Selama ini saya mencoba menulis di Arunametta dengan bahasa Indonesia, dan kesulitan yang paling saya alami selain waktu ternyata bukanlah ide, namun kosa kata. Menempuh beberapa tahun kuliah di mana hampir kebanyakan sumber dan bahan berbahasa asing, saya mengalami penumpulan dalam berbasa Indonesia. Bahkan dengan sembunyi-sembunyi belajar dari para maestro bahasa seperti @ivanlanin, saya masih menemukan bahwa saya memiliki banyak kekurangan yang tidak mungkin diselindungi.
Oleh karena itu, saya iseng saat ini mencoba untuk menulis dalam bahasa Inggris. Bukankah bahasa Inggris jauh lebih sulit dibandingkan menggunakan bahasa Indonesia? Untuk beberapa hal, saya akui itu, namun ada kemudahan yang saya rasakan.
Salah satu sepuhan saya dalam bahasa Inggris, novel “Eiwa”.
Saya boleh bilang, kemampuan berbahasa saya tidaklah baik, oke, jauh dari baik, apalagi sempurna. Baik itu untuk bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris. Sering melakukan tipo (salah tik) adalah salah satu habitus yang sulit dihilangkan.
Ketika kedua bahasa saya tidak memiliki kemampuan yang bisa dibanggakan, maka pilihan saya adalah menggunakan alat bantu.
Era teknologi berkembang dengan pesat, alat bantu begitu dekat dengan kita. Misalnya media translation (penerjemahan), media proof-reading (ketepatan ejaan dan tata bahasa), hingga media pembelajaran bahasa sastra dan ungkapan sastra.
Ketika saya mulai menulis dalam bahasa Inggris, saya menemukannya jauh lebih mudah dibandingkan dengan menulis dalam bahasa Indonesia. Saya mungkin harus belajar lagi lebih banyak istilah dan kosa kata, namun bantuan yang saya bisa akses jauh lebih banyak dibandingkan dengan saya menggunakan bahasa Indonesia.
Misalnya saya menggunakan Microsoft Word, maka bantuan ejaan yang saya dapatkan cukup kaku, bahkan kadang memberikan kesulitan lebih ketika menggunakan sambungan dan sebagainya. Sementara pemeriksa ejaan bahasa Inggris lebih matang dalam hal ini.
Akses terhadap karya sastra berbahasa Inggris yang bisa didapatkan dengan bebas dan berkualitas sebagai referensi jauh lebih banyak dibandingkan karya sastra lokal. Ini sangat membantu bagi saya. Atau mungkin saya yang kurang pengalaman dalam menemukan mereka?
Sehingga pada akhirnya, saya asyik menceburkan diri dalam menulis kali ini dengan tantangan yang baru.
Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.
Merokok berdampak negatif pada kesuburan, dengan risiko infertilitas meningkat 1,4 kali pada perempuan perokok dan disfungsi seksual pada laki-laki perokok. Paparan asap rokok juga berbahaya. Berhenti merokok dapat meningkatkan peluang kehamilan, penting bagi pasangan yang merencanakan memiliki anak untuk memahami risiko tersebut dan melakukan perubahan gaya hidup.
Dua alat penilaian risiko terbaru WHO, QIRA dan MS-RRA, dirancang untuk meningkatkan respons terhadap keadaan darurat kesehatan. QIRA menyediakan penilaian cepat dalam waktu singkat, sementara MS-RRA menawarkan analisis mendalam. Keduanya melengkapi praktik penilaian risiko yang sudah ada di Indonesia, meningkatkan sistem dokumentasi dan pengambilan keputusan.
KMK 951/2026 mengatur izin edar alat kesehatan berbasis perangkat lunak, termasuk Software as a Medical Device (SaMD), yang diperlukan regulasi lebih ketat. Regulasi ini mengadopsi standar internasional, menyediakan mekanisme sandbox, dan mewajibkan validasi klinis lokal untuk produk berisiko tinggi, namun masih memerlukan penguatan kapasitas implementasi di daerah.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Hai Cahya, lama saya tidak berkunjung ke blog kamu, ternyata saya ketinggalan banyak hal.
Selamat ya untuk situs Arunametta, hebat 🙂 Dan terima kasih untuk artikel ini yang memperkenalkan saya pada Ivan Lanin. Saya juga sedang mengalami penumpulan berbahasa Indonesia :(.
Halo Mbak Ester, lama tidak bertegur sapa. Saya juga belum bisa ke mana-mana, maksudnya mengunjungi halaman teman-teman blogger yang lain.
Terima kasih, Arunametta adalah salah satu pergulatan saya berusaha memperbaiki kelemahan dalam berbahasa.
Yup, walau tidak kenal secara langsung, Mas Ivan Lanin adalah salah satu suar bahasa Indonesia yang paling menarik di dunia maya menurut saya.
Tinggalkan Balasan