A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sahabat pembaca yang terkasih,

Natal kembali menyapa kita. Di udara berembun dingin Desember, di antara kilau cahaya lilin dan suara merdu kidung pujian, mari kita rayakan kelahiran Juru Selamat, sekaligus renungkan perjalanan panjang Indonesia tercinta.

Tahun ini, Indonesia kembali menorehkan kisahnya sendiri. Ada tawa dan derai bahagia, ada tangis dan pilu duka. Kita bersorak atas prestasi anak bangsa, kita bersimpati atas musibah yang menimpa saudara sebangsa. Di antara suka dan duka itu, harapan untuk Indonesia yang lebih baik tak pernah padam.

Menjelang tahun politik, harapan itu kian mengental. Kita mendambakan pesta demokrasi, khususnya pemilihan presiden mendatang, yang berlangsung aman, damai, dan bermartabat. Kita rindu pemimpin yang bijaksana, yang mempersatukan bukan memecah belah, yang membawa kedamaian dan kemajuan bagi seluruh rakyat. Mari kita jadikan Natal sebagai momen untuk mempersatukan hati, meredam ego, dan bersama-sama menenangkan denyut nadi politik dengan semangat persaudaraan.

Di sudut lain dunia, saudara-saudara kita masih dipeluk duka. Bencana alam meluluhlantakkan, perang merenggut nyawa dan harta. Di hati mereka, Natal mungkin tak lagi berbalut gemerlap lampu. Bagi mereka, doa dan dukunganlah yang paling berarti. Mari kita panjatkan doa dan ulurkan tangan kasih, agar Natal mereka tak lekang dibalut kepiluan.

Sahabat pembaca, mari kita jadikan Natal ini sebagai titik tolak untuk Indonesia yang lebih baik. Mari kita wujudkan harapan dengan tindakan nyata, dengan persatuan dan kasih. Semoga damai Natal tak hanya tinggal di gereja, tapi juga merekah di sudut-sudut negeri, di hati setiap insan.

Selamat Natal, untukmu dan seluruh penghuni Nusantara. Salam persaudaraan, salam damai, salam Indonesia.

Salam hangat,

Penulismu

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Avatar Tikno

    Saya sampai disini dengan mengikuti link komentar Anda di posting lama saya “Christmas contemplation” 15 tahun lalu.
    Selamat Natal untuk Anda dan keluarga.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca