Sahabat pembaca yang terkasih,
Natal kembali menyapa kita. Di udara berembun dingin Desember, di antara kilau cahaya lilin dan suara merdu kidung pujian, mari kita rayakan kelahiran Juru Selamat, sekaligus renungkan perjalanan panjang Indonesia tercinta.
Tahun ini, Indonesia kembali menorehkan kisahnya sendiri. Ada tawa dan derai bahagia, ada tangis dan pilu duka. Kita bersorak atas prestasi anak bangsa, kita bersimpati atas musibah yang menimpa saudara sebangsa. Di antara suka dan duka itu, harapan untuk Indonesia yang lebih baik tak pernah padam.
Menjelang tahun politik, harapan itu kian mengental. Kita mendambakan pesta demokrasi, khususnya pemilihan presiden mendatang, yang berlangsung aman, damai, dan bermartabat. Kita rindu pemimpin yang bijaksana, yang mempersatukan bukan memecah belah, yang membawa kedamaian dan kemajuan bagi seluruh rakyat. Mari kita jadikan Natal sebagai momen untuk mempersatukan hati, meredam ego, dan bersama-sama menenangkan denyut nadi politik dengan semangat persaudaraan.
Di sudut lain dunia, saudara-saudara kita masih dipeluk duka. Bencana alam meluluhlantakkan, perang merenggut nyawa dan harta. Di hati mereka, Natal mungkin tak lagi berbalut gemerlap lampu. Bagi mereka, doa dan dukunganlah yang paling berarti. Mari kita panjatkan doa dan ulurkan tangan kasih, agar Natal mereka tak lekang dibalut kepiluan.
Sahabat pembaca, mari kita jadikan Natal ini sebagai titik tolak untuk Indonesia yang lebih baik. Mari kita wujudkan harapan dengan tindakan nyata, dengan persatuan dan kasih. Semoga damai Natal tak hanya tinggal di gereja, tapi juga merekah di sudut-sudut negeri, di hati setiap insan.
Selamat Natal, untukmu dan seluruh penghuni Nusantara. Salam persaudaraan, salam damai, salam Indonesia.
Salam hangat,
Penulismu


Tinggalkan komentar