A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Keterlibatan politik praktis di dalam manajemen sebuah rumah sakit adalah sebuah fenomena yang tidak dapat dihindari. Rumah sakit adalah salah satu institusi publik yang memiliki peran penting dalam menyediakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Oleh karena itu, rumah sakit sering menjadi sasaran kepentingan politik dari berbagai pihak, baik dari dalam maupun dari luar rumah sakit.

Namun, apakah keterlibatan politik praktis di dalam manajemen sebuah rumah sakit selalu berdampak negatif terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien? Ataukah ada potensi positif yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja dan reputasi rumah sakit?

Pertama, kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan politik praktis. Politik praktis adalah segala bentuk aktivitas yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk mempengaruhi keputusan, kebijakan, atau perilaku orang lain demi mencapai tujuan tertentu. Politik praktis dapat bersifat formal atau informal, terbuka atau tertutup, konstruktif atau destruktif.

Kedua, kita perlu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan politik praktis di dalam manajemen sebuah rumah sakit. Beberapa faktor yang dapat memicu keterlibatan politik praktis antara lain adalah:

  • Sumber daya yang terbatas. Rumah sakit harus berkompetisi dengan rumah sakit lain untuk mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan, seperti anggaran, tenaga kerja, peralatan, obat-obatan, dan sebagainya. Hal ini dapat menimbulkan konflik antara unit-unit kerja di dalam rumah sakit atau antara rumah sakit dengan pihak eksternal, seperti pemerintah, asosiasi profesi, media, masyarakat, dan lain-lain.
  • Struktur organisasi yang kompleks. Rumah sakit memiliki struktur organisasi yang melibatkan banyak pemangku kepentingan, seperti direktur, manajer, dokter, perawat, staf administrasi, pasien, keluarga pasien, dan sebagainya. Setiap pemangku kepentingan memiliki kepentingan, nilai, dan harapan yang berbeda-beda terhadap rumah sakit. Hal ini dapat menimbulkan ketidaksesuaian antara visi, misi, tujuan, strategi, dan tindakan yang dilakukan oleh rumah sakit.
  • Budaya organisasi yang heterogen. Rumah sakit memiliki budaya organisasi yang terdiri dari berbagai sub-budaya yang dipengaruhi oleh latar belakang profesional, pendidikan, agama, etnis, gender, usia, dan sebagainya. Setiap sub-budaya memiliki cara pandang, norma, nilai, dan perilaku yang berbeda-beda terhadap rumah sakit. Hal ini dapat menimbulkan kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang dialami oleh anggota organisasi.

Ketiga, kita perlu mengidentifikasi dampak keterlibatan politik praktis di dalam manajemen sebuah rumah sakit terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien. Dampak tersebut dapat bersifat positif atau negatif, tergantung pada cara keterlibatan politik praktis dilakukan dan diterima oleh pihak-pihak yang terlibat.

Beberapa dampak positif yang dapat ditimbulkan oleh keterlibatan politik praktis antara lain adalah:

  • Meningkatkan komunikasi dan koordinasi antara unit-unit kerja di dalam rumah sakit atau antara rumah sakit dengan pihak eksternal. Hal ini dapat membantu mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan sumber daya,
    kebijakan, prosedur, standar, dan sebagainya.
  • Meningkatkan partisipasi dan motivasi anggota organisasi dalam mencapai tujuan bersama. Hal ini dapat membantu mengembangkan kompetensi,
    kreativitas, inovasi, dan kinerja individu dan kelompok.
  • Meningkatkan adaptasi dan perubahan organisasi sesuai dengan kondisi lingkungan yang dinamis. Hal ini dapat membantu mengantisipasi peluang dan ancaman yang muncul dari dalam maupun dari luar rumah sakit.

Beberapa dampak negatif yang dapat ditimbulkan oleh keterlibatan politik praktis antara lain adalah:

  • Menurunkan kepercayaan dan kerja sama antara unit-unit kerja di dalam rumah sakit atau antara rumah sakit dengan pihak eksternal. Hal ini dapat menyebabkan konflik, ketegangan, persaingan tidak sehat, dan sabotase yang merugikan rumah sakit.
  • Menurunkan komitmen dan loyalitas anggota organisasi terhadap rumah sakit. Hal ini dapat menyebabkan sikap apatis, resistensi, protes, atau keluar dari organisasi yang mengganggu kelancaran operasional rumah sakit.
  • Menurunkan efektivitas dan efisiensi organisasi dalam mencapai tujuan bersama. Hal ini dapat menyebabkan pemborosan sumber daya, kesalahan keputusan, penurunan kualitas, atau kegagalan pelayanan yang merugikan pasien.

Keempat, kita perlu menentukan strategi untuk mengelola keterlibatan politik praktis di dalam manajemen sebuah rumah sakit agar dapat memberikan dampak positif terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien. Beberapa strategi yang dapat dilakukan antara lain adalah:

  • Membangun visi, misi, tujuan, strategi, dan nilai bersama yang dapat mengikat seluruh pemangku kepentingan di dalam rumah sakit. Hal ini dapat membantu menciptakan kesepakatan, keselarasan, dan keseimbangan antara kepentingan individu, kelompok, dan organisasi.
  • Membangun sistem komunikasi, informasi, dan transparansi yang dapat memfasilitasi pertukaran gagasan, pendapat, dan informasi antara unit-unit kerja di dalam rumah sakit atau antara rumah sakit dengan pihak eksternal. Hal ini dapat membantu meningkatkan pemahaman, penghargaan, dan pengakuan terhadap perbedaan dan keragaman yang ada di dalam rumah sakit.
  • Membangun sistem pengambilan keputusan, pengawasan, dan evaluasi yang dapat memastikan akuntabilitas, tanggung jawab, dan keterbukaan dari setiap keputusan, kebijakan, atau tindakan yang dilakukan oleh rumah sakit. Hal ini dapat membantu meningkatkan kualitas, keadilan, dan kepuasan dari setiap pihak yang terlibat atau terdampak oleh rumah sakit.
  • Membangun sistem penghargaan, sanksi, dan pengembangan yang dapat memberikan insentif, konsekuensi, dan peluang bagi setiap anggota organisasi untuk berkontribusi secara optimal terhadap tujuan bersama. Hal ini dapat membantu meningkatkan motivasi, prestasi, dan kompetensi dari setiap individu dan kelompok di dalam rumah sakit.

Kesimpulan

Keterlibatan politik praktis di dalam manajemen sebuah rumah sakit adalah sebuah fenomena yang tidak dapat diabaikan. Keterlibatan politik praktis dapat memberikan dampak positif atau negatif terhadap kualitas pelayanan yang diberikan kepada pasien, tergantung pada cara keterlibatan politik praktis dilakukan dan diterima oleh pihak-pihak yang terlibat. Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk mengelola keterlibatan politik praktis agar dapat memberikan manfaat bagi rumah sakit dan pasien.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar