
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) merupakan komponen penting dalam menjamin keselamatan pasien, tenaga kesehatan, dan masyarakat di fasilitas pelayanan kesehatan. Program ini bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi terkait pelayanan kesehatan (HAIs) dan meminimalkan penularan infeksi yang berasal dari masyarakat. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2017, setiap fasilitas pelayanan kesehatan termasuk Puskesmas Rawat Inap wajib melaksanakan program PPI yang komprehensif dan berkelanjutan. Program kerja berikut dirancang untuk Puskesmas Rawat Inap di Indonesia dengan mempertimbangkan pedoman nasional dan praktik terbaik global dalam pencegahan dan pengendalian infeksi.
Landasan Hukum dan Kebijakan PPI
Implementasi program PPI di Puskesmas Rawat Inap berlandaskan pada beberapa regulasi dan kebijakan penting yang menjadi dasar hukum pelaksanaannya. Landasan hukum ini memberikan kerangka kerja yang jelas dan terukur untuk memastikan standarisasi pelaksanaan PPI di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Regulasi Nasional
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan merupakan landasan utama pelaksanaan PPI. Dalam Pasal 3 dinyatakan bahwa setiap fasilitas pelayanan kesehatan harus melaksanakan PPI melalui penerapan prinsip kewaspadaan standar dan berdasarkan transmisi, penggunaan antimikroba secara bijak, dan penerapan bundles1.
Selain itu, berdasarkan Pasal 5 Permenkes tersebut, pelaksanaan PPI di fasilitas pelayanan kesehatan dilakukan melalui pembentukan Komite atau Tim PPI yang merupakan organisasi nonstruktural dengan fungsi utama menjalankan program PPI dan menyusun kebijakan pencegahan dan pengendalian infeksi1.
Acuan Global
Pedoman World Health Organization (WHO) tentang komponen inti program PPI juga menjadi acuan penting dalam pengembangan program PPI di Puskesmas Rawat Inap. Pedoman ini menekankan pentingnya pendekatan sistem dan pendekatan berbasis bukti dalam implementasi program PPI.
Pembentukan Tim PPI di Puskesmas Rawat Inap
Sesuai dengan amanat Permenkes No. 27 tahun 2017, pembentukan Tim PPI merupakan langkah awal dalam implementasi program PPI di Puskesmas Rawat Inap. Tim ini berperan penting dalam mengkoordinasikan seluruh kegiatan PPI di Puskesmas.
Struktur Organisasi Tim PPI
Struktur organisasi Tim PPI di Puskesmas Rawat Inap terdiri dari:
- Ketua: Kepala Puskesmas
- Sekretaris: IPCN (Infection Prevention and Control Nurse) – Perawat yang telah mendapatkan pelatihan PPI
- Anggota:
- Dokter
- Dokter Gigi
- Bidan
- Petugas Sanitasi Lingkungan
- Petugas Laboratorium
- Tenaga Administrasi
- Tenaga kesehatan lain yang ada di Puskesmas2
Struktur ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing Puskesmas, namun tetap harus mencakup tenaga kesehatan dari berbagai disiplin ilmu untuk memastikan pendekatan yang komprehensif dalam pencegahan dan pengendalian infeksi.
Tugas dan Fungsi Tim PPI
Tim PPI di Puskesmas Rawat Inap memiliki tugas dan fungsi yang diatur dalam Pasal 7 Permenkes No. 27 tahun 2017, meliputi:
- Pengkajian situasi PPI di Puskesmas, termasuk identifikasi risiko dan masalah PPI
- Perencanaan program PPI yang komprehensif dan berbasis bukti
- Pelaksanaan program PPI sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan
- Monitoring dan evaluasi pelaksanaan program PPI
- Pembinaan dan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dalam implementasi praktik PPI1
Tim PPI juga berkewajiban melaporkan hasil pelaksanaan tugasnya kepada Kepala Puskesmas secara berkala minimal 2 kali dalam setahun, atau sesuai dengan kebutuhan. Laporan ini akan menjadi dasar bagi pimpinan dalam pengambilan keputusan dan penyusunan perencanaan terkait PPI1.
Program Kewaspadaan Standar
Kewaspadaan standar merupakan praktik dasar PPI yang diterapkan pada semua pasien di semua lingkungan pelayanan kesehatan, terlepas dari diagnosis atau status infeksi yang diduga atau dikonfirmasi. Program ini menjadi garis pertahanan pertama dalam strategi PPI.
Kebersihan Tangan
Kebersihan tangan merupakan komponen paling penting dalam kewaspadaan standar karena efektivitasnya dalam mencegah penularan infeksi.
- Implementasi lima momen kebersihan tangan WHO:
- Sebelum menyentuh pasien
- Sebelum melakukan prosedur aseptik
- Setelah terpajan cairan tubuh pasien
- Setelah menyentuh pasien
- Setelah menyentuh lingkungan pasien
- Penyediaan fasilitas kebersihan tangan:
- Instalasi wastafel dengan air mengalir, sabun, dan tisu pengering di setiap titik pelayanan
- Penyediaan hand sanitizer berbasis alkohol di titik-titik strategis
- Pemeliharaan rutin fasilitas kebersihan tangan
- Monitoring dan evaluasi kebersihan tangan:
- Audit kepatuhan kebersihan tangan secara berkala
- Umpan balik kepada tenaga kesehatan
- Pendidikan berkelanjutan tentang kebersihan tangan
Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Penggunaan APD yang tepat merupakan bagian penting dari kewaspadaan standar untuk melindungi tenaga kesehatan dari paparan patogen.
- Penyediaan dan penggunaan APD:
- Sarung tangan
- Masker medis
- Pelindung mata (goggles atau face shield)
- Gaun pelindung
- Penutup kepala
- Edukasi tentang penggunaan APD:
- Pelatihan cara memakai dan melepas APD dengan benar
- Indikasi penggunaan APD sesuai tingkat risiko
- Praktik simulasi penggunaan APD
- Monitoring kepatuhan penggunaan APD:
- Audit berkala
- Observasi langsung
- Pemberian umpan balik
Pengelolaan Limbah dan Benda Tajam
Pengelolaan limbah yang tepat sangat penting untuk mencegah penularan infeksi dari limbah medis dan benda tajam.
- Pemisahan limbah:
- Penyediaan wadah sesuai kategori limbah (medis infeksius, non-infeksius, benda tajam)
- Penggunaan kode warna untuk memudahkan identifikasi
- Pelatihan staf tentang pemisahan limbah
- Pengelolaan benda tajam:
- Penyediaan safety box di semua area tindakan
- Larangan menutup kembali jarum suntik
- Protokol penanganan cedera akibat benda tajam
- Pengolahan akhir limbah:
- Kerjasama dengan pihak ketiga untuk pengolahan limbah B3
- Dokumentasi pengolahan limbah
- Evaluasi berkala sistem pengelolaan limbah
Dekontaminasi Peralatan dan Lingkungan
Pembersihan, disinfeksi, dan sterilisasi peralatan serta lingkungan merupakan komponen penting dalam mencegah penularan infeksi.
- Prosedur dekontaminasi peralatan:
- Pembersihan (cleaning)
- Disinfeksi tingkat tinggi (high-level disinfection)
- Sterilisasi
- Validasi proses sterilisasi
- Pembersihan lingkungan:
- Jadwal pembersihan rutin
- Prosedur pembersihan terminal
- Penggunaan disinfektan yang tepat
- Pemantauan kebersihan lingkungan
Program Kewaspadaan Berdasarkan Transmisi
Kewaspadaan berdasarkan transmisi merupakan tindakan tambahan yang diterapkan pada pasien yang diketahui atau dicurigai terinfeksi patogen yang memerlukan tindakan pencegahan melebihi kewaspadaan standar.
Kewaspadaan Kontak
- Prosedur isolasi kontak:
- Penempatan pasien (ruang tunggal atau kohorting)
- Penggunaan APD (sarung tangan, gaun) saat kontak dengan pasien
- Pembatasan pergerakan pasien
- Penggunaan peralatan khusus untuk pasien tertentu
- Indikasi kewaspadaan kontak:
- Infeksi dengan bakteri multi-drug resistant
- Infeksi gastrointestinal seperti C. difficile
- Infeksi kulit yang mudah menular (impetigo, scabies)
Kewaspadaan Droplet
- Prosedur kewaspadaan droplet:
- Penggunaan masker medis saat berada dalam jarak 1-2 meter dari pasien
- Penempatan pasien (ruang tunggal atau kohorting)
- Edukasi etika batuk dan bersin
- Indikasi kewaspadaan droplet:
- Influenza, COVID-19
- Pertusis
- Meningitis meningokokus
Kewaspadaan Airborne
- Prosedur kewaspadaan airborne:
- Penggunaan masker N95 atau ekuivalen
- Penempatan pasien di ruang isolasi dengan ventilasi yang baik
- Pembatasan pergerakan pasien
- Edukasi pasien dan keluarga
- Indikasi kewaspadaan airborne:
- Tuberkulosis paru
- Campak
- Varicella (cacar air)
Program Penggunaan Antimikroba secara Bijak
Penggunaan antimikroba secara bijak bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan antibiotik dalam perawatan pasien, sekaligus meminimalkan risiko resistensi antimikroba.
Pedoman Penggunaan Antibiotik
- Penyusunan daftar antibiotik esensial:
- Antibiotik lini pertama
- Antibiotik lini kedua
- Antibiotik dengan pembatasan khusus
- Pedoman terapi empiris:
- Panduan berdasarkan fokus infeksi
- Dosis dan durasi yang direkomendasikan
- Kriteria evaluasi respon terapi
- Pedoman de-eskalasi terapi:
- Kriteria untuk penyesuaian terapi berdasarkan hasil kultur
- Prosedur penghentian antibiotik
Monitoring Penggunaan Antibiotik
- Sistem pemantauan:
- Pencatatan penggunaan antibiotik (jenis, indikasi, dosis, durasi)
- Evaluasi kesesuaian dengan pedoman
- Umpan balik kepada peresep
- Analisis pola penggunaan antibiotik:
- Defined Daily Dose (DDD)
- Analisis tren penggunaan antibiotik
- Evaluasi pola resistensi
Edukasi tentang Penggunaan Antibiotik
- Edukasi tenaga kesehatan:
- Pelatihan tentang prinsip penggunaan antibiotik yang bijak
- Diseminasi pedoman dan update terkini
- Diskusi kasus
- Edukasi pasien dan masyarakat:
- Pentingnya menggunakan antibiotik sesuai resep
- Bahaya resistensi antimikroba
- Alternatif pengelolaan penyakit infeksi ringan tanpa antibiotik
Implementasi Bundles Pencegahan Infeksi
Bundles adalah serangkaian praktik berbasis bukti yang, ketika diterapkan secara bersamaan dan konsisten, dapat meningkatkan hasil perawatan pasien secara signifikan.
Bundle Pencegahan Infeksi Saluran Kemih Terkait Kateter (CAUTI)
- Komponen bundle CAUTI:
- Indikasi pemasangan kateter yang ketat
- Teknik aseptik saat pemasangan kateter
- Perawatan kateter sesuai standar
- Evaluasi harian kebutuhan kateter
- Pengangkatan kateter segera bila tidak diperlukan
- Implementasi dan monitoring:
- Checklist pemasangan dan perawatan kateter
- Audit kepatuhan terhadap bundle
- Surveilans kejadian CAUTI
Bundle Pencegahan Infeksi Luka Operasi (SSI)
- Komponen bundle SSI:
- Mandi antiseptik pra-operasi
- Antiseptik kulit yang tepat
- Profilaksis antibiotik yang tepat
- Pencukuran rambut yang tepat jika diperlukan
- Pengendalian gula darah dan normotermia
- Implementasi dan monitoring:
- Checklist pra-operasi
- Audit kepatuhan terhadap bundle
- Surveilans kejadian SSI
Bundle Pencegahan Pneumonia terkait Ventilator (VAP)1
- Komponen bundle VAP:
- Elevasi kepala 30-45 derajat
- Evaluasi harian kesiapan ekstubasi
- Kebersihan mulut dengan chlorhexidine
- Profilaksis ulkus peptik
- Profilaksis trombosis vena dalam
- Implementasi dan monitoring:
- Checklist perawatan pasien dengan ventilator
- Audit kepatuhan terhadap bundle
- Surveilans kejadian VAP
Program Surveilans Infeksi
Surveilans infeksi merupakan komponen kunci dalam program PPI untuk mengidentifikasi tren, deteksi dini KLB, dan evaluasi efektivitas intervensi pencegahan.
Surveilans HAIs
- Metodologi surveilans:
- Definisi kasus standar
- Metode pengumpulan data (aktif, pasif, target)
- Penghitungan denominators
- Analisis data dan interpretasi
- Jenis HAIs yang dipantau:
- Infeksi Luka Operasi
- Infeksi Saluran Kemih terkait Kateter
- Infeksi Aliran Darah terkait Kateter
- Pneumonia terkait Pelayanan Kesehatan
- Infeksi C. difficile
- Pelaporan dan umpan balik:
- Laporan berkala kepada Tim PPI dan manajemen
- Umpan balik kepada unit terkait
- Rencana tindak lanjut berdasarkan hasil surveilans
Surveilans Infeksi dari Masyarakat
- Deteksi dan pelaporan:
- Identifikasi cepat kasus infeksi menular
- Notifikasi ke Dinas Kesehatan
- Implementasi tindakan pengendalian
- Fokus surveilans:
- Tuberkulosis
- Difteri
- Campak
- Infeksi menular lainnya
- Tindak lanjut kasus:
- Investigasi kontak
- Implementasi tindakan PPI yang sesuai
- Edukasi pasien dan keluarga
Pendidikan dan Pelatihan PPI
Pendidikan dan pelatihan merupakan komponen penting untuk memastikan implementasi praktik PPI yang efektif oleh seluruh staf Puskesmas.
Program Pelatihan Dasar PPI
- Materi pelatihan dasar:
- Prinsip dasar PPI
- Kebersihan tangan
- Penggunaan APD
- Etika batuk dan bersin
- Pengelolaan limbah dan benda tajam
- Metode pelatihan:
- Ceramah interaktif
- Demonstrasi dan redemonstrasi
- Simulasi
- E-learning
- Evaluasi pelatihan:
- Pre-test dan post-test
- Observasi praktik
- Sertifikasi
Program Pelatihan Lanjutan
- Materi pelatihan lanjutan:
- Surveilans infeksi
- Bundles pencegahan infeksi
- Pengendalian KLB
- Penggunaan antimikroba secara bijak
- Sasaran pelatihan lanjutan:
- IPCN dan anggota Tim PPI
- Kepala unit
- Tenaga kesehatan inti
Edukasi Pasien dan Keluarga
- Materi edukasi:
- Kebersihan tangan
- Etika batuk dan bersin
- Penggunaan antibiotik yang tepat
- Pencegahan infeksi di rumah
- Metode edukasi:
- Konseling individu
- Penyuluhan kelompok
- Media cetak dan audiovisual
- Demonstrasi
Monitoring dan Evaluasi Program PPI
Monitoring dan evaluasi merupakan komponen penting untuk memastikan bahwa program PPI berjalan efektif dan sesuai dengan standar.
Audit dan Penilaian
- Jenis audit:
- Audit kepatuhan kebersihan tangan
- Audit penggunaan APD
- Audit kepatuhan bundles
- Audit pengelolaan limbah
- Audit dekontaminasi lingkungan
- Metodologi audit:
- Observasi langsung
- Review dokumentasi
- Wawancara
- Checklist terstandar
- Frekuensi audit:
- Audit rutin (bulanan/triwulanan)
- Audit mendadak
- Audit pasca-intervensi
Analisis Data dan Umpan Balik
- Analisis data:
- Analisis tren
- Identifikasi akar masalah
- Benchmarking internal dan eksternal
- Umpan balik:
- Presentasi hasil ke manajemen dan staf
- Diskusi temuan dengan unit terkait
- Pengembangan rencana aksi perbaikan
Indikator Kinerja PPI
- Indikator struktur:
- Ketersediaan Tim PPI
- Ketersediaan kebijakan dan SOP
- Ketersediaan fasilitas pendukung PPI
- Indikator proses:
- Tingkat kepatuhan kebersihan tangan
- Tingkat kepatuhan penggunaan APD
- Tingkat kepatuhan bundles
- Indikator hasil:
- Angka kejadian HAIs
- Angka kumulatif infeksi pada tenaga kesehatan
- Tren resistensi antimikroba
Pelaporan dan Dokumentasi
Sistem pelaporan dan dokumentasi yang baik sangat penting untuk memastikan akuntabilitas dan kesinambungan program PPI.
Sistem Pencatatan
- Formulir pencatatan:
- Formulir surveilans HAIs
- Formulir audit kepatuhan
- Formulir pelaporan kejadian infeksi
- Log kejadian cedera benda tajam
- Dokumentasi kebijakan dan prosedur:
- SOP PPI
- Panduan klinis
- Protokol penanganan KLB
- Materi pelatihan
Mekanisme Pelaporan
- Pelaporan internal:
- Laporan harian/mingguan ke IPCN
- Laporan bulanan ke Tim PPI
- Laporan triwulan/semester ke manajemen
- Pelaporan eksternal:
- Pelaporan ke Dinas Kesehatan setiap 6 bulan1
- Pelaporan KLB segera
- Pelaporan kasus infeksi wajib lapor
Kesimpulan
Program Kerja Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) untuk Puskesmas Rawat Inap ini disusun berdasarkan Permenkes No. 27 tahun 2017 dan praktik terbaik dalam PPI baik nasional maupun global. Implementasi program ini memerlukan komitmen dari seluruh pihak, mulai dari pimpinan Puskesmas, tenaga kesehatan, hingga pasien dan pengunjung.
Keberhasilan program PPI tidak hanya bergantung pada ketersediaan infrastruktur dan sumber daya, tetapi juga pada budaya keselamatan yang terbangun di Puskesmas. Melalui implementasi program PPI yang komprehensif, diharapkan Puskesmas Rawat Inap dapat memberikan pelayanan kesehatan yang aman dan berkualitas, serta mencegah terjadinya infeksi terkait pelayanan kesehatan.
Monitoring dan evaluasi berkelanjutan perlu dilakukan untuk memastikan program PPI berjalan sesuai dengan yang diharapkan, serta melakukan perbaikan berkesinambungan berdasarkan temuan dari evaluasi tersebut. Dengan demikian, program PPI dapat berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Puskesmas Rawat Inap.
Daftar Baca:
- http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK_No._27_ttg_Pedoman_Pencegahan_dan_Pengendalian_Infeksi_di_FASYANKES_.pdf
- https://rsmmbogor.com/penguatan-peran-dan-fungsi-perawat-puskesmas-dalam-program-pencegahan-dan-pengendalian-infeksi239PoQ
- https://ojk.go.id/id/regulasi/Documents/Pages/Perusahaan-Pembiayaan-Infrastruktur/summary%20POJK%2046%20-%205%20-%202020.pdf
- https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9132775/
- https://media.neliti.com/media/publications/433755-none-b996212b.pdf
- https://repositori-ditjen-nakes.kemkes.go.id/493/1/Pelatihan%20Pencegahan%20dan%20Pengendalian%20Infeksi%20(PPI)%20bagi%20Tenaga%20Kesehatan%20di%20FKTP.pdf
- https://mutupelayanankesehatan.net/3609-pedoman-teknis-pencegahan-dan-pengendalian-infeksi-di-fasilitas-layanan-kesehatan-tingkat-pertama
- https://rsudsulfat.demakkab.go.id/2021/06/07/4115/
- https://ppid.menlhk.go.id/berita/siaran-pers/7888/direktorat-jenderal-ppi-mewujudkan-keberlanjutan-melalui-pengendalian-perubahan-iklim
- https://pkmmlati2.slemankab.go.id/evaluasi-program-pencegahan-dan-pengendalian-infeksi/
- https://www.youtube.com/watch?v=QLU_mCxZkOM
- http://puskesmasnusawungu2.cilacapkab.go.id/2023/07/31/sosialisasi-pencegahan-pengendalian-infeksi-ppi/
- https://www.who.int/teams/integrated-health-services/infection-prevention-control
- https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/download/16069/12401/50744
- https://infeksiemerging.kemkes.go.id/document/buku-pedoman-teknis-ppi-di-fktp-tahun-2020/view
- http://pojokiklim.menlhk.go.id/read/penterjemahan-kerangka-transparansi-paris-agreement-kedalam-konteks-kebijakan-nasional
- https://cdn.who.int/media/docs/default-source/gsipc/who_ipc_global-strategy-for-ipc.pdf?sfvrsn=ebdd8376_4
- https://pasca-umi.ac.id/index.php/jmch/article/download/484/534
- https://galihendradita.wordpress.com/wp-content/uploads/2021/08/2020-buku-pedoman-teknis-ppi-di-fktp.pdf
- http://reposister.almaata.ac.id/1340/1/EBOOK%20Pencegahan%20dan%20Pengendalian%20Infeksi.pdf
- https://djppi.kominfo.go.id/id/news/dirjen-ppi-kominfo-ungkap-strategi-wujudkan-pemerataan-infrastruktur-digital-di-indonesia
- https://www.paho.org/en/news/6-5-2022-who-launches-first-ever-global-report-infection-prevention-and-control
- http://repositori.uin-alauddin.ac.id/26763/1/Yulianti%20Wulandari_70300119019.pdf
- https://rsudmzein.pesisirselatankab.go.id/transparasi/file/PDF_HJY5EQI6oy_10539.pdf
- https://pkmmlati2.slemankab.go.id/pendidikan-program-pencegahan-dan-pengendalian-infeksi/
- https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/112075/permenkes-no-27-tahun-2017
- https://peraturan.bpk.go.id/Download/212694/Permenkes%20Nomor%2013%20Tahun%202022.pdf
- https://repository.stikes-yrsds.ac.id/id/eprint/497/4/BAB%20II%20TINJAUAN%20PUSTAKA.pdf
- http://repositori.uin-alauddin.ac.id/23486/1/Buku_Konsep%20%20Interprofessional%20Collaboration.pdf
- https://pusbangdik.poltekkesdepkes-sby.ac.id/download_file/Modul_Pembelajaran_IPE_130720211627185966.pdf
- https://ppid.rsmoewardi.com/wp-content/uploads/2021/09/PEDOMAN-KERJA-PENCEGAHAN-DAN-PENGENDALIAN-INFEKSI-2021.pdf
- https://www.academia.edu/42113365/Program_kerja_PPI
- https://pkmgamping2.slemankab.go.id/pencegahan-dan-pengendalian-infeksi/
- https://www.instagram.com/puskesmas_cimalaka/reel/Cw40myzJqjB/
- https://pkm-senaken.paserkab.go.id/pages/ppi
- https://gedongtengenpusk.jogjakota.go.id/detail/index/28484
- https://diskes.badungkab.go.id/storage/diskes/file/KMK%20Nomor%202015%20Tahun%202023%20tentang%20Petunjuk%20Teknis%20Integrasi%20Pelayanan%20Kesehatan%20Primer.pdf
- https://rsupfatmawati.co.id/jfklin/index.php/jfklin/article/view/25
- https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jkt/article/download/16069/12401
- https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmkeperawatanFK/article/view/48002
- https://jurnal.usk.ac.id/JKS/article/viewFile/20714/15067
- https://ejurnal.unism.ac.id/index.php/JNI/article/download/44/51/538
- Hanya berlaku dalam kekhususan, dan perlu diingat bahwa hampir sebagian besar Puskesmas tidak memiliki fasilitas ventilator. Ventilator yang dimaksudkan di sini adalah: Ventilator mekanik invasif: Digunakan dengan intubasi endotrakeal atau trakeostomi.
Ventilator mekanik non-invasif: Seperti Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) atau Bi-level Positive Airway Pressure (BiPAP), meskipun lebih jarang dikaitkan dengan VAP dibandingkan ventilasi invasif. ↩︎

Tinggalkan komentar