infeksi ini sangat dapat dicegah. Estimasi tersebut kerap dikutip bersama angka lebih dari tiga juta tenaga kesehatan yang mengalami cedera perkutan setiap tahun.

Bukti yang lebih baru memperkuat pentingnya pengelolaan limbah. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis di fasilitas dengan sumber daya terbatas menemukan bahwa petugas di fasilitas dengan pengelolaan limbah yang buruk memiliki peluang cedera tusuk jarum 4,31 kali lebih tinggi (IK 95% 3,02–6,15) dan peluang infeksi hepatitis B 3,45 kali lebih tinggi (IK 95% 2,10–5,68) (Woime, 2026). Data ini berasal dari studi observasional dengan heterogenitas tinggi, sehingga menunjukkan keterkaitan, bukan hubungan sebab-akibat yang pasti.

Di Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 27 Tahun 2017 menempatkan praktik menyuntik yang aman dan pengelolaan limbah benda tajam dalam kewaspadaan standar yang harus diterapkan di rumah sakit, puskesmas, klinik, maupun praktik mandiri (Kemenkes, 2017). Dalam praktik sehari-hari, artinya:

  • buang jarum dan alat suntik bekas segera ke wadah tahan tusuk yang berada sedekat mungkin dengan tempat penyuntikan;
  • jangan menutup kembali (recapping) jarum bekas dan jangan membawa jarum terbuka berjalan;
  • bila tertusuk, cuci luka dengan air mengalir dan sabun, segera laporkan, dan ikuti alur penilaian pajanan serta profilaksis pascapajanan di fasilitas masing-masing;
  • pastikan petugas, termasuk pekarya dan petugas kebersihan, mendapat vaksinasi hepatitis B; vaksin ini melindungi lebih dari 95% orang yang divaksinasi dari infeksi akut maupun kronis (WHO, 2026).

Tempat pembuangan alat dan jarum suntik pasca pemakaian juga selayaknya memenuhi standar keamanan, sehingga aman bagi siapa pun: pasien, petugas kesehatan, maupun pekarya di lingkungan fasilitas layanan kesehatan.

Peran manajer dan pemilik fasilitas kesehatan

Praktik aman tidak bisa hanya bertumpu pada niat baik individu. WHO merekomendasikan alat suntik berfitur pengaman: jenis pencegah pemakaian ulang (reuse prevention syringe) untuk suntikan intramuskular, intradermal, dan subkutan, serta perangkat pencegah cedera tusuk jarum (sharps injury prevention device) untuk melindungi petugas (WHO, 2016). Harganya memang lebih tinggi. Pada 2015 WHO mencatat alat suntik biasa seharga US$ 0,03–0,04 bila dibeli badan PBB untuk negara berkembang, sedangkan smart syringe setidaknya dua kali lipatnya (WHO, 2015). Dari puskesmas di Gianyar, klinik pratama di Sragen, hingga RSUD di Kupang, pertanyaan manajerialnya sama: apakah biaya tambahan itu lebih murah daripada satu kejadian penularan atau satu petugas yang tertusuk?

  • Tetapkan kebijakan dan SPO tertulis tentang penyuntikan aman dan pengelolaan benda tajam, sesuai Permenkes 27/2017.
  • Pastikan pasokan alat suntik steril sekali pakai dan wadah benda tajam selalu cukup di setiap titik tindakan.
  • Latih petugas secara berkala, lalu ukur kepatuhan melalui observasi langsung, bukan hanya laporan.
  • Catat dan telaah setiap cedera tusuk jarum, sediakan alur pascapajanan yang jelas, dan vaksinasi petugas.
  • Kurangi suntikan yang tidak perlu melalui pedoman klinis dan edukasi pasien.

Baca juga: Pedoman PPI di FKTP dan Contoh Program Kerja PPI Puskesmas Rawat Inap.

Yang dapat dilakukan pasien dan keluarga

  • Tanyakan apakah obat minum sudah cukup untuk keluhan Anda.
  • Perhatikan apakah alat suntik dan jarum dibuka dari kemasan steril di depan Anda.
  • Jangan ragu bertanya bila ada yang tampak janggal; pasien berhak mengetahui bahwa alat yang dipakai baru dan hanya digunakan sekali.
  • Pastikan imunisasi hepatitis B Anda dan keluarga lengkap, dan konsultasikan pemeriksaan bila Anda memiliki faktor risiko.

Poin penting

  • Suntikan tidak aman menyumbang penularan hepatitis B, hepatitis C, dan HIV; beban globalnya turun sejak 2000, tetapi belum hilang.
  • Prinsip kuncinya: satu jarum, satu alat suntik, sekali pakai. Mengganti jarum saja tidak cukup.
  • Suntikan paling aman adalah suntikan yang tidak diperlukan; obat oral sering setara.
  • Keselamatan mencakup petugas: wadah benda tajam, tanpa recapping, dan vaksinasi hepatitis B.
  • Manajer fasilitas bertanggung jawab pada kebijakan, pasokan alat, pelatihan, dan audit kepatuhan.

Catatan transparansi

  • Tulisan ini adalah pembaruan menyeluruh atas versi tahun 2017. Klaim lama bahwa “hingga 70% suntikan tidak diperlukan” tidak dapat saya verifikasi ulang sehingga tidak dipertahankan.
  • Kisah pembuka bersifat ilustrasi fiktif.
  • Angka sekitar 16 miliar suntikan per tahun bersumber dari siaran pers WHO 2015 sebagaimana dikutip media; angka “lebih dari tiga juta” cedera perkutan dikutip dari rujukan turunan atas Prüss-Ustün dkk. (2005), bukan dari makalah primernya langsung.
  • Estimasi Pépin dkk. (2014) berasal dari pemodelan untuk negara berkembang dan transisi, bukan hitungan kasus, dan tidak memberi angka khusus Indonesia. Data nasional terkini tentang proporsi suntikan aman maupun tidak perlu di Indonesia tidak saya temukan; angka 73% menjadi 14% berasal dari ringkasan tahun 2001 sehingga mungkin tidak mewakili kondisi kini.
  • Data Laporan Hepatitis Global 2026 saya baca dari siaran pers WHO, bukan dari laporan lengkapnya. Dokumen pedoman WHO 2016 di NCBI Bookshelf ditandai sebagai rujukan historis; tingkat adopsi rekomendasinya di fasilitas kesehatan Indonesia belum saya telaah.
  • Tulisan ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan SPO fasilitas atau konsultasi dengan tenaga kesehatan.

Daftar pustaka

Centers for Disease Control and Prevention. (n.d.). Preventing unsafe injection practices. Diakses 8 Oktober 2026, dari https://www.cdc.gov/injection-safety/hcp/clinical-safety

Dolan, S. A., Arias, K. M., Felizardo, G., Barnes, S., Kraska, S., Patrick, M., & Bumsted, A. (2016). APIC position paper: Safe injection, infusion, and medication vial practices in health care. American Journal of Infection Control, 44(7), 750–757. https://doi.org/10.1016/j.ajic.2016.02.033

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. https://jdih.kemkes.go.id/storage/documents/pdfs/2017permenkes027.pdf

Luby, S. (2001). Injection safety. Emerging Infectious Diseases, 7(3 Suppl), 535. https://doi.org/10.3201/eid0707.017714

Pépin, J., Abou Chakra, C. N., Pépin, E., Nault, V., & Valiquette, L. (2014). Evolution of the global burden of viral infections from unsafe medical injections, 2000–2010. PLOS ONE, 9(6), e99677. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0099677

Prüss-Ustün, A., Rapiti, E., & Hutin, Y. (2005). Estimation of the global burden of disease attributable to contaminated sharps injuries among health-care workers. American Journal of Industrial Medicine, 48(6), 482–490. https://doi.org/10.1002/ajim.20230

Woime, A. W. (2026). Medical waste disposal practices and their health consequences in resource-limited settings: A systematic review and meta-analysis. BMC Public Health, 26(1). https://doi.org/10.1186/s12889-026-26722-9

World Health Organization. (2015, 23 Februari). WHO calls for worldwide use of “smart” syringes [Siaran pers]. https://www.who.int/news/item/23-02-2015-who-calls-for-worldwide-use-of-smart-syringes

World Health Organization. (2016). WHO guideline on the use of safety-engineered syringes for intramuscular, intradermal and subcutaneous injections in health care settings. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK305368/

World Health Organization. (2024, 5 Agustus). WHO releases global report, consolidated guidelines to tackle viral hepatitis. https://www.who.int/indonesia/news/detail/05-08-2024-who-releases-global-report–consolidated-guidelines-to-tackle-viral-hepatitis

World Health Organization. (2026, 28 April). Efforts to eliminate hepatitis delivers gains but more action needed to meet 2030 targets. https://www.who.int/news/item/28-04-2026-efforts-to-eliminate-hepatitis-delivers-gains-but-more-action-needed-to-meet-2030-targets

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan