Jika saya harus memilih tiga buku, maka sebenarnya memang tidak banyak yang terpikirkan oleh saya. Saya bukan pembaca yang melekat, saya membaca ratusan karya sastra, tapi saya tidak ingat kebanyakannya. I just found joy in reading.

Buku pertama adalah “Anak Bajang Menggiring Angin.”
Buku Anak Bajang Menggiring Angin adalah sebuah karya sastra yang mengangkat kisah Ramayana dari sudut pandang Hanoman, sang anak bajang yang memiliki kekuatan luar biasa. Buku ini ditulis oleh Sindhunata, seorang biarawan Katolik yang juga seorang budayawan dan sastrawan. Buku ini pertama kali diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1983 dan telah dicetak ulang beberapa kali .
Buku ini mengisahkan perjalanan Hanoman dari masa kecilnya hingga menjadi pengiring setia Rama dalam perang melawan Rahwana, raja Alengka yang menculik Sinta, istri Rama. Dalam buku ini, Hanoman digambarkan sebagai sosok yang berada di antara dunia manusia dan dewa, yang selalu mencari jati dirinya dan makna hidupnya. Hanoman juga mengalami berbagai konflik batin, seperti cinta terlarang, kesetiaan, pengorbanan, dan pilihan moral.
Buku ini ditulis dengan gaya bahasa yang indah dan puitis, dengan menggabungkan unsur-unsur mitologi, sejarah, filsafat, dan agama. Buku ini juga sarat dengan nilai-nilai kearifan lokal dan universal, seperti toleransi, persaudaraan, kesetaraan, keadilan, dan kemanusiaan. Buku ini merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang layak dibaca dan diapresiasi.
Saya membaca buku ini ketika masih SD, sehingga saya tidak banyak ingat. Kecuali ini membuka saya terhadap dunia sastra, dan membuat saya menyukai sastra.
Buku kedua adalah sebuah komik, judulnya adalah Raksaksa (ya, bukan Raksasa, ejaannya memang demikian), karya MAN (Mansyur Daman). Komik aslinya mungkin saat ini sulit didapatkan lagi. Saya sempat membaca komik ini ketika SD, bersamaan dengan santapan seperti komik Donald Bebek dan Bobo.
Raksaksa bertema tentang jagat persilatan, di mana tokoh utamanya seorang murid perguruan yang kerdil dan berwajah seperti raksasa. Meski dia diremehkan, dia membuktikan bahwa dia mampu menjadi pendekar hebat. Tentu saja banyak drama dan tragedi muncul di sini.
Kadang menurut saya, cerita yang dihadirkan oleh penulis lokal di sini tidak kalah dengan cerita silat dari negeri Tiongkok. Bahkan saya menikmati Raksaksa seperti ketika membaca komik Pendekar Hina Kelana yang diangkat dari novel karya Jin Yong misalnya. Buku ini menjadi pembuka jendela kreativitas yang luar biasa di masa kecil saya.
Buku ketiga saya temukan bertahun-tahun kemudian, ketika sudah menyelesaikan pendidikan sekolah. Buku ini adalah Freedom from the Known. Buku Freedom from the Known oleh J. Krishnamurti adalah salah satu karya paling mudah dimengerti dari pemikir spiritual dan filsafat terkemuka India. Buku ini berisi kutipan dari ceramah Krishnamurti yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, yang dipilih dan diedit oleh Mary Lutyens, salah satu biografer dan sahabat seumur hidupnya. Dalam buku ini, Krishnamurti menunjukkan bagaimana kita dapat membebaskan diri secara radikal dan segera dari tirani harapan. Dengan mengubah diri kita, kita dapat mengubah struktur masyarakat dan hubungan kita.
Saya tidak merekomendasikan buku ini kepada pemeluk agama atau aliran kepercayaan yang taat, atau mereka yang nasional, ataupun yang punya pemikiran kiri ekstrem. Ini adalah buku spiritualitas, tidak semua orang bisa menerima isinya. Buku ini mungkin (mungkin, lho), bermanfaat bagi mereka yang bisa menerima konsep yang dalam kebudayaan Jawa dikenal sebagai Manunggaling Kawulo-Gusti.
Tentu saja ada sejumlah buku spiritualitas yang ditulis oleh para pundit Hindu, Biksu Buddha, Biawaran Katholik, hingga para Sufi Islam yang saya sukai. Tapi tidak ada yang menusuk lebih dalam karya filsuf yang satu ini.
Setidaknya tiga buku itu yang paling berkesan bagi saya. Tentu saja saya tidak membaca lagi, karena buku-buku itu bukan milik saya. Rak buku saya masih dipenuhi dengan buku-buku kedokteran dan manajemen kesehatan yang tumpah ruah.

Tinggalkan Balasan ke Pengembaraonlineoffline Batalkan balasan