A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

1. Pendahuluan

Luka bakar derajat 2, yang juga dikenal sebagai luka bakar parsial tebal, merupakan cedera pada kulit yang melibatkan lapisan epidermis dan sebagian lapisan dermis.1 Kondisi ini umumnya ditandai dengan kulit yang berwarna merah, terasa nyeri, mengalami pembengkakan, dan seringkali disertai dengan pembentukan bula.1 Bula terbentuk akibat terpisahnya lapisan epidermis dari dermis, dan ruang di antara kedua lapisan tersebut terisi oleh cairan.6

Luka bakar derajat 2 memiliki tingkat kedalaman yang bervariasi, mulai dari kerusakan pada lapisan atas dermis (superficial partial-thickness) hingga kerusakan yang lebih dalam (deep partial-thickness).1 Perbedaan kedalaman ini dapat memengaruhi waktu penyembuhan dan risiko pembentukan jaringan parut. Oleh karena itu, pendekatan penanganan bula pada luka bakar derajat 2 mungkin perlu disesuaikan dengan tingkat kerusakan yang terjadi.

Bula, atau lepuhan, adalah kantung berisi cairan yang terbentuk di antara lapisan kulit akibat kerusakan termal.6 Cairan di dalam bula umumnya berupa ultrafiltrat plasma yang kaya akan protein, termasuk imunoglobulin, berbagai sitokin, prostaglandin, dan interleukin.6 Kandungan ini menunjukkan bahwa cairan bula berpotensi memainkan peran penting dalam proses penyembuhan luka.

Penanganan bula yang tepat sangat krusial dalam perawatan luka bakar derajat 2. Penanganan yang tidak adekuat dapat meningkatkan risiko infeksi, memperlambat proses penyembuhan, dan memperburuk kemungkinan terbentuknya jaringan parut.8 Bula yang pecah dapat menjadi jalur masuk bagi bakteri, sehingga meningkatkan risiko infeksi.18 Oleh karena itu, keputusan mengenai apakah bula perlu dipecah atau dibiarkan utuh harus mempertimbangkan keseimbangan antara potensi manfaat bula utuh sebagai pelindung dan risiko infeksi jika bula pecah.

Laporan ini bertujuan untuk menyajikan analisis komprehensif mengenai penanganan bula pada luka bakar derajat 2 berdasarkan bukti medis terkini. Laporan ini akan meninjau rekomendasi medis saat ini, pedoman dari organisasi kesehatan global, evolusi praktik perawatan dari waktu ke waktu, perbandingan perawatan dengan dan tanpa bula, keuntungan dan kerugian memecah bula, rekomendasi perawatan optimal, potensi risiko komplikasi, dan peran lapisan kulit bula dalam penyembuhan.

2. Rekomendasi Medis Terkini tentang Penanganan Bula pada Luka Bakar Derajat 2

Berbagai organisasi kesehatan terkemuka telah mengeluarkan pedoman mengenai penanganan luka bakar derajat 2, termasuk pengelolaan bula yang sering menyertainya. Mayo Clinic merekomendasikan untuk tidak memecah bula yang terbentuk akibat luka bakar derajat 2 karena bula tersebut membantu melindungi dari infeksi.20 Jika bula pecah, area tersebut harus dibersihkan dengan lembut menggunakan air, dan jika diinginkan, sabun cair, diikuti dengan pengaplikasian salep antibiotik.20 Penggunaan salep harus dihentikan jika muncul ruam.

Cleveland Clinic menyarankan agar bula pada luka bakar derajat 2 tetap tertutup selama beberapa hari pertama setelah kejadian untuk memungkinkan kulit sembuh.22 Jika bula pecah, luka harus tetap ditutup dengan perban untuk mencegah infeksi. Jika bula tidak pecah, luka bakar dapat dibiarkan terbuka tanpa perban. Kaiser Permanente secara eksplisit menyatakan untuk tidak memecah bula pada luka bakar karena bula yang terbuka dapat dengan mudah terinfeksi.19 Mereka juga menekankan pentingnya untuk tidak menyentuh luka bakar dengan tangan atau benda kotor.

Shriners Children’s merekomendasikan untuk membiarkan bula tetap utuh pada semua luka bakar akibat kontak dengan benda panas, cairan, atau api.4 Mereka menjelaskan bahwa pada luka bakar derajat 2 atau parsial tebal, bula terbentuk pada perbatasan dermal-epidermal, dan atap bula adalah epidermis mati yang tidak tahan lama dan memberikan perlindungan terbatas pada dermis di bawahnya. Ketika bula pecah, cairan keluar, dan dermis dapat mengering.4 Temple Health menyarankan untuk tidak memecah bula pada luka bakar ringan derajat pertama dan kemungkinan kecil derajat kedua yang berukuran lebih kecil dari 2-3 inci (7 sentimeter).5 MyHealth Alberta juga merekomendasikan untuk tidak memecah bula karena bula yang terbuka dapat dengan mudah terinfeksi.18

Secara umum, terdapat kecenderungan di antara organisasi kesehatan terkemuka untuk merekomendasikan agar bula kecil pada luka bakar derajat 2 dibiarkan utuh untuk melindungi dari infeksi.4 Alasan utama di balik rekomendasi ini adalah bahwa lapisan kulit yang membentuk bula bertindak sebagai penghalang fisik terhadap bakteri, sehingga mengurangi risiko infeksi. Selain itu, bula utuh juga dapat membantu menjaga kelembaban pada luka, yang penting untuk proses penyembuhan.

Meskipun demikian, terdapat potensi perbedaan pendapat mengenai penanganan bula yang berukuran besar atau yang terletak di area fungsional seperti sendi. Beberapa sumber, seperti yang akan dibahas lebih lanjut, mungkin menyarankan untuk mengalirkan cairan bula dengan teknik steril dalam kasus-kasus tertentu untuk mengurangi tekanan dan meningkatkan mobilitas.3

3. Pedoman Perawatan Luka Bakar Derajat 2 dari Organisasi Kesehatan Global

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan panduan mengenai manajemen luka bakar dalam toolkit praktik terbaik keselamatan bedah mereka.29 Dalam panduan ini, WHO menekankan pentingnya pertolongan pertama yang cepat, termasuk mengairi luka bakar dengan air dingin untuk mencegah kerusakan lebih lanjut dan melepaskan semua pakaian yang terbakar jika mudah dilepas.29 Untuk luka bakar dengan area terbatas, WHO merekomendasikan perendaman area yang terbakar dalam air dingin selama 30 menit untuk mengurangi nyeri, edema, dan kerusakan jaringan. Untuk luka bakar dengan area yang luas, WHO menyarankan untuk mengaplikasikan balutan bersih di sekitar area yang terbakar.

Mengenai perawatan luka, pedoman WHO merekomendasikan pemberian profilaksis tetanus untuk semua kasus luka bakar. Kecuali pada luka bakar yang sangat kecil, WHO menyarankan untuk melakukan debridemen bula.29 Debridemen melibatkan pengangkatan lapisan luar bula. Tujuan dari debridemen ini adalah untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah infeksi. Setelah debridemen, luka bakar harus dibersihkan dengan lembut menggunakan larutan antiseptik ringan berbasis air, seperti larutan klorheksidin 0,25% atau larutan setrimida 0,1%. Larutan berbasis alkohol tidak boleh digunakan. Setelah pembersihan, lapisan tipis krim antibiotik (misalnya, silver sulfadiazine) harus dioleskan, dan luka bakar harus ditutup dengan kasa petroleum dan kasa kering yang cukup tebal untuk mencegah rembesan ke lapisan luar.

Rekomendasi WHO untuk melakukan debridemen bula, kecuali pada luka bakar yang sangat kecil, berbeda dengan rekomendasi dari banyak organisasi kesehatan di tingkat nasional yang cenderung untuk tidak memecah bula kecil. Perbedaan ini mungkin mencerminkan fokus WHO pada pengelolaan luka bakar di berbagai kondisi sumber daya dan potensi risiko infeksi yang berbeda di berbagai wilayah.

Organisasi luka bakar internasional, seperti American Burn Association (ABA) dan International Burn Association (IBA), juga memberikan pedoman mengenai perawatan luka bakar. ABA merekomendasikan rujukan ke pusat luka bakar untuk luka bakar parsial tebal yang lebih besar dari 10% luas permukaan tubuh, luka bakar pada area tertentu (wajah, tangan, kaki, genitalia, sendi utama), luka bakar kimia, listrik, atau akibat petir, cedera inhalasi signifikan, luka bakar pada pasien dengan kondisi medisMultiple, dan luka bakar yang terkait dengan cedera traumatis lainnya.28 Untuk luka bakar minor yang ditangani di luar pusat luka bakar, ABA menyarankan pendinginan, pembersihan, penutupan dengan salep antibiotik dan perban, serta peredaan nyeri. Pedoman spesifik mengenai penanganan bula tidak secara eksplisit disebutkan dalam snippet ini.

International Burn Association (IBA) tidak secara langsung menyediakan pedoman dalam snippet yang diberikan.1 Namun, snippet dari Temple Health, yang mungkin mengikuti pedoman IBA, menyarankan untuk tidak memecah bula.5 Snippet dari NCBI Bookshelf yang membahas luka bakar parsial tebal menyatakan bahwa bula seringkali masih utuh saat evaluasi awal.1 Hal ini menunjukkan bahwa mungkin ada variasi dalam pedoman dari organisasi luka bakar internasional mengenai penanganan bula, dengan beberapa cenderung lebih konservatif dan tidak merekomendasikan pemecahan bula secara rutin.

Secara keseluruhan, terdapat perbedaan dalam rekomendasi global mengenai penanganan bula pada luka bakar derajat 2. WHO cenderung merekomendasikan debridemen, sementara banyak organisasi nasional lebih memilih pendekatan konservatif untuk bula kecil. Konsensus global yang jelas mengenai penanganan semua jenis bula berdasarkan ukuran dan lokasi tampaknya belum sepenuhnya tercapai.16 Perbedaan ini mungkin disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk perbedaan prevalensi infeksi, ketersediaan sumber daya kesehatan, dan interpretasi bukti ilmiah yang berbeda.

4. Evolusi Praktik Perawatan Luka Bakar Derajat 2 dengan Fokus pada Penanganan Bula dari Waktu ke Waktu

Sejarah perawatan luka bakar mencerminkan evolusi pemahaman medis dan teknologi. Catatan paling awal tentang pengobatan luka bakar berasal dari peradaban kuno, seperti yang tercatat dalam Papirus Edwin Smith dari Mesir (sekitar 1600 SM) yang merekomendasikan penggunaan salep resin dan madu untuk mengobati luka bakar.33 Pada abad ke-18 hingga awal abad ke-20, terjadi peningkatan signifikan dalam penelitian biomedis terkait perawatan luka bakar, termasuk pengakuan pentingnya luas permukaan luka bakar dan pengembangan teknik cangkok kulit oleh Reverdin.33

Pada awal abad ke-20, fokus terapi topikal adalah untuk mencegah pelepasan ‘racun’ dari luka bakar dan mengeringkan luka untuk membentuk koagulum keras yang meminimalkan kehilangan cairan.33 Berbagai terapi dikembangkan untuk mencapai tujuan ini, seperti semprotan asam tanat yang diperkenalkan oleh Davidson pada tahun 1925. Namun, penggunaannya dihentikan setelah ditemukan bersifat hepatotoksik. Penemuan sodium hipoklorit (NaClO) pada abad ke-18 oleh Berthollet merupakan salah satu terapi antimikroba topikal pertama. Penggunaannya sempat terhambat karena iritasi yang ditimbulkan, tetapi kemudian ditemukan bahwa hal ini disebabkan oleh kualitas yang bervariasi dan kandungan alkali atau klorin bebas di dalamnya. Pada tahun 1915, Dr. Henry Dakin berhasil mengembangkan metode sintesis hipoklorit tanpa kontaminan iritan, yang kemudian digunakan secara luas dalam pengobatan luka bakar dengan protokol pembersihan mekanis, debridemen bedah, dan aplikasi topikal larutan hipoklorit.

Tonggak penting dalam terapi luka bakar topikal adalah aplikasi larutan senyawa atau garam perak, yang memainkan peran penting dalam mengurangi tingkat sepsis dan mortalitas akibat luka bakar. Silver sulfadiazine, yang dikembangkan oleh Charles Fox pada tahun 1960-an, telah menjadi andalan terapi antimikroba topikal karena keberhasilannya dalam mengendalikan infeksi dengan efek samping minimal.33

Mengenai penanganan bula secara spesifik, literatur menunjukkan bahwa pada tahun 1940-an, praktik umum adalah membiarkan bula tetap utuh.31 Namun, seiring dengan meningkatnya pemahaman tentang potensi cairan bula sebagai media pertumbuhan bakteri, muncul kekhawatiran yang mengarah pada konsep debridemen bula dan penggunaan pembalut.31 Studi tahun 1957 oleh Gimbel et al. melakukan eksperimen pada sukarelawan sehat dan menemukan bahwa bula yang dibiarkan utuh sembuh lebih cepat dibandingkan dengan yang diaspirasi atau didebridemen.31 Meskipun demikian, studi ini memiliki keterbatasan metodologis.

Penelitian selanjutnya, seperti studi tahun 1987 oleh Swain et al., membandingkan tiga pilihan pengobatan untuk bula: debridemen, aspirasi, dan membiarkan bula tetap utuh.31 Studi ini menemukan bahwa insiden infeksi Staphylococcus aureus lebih tinggi pada kelompok yang didebridemen, dan nyeri juga lebih tinggi. Berdasarkan temuan ini, para penulis menyarankan aspirasi sebagai pilihan yang lebih baik daripada debridemen. Tinjauan Cochrane oleh Norman et al. pada tahun 2017 mengevaluasi intervensi antiseptik dan antibakteri untuk luka bakar dan menemukan risiko bias yang tinggi dalam banyak studi yang ditinjau, yang menunjukkan perlunya penelitian yang lebih berkualitas untuk memberikan bukti yang lebih kuat.35

Evolusi praktik penanganan bula mencerminkan perubahan pemahaman tentang peran bula dalam penyembuhan dan risiko infeksi. Meskipun pada awalnya cenderung untuk membiarkan bula utuh, kekhawatiran tentang infeksi menyebabkan pergeseran ke arah debridemen. Namun, penelitian selanjutnya menunjukkan potensi manfaat bula utuh dalam penyembuhan dan risiko yang terkait dengan debridemen, yang mengarah pada pendekatan yang lebih konservatif dalam banyak kasus. Meskipun demikian, masih terdapat perdebatan dan kurangnya konsensus yang kuat mengenai penanganan optimal bula pada luka bakar derajat 2.

5. Perbandingan Praktik Perawatan Luka Bakar Derajat 2 yang Melibatkan Bula dengan yang Tidak Melibatkan Bula

Perawatan luka bakar derajat 2, baik yang disertai bula maupun tidak, memiliki prinsip dasar yang sama, yaitu pendinginan luka segera setelah terjadi, pembersihan luka untuk mencegah infeksi, menjaga kelembaban luka untuk mendukung penyembuhan, dan peredaan nyeri.18 Langkah-langkah awal seperti mengalirkan air dingin pada area yang terbakar selama 10-20 menit dan melepaskan pakaian atau perhiasan yang ketat di sekitar luka bakar tetap penting dalam kedua kondisi tersebut.

Pada luka bakar derajat 2 tanpa bula, penekanan perawatan lebih pada menjaga kelembaban luka dengan mengoleskan salep seperti petroleum jelly atau krim antibiotik dan menutup luka dengan perban steril.18 Perawatan harian melibatkan pembersihan luka dengan sabun lembut dan air, diikuti dengan penggantian salep dan perban.

Perbedaan utama dalam praktik perawatan terletak pada adanya bula. Jika bula terbentuk, keputusan mengenai apakah bula tersebut perlu dipecah atau dibiarkan utuh menjadi pertimbangan tambahan yang tidak relevan pada luka bakar tanpa bula. Sebagian besar pedoman saat ini merekomendasikan untuk tidak memecah bula kecil secara rutin karena lapisan kulit yang membentuk bula berfungsi sebagai pelindung alami terhadap infeksi.4

Meskipun keberadaan bula menambahkan lapisan pertimbangan pada perawatan luka bakar derajat 2, prinsip-prinsip dasar perawatan luka bakar secara keseluruhan tetap berlaku. Perawatan tetap berfokus pada pendinginan awal untuk menghentikan proses pembakaran dan mengurangi kerusakan jaringan, pembersihan luka untuk menghilangkan kotoran dan mencegah infeksi, menjaga kelembaban luka untuk memfasilitasi migrasi sel-sel epitel dan pembentukan jaringan baru, dan peredaan nyeri untuk meningkatkan kenyamanan pasien. Keputusan tentang penanganan bula terutama memengaruhi langkah spesifik dalam perawatan luka, yaitu apakah bula harus dipecah atau dibiarkan utuh.

6. Keuntungan dan Kerugian Memecah Bula pada Luka Bakar Derajat 2

Keputusan untuk memecah atau tidak memecah bula pada luka bakar derajat 2 melibatkan pertimbangan berbagai potensi keuntungan dan kerugian. Salah satu keuntungan yang mungkin dari memecah bula, terutama bula yang besar dan tegang, adalah pengurangan tekanan pada jaringan di bawahnya.24 Tekanan yang berlebihan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan bahkan berpotensi mengganggu perfusi jaringan. Dengan mengalirkan cairan dari bula, tekanan ini dapat dikurangi. Selain itu, bula yang pecah dapat mempermudah proses pembersihan luka, terutama jika terdapat jaringan nekrotik atau debris di bawahnya.29 Debridemen bula yang besar juga dapat memungkinkan penilaian kedalaman luka bakar yang lebih akurat, yang penting untuk menentukan rencana perawatan yang tepat.25 Pada kasus bula yang terletak di atas sendi, pemecahannya dapat meningkatkan mobilitas dan mencegah keterbatasan gerakan.3

Namun, terdapat beberapa kerugian signifikan yang terkait dengan memecah bula pada luka bakar derajat 2. Kerugian utama adalah peningkatan risiko infeksi.17 Lapisan kulit yang membentuk bula berfungsi sebagai penghalang alami terhadap bakteri. Ketika bula dipecah, penghalang ini hilang, sehingga memungkinkan bakteri untuk masuk ke luka dan menyebabkan infeksi seperti selulitis. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa bula yang dibiarkan utuh cenderung sembuh lebih cepat dibandingkan dengan yang dipecah.17 Proses debridemen bula, terutama jika dilakukan tanpa analgesia yang adekuat, juga dapat meningkatkan nyeri yang dirasakan oleh pasien.17 Selain itu, memecah bula secara paksa atau dengan teknik yang tidak steril dapat berpotensi merusak lapisan dermis di bawahnya, yang dapat memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko pembentukan jaringan parut.

Secara keseluruhan, meskipun ada beberapa potensi keuntungan dari memecah bula, terutama dalam kasus bula yang besar atau mengganggu fungsi, kerugian utama berupa peningkatan risiko infeksi seringkali lebih besar. Inilah alasan utama mengapa sebagian besar pedoman saat ini merekomendasikan untuk tidak memecah bula kecil secara rutin pada luka bakar derajat 2.

7. Rekomendasi Terkini Mengenai Perawatan Optimal untuk Luka Bakar Derajat 2 yang Disertai Bula

Berdasarkan bukti medis terkini dan pedoman dari berbagai organisasi kesehatan, perawatan optimal untuk luka bakar derajat 2 yang disertai bula melibatkan beberapa langkah spesifik. Pertolongan pertama yang harus segera dilakukan adalah mendinginkan area yang terbakar dengan air dingin mengalir selama 10 hingga 20 menit.4 Penggunaan air es atau es langsung harus dihindari karena dapat menyebabkan kerusakan jaringan lebih lanjut.4 Perhiasan atau pakaian ketat di sekitar area luka bakar harus dilepas dengan hati-hati untuk mencegah pembengkakan yang lebih lanjut.18

Untuk bula yang terbentuk, rekomendasi umum adalah untuk tidak memecah bula kecil kecuali jika bula tersebut sangat besar, tegang, atau mengganggu fungsi.4 Jika bula pecah secara spontan, area tersebut harus dibersihkan dengan lembut menggunakan sabun dan air bersih.2 Setelah dibersihkan, pertimbangkan untuk mengoleskan lapisan tipis salep antibiotik seperti bacitracin atau triple antibiotic ointment untuk membantu mencegah infeksi.2

Perawatan luka bakar harian sangat penting. Area luka bakar harus dicuci setiap hari dengan sabun lembut dan air.18 Setelah dibersihkan dan dikeringkan dengan lembut, oleskan lapisan tipis salep antibiotik atau petroleum jelly untuk menjaga kelembaban luka.2 Luka kemudian harus ditutup dengan perban steril non-lengket untuk melindunginya dari kontaminasi dan trauma lebih lanjut.2 Perban harus diganti setiap hari atau lebih sering jika menjadi basah atau kotor.2

Untuk meredakan nyeri, obat pereda nyeri yang dijual bebas seperti acetaminophen atau ibuprofen dapat digunakan sesuai kebutuhan.5 Penggunaan aspirin harus dihindari.18 Jika luka bakar terletak di lengan atau kaki, mengangkat anggota tubuh tersebut selama 24 hingga 48 jam pertama dapat membantu mengurangi pembengkakan.18

Meskipun pendekatan konservatif umumnya dianjurkan untuk bula kecil, untuk bula yang sangat besar, tegang, atau terletak di area yang dapat membatasi fungsi (misalnya, di atas sendi), pertimbangan untuk mengalirkan cairan bula dengan teknik steril oleh profesional kesehatan mungkin diperlukan untuk mengurangi tekanan dan meningkatkan mobilitas, sambil tetap menjaga lapisan kulit bula sebagai penutup pelindung.

Penting bagi pasien untuk mengetahui kapan mereka perlu mencari bantuan medis profesional untuk luka bakar derajat 2 dengan bula. Bantuan medis harus dicari jika luka bakar lebih besar dari 3 inci, melibatkan wajah, tangan, kaki, selangkangan, bokong, atau sendi utama, tampak dalam atau hangus, disertai inhalasi asap, membengkak dengan cepat, menunjukkan tanda-tanda infeksi (peningkatan nyeri, kemerahan, pembengkakan, keluarnya cairan bernanah, bau tidak sedap, demam), nyeri tidak terkontrol, tidak menunjukkan tanda-tanda penyembuhan, atau terjadi pada anak-anak yang sangat muda, orang tua, atau individu dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah.5

8. Potensi Risiko Infeksi atau Komplikasi Lain yang Terkait dengan Penanganan Bula pada Luka Bakar Derajat 2

Salah satu risiko utama yang terkait dengan penanganan bula pada luka bakar derajat 2 adalah potensi infeksi. Bula yang pecah, terutama jika tidak ditangani dengan benar, dapat meningkatkan risiko infeksi bakteri seperti selulitis karena hilangnya lapisan pelindung kulit yang biasanya mencegah bakteri masuk.17 Tanda-tanda infeksi pada luka bakar meliputi peningkatan nyeri atau ketidaknyamanan, kemerahan yang meluas di luar batas area luka bakar, pembengkakan yang berlebihan, keluarnya cairan seperti nanah (berwarna kuning atau hijau), dan bau tidak sedap dari luka.5 Demam juga bisa menjadi indikasi infeksi sistemik. Pencegahan infeksi merupakan prioritas utama dalam perawatan luka bakar derajat 2 dengan bula, dan perawatan luka yang tepat, termasuk menjaga kebersihan luka dan menutupnya dengan perban steril, sangat penting untuk meminimalkan risiko ini.

Selain risiko infeksi, komplikasi lain juga dapat terjadi. Luka bakar derajat 2 yang lebih dalam dapat menyebabkan pembentukan jaringan parut, terutama jika proses penyembuhan tertunda atau jika terjadi infeksi.2 Penanganan bula yang tidak tepat, yang dapat menyebabkan infeksi atau memperlambat penyembuhan, secara tidak langsung dapat meningkatkan risiko pembentukan jaringan parut yang berlebihan. Area luka bakar juga dapat mengalami perubahan pigmentasi kulit setelah sembuh, menjadi lebih gelap (hiperpigmentasi) atau lebih terang (hipopigmentasi) dibandingkan dengan kulit di sekitarnya, terutama pada individu dengan warna kulit yang lebih gelap.2 Komplikasi lain yang mungkin terjadi, terutama pada luka bakar di atas sendi yang tidak ditangani dengan baik, adalah kontraktur, yang merupakan pengencangan jaringan parut yang dapat membatasi gerakan.29 Meskipun bula itu sendiri bukan penyebab langsung komplikasi seperti jaringan parut atau kontraktur, penanganan yang tidak tepat yang menyebabkan infeksi atau penyembuhan yang tertunda dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi ini.

9. Peran Lapisan Kulit yang Membentuk Bula dalam Proses Penyembuhan Luka Bakar Derajat 2

Lapisan kulit yang membentuk bula pada luka bakar derajat 2, meskipun merupakan epidermis yang rusak dan mati, memainkan peran penting dalam proses penyembuhan luka. Cairan di dalam bula, yang terdiri dari serum atau plasma, mengandung berbagai komponen bioaktif seperti protein, sitokin, dan faktor pertumbuhan.6 Komponen-komponen ini berpotensi mendukung penyembuhan luka dengan memfasilitasi proliferasi sel, pembentukan pembuluh darah baru (angiogenesis), dan proses inflamasi yang teratur. Beberapa penelitian bahkan menyarankan bahwa aplikasi topikal cairan bula yang diambil dari pasien yang sama (autologous) dapat meningkatkan kecepatan penyembuhan luka.6 Namun, penting untuk dicatat bahwa ada juga bukti yang bertentangan yang menunjukkan bahwa cairan bula dapat memiliki efek negatif pada penyembuhan, seperti menghambat replikasi keratinosit dan meningkatkan respons inflamasi.6 Oleh karena itu, peran pasti cairan bula dalam penyembuhan luka masih menjadi topik penelitian dan perdebatan.

Selain peran cairan di dalamnya, lapisan kulit bula itu sendiri berfungsi sebagai pembalut biologis alami yang melindungi lapisan dermis di bawahnya yang lebih rentan dari kontaminasi bakteri dan trauma mekanis.4 Dengan membiarkan lapisan kulit bula tetap utuh, risiko bakteri masuk ke luka dapat diminimalkan, sehingga mengurangi kemungkinan infeksi. Selain itu, lapisan ini juga membantu menjaga kelembaban pada luka, yang penting untuk mencegah pengeringan dermis dan mendukung migrasi sel-sel epitel baru yang diperlukan untuk re-epitelisasi dan penutupan luka. Fungsi protektif lapisan kulit bula inilah yang menjadi alasan utama di balik rekomendasi dari banyak organisasi kesehatan untuk tidak memecah bula kecil secara rutin pada luka bakar derajat 2.

10. Kesimpulan dan Rekomendasi

Manajemen bula pada luka bakar derajat 2 merupakan aspek penting dalam perawatan luka bakar yang memerlukan pertimbangan yang cermat. Bukti medis terkini dan pedoman global menunjukkan bahwa terdapat kecenderungan untuk merekomendasikan pendekatan konservatif dalam penanganan bula kecil yang tidak tegang atau mengganggu fungsi, yaitu dengan membiarkannya tetap utuh untuk melindungi dari infeksi. Pedoman WHO sedikit berbeda, menyarankan debridemen bula kecuali pada luka bakar yang sangat kecil. Evolusi praktik perawatan luka bakar menunjukkan pergeseran pemahaman tentang peran bula dalam penyembuhan dan risiko infeksi, dengan penelitian yang terus berlanjut untuk memberikan panduan yang lebih jelas.

Keberadaan bula memang menambahkan pertimbangan khusus dalam perawatan luka bakar derajat 2, tetapi prinsip-prinsip dasar perawatan luka bakar seperti pendinginan awal, pembersihan luka, menjaga kelembaban, dan peredaan nyeri tetap berlaku. Memecah bula memiliki potensi keuntungan dalam mengurangi tekanan dan memfasilitasi pembersihan pada bula yang besar, tetapi kerugian utamanya adalah peningkatan risiko infeksi. Cairan di dalam bula mengandung berbagai komponen yang berpotensi berperan dalam penyembuhan, tetapi efek pastinya masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Lapisan kulit bula yang mati berfungsi sebagai pelindung alami bagi luka.

Berdasarkan analisis literatur dan pedoman yang tersedia, rekomendasi praktis dan berbasis bukti untuk penanganan optimal bula pada luka bakar derajat 2 adalah sebagai berikut:

  • Untuk luka bakar derajat 2 dengan bula kecil yang tidak tegang atau mengganggu fungsi, sebaiknya dibiarkan tetap utuh.4
  • Area luka bakar harus dijaga kebersihannya dengan mencuci lembut menggunakan sabun dan air setiap hari.18
  • Setelah dibersihkan, oleskan lapisan tipis salep antibiotik atau petroleum jelly untuk menjaga kelembaban luka 2 dan tutup dengan perban steril non-lengket.2
  • Perban harus diganti setiap hari atau lebih sering jika basah atau kotor.2
  • Hindari memecah bula secara sengaja. Jika bula pecah dengan sendirinya, bersihkan area tersebut dengan lembut dan oleskan salep antibiotik.2
  • Untuk bula yang besar, tegang, atau terletak di area fungsional, pertimbangkan untuk mengalirkan cairan dengan teknik steril oleh profesional kesehatan untuk mengurangi tekanan dan meningkatkan mobilitas, sambil tetap menjaga lapisan kulit bula sebagai penutup.3
  • Pasien harus diedukasi mengenai tanda-tanda infeksi dan kapan harus mencari bantuan medis profesional.5

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mencapai konsensus yang lebih kuat mengenai penanganan optimal bula yang besar pada luka bakar derajat 2. Pedoman di masa depan mungkin perlu mempertimbangkan ukuran, lokasi, dan karakteristik spesifik bula dalam memberikan rekomendasi yang lebih terperinci.

OrganisasiRekomendasi untuk Bula KecilRekomendasi untuk Bula BesarAlasan di Balik Rekomendasi
Mayo Clinic 20Jangan dipecahJika pecah, bersihkan dan oleskan antibiotikMelindungi dari infeksi
Cleveland Clinic 22Jaga tetap tertutupJika pecah, tutup dengan perbanMencegah infeksi
Kaiser Permanente 19Jangan dipecahTidak disebutkan secara spesifikBula terbuka mudah terinfeksi
Shriners Children’s 4Biarkan utuhTidak disebutkan secara spesifikLapisan epidermis mati melindungi dermis
Temple Health 5Jangan dipecah (untuk luka bakar kecil)Tidak disebutkan secara spesifikUmum untuk luka bakar ringan
MyHealth Alberta 18Jangan dipecahTidak disebutkan secara spesifikBula terbuka mudah terinfeksi
WHO 29Debridemen (kecuali luka bakar sangat kecil)DebridemenMempercepat penyembuhan, mencegah infeksi
ABA 28Tidak disebutkan secara spesifikTidak disebutkan secara spesifikFokus pada rujukan untuk luka bakar yang lebih parah

Karya yang dikutip

  1. Burn Classification – StatPearls – NCBI Bookshelf, diakses April 4, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK539773/
  2. Proper Wound Care After a Burn Injury | MSKTC, diakses April 4, 2025, https://msktc.org/burn/factsheets/wound-care-after-burn-injury
  3. Outpatient Burns: Prevention and Care – AAFP, diakses April 4, 2025, https://www.aafp.org/pubs/afp/issues/2012/0101/p25.html
  4. Second-Degree Burn Symptoms and Treatment | Shriners Children’s, diakses April 4, 2025, https://www.shrinerschildrens.org/en/pediatric-care/second-degree-burns
  5. Burn Severity and Treatment | Temple Health, diakses April 4, 2025, https://www.templehealth.org/services/burn/how-to-treat-burn/severity
  6. Role of Burn Blister Fluid in Wound Healing – PMC, diakses April 4, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8611715/
  7. Blister – Wikipedia, diakses April 4, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Blister
  8. Burn Blisters: What to Do and What Not to Do – Verywell Health, diakses April 4, 2025, https://www.verywellhealth.com/burn-blister-5210466
  9. http://www.healthline.com, diakses April 4, 2025, https://www.healthline.com/health/bullae#:~:text=Bullae%20is%20plural%20for%20bulla,restrict%20movement%2C%20or%20contain%20blood.
  10. Bullae: Pictures, Causes, Symptoms, Treatments, and More – Healthgrades Health Library, diakses April 4, 2025, https://resources.healthgrades.com/right-care/skin-hair-and-nails/bullae
  11. Bullae: Pictures, Treatment, Symptoms, and More – Healthline, diakses April 4, 2025, https://www.healthline.com/health/bullae
  12. Bullae – Causes, Symptoms, Treatment, Pictures – SkyMD, diakses April 4, 2025, https://www.skymd.com/conditions/skin-lesions/bullae
  13. Blistering skin conditions – DermNet, diakses April 4, 2025, https://dermnetnz.org/topics/blistering-skin-conditions
  14. Role of Burn Blister Fluid in Wound Healing – PubMed, diakses April 4, 2025, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/34908785/
  15. Role of Burn Blister Fluid in Wound Healing – ResearchGate, diakses April 4, 2025, https://www.researchgate.net/publication/357093693_Role_of_Burn_Blister_Fluid_in_Wound_Healing
  16. Management of Burn Blisters in Urgent Care, diakses April 4, 2025, https://www.jucm.com/wp-content/uploads/2023/02/2022-161013-18-Clinical-1.pdf
  17. Should I debride burn blisters? – First10EM, diakses April 4, 2025, https://first10em.com/should-i-debride-burn-blisters/
  18. Home Treatment for Second-Degree Burns – MyHealth Alberta, diakses April 4, 2025, https://myhealth.alberta.ca/Health/pages/conditions.aspx?hwid=sig256965
  19. Home Treatment for Second-Degree Burns | Kaiser Permanente, diakses April 4, 2025, https://healthy.kaiserpermanente.org/health-wellness/health-encyclopedia/he.home-treatment-for-second-degree-burns.sig256965
  20. Burns – Diagnosis and treatment – Mayo Clinic, diakses April 4, 2025, https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/burns/diagnosis-treatment/drc-20370545
  21. Burns: First aid – Mayo Clinic, diakses April 4, 2025, https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-burns/basics/art-20056649
  22. 2nd-Degree Burn: What It Looks Like, Treatment & Healing – Cleveland Clinic, diakses April 4, 2025, https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/24527-second-degree-burn
  23. Clinical Practice Guidelines : Burns – Acute Management – The Royal Children’s Hospital, diakses April 4, 2025, https://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/burns/
  24. Burns dressings – RACGP, diakses April 4, 2025, https://www.racgp.org.au/afp/2017/march/burns-dressings
  25. Treatment for burn blisters: Debride or leave intact? – ResearchGate, diakses April 4, 2025, https://www.researchgate.net/publication/262148597_Treatment_for_burn_blisters_Debride_or_leave_intact
  26. To drain or not to drain? – That is the question – Cambridge Media Journals, diakses April 4, 2025, https://journals.cambridgemedia.com.au/download_file/3326/2093
  27. Seeking clarity in minor burn management – Wounds UK, diakses April 4, 2025, https://wounds-uk.com/wp-content/uploads/2023/02/content_11587.pdf
  28. Burn Evaluation and Management – StatPearls – NCBI Bookshelf, diakses April 4, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430741/
  29. Burn Management, diakses April 4, 2025, https://www.who.int/docs/default-source/integrated-health-services-%28ihs%29/csy/surgical-care/imeesc-toolkit/best-practice-safety-protocols/burn-management.pdf
  30. Burn Care and Prevention – American Burn Association, diakses April 4, 2025, https://ameriburn.org/quality-care/disaster-response/burn-care-and-prevention/
  31. Management of Burn Blisters in Urgent Care, diakses April 4, 2025, https://www.jucm.com/management-of-burn-blisters-in-urgent-care/
  32. The assessment and treatment of burn wounds in the Asia-Pacific(APAC) region: Consensus meeting report, diakses April 4, 2025, https://woundsinternational.com/consensus-documents/the-assessment-and-treatment-ofburn-wounds-in-the-asia-pacificapac-region-consensus-meeting-report/
  33. History of burns: The past, present and the future – PMC – PubMed Central, diakses April 4, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4978094/
  34. Burn – Wikipedia, diakses April 4, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Burn
  35. Burn Management in the ED – Emergency Medicine – Washington University, diakses April 4, 2025, https://emergencymedicine.wustl.edu/items/burn-management-in-the-ed/
  36. Burn Debridement, Grafting, and Reconstruction – StatPearls – NCBI Bookshelf, diakses April 4, 2025, https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551717/
  37. Handling Burn Blisters: Best Practices And Precautions, diakses April 4, 2025, https://www.fasttrackurgentcare.com/handling-burn-blisters-best-practices-and-precautions/
  38. Second-Degree Burn in Children – Content – Health Encyclopedia – University of Rochester Medical Center, diakses April 4, 2025, https://www.urmc.rochester.edu/encyclopedia/content?ContentTypeID=90&ContentID=P01757

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar