A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Diperbarui: Maret 2026 | Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan yang pertama kali diterbitkan pada Desember 2018.


Lebih dari tujuh tahun lalu, artikel ini membahas pertanyaan sederhana: kapan ICD-11 mulai berlaku? Jawabannya kini sudah jelas. ICD-11 tidak hanya telah berlaku, tetapi juga terus diperbarui setiap tahun dan sudah diadopsi oleh puluhan negara. Yang menarik untuk ditelusuri adalah: di mana posisi Indonesia dalam transisi global ini?

Apa Itu ICD dan Mengapa Ini Penting?

International Classification of Diseases (ICD), atau Klasifikasi Internasional Penyakit, adalah standar global yang digunakan untuk mencatat, melaporkan, dan membandingkan data kematian dan kesakitan di seluruh dunia. Sistem ini dikelola oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan menjadi tulang punggung dari sistem informasi kesehatan modern — mulai dari rekam medis, klaim asuransi, surveilans penyakit, hingga penelitian epidemiologi.

ICD-11 adalah revisi ke-11 dari sistem ini, menggantikan ICD-10 yang telah digunakan sejak awal 1990-an. Pengembangan ICD-11 dimulai sejak 2007, melibatkan lebih dari 300 pakar dari 55 negara yang terbagi dalam 30 kelompok kerja, dengan lebih dari 10.000 proposal yang masuk dari seluruh penjuru dunia.

Linimasa Penting ICD-11

Perjalanan ICD-11 dari pengembangan hingga penerapan global berlangsung lebih dari satu dekade:

  • Mei 2011 — Versi alfa dirilis untuk publik
  • Mei 2012 — Draf beta dibuka untuk komentar publik
  • 18 Juni 2018 — Versi stabil pertama dirilis
  • 25 Mei 2019 — ICD-11 secara resmi diadopsi oleh World Health Assembly (WHA) ke-72
  • 1 Januari 2022 — ICD-11 secara resmi mulai berlaku bagi negara-negara anggota WHO
  • 2022–2026 — Pembaruan tahunan dirilis setiap bulan Februari
  • 16 Februari 2026 — Rilis ICD-11 versi 2026 (pembaruan ke-8) diluncurkan

Sejak 1 Januari 2022, ICD-11 secara resmi mulai berlaku bagi negara-negara anggota WHO. Negara-negara dapat terus menggunakan ICD-10 selama diperlukan, tetapi adopsi ICD-11 secara cepat didorong untuk memastikan interoperabilitas dan konsistensi dengan standar global.

Yang membedakan ICD-11 dari pendahulunya adalah sifatnya yang terus diperbarui. Rilis ICD-11 tahun 2026, yang diluncurkan pada 16 Februari 2026, menyertakan penyempurnaan konten klinis, perluasan extension codes, pembaruan aturan mortalitas (DORIS 1.2), serta kerangka validasi kualitas data baru (CoDEdiT), dengan lebih dari 6,3 juta kombinasi kode yang dapat dicari dan dukungan dalam 21 bahasa.

Apa yang Berubah dari ICD-10 ke ICD-11?

Perubahan dari ICD-10 ke ICD-11 bukan sekadar penambahan kode. Ini adalah perombakan menyeluruh yang mencerminkan kemajuan ilmu kedokteran dan kebutuhan sistem kesehatan digital.

Skala yang jauh lebih besar. ICD-11 memperkenalkan lebih dari 55.000 kode dibandingkan 14.000 kode pada ICD-10, mencakup sekitar 17.000 kategori diagnostik dengan lebih dari 1,6 juta istilah medis yang dapat dicari.

Struktur kode yang baru. Kode ICD-11 menggunakan format alfanumerik dari 1A00.00 hingga ZZ9Z.ZZ. Berbeda dari ICD-10, kode ICD-11 tidak pernah mengandung huruf I atau O untuk menghindari kebingungan dengan angka 1 dan 0. Sistem ini juga memperkenalkan cluster coding — kombinasi stem code (kode inti) dengan extension codes (kode perluasan) untuk mendeskripsikan satu kondisi secara lebih rinci. Sebagai contoh, tukak duodenum dengan perdarahan kini dapat dikodekan dengan menggabungkan kode inti tukak duodenum dan kode perluasan untuk perdarahan.

Reklasifikasi penyakit penting. Sejumlah penyakit berpindah lokasi dalam struktur klasifikasi. Stroke, misalnya, kini diklasifikasikan sebagai penyakit sistem saraf — bukan sistem sirkulasi seperti sebelumnya. Alergi dikelompokkan di bawah penyakit sistem imun. Bagian kardiologi, alergi dan gangguan sistem imun, penyakit infeksi, kanker, demensia, dan diabetes semuanya telah diperbarui secara ekstensif.

Penambahan entitas klinis baru. ICD-11 mencakup beberapa kondisi yang sebelumnya tidak memiliki kode resmi, antara lain gaming disorder (gangguan bermain gim), burnout sebagai fenomena pekerjaan, dan gender incongruence yang dipindahkan dari kategori gangguan mental ke bab kesehatan seksual — sebuah perubahan yang mencerminkan evolusi pandangan ilmiah dan medis.

Dirancang untuk era digital. Edisi 2025 ICD-11 menghadirkan integrasi FHIR API dan natural language processing (NLP) yang canggih, memungkinkan pertukaran data secara real-time di berbagai sistem kesehatan, membuat proses pengodean lebih cepat dan akurat. ICD-11 tersedia secara bebas (open access) melalui browser daring WHO dan dapat diunduh untuk digunakan secara luring.

Bab Obat Tradisional. Untuk pertama kalinya, ICD menyertakan bab khusus untuk kondisi pengobatan tradisional. Modul TM1 mencakup konsep dari pengobatan tradisional Tiongkok (juga digunakan di Jepang, Korea, dan Vietnam), sementara modul TM2 yang ditambahkan pada Februari 2025 mencakup konsep Ayurveda, Siddha, dan Unani. Ini sangat relevan untuk negara-negara Asia, termasuk Indonesia dengan praktik jamu dan pengobatan tradisional yang luas.

Status Implementasi Global: Kemajuan yang Tidak Merata

Empat tahun setelah ICD-11 resmi berlaku, adopsinya berjalan dengan kecepatan yang sangat bervariasi antar negara.

Data WHO per Mei 2024 menunjukkan momentum implementasi yang terus berkembang di seluruh dunia: dari 132 negara anggota dan wilayah WHO, 72 negara telah memulai proses implementasi termasuk penerjemahan, 50 negara sedang melakukan atau memperluas proyek percontohan (pilot), sementara 14 negara dan wilayah telah mulai mengumpulkan atau melaporkan data menggunakan kode ICD-11.

Pada 2025, lebih dari 45 negara telah mengadopsi atau memulai transisi ke ICD-11 untuk mortalitas, morbiditas, dan manajemen sistem kesehatan. Negara-negara seperti Kanada, Belanda, Norwegia, Finlandia, dan Thailand berada di garis terdepan, menggunakan ICD-11 baik untuk pelaporan kesehatan publik maupun konteks penggantian biaya klinis.

Di kawasan Asia Tenggara, Malaysia menjadi salah satu negara yang paling aktif dalam proses transisi. Studi kualitatif yang menggunakan kerangka Consolidated Framework for Implementation Research (CFIR) 2022 terhadap anggota komite implementasi ICD-11 nasional Malaysia menunjukkan bahwa sistem informasi manajemen kesehatan (HMIS) dan gudang data kesehatan nasional Malaysia telah dilengkapi fungsi ICD-11 dan digunakan di seluruh fasilitas Kementerian Kesehatan, dengan perencanaan untuk pelaporan mortalitas dan morbiditas referensi tahun 2024 menggunakan ICD-11.

Bahkan Amerika Serikat — negara dengan sistem kesehatan paling kompleks di dunia — masih belum menetapkan tanggal pasti implementasi ICD-11 pada saat artikel ini ditulis. Ini menunjukkan bahwa transisi yang berhasil memerlukan persiapan sistemik yang matang, bukan sekadar keputusan kebijakan.

Posisi Indonesia: Masih ICD-10, Tapi Sedang Bergerak

Pertanyaan yang paling relevan bagi pembaca Indonesia adalah: apakah ICD-11 sudah digunakan di sini?

Jawaban singkatnya: belum, dan ini bukan anomali. Di Indonesia, saat ini yang digunakan untuk mengkode diagnosis penyakit adalah ICD-10, yang diadopsi sebagai standar wajib oleh seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.

Namun, Indonesia sedang dalam proses transformasi besar di bidang teknologi kesehatan yang akan membuka jalan bagi adopsi ICD-11 di masa depan. Di Indonesia, standar pengodean ICD-10 telah diadopsi oleh Indonesia Health Services (IHS) dan menjadi standar yang wajib digunakan oleh semua fasilitas pelayanan kesehatan melalui sistem rekam medis elektronik yang terintegrasi dengan SatuSehat.

Platform SatuSehat sendiri merupakan kunci dari ekosistem digital kesehatan nasional. Platform SatuSehat adalah Health Information Exchange (HIE) atau ekosistem pertukaran data kesehatan yang dirancang sebagai hub sentral yang menghubungkan, menganalisis, dan melayani data kesehatan dari berbagai sumber di seluruh ekosistem, berlandaskan konektivitas antara berbagai sistem informasi manajemen yang dimiliki oleh seluruh anggota ekosistem digital kesehatan Indonesia.

Platform SatuSehat menggunakan HL7 FHIR sebagai standar pertukaran data, dan rekam medis berbasis elektronik perlu diterapkan oleh setiap penyelenggara pelayanan kesehatan sesuai dengan standar interoperabilitas tersebut.

Infrastruktur HL7 FHIR ini sangat penting, karena ICD-11 juga dirancang secara native untuk beroperasi dengan standar yang sama — artinya, fondasi teknis untuk adopsi ICD-11 di Indonesia sedang dibangun, meskipun belum ada kebijakan resmi yang menetapkan jadwal transisi dari ICD-10 ke ICD-11.

Tantangan Transisi yang Perlu Diantisipasi

Pengalaman dari negara-negara yang telah memulai transisi memberikan gambaran nyata tentang tantangan yang akan dihadapi Indonesia.

Studi kualitatif yang mengkaji implementasi awal ICD-11 di Argentina dan Meksiko menyoroti peran krusial dari penilaian sistem yang komprehensif, kemitraan strategis, perencanaan keuangan, kesiapan teknologi, inisiatif pelatihan yang tepat sasaran, dan mekanisme evaluasi terstruktur. Kedua negara menekankan pentingnya strategi yang disesuaikan dengan konteks unik masing-masing serta perlunya kolaborasi lintas sektor dan pembentukan gugus tugas nasional.

Untuk Indonesia, beberapa tantangan spesifik yang dapat diantisipasi meliputi:

Pelatihan sumber daya manusia. Tenaga rekam medis, koder, dokter, dan perawat perlu memahami logika baru ICD-11 yang berbeda secara mendasar dari ICD-10. Tingkat kecocokan antar kedua sistem ternyata tidak setinggi yang mungkin diasumsikan — tingkat kesesuaian antara ICD-10 dan ICD-11 hanya sekitar 23,5%, sehingga hampir tiga perempat kode tidak dapat dipetakan secara langsung.

Pembaruan sistem informasi. Seluruh SIMRS, SIMPUS, dan sistem klinik yang saat ini menggunakan ICD-10 perlu diperbarui. Meski infrastruktur SatuSehat dengan standar HL7 FHIR memberi fondasi yang baik, integrasi aktual ICD-11 ke dalam sistem-sistem ini membutuhkan waktu dan investasi.

Regulasi dan pembiayaan JKN. Sistem klaim BPJS Kesehatan yang saat ini berbasis kode ICD-10 perlu disesuaikan. Ini bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga kebijakan tarif dan administrasi klaim yang kompleks.

Kesenjangan infrastruktur digital. Tidak semua fasilitas kesehatan di Indonesia memiliki kesiapan digital yang setara. Puskesmas di daerah terpencil masih menghadapi kendala konektivitas yang akan memengaruhi kecepatan adopsi.

Mengapa Harus Beralih ke ICD-11?

WHO telah menghentikan pemeliharaan ICD-10 sejak 2018, dan peningkatan di masa depan hanya akan diperkenalkan dalam ICD-11. Ini berarti ICD-10 adalah sistem yang sudah “beku” — tidak ada kode baru, tidak ada pembaruan kategori — sementara penyakit baru dan pemahaman medis baru terus berkembang.

Transisi ke ICD-11 menawarkan sejumlah manfaat konkret:

  • Data yang lebih kaya dan spesifik untuk mendukung kebijakan berbasis bukti
  • Interoperabilitas global yang lebih baik — penting untuk surveilans penyakit, terutama pelajaran dari pandemi COVID-19
  • Integrasi dengan kecerdasan buatan dan analitik data kesehatan modern
  • Penggambaran kondisi kesehatan yang lebih akurat, termasuk kondisi yang sebelumnya tidak terwakili dalam ICD-10
  • Dukungan untuk obat tradisional — relevan bagi Indonesia yang memiliki tradisi jamu dan pengobatan herbal

Penutup: Bukan Soal “Kapan” Lagi, Tetapi “Bagaimana”

Artikel awal di situs ini pada 2018 bertanya “kapan ICD-11 berlaku?” Pertanyaan itu kini sudah terjawab: ICD-11 telah berlaku sejak 1 Januari 2022 dan terus diperbarui setiap tahun. Pertanyaan yang relevan saat ini bukan lagi soal kapan, melainkan bagaimana Indonesia mempersiapkan diri.

Dengan fondasi SatuSehat yang sedang dibangun, dengan standar HL7 FHIR yang menjadi tulang punggung interoperabilitas, dan dengan pengalaman dari negara-negara tetangga seperti Malaysia yang sedang menjalani transisi aktif, Indonesia sesungguhnya sedang meletakkan batu-batu fondasi yang diperlukan. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah kebijakan yang jelas, investasi dalam pelatihan sumber daya manusia, dan koordinasi lintas sektor antara Kemenkes, BPJS Kesehatan, organisasi profesi, dan industri teknologi kesehatan.

ICD-11 bukan sekadar penomoran ulang penyakit. Ini adalah infrastruktur intelektual bagi sistem kesehatan abad ke-21 — dan Indonesia perlu bersiap untuk ikut serta dalam pergeseran global ini.


Referensi

Budiyanti, N., Meilinda, S., Adawiyah, R., & Ramdansyah, S. F. (2023). Tinjauan literatur perbedaan ICD-10 dan ICD-11. Intan Husada: Jurnal Ilmiah Keperawatan, 11(2), 60–70. https://doi.org/10.57118/intanhu.v11i2.269

Fadzil, M. F., & Asmuni, A. (2025). Facilitators and challenges to ICD-11 implementation: A qualitative study using the Consolidated Framework for Implementation Science. BMC Health Services Research. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12372348/

Gonzalez-Ochoa, E. R., Ramirez-Casanueva, V., & Schoo, C. (2025). Preparing for ICD-11 transition: Lessons from case studies in Argentina and Mexico. PAHO/WHO Bulletin. https://doi.org/10.26633/RPSP.2025

World Health Organization. (2022, January 11). WHO’s new International Classification of Diseases (ICD-11) comes into effect. https://www.who.int/news/item/11-02-2022-who-s-new-international-classification-of-diseases-(icd-11)-comes-into-effect

World Health Organization. (2024, May). WHO advances implementation and integration of ICD-11 and related medical classifications and terminologies. https://www.who.int/standards/classifications/classification-of-diseases

World Health Organization. (2025, February 14). WHO releases 2025 update to the International Classification of Diseases (ICD-11). https://www.who.int/news/item/14-02-2025-who-releases-2025-update-to-the-international-classification-of-diseases-(icd-11)

World Health Organization. (2025). ICD-11 implementation: Frequently asked questions. https://www.who.int/standards/classifications/frequently-asked-questions/icd-11-implementation

World Health Organization. (2026, February 16). ICD-11 2026 release. https://www.who.int/news/item/16-02-2026-icd-11-2026-release


Artikel ini hanya bertujuan untuk memberikan informasi kesehatan yang bersifat umum dan tidak menggantikan saran, diagnosis, atau rekomendasi dari tenaga medis atau kesehatan profesional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar