A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Komitmen, Investasi, dan Aksi Nyata Menuju Eliminasi Tuberkulosis

Tuberkulosis (TBC) tetap menjadi momok serius di dunia dan Indonesia. Meskipun penyakit ini dapat dicegah serta disembuhkan dengan pengobatan yang tepat, data terbaru menunjukkan bahwa TBC masih menjadi penyebab kematian utama dan menantang kita untuk bergerak lebih cepat. Di tahun 2025, momentum Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) menjadi ajang untuk menyatukan upaya lintas sektor demi mengakhiri epidemi TBC dengan membumikan inovasi dan kolaborasi. Melalui tema global “Yes! We Can End TB: Commit, Invest, Deliver” dan tema nasional “GIATKAN: Gerakan Indonesia Akhiri TBC dengan Komitmen dan Aksi Nyata”, sejumlah kegiatan strategis dan inovatif telah dirancang untuk mendorong perubahan nyata.


Latar Belakang: Tantangan Global dan Lokal Terkait TBC

Di kancah global, TBC dikenali sebagai penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dan diobati. Namun, realitanya pada tahun 2023, TBC kembali mencatatkan angka kematian yang tinggi, bahkan hampir dua kali lipat dibandingkan dengan HIV/AIDS. Tanpa pengobatan, angka kematian pada pasien TBC mencapai hampir 50%, sementara dengan pengobatan standar selama 4–6 bulan yang direkomendasikan oleh WHO, tingkat kesembuhan mencapai sekitar 85%.

Di Indonesia, situasi TBC semakin kompleks. Berdasarkan Global TB Report 2024, negara kita berada di posisi kedua dengan beban kasus terbanyak, setelah India. Berikut beberapa data kunci:

  • Jumlah kasus: Diperkirakan mencapai 1.090.000 kasus per tahun.
  • Kematian: Sekitar 125.000 nyawa hilang per tahun (atau sekitar 14 kematian setiap jam).
  • Kasus anak: Mencapai sekitar 135 ribu kasus pada kelompok usia 0–14 tahun.

Data tersebut menunjukkan bahwa TBC bukan hanya masalah medis, melainkan juga persoalan sosial-ekonomi yang mendalam, mengingat penyebarannya yang cepat di lingkungan keluarga, sekolah, dan tempat kerja.


Mengapa TBC Harus Dieliminasi?

Ada beberapa alasan penting mengapa eliminasi TBC harus menjadi prioritas:

  • Penyakit Menular
    Globalisasi dan mobilitas penduduk membuat TBC dengan mudah menembus batas wilayah.
  • Pengobatan yang Memakan Waktu
    Terapi TBC memerlukan waktu dan kepatuhan tinggi agar pengobatan berhasil sampai tuntas.
  • Risiko Resistensi Obat
    Pengobatan yang tidak tepat atau terputus-putus dapat menyebabkan timbulnya kasus resistensi obat, yang membuat penanganan semakin kompleks.
  • Dampak Multidimensional
    TBC tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga aspek sosial, psikologis, dan ekonomi masyarakat.

Menghilangkan TBC melalui pendekatan multi-sektoral adalah syarat utama demi terwujudnya Cakupan Kesehatan Semesta (UHC) dan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.


Kebijakan dan Strategi Penanggulangan TBC di Indonesia

Untuk menghadapi tantangan ini, Pemerintah Republik Indonesia telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan TBC. Kebijakan ini mencakup enam strategi utama:

  1. Penguatan Komitmen dan Kepemimpinan
    Melibatkan pemerintah pusat, provinsi, dan daerah untuk mendukung percepatan eliminasi TBC.
  2. Peningkatan Akses Layanan Berkualitas
    Menjamin bahwa setiap orang yang membutuhkan pengobatan TBC mendapatkan layanan yang terbaik dan berpihak pada pasien.
  3. Optimalisasi Upaya Promosi, Pencegahan, dan Pengendalian Infeksi
    Memastikan kegiatan promosi kesehatan serta pemberian pengobatan pencegahan (TPT) berjalan maksimal.
  4. Pemanfaatan Riset dan Teknologi
    Mengoptimalkan hasil riset dan integrasi teknologi dalam skrining, diagnosis, serta penatalaksanaan penyakit TBC.
  5. Peningkatan Peran Serta Komunitas dan Multi-Sektor
    Melibatkan berbagai pihak mulai dari pemerintah daerah, lembaga profesional, hingga masyarakat umum.
  6. Penguatan Manajemen Program melalui Sistem Kesehatan
    Memastikan program dan kebijakan berjalan secara berkesinambungan serta terintegrasi.

Tema HTBS 2025: Ajakan untuk Beraksi Nyata

Tema Global

“Yes! We Can End TB: Commit, Invest, Deliver”
Tema global ini merupakan sebentuk seruan yang mengajak dunia untuk meningkatkan komitmen dan melakukan intervensi berdasarkan bukti, terutama untuk deteksi dini, diagnosis tepat, dan pengobatan yang berkualitas terhadap TBC – terutama kasus TBC resistan obat.

Tema Nasional

“GIATKAN: Gerakan Indonesia Akhiri TBC dengan Komitmen dan Aksi Nyata”
Tema nasional ini tak hanya menjadi slogan, tetapi juga sebuah gerakan yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mengambil peran aktif, mulai dari pemerintah, lembaga kesehatan, dunia usaha, media, hingga komunitas. Pesan “GIATKAN” menuntut penyebaran informasi, peningkatan investasi untuk program TBC, dan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan yang komprehensif.


Rangkaian Kegiatan Inovatif HTBS 2025

Dalam rangka mewujudkan visi eliminasi TBC, berbagai kegiatan inovatif telah disusun, antara lain:

  • Lomba Inovasi Digital dan Kreatif
    Lomba daring seperti “Cipta Inovasi, Wujudkan Eliminasi Tuberkulosis” mendorong pergulatan ide dari dinas kesehatan serta fasilitas layanan kesehatan untuk menciptakan solusi kreatif dalam penanggulangan TBC.
  • Live Instagram dan Podcast Edukasi
    Sesi daring dengan tema seperti “TBC Paru dan Flek, Cek Fakta dan Mitos Seputar TBC” dihadiri oleh para ahli kesehatan guna membuka ruang diskusi interaktif dengan masyarakat. Podcast Kemencast juga mengulas topik kontroversial, misalnya efektivitas Terapi Pencegahan TBC (TPT).
  • Webinar Seri Bersertifikat (SKP)
    Webinars yang diselenggarakan melalui Zoom dan Youtube menghadirkan narasumber berkompeten di bidang TBC, mulai dari manajemen efek samping obat hingga teknik terbaru dalam diagnosis dan penatalaksanaan TBC.
  • Temu Media dan Kampanye Digital
    Kegiatan Temu Media hybrid dan kampanye digital melalui berbagai platform media sosial diperuntukkan menyebarkan informasi serta meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya penanggulangan TBC.
  • Inovasi Lapangan: Dari BoBa & Stik TBC hingga KAJEDAK
    Sejumlah inovasi telah diterapkan di berbagai daerah, seperti:
  • BoBa & Stik TBC: Menggunakan sistem kotak obat dan stiker sebagai mini game untuk meningkatkan kepatuhan minum obat.
  • Pick Up TBC: Inisiatif untuk meningkatkan cakupan investigasi kontak melalui pendampingan di tingkat wilayah.
  • KAJEDAK (Kader Jemput Dahak): Melibatkan kader masyarakat dalam mengambil sampel dahak dari terduga TBC, sehingga memudahkan diagnosa dan tindakan cepat.
  • SIKAT TB dan GERTAS TB: Program skrining dan pendampingan yang menyasar deteksi dini serta rehabilitasi pasien TBC dengan dukungan multidinasional.

Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian aksi terpadu yang mencakup kegiatan daring dan luring di hampir seluruh wilayah Indonesia, sehingga setiap lapisan masyarakat dapat terlibat aktif dalam mencegah dan mengakhiri TBC.


Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Eliminasi TBC

Keberhasilan upaya eliminasi TBC tidak dapat dicapai oleh sektor kesehatan sendirian. Diperlukan sinergi antara:

  • Pemerintah Pusat dan Daerah
    Melalui kebijakan yang terintegrasi dan alokasi anggaran yang memadai.
  • Lembaga Kesehatan dan Akademisi
    Untuk terus mengembangkan metode diagnosis serta pengobatan berbasis bukti ilmiah.
  • Dunia Usaha dan Organisasi Non-Pemerintah
    Yang berperan dalam pendanaan dan pendukung operasional inovasi kesehatan.
  • Media Massa dan Digital
    Sebagai ujung tombak dalam menyebarkan informasi serta edukasi yang akurat dan komprehensif.
  • Komunitas dan Relawan
    Yang membantu menghilangkan stigma dan memberikan dukungan psikologis serta sosial kepada pasien.

Mengintegrasikan semua elemen ini adalah langkah strategis untuk memastikan tidak ada satupun lapisan yang tertinggal dalam perjuangan mengakhiri TBC.


Menatap Masa Depan: Aksi Nyata untuk Indonesia Bebas TBC

Hari Tuberkulosis Sedunia 2025 merupakan momentum bersejarah bagi Indonesia untuk meneguhkan komitmen dalam mengakhiri TBC. Melalui rangkaian kegiatan inovatif, kolaborasi lintas sektor, dan semangat “GIATKAN”, kita bersama diharapkan mampu menekan angka kejadian, mempercepat penemuan kasus, serta memastikan setiap pasien mendapatkan pengobatan yang optimal. Peran serta Anda—sebagai bagian dari komunitas, media, atau lembaga—sangatlah penting untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.

Mari kita bergerak bersama, berinovasi, dan berkolaborasi demi masa depan bebas TBC. Karena dengan komitmen dan aksi nyata, Yes, We Can End TB!


Apakah Anda ingin mengetahui lebih lanjut tentang inovasi di lapangan atau mekanisme kerja sama lintas sektor lainnya? Kunjungi halaman TB Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar