A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Pendahuluan

Pertusis, atau yang lebih dikenal sebagai batuk rejan, adalah penyakit infeksi pernapasan yang sangat menular disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis. Meski terdengar klasik, pertusis masih menjadi ancaman serius, terutama bagi bayi dan anak-anak. Bayangkan batuk yang tak kunjung reda, seolah-olah ada alat musik harmonika yang terjebak di dalam dada, menghasilkan bunyi khas setiap kali bernapas.

Apa itu Pertusis?

Pertusis adalah infeksi bakteri yang menyerang lapisan saluran napas, terutama trakea dan bronkus. Bakteri ini menghasilkan racun yang merusak silia (rambut halus) di saluran pernapasan, mengganggu pembersihan lendir, dan menyebabkan batuk paroksismal yang khas.

Gejala Pertusis

Gejala pertusis berkembang melalui tiga tahap:

1. Tahap Kataral (1-2 Minggu)

  • Gejala Mirip Flu:
    • Hidung berair.
    • Demam ringan.
    • Batuk ringan.
  • Penularan Maksimal:
    • Pasien sangat menular pada tahap ini.

2. Tahap Paroksismal (2-6 Minggu)

  • Batuk Paroksismal:
    • Serangan batuk hebat berturut-turut.
    • Diakhiri dengan tarikan napas dalam yang menghasilkan bunyi “whoop” khas.
  • Muntah Setelah Batuk:
    • Akibat peningkatan tekanan di perut.
  • Kelelahan Ekstrem:
    • Tubuh lemas karena batuk terus-menerus.

3. Tahap Konvalesen (2-3 Minggu atau Lebih)

  • Pemulihan Bertahap:
    • Frekuensi dan keparahan batuk berkurang.
  • Kerentanan Terhadap Infeksi Lain:
    • Saluran napas masih rentan.

Cara Penularan Pertusis

  1. Droplet Udara:
    • Melalui percikan cairan dari batuk atau bersin orang yang terinfeksi.
  2. Kontak Dekat:
    • Berada dalam jarak dekat dengan penderita dalam waktu lama.
  3. Permukaan Terkontaminasi:
    • Jarang, tetapi mungkin melalui sentuhan benda yang terkontaminasi lalu menyentuh hidung atau mulut.

Catatan: Seseorang dapat menularkan pertusis sejak tahap awal gejala hingga sekitar 3 minggu setelah batuk dimulai.

Siapa yang Berisiko?

  • Bayi di Bawah 6 Bulan:
    • Belum mendapatkan vaksinasi lengkap.
  • Anak yang Belum Divaksinasi:
    • Atau vaksinasi tidak lengkap.
  • Orang Dewasa:
    • Kekebalan dari vaksinasi masa kecil menurun seiring waktu.
  • Tenaga Kesehatan dan Pengasuh:
    • Kontak rutin dengan kelompok rentan.

Komplikasi Pertusis

Pertusis bukan sekadar batuk biasa. Pada bayi dan anak-anak, komplikasi serius dapat terjadi:

  • Pneumonia:
    • Infeksi paru-paru.
  • Kejang:
    • Akibat kekurangan oksigen.
  • Ensefalopati:
    • Kerusakan otak karena infeksi atau kekurangan oksigen.
  • Penurunan Berat Badan:
    • Karena muntah dan kesulitan makan.
  • Kematian:
    • Terutama pada bayi di bawah 6 bulan.

Diagnosis Pertusis

  • Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik:
    • Riwayat batuk khas dan gejala lainnya.
  • Tes Laboratorium:
    • Swab Nasofaring:
      • Mengambil sampel lendir dari belakang hidung dan tenggorokan.
    • Tes Darah:
      • Melihat peningkatan jumlah sel darah putih.
  • Rontgen Dada:
    • Untuk melihat komplikasi seperti pneumonia.

Pengobatan Pertusis

1. Antibiotik

  • Macrolide:
    • Seperti azitromisin atau klaritromisin.
  • Tujuan:
    • Mengurangi penularan.
    • Mengurangi keparahan jika diberikan di tahap awal.

2. Perawatan Pendukung

  • Istirahat Cukup:
    • Membantu pemulihan tubuh.
  • Hidrasi:
    • Minum cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi.
  • Nutrisi Baik:
    • Makanan bergizi untuk memperkuat sistem imun.

3. Hospitalisasi

  • Untuk Kasus Berat:
    • Terutama bayi dan anak kecil.
  • Perawatan di Rumah Sakit:
    • Pengawasan ketat.
    • Dukungan oksigen jika diperlukan.

Pencegahan Pertusis

1. Vaksinasi

a. Vaksin DTP (Difteri, Tetanus, Pertusis)

  • Jadwal Pemberian:
    • Dosis Primer:
      • Umumnya pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
    • Booster:
      • Pada usia 18 bulan dan 5 tahun.
  • Jenis Vaksin:
    • Whole-cell Pertussis (wP):
      • Mengandung seluruh bakteri yang telah diinaktivasi.
      • Lebih reaktogenik (lebih banyak efek samping ringan).
    • Acellular Pertussis (aP):
      • Mengandung komponen bakteri.
      • Lebih sedikit efek samping.

b. Vaksin Tdap (Tetanus, Difteri, Pertusis Aseluler) untuk Remaja dan Dewasa

  • Penguat Kekebalan:
    • Kekebalan menurun seiring waktu; booster diperlukan.
  • Anjuran:
    • Diberikan sekali pada usia remaja atau dewasa.
    • Wanita hamil disarankan menerima Tdap untuk melindungi bayi.
vaksinasi pertusis

2. Herd Immunity

  • Konsep:
    • Ketika sebagian besar populasi imun, penyebaran penyakit terhambat.
  • Tujuan:
    • Melindungi individu yang tidak bisa divaksinasi (bayi, orang dengan kontraindikasi medis).

3. Praktik Kebersihan yang Baik

  • Cuci Tangan:
    • Dengan sabun dan air mengalir.
  • Etika Batuk dan Bersin:
    • Menutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan atas bagian dalam.
  • Menghindari Kontak dengan Orang Sakit:
    • Terutama bagi kelompok rentan.

Mengapa Vaksinasi Penting?

Vaksinasi adalah tameng pelindung yang mencegah kita dari serangan penyakit. Tanpa vaksinasi, tubuh kita seperti kota tanpa benteng, rentan terhadap serangan musuh. Berikut alasannya:

  • Mencegah Penyakit:
    • Menghindari infeksi dan komplikasi serius.
  • Mengendalikan Wabah:
    • Mengurangi penyebaran di masyarakat.
  • Melindungi Orang Lain:
    • Termasuk mereka yang tidak bisa divaksinasi.
  • Efisiensi Biaya:
    • Mencegah biaya pengobatan yang mahal akibat penyakit.

Metafora untuk Memahami Pertusis

Bayangkan bakteri pertusis sebagai perampok licik yang menyelinap ke dalam rumah kita (tubuh). Ia merusak sistem alarm (silia di saluran napas) sehingga pertahanan kita melemah. Batuk yang tak terkendali adalah teriakan tubuh meminta bantuan untuk mengusir perampok tersebut.

Fakta Menarik tentang Pertusis

  • Pertusis bukan penyakit kuno:
    • Meski ada vaksin, pertusis masih terjadi dan kadang mewabah.
  • Bayi mungkin tidak menunjukkan gejala khas:
    • Pada bayi, batuk mungkin minimal, tetapi mereka bisa berhenti bernapas sementara (apnea).
  • Imunitas tidak bertahan seumur hidup:
    • Baik dari vaksinasi maupun infeksi alami, sehingga booster penting.

Pertusis di Era Modern

  • Kebangkitan Kasus:
    • Beberapa negara mengalami peningkatan kasus pertusis.
  • Alasan:
    • Penurunan cakupan vaksinasi.
    • Mutasi bakteri.
    • Menurunnya kekebalan individu.
  • Solusi:
    • Meningkatkan kesadaran akan pentingnya vaksinasi.
    • Penelitian untuk vaksin yang lebih efektif.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

  1. Vaksinasi Diri dan Keluarga:
    • Pastikan mengikuti jadwal imunisasi.
  2. Edukasi Orang Lain:
    • Sebarkan informasi tentang pentingnya vaksinasi.
  3. Praktik Hidup Sehat:
    • Meningkatkan daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat.
  4. Konsultasi dengan Tenaga Kesehatan:
    • Jika ada gejala atau pertanyaan tentang vaksinasi.

Penutup

Pertusis adalah ancaman nyata yang bisa dicegah dengan langkah sederhana. Vaksinasi bukan hanya tentang melindungi diri sendiri, tetapi juga melindungi orang-orang di sekitar kita. Mari kita bersama-sama membangun benteng kekebalan, memastikan generasi mendatang tumbuh sehat tanpa dibayangi ancaman penyakit yang seharusnya bisa dicegah.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar