Namanya mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, namun Toxoplasma gondii adalah salah satu parasit yang paling luas penyebarannya di seluruh dunia. Infeksi yang ditimbulkannya, yang kita kenal sebagai toksoplasmosis, bisa sama sekali tidak menunjukkan gejala pada orang sehat—namun bisa berubah menjadi ancaman serius yang mengancam jiwa pada kelompok rentan tertentu. Di Indonesia, situasinya bahkan lebih memprihatinkan dari yang banyak orang bayangkan.
Seberapa Umum Infeksi Ini di Indonesia?
Toxoplasma gondii adalah parasit protozoa yang diperkirakan menginfeksi sekitar sepertiga populasi manusia di dunia. Di negara-negara tropis seperti Indonesia, prevalensinya cenderung jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara beriklim dingin.
Sebuah tinjauan sistematik dan meta-analisis yang diterbitkan pada 2025 oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada mengungkap fakta yang mengejutkan: prevalensi seropositivitas anti-Toxoplasma IgG yang telah disesuaikan mencapai 60,06% pada populasi manusia di Indonesia (95% CI: 52,22–67,65%). Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban toksoplasmosis yang sangat tinggi. Studi tersebut juga mencatat bahwa sebagian besar data berasal dari Pulau Jawa, sehingga masih diperlukan penelitian populasi yang lebih komprehensif dari wilayah lain di Indonesia (Perdana et al., 2025).
Tingginya angka ini tidak mengherankan bila kita mempertimbangkan kondisi lingkungan dan kebiasaan masyarakat kita. Iklim tropis yang lembap mendukung kelangsungan hidup ookista parasit di tanah. Tingginya populasi kucing liar, kebiasaan mengonsumsi daging yang belum matang sempurna, serta akses sanitasi yang belum merata di berbagai daerah merupakan faktor-faktor yang mempermudah penularan.

Mengenal Parasitnya: Bagaimana Toxoplasma Menginfeksi Manusia?
Toxoplasma gondii adalah parasit dengan siklus hidup yang cukup unik. Kucing domestik dan kucing liar berperan sebagai inang definitif, artinya hanya di dalam usus kucinglah parasit ini dapat berkembang biak secara seksual dan menghasilkan ookista yang dibuang bersama feses. Manusia dan hewan berdarah panas lainnya—termasuk sapi, kambing, babi, unggas, dan tikus—berperan sebagai inang perantara, di mana parasit hanya membentuk kista jaringan tanpa menyelesaikan siklus seksualnya.
Ada tiga jalur utama penularan ke manusia. Pertama, menelan ookista yang mencemari tanah, air, atau makanan—misalnya karena tangan kotor setelah berkebun atau menyentuh pasir tempat buang air kucing. Kedua, mengonsumsi daging yang mengandung kista jaringan (bradyzoit), terutama daging babi, kambing, atau sapi yang dimasak kurang matang. Ketiga, penularan dari ibu ke janin melalui plasenta (transmisi kongenital) jika infeksi primer terjadi selama kehamilan.
Yang menarik, penelitian menunjukkan bahwa tikus liar di perkotaan Indonesia pun terinfeksi. Sebuah studi di Surabaya menemukan bahwa 31% tikus liar menunjukkan seropositivitas Toxoplasma, dengan temuan kista jaringan pada 19% sampel otak tikus yang diperiksa—menandakan bahwa kontaminasi lingkungan perkotaan memang nyata terjadi (Puspitasari et al., 2023).
Perjalanan Penyakit: Dari Infeksi Akut Hingga Laten
Setelah masuk ke tubuh, parasit menyebar melalui aliran darah ke berbagai organ. Pada fase akut, parasit bereplikasi cepat dalam bentuk takizoit. Pada individu dengan imunitas yang baik, sistem kekebalan tubuh berhasil mengendalikan replikasi parasit, yang kemudian “beristirahat” dalam bentuk kista jaringan (bradizoit) di sel-sel otak, otot, dan mata—dan inilah yang disebut infeksi laten. Kista ini dapat bertahan seumur hidup, namun biasanya tidak menimbulkan masalah selama sistem imun berfungsi normal.
Masalah serius muncul dalam dua kondisi utama: ketika seseorang dengan infeksi laten mengalami penurunan imunitas (reaktivasi), atau ketika infeksi primer terjadi pada ibu hamil (risiko transmisi ke janin).
Siapa Saja yang Paling Berisiko?
Pada orang dewasa sehat dengan sistem imun yang berfungsi baik, toksoplasmosis akut seringkali tanpa gejala sama sekali, atau hanya menyebabkan keluhan ringan menyerupai flu: demam, kelelahan, nyeri otot, dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher—yang umumnya sembuh sendiri dalam beberapa minggu.
Gambarannya sangat berbeda pada kelompok berikut.
Penderita HIV/AIDS. Toksoplasmosis serebral merupakan salah satu infeksi oportunistik paling berbahaya pada pasien HIV dengan hitung sel CD4 di bawah 200 sel/mm³. Sebuah studi di Afrika yang diterbitkan 2026 mendapatkan bahwa toksoplasmosis serebral ditemukan pada 13,7% pasien HIV yang dirawat dengan keluhan neurologis, dengan gejala utama berupa demam, nyeri kepala, kejang, dan defisit neurologis fokal (Moutombi Ditombi et al., 2026). Bila tidak ditangani, kondisi ini dapat berujung pada kematian.
Pasien yang mendapat imunosupresi. Sebuah tinjauan sistematik komprehensif yang diterbitkan 2025 menemukan 46 kasus toksoplasmosis pada pasien yang mendapat terapi imunoterapi terarah (targeted immunotherapy)—termasuk terapi berbasis biologik dan small molecules untuk penyakit autoimun, onkologi, dan pasca-transplantasi. Sebanyak 50% dari kasus tersebut mengalami toksoplasmosis serebral, 33% mengalami toksoplasmosis okular, dan empat pasien meninggal dunia. Yang mengkhawatirkan, 44% kasus terjadi akibat reaktivasi infeksi laten yang sudah ada sebelumnya (Cho et al., 2025). Ini mengingatkan kita bahwa siapapun yang akan menjalani pengobatan yang melemahkan imunitas perlu diperiksa status toksoplasmosisnya lebih dahulu.
Ibu hamil dan janin. Inilah aspek toksoplasmosis yang paling sering mendapat perhatian medis. Bila seorang ibu mengalami infeksi primer (pertama kali) selama kehamilan, parasit dapat menembus sawar plasenta dan menginfeksi janin. Risiko transmisi ke janin meningkat seiring bertambahnya usia kehamilan: lebih rendah di trimester pertama, namun lebih tinggi di trimester ketiga. Namun ironisnya, dampak pada janin justru lebih berat jika infeksi terjadi di awal kehamilan. Konsekuensinya dapat berupa keguguran, lahir mati, atau bayi lahir dengan toksoplasmosis kongenital yang dapat menyebabkan kerusakan otak, kerusakan mata (retinokhoroiditis), atau kelainan bawaan lainnya (Lorea et al., 2025).
Itulah mengapa pemeriksaan serologis Toxoplasma (sebagai bagian dari panel TORCH) sangat dianjurkan untuk wanita usia subur, idealnya sebelum merencanakan kehamilan. Sebuah studi di Iran yang diterbitkan 2025 menemukan bahwa seropositivitas IgG Toxoplasma meningkat signifikan seiring usia pada wanita usia reproduktif, dengan angka tertinggi (40,2%) pada kelompok usia 36–45 tahun—menunjukkan perlunya skrining yang konsisten (Hajipour et al., 2025).
Pemeriksaan Laboratorium: Apa yang Perlu Diketahui?
Diagnosis toksoplasmosis ditegakkan terutama melalui pemeriksaan serologi dengan mendeteksi antibodi dalam darah. Antibodi IgM muncul lebih awal setelah infeksi dan mengindikasikan infeksi yang baru terjadi (akut), sedangkan IgG mengindikasikan infeksi yang sudah pernah terjadi sebelumnya (lampau atau laten). Untuk membedakan infeksi baru dari yang lama pada ibu hamil, digunakan pemeriksaan IgG avidity: avidity rendah menunjukkan infeksi dalam 3–4 bulan terakhir, sedangkan avidity tinggi menunjukkan infeksi yang sudah lama.
Pada pasien imunokompromais dengan kecurigaan toksoplasmosis otak, diagnosis umumnya ditunjang dengan pencitraan otak (CT scan atau MRI) yang menunjukkan lesi khas berbentuk cincin, serta PCR (polymerase chain reaction) untuk mendeteksi DNA parasit dalam cairan tubuh atau jaringan. Pada toksoplasmosis okular, sensitivitas PCR dari biopsi okular sekitar 43% dengan spesifisitas 98,5% (Méndez-Rodríguez et al., 2025).
Pada pasien yang akan menjalani transplantasi ginjal atau cuci darah jangka panjang, kombinasi serologi dan PCR juga sangat dianjurkan untuk menilai status infeksi sebelum memulai terapi imunosupresan (Weerasooriya et al., 2025).
Pengobatan: Kapan dan Bagaimana?
Pada orang dewasa imunokompeten yang sehat, toksoplasmosis akut tidak memerlukan pengobatan khusus karena akan membaik dengan sendirinya. Terapi diperlukan pada kondisi-kondisi berikut: toksoplasmosis simtomatik atau berat, toksoplasmosis pada pasien imunokompromais, toksoplasmosis okular, dan toksoplasmosis kongenital.
Rejimen standar yang umum digunakan adalah kombinasi pirimetamin dengan sulfadiazin, ditambah asam folat untuk mencegah efek toksik pirimetamin terhadap sumsum tulang. Alternatif lain yang tersedia adalah kombinasi pirimetamin dengan klindamisin, atau kotrimoksazol. Pada ibu hamil yang didiagnosis terinfeksi, spiramisin sering digunakan pada trimester awal untuk mengurangi risiko transmisi ke janin, sedangkan pirimetamin-sulfadiazin umumnya ditambahkan setelah trimester pertama jika janin terbukti terinfeksi.
Pencegahan: Langkah Sederhana yang Efektif
Tidak ada vaksin yang tersedia untuk mencegah toksoplasmosis pada manusia, sehingga pencegahan sepenuhnya bergantung pada perubahan perilaku dan kewaspadaan lingkungan.
Beberapa langkah pencegahan yang terbukti efektif meliputi mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir secara menyeluruh setelah bersentuhan dengan tanah, pasir, kotoran kucing, atau daging mentah. Memasak daging hingga matang sempurna adalah cara paling andal untuk membunuh kista jaringan—hindari daging yang masih berwarna merah muda di bagian dalam. Sayuran dan buah-buahan harus dicuci bersih sebelum dikonsumsi, terutama yang akan dimakan mentah. Bagi pemilik kucing, membersihkan kotak pasir setiap hari penting dilakukan karena ookista baru menjadi infektif setelah 1–5 hari di luar tubuh kucing; gunakan sarung tangan dan cuci tangan setelahnya. Ibu hamil sebaiknya menghindari sama sekali kontak dengan kotoran kucing dan berkebun tanpa sarung tangan.
Penutup: Kesadaran yang Menyelamatkan
Toksoplasmosis adalah contoh klasik dari penyakit yang “tersembunyi”—tidak terasa, tidak terlihat, namun terus ada di masyarakat dengan prevalensi yang sangat tinggi. Di Indonesia, dengan lebih dari separuh populasi yang kemungkinan sudah pernah terinfeksi, pemahaman tentang cara penularan, kelompok berisiko, dan langkah pencegahannya bukan sekadar pengetahuan medis teknis—ini adalah informasi kesehatan publik yang perlu diketahui masyarakat luas.
Bagi wanita yang merencanakan kehamilan, bagi pasien yang akan menjalani kemoterapi atau terapi biologik, bagi penderita HIV, atau siapapun yang tinggal serumah dengan kucing—percakapan dengan dokter tentang status toksoplasmosis Anda adalah langkah pertama yang bijak.
Referensi
Cho, S. M., Montoya, J. G., & Contopoulos-Ioannidis, D. G. (2025). Toxoplasmosis in the era of targeted immunotherapy: A systematic review of emerging cases linked to biologics and small molecules in autoimmune diseases, oncology and transplantation. Pathogens, 14(10), 1001. https://doi.org/10.3390/pathogens14101001
Hajipour, N., Mohammady, E., & Barzegar, G. (2025). Prevalence of antibodies against rubella virus, cytomegalovirus, hepatitis B, and Toxoplasma gondii in women of reproductive age prior to conception in Iran. BMC Infectious Diseases, 25(1), 1112. https://doi.org/10.1186/s12879-025-11556-4
Li, J., Gao, W., Yan, Z., Yan, B., & Zhang, J. (2025). Cellular immune response during Toxoplasma gondii infection: Deciphering diverse population immune variations. Trends in Parasitology, 41(11), 1030–1045. https://doi.org/10.1016/j.pt.2025.08.010
Lorea, C. F., Pressman, K., & Schuler-Faccini, L. (2025). Infections during pregnancy: An ongoing threat. Seminars in Perinatology, 49(4), 152075. https://doi.org/10.1016/j.semperi.2025.152075
Méndez-Rodríguez, L. M., Nocua-Báez, L. C., Mejía-Salgado, G., de-la-Torre, A., & Álvarez-Moreno, C. A. (2025). Infectious uveitis: Epidemiology, etiology, diagnostic test performance and treatment. Archivos de la Sociedad Española de Oftalmología (English Edition), 100(7), 397–420. https://doi.org/10.1016/j.oftale.2025.05.015
Moutombi Ditombi, B. C., Manomba Boulingui, C., Mayandza, C., Ntsame Owono, M. M., Moutongo, R., Moussavou Mabicka, A. D., Mihindou, J. C., & Bouyou Akotet, M. K. (2026). Parasitic and fungal central nervous system infections in hospitalised adults living with HIV in Libreville, Gabon: Clinical profiles to inform syndromic triage in resource limited settings. AIDS Research and Therapy, 23(1), 18. https://doi.org/10.1186/s12981-026-00843-y
Perdana, T. M., Dwiputro, A. H., Kusuma, S., Simanjuntak, A. M. T., & Wijayanto, F. P. S. (2025). Seroprevalence of anti-Toxoplasma IgG among the human population in Indonesia: A systematic review and meta-analysis. BMC Public Health, 25(1), 194. https://doi.org/10.1186/s12889-025-21317-2
Puspitasari, H., Suwanti, L. T., Mufasirin, M., Kusnoto, K., Yudaniayanti, I. S., Setiawan, B., Suprihati, E., Aksono, E. B., Widodo, D. P., & Indasari, E. N. (2023). Tissue cysts and serological detection toxoplasmosis among wild rats from Surabaya, East Java, Indonesia. Open Veterinary Journal, 13(11), 1443–1450. https://doi.org/10.5455/OVJ.2023.v13.i11.7
Weerasooriya, G., Manamperi, A., & Banneheke, B. (2025). Detection of toxoplasmosis by serology and nested-PCR in kidney transplant recipients and patients on hemodialysis from Sri Lanka. BMC Infectious Diseases, 25(1), 1207. https://doi.org/10.1186/s12879-025-11353-z

Tinggalkan komentar