A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Prompt tulisan harian
Ketika berusia lima tahun, apa cita-cita Anda bila dewasa nanti?

The scent of clove cigarettes and jasmine incense hung heavy in the air, a constant backdrop to my childhood in the late 80s Indonesia. Back then, our small village sprawled under a canopy of stars so vast, it felt like they spilled over the horizon. Every night, nestled on a woven mat on the porch, I’d devour dog-eared books about ancient civilizations and faraway galaxies.

Indiana Jones wasn’t just a movie character; he was my idol. I dreamt of unearthing forgotten temples, deciphering cryptic hieroglyphs, and piecing together the whispers of the past like a grand archaeologist. But then I’d look up at the Milky Way, a shimmering river of stars defying comprehension, and a different kind of explorer ignited within me – the astrophysicist.

The universe, an enigma whispered in hushed tones by my science teacher, Pak Budi, held an allure that transcended anything on Earth. Black holes, pulsars, the very fabric of space-time itself – these were the mysteries I craved to unravel.

One day, perched on the roof, tracing constellations with my finger, a shooting star streaked across the inky canvas. It was a fleeting, luminous message, and in that moment, I knew – my future lay amongst the stars, or perhaps beneath the soil, each path leading to a different kind of discovery. The world was a vast, uncharted territory, and I, a wide-eyed child, dreamt of being the one to map it all.

The late 80s offered little in terms of technology, but my imagination was a boundless cosmos. Cardboard boxes became spaceships, the dusty ground transformed into alien landscapes, and fireflies were bioluminescent creatures from distant planets. Every rustle of leaves in the wind whispered secrets, every sunrise a promise of new adventures.

As I look back, my childhood was a beautiful paradox – rooted in the familiar warmth of my village yet yearning to explore the furthest reaches of the unknown. The world, for me, was a treasure chest waiting to be unlocked, and the key, I believed, lay in the stars and the soil, waiting for the day I held it in my hand.

Artikel Baru Terbit

  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. Avatar AHMAD SALAHUDIN
    AHMAD SALAHUDIN

    Sy ingin tw tlpn aki

  2. Avatar AHMAD SALAHUDIN
    AHMAD SALAHUDIN

    Blh kah

  3. Avatar AHMAD SALAHUDIN
    AHMAD SALAHUDIN

    sy mw gabung

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca