A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Selama masa pandemi COVID-19, ada beberapa hal yang berubah, salah satunya adalah kebutuhan akan data dan pita data jaringan Internet yang semakin membengkak. Terutama untuk kuliah daring dan seminar yang kini semuanya juga daring.

Sebelumnya saya hanya memerlukan paket data sekitar di bawah 20GB dari Telkomsel, karena di rumah memang tidak ada jaringan Internet selain Telkomsel. Saya bahkan sampai mengesampingkan kartu Indosat yang saya gunakan sejak zaman kuliah, karena tiap kali masuk rumah sinyalnya kabur entah ke mana. Biasanya saya mengambil data dari kantor atau kampus untuk keperluan ini dan itu.

Tapi sejak pandemi, semua tugas yang memerlukan jaringan Internet dikerjakan di rumah; satu dua bulan terakhir, kebutuhan data terasa mencekik.

photo_2020-06-08_19-42-55

Saya melihat penggunaan data terakhir saya, periode 1 Juni sampai hari ini, 8 Juni, sudah mencapai 34 GB lebih, padahal ini baru pekan pertama bulan Juni.

Ini bisa membuat warna merah tebal pada hitungan pengeluaran akhir bulan saya.

Demikianlah, akhirnya saya memutuskan untuk memasang jaringan Internet serat optik dari Telkom/Indihome yang kebetulan akhir bulan kemarin baru masuk perumahan.

Prosesnya tidak lama, karena tetangga yang sudah pasang mengenalkan saya lewat salah satu salesman yang dia kenal. Padahal pas saya daftar di situs resmi Indihome langsung, permintaannya ditolak dengan alasan rumah kami tidak masuk dalam wilayah jangkauan FO mereka.

Singkat kata, saya perlu waktu seminggu sampai hari ini jaringan bisa aktif saya. Saya mengambil paket yang paling murah di atas paket pelajar, yaitu Phoenix 20 Mbps. Berikut adalah hasil uji kecepatannya.

Anotasi 2020-06-08 195653

Cukup untuk digunakan melakukan konferensi video, rapat daring, atau mengikuti seminar jarak jauh.

Saya angkat tangan jika kebutuhan datanya terlalu besar, beralih ke jaringan FO seperti Indihome mungkin adalah solusi paling cepat.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca