Long COVID adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan gejala-gejala yang berlangsung lebih dari 12 minggu setelah terinfeksi virus corona. Gejala-gejala ini bisa bervariasi, mulai dari sesak napas, kelelahan, nyeri otot, gangguan konsentrasi, hingga depresi. Long COVID bisa dialami oleh siapa saja, baik yang memiliki gejala ringan maupun berat saat terinfeksi. Penyebab dan mekanisme long COVID masih belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa teori yang diajukan oleh para peneliti.

Salah satu teori adalah bahwa virus corona masih bertahan di dalam tubuh dan terus menyebabkan peradangan. Teori lain adalah bahwa sistem kekebalan tubuh mengalami gangguan dan menyerang jaringan-jaringan sehat. Teori lain lagi adalah bahwa virus corona menyebabkan kerusakan pada organ-organ vital, seperti paru-paru, jantung, ginjal, atau otak. Teori-teori ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk dibuktikan.
Pengobatan long COVID juga masih menjadi tantangan, karena belum ada obat atau terapi yang spesifik untuk mengatasi gejala-gejala yang dialami. Saat ini, pengobatan long COVID bersifat suportif, yaitu membantu pasien untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah:
- Mengistirahatkan diri secara cukup dan tidak memaksakan diri untuk beraktivitas.
- Mengonsumsi makanan bergizi dan minum air putih yang cukup.
- Melakukan fisioterapi atau latihan pernapasan untuk memperbaiki fungsi paru-paru.
- Melakukan konseling atau terapi psikologis untuk mengatasi stres atau depresi.
- Mengikuti program rehabilitasi khusus untuk long COVID jika tersedia.
Selain itu, penting juga untuk tetap menjaga protokol kesehatan, seperti memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Hal ini untuk mencegah penularan virus corona kepada orang lain atau terinfeksi kembali. Jika Anda mengalami gejala-gejala long COVID, segera hubungi dokter atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan yang tepat.

Tinggalkan komentar