
Pendahuluan
Indonesia, sebagai negara tropis dengan keanekaragaman hayati yang melimpah, memiliki populasi ular yang signifikan, termasuk sejumlah spesies yang berbisa dan berpotensi mematikan. Interaksi antara manusia dan ular sering terjadi, terutama di lingkungan pertanian dan pedesaan, yang mengakibatkan kasus gigitan ular menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting.1 Insiden gigitan ular di Indonesia dilaporkan cukup tinggi setiap tahunnya, membawa konsekuensi morbiditas dan mortalitas yang signifikan.3 Dr. Tri Maharani memperkirakan terdapat sekitar 135.000 kasus gigitan ular per tahun di Indonesia, dengan tingkat kematian mencapai 10%.4
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengakui gigitan ular sebagai penyakit tropis terabaikan, menyoroti perlunya peningkatan perhatian dan alokasi sumber daya untuk mengatasi masalah ini.2 Meskipun demikian, data epidemiologi komprehensif mengenai gigitan ular di Indonesia masih terbatas, menghambat pengembangan program pencegahan dan intervensi yang efektif.2 Perbedaan antara perkiraan kasus dan kasus yang dilaporkan mengindikasikan adanya potensi pelaporan yang kurang, kemungkinan disebabkan oleh kebiasaan masyarakat yang lebih memilih pengobatan tradisional atau keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan di daerah terpencil.5
Pedoman tata laksana ini bertujuan untuk menyediakan panduan yang terstandarisasi, berbasis bukti, dan praktis untuk penanganan gigitan ular di seluruh tingkatan fasilitas kesehatan di Indonesia. Pedoman ini akan mensintesis peraturan nasional terkini, literatur ilmiah, dan konsensus para ahli untuk memastikan bahwa informasi yang disajikan relevan dan mutakhir dengan konteks Indonesia. Ruang lingkup pedoman ini mencakup semua aspek penanganan gigitan ular, mulai dari pertolongan pertama, penanganan di rumah sakit, penggunaan antibisa ular, penanganan komplikasi, hingga strategi pencegahan. Diharapkan pedoman ini dapat menjadi sumber informasi yang berharga bagi para profesional kesehatan, pejabat kesehatan masyarakat, dan pembuat kebijakan yang terlibat dalam penanganan gigitan ular di Indonesia.
Kerangka Regulasi Nasional Penanganan Gigitan Ular di Indonesia
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kesehatan, telah mengeluarkan beberapa regulasi dan pedoman yang berkaitan dengan penanganan penyakit akibat hewan berbisa, termasuk gigitan ular. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/1114/2022 tentang Tim Pengkajian Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Akibat Hewan Berbisa dan Tumbuhan Beracun 1 merupakan salah satu langkah penting. Pembentukan tim ini menunjukkan pengakuan tingkat nasional terhadap masalah gigitan ular dan upaya untuk mengorganisir respons melalui tim yang berdedikasi. Temuan dan rekomendasi tim ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan pedoman nasional penanganan gigitan ular.
Selain itu, Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 48 Tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran 12, meskipun fokus utamanya adalah pada keselamatan kerja di perkantoran, mencakup prinsip-prinsip umum keselamatan dan kesehatan yang secara tidak langsung dapat berkaitan dengan pencegahan gigitan ular di lingkungan kerja tertentu, seperti perkebunan atau area pertanian. Regulasi ini menunjukkan perhatian Kementerian Kesehatan terhadap keselamatan dan kesehatan secara luas, yang dapat diperluas untuk mencakup upaya pencegahan gigitan ular di lingkungan kerja yang berisiko.
Dokumen yang paling relevan dan komprehensif adalah Buku Pedoman Penanganan Gigitan, Sengatan Hewan Berbisa Dan Keracunan Tumbuhan serta Jamur Tahun 2023 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan.4 Pedoman nasional ini secara khusus membahas gigitan ular, menyediakan informasi mengenai epidemiologi, pencegahan, penguatan sistem kesehatan, penanganan (pertolongan pertama, antibisa ular, perawatan suportif), pengurangan risiko, edukasi publik, identifikasi ular, patofisiologi bisa ular, penanganan klinis, pemeriksaan penunjang, serta penanganan gigitan hewan berbisa dan keracunan tumbuhan lainnya. Pedoman ini merupakan landasan utama protokol nasional penanganan gigitan ular di Indonesia dan mencakup sebagian besar aspek yang ditanyakan oleh pengguna. Struktur dokumen ini 13 memberikan kerangka kerja yang kuat untuk laporan ini.
Pedoman tata laksana gigitan ular ini harus selaras dengan standar pelayanan medis dan protokol yang berlaku di Indonesia, terutama yang digariskan dalam pedoman Kementerian Kesehatan tahun 2023.17 Standar pelayanan medis untuk perawatan gawat darurat harus mencakup protokol untuk penanganan gigitan ular sebagai kondisi medis yang memerlukan perhatian segera. Pedoman Kementerian Kesehatan kemungkinan besar menguraikan protokol spesifik untuk berbagai tingkatan fasilitas kesehatan, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit. Keseimbangan dengan standar dan protokol yang ada akan memfasilitasi adopsi pedoman ini oleh para profesional kesehatan.
Spektrum Ular Berbisa di Indonesia: Identifikasi dan Efek Toksikologi
Indonesia memiliki keanekaragaman ular yang tinggi, dengan sekitar 77 spesies berbisa dari total 350-370 spesies yang ada.2 Ular berbisa di Indonesia sebagian besar termasuk dalam famili Elapidae (kobra, weling, ular laut, ular karang) dan Viperidae (ular bandotan).18 Distribusi geografis antar spesies sangat bervariasi, beberapa di antaranya endemik di pulau atau wilayah tertentu.18 Misalnya, Taipan (ular cokelat Papua) hanya ditemukan di Papua.18 Pemahaman tentang distribusi geografis berbagai spesies ular berbisa sangat penting bagi para profesional kesehatan di wilayah tertentu untuk mengantisipasi potensi kasus gigitan dan memastikan ketersediaan antibisa yang sesuai.
Karakteristik morfologi tertentu dapat membantu mengidentifikasi ular berbisa yang umum. Secara umum, ular berbisa memiliki taring.18 Fitur spesifik membantu mengidentifikasi ular berbisa umum seperti kobra (memiliki tudung), weling (gelang tubuh yang khas), dan ular bandotan (kepala berbentuk segitiga, lubang pengindera panas).18 Buku pedoman Kementerian Kesehatan tahun 2023 menyediakan deskripsi dan ilustrasi terperinci untuk membantu identifikasi.13 Menyediakan panduan identifikasi yang jelas dan ringkas, mungkin dengan bantuan visual, akan memberdayakan petugas kesehatan dan masyarakat untuk mengenali ular yang berpotensi berbahaya, sehingga membantu dalam penilaian risiko dan pengobatan.
Bisa ular adalah campuran kompleks yang mengandung berbagai enzim dan toksin yang dapat memiliki efek neurotoksik, hemotoksik, sitotoksik, dan kardiotoksik.6 Neurotoksin menyerang sistem saraf, menyebabkan kelumpuhan (misalnya, pada gigitan weling, ular laut, dan beberapa jenis kobra).19 Hemotoksin mempengaruhi darah dan pembekuan, menyebabkan gangguan perdarahan dan kerusakan jaringan (misalnya, pada gigitan ular bandotan dan beberapa jenis kobra).6 Sitotoksin menyebabkan kerusakan jaringan lokal dan nekrosis (misalnya, pada gigitan beberapa jenis kobra dan ular bandotan).6 Kardiotoksin mempengaruhi jantung (misalnya, pada gigitan beberapa jenis kobra).5 Manifestasi klinis bervariasi tergantung pada jenis bisa dan jumlah yang disuntikkan, mulai dari pembengkakan dan nyeri lokal hingga gejala sistemik seperti kelumpuhan, kesulitan bernapas, perdarahan, dan gagal ginjal.26 Gigitan kering (tanpa injeksi bisa) dapat terjadi pada sebagian besar gigitan, bahkan dari ular berbisa.35 Memahami berbagai jenis bisa dan efeknya sangat penting untuk memprediksi perjalanan klinis envenomasi dan memandu pengobatan yang tepat, termasuk kebutuhan akan antibisa spesifik atau tindakan suportif.
Tabel berikut merangkum beberapa ular berbisa umum di Indonesia, ciri-ciri utama mereka, dan efek bisa yang dominan:
| Nama Umum | Nama Latin | Ciri-ciri Utama | Efek Bisa Dominan | Distribusi Geografis |
| Kobra Jawa | Naja sputatrix | Kepala dapat mengembang seperti sendok, umumnya hitam | Neurotoksik, sitotoksik, kardiotoksik | Jawa, Bali, Madura, Lombok, Sumbawa, Flores, Alor |
| Kobra Sumatera | Naja sumatrana | Mirip kobra jawa, habitat di wilayah terbuka | Neurotoksik, sitotoksik, kardiotoksik | Sumatera, Bangka, Belitung, Kalimantan |
| Weling | Bungarus candidus | Gelang hitam-putih pada tubuh | Neurotoksik | Sumatera, Jawa, Bali |
| Welang | Bungarus fasciatus | Gelang kuning-hitam pada tubuh, ekor tumpul | Neurotoksik | Sumatera, Jawa, Bali |
| Ular Tanah/Gibug | Calloselesma rhodostoma | Warna cokelat mirip daun kering, tidak agresif | Hemotoksik | Jawa, Bawean, Madura, Kangean, Kalimantan Barat |
| Ular Hijau Ekor Merah | Trimeresurus albolabris | Warna hijau terang, ujung ekor merah atau cokelat | Hemotoksik | Sumatera, Jawa Barat dan Tengah, Kulonprogo (DIY), Bali |
| Ular Picung | Rhabdophis subminiatus | Warna cokelat, leher merah mencolok | Hemotoksik (menyebabkan perdarahan) | Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi |
| Taipan (Cokelat Papua) | Oxyuranus scutellatus | Ukuran bisa besar, sangat berbisa | Neurotoksik (sangat kuat) | Papua |
| Death Adder Papua | Acanthophis laevis | Tubuh buntet, kepala segitiga, mirip ular gibug | Neurotoksik (lebih kuat dari kobra) | Papua |
| Ular Bandotan Puspa | Daboia siamensis | Buntet, kepala segitiga, pola cokelat jelas | Hemotoksik | Simalur, Mentawai, Sumatra, Natuna, Jawa |
Informasi dalam tabel ini, yang disintesis dari berbagai sumber 18, akan berfungsi sebagai panduan referensi cepat bagi para profesional kesehatan untuk mengidentifikasi ular berbisa umum di Indonesia dan mengantisipasi kemungkinan efek gigitannya, membantu dalam penilaian dan penanganan klinis yang cepat.
Tata Laksana Gigitan Ular: Alur dan Prosedur Klinis
Pertolongan Pertama di Tempat Kejadian:
Prinsip utama pertolongan pertama pada kasus gigitan ular adalah memastikan keamanan korban dan penolong, menjaga korban tetap tenang, dan mencegah penyebaran bisa lebih lanjut.17 Korban harus ditenangkan untuk mengurangi kecemasan yang dapat mempercepat denyut jantung dan penyebaran bisa.9 Upayakan agar korban tidak banyak bergerak, terutama pada bagian tubuh yang digigit, untuk mencegah penyerapan bisa yang lebih cepat ke dalam sistem limfatik.9
Langkah-langkah praktis pertolongan pertama yang direkomendasikan meliputi imobilisasi bagian tubuh yang digigit menggunakan bidai atau gendongan.9 Imobilisasi dengan perban tekan (Pressure Bandage Immobilization – PBI) dapat dipertimbangkan untuk gigitan ular neurotoksik jika waktu tempuh ke fasilitas kesehatan diperkirakan lama.17 Jika memungkinkan, posisikan bagian tubuh yang digigit lebih rendah dari jantung.25 Lepaskan semua perhiasan atau pakaian ketat dari bagian tubuh yang digigit karena potensi pembengkakan.9 Bersihkan luka dengan air dan sabun jika tersedia, namun jangan menggosok atau memanipulasi luka secara berlebihan.26 Segera bawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat secepat dan seaman mungkin.9 Jika aman, usahakan untuk mengidentifikasi ular yang menggigit (ingat ciri-cirinya atau ambil foto) untuk membantu penanganan medis.17 Membawa ular yang sudah mati (jika aman) juga dapat membantu identifikasi.17 Tutup luka dengan perban kering yang bersih.25
Beberapa praktik yang harus dihindari dalam pertolongan pertama gigitan ular antara lain tidak membuat sayatan atau memotong luka 9, tidak mencoba menghisap bisa dengan mulut 9, tidak memasang torniquet ketat karena dapat memperparah kerusakan jaringan lokal 9 (tekanan ringan dengan perban elastis mungkin diperlukan dalam beberapa kasus 9), tidak mengoleskan es atau panas pada luka 35, tidak memberikan pengobatan herbal tradisional atau pengobatan lain yang tidak terbukti 9, tidak membiarkan korban berjalan atau bergerak tanpa perlu 38, dan tidak memberikan obat pereda nyeri selain paracetamol jika diperlukan untuk nyeri lokal 17 (hindari NSAID karena risiko perdarahan 17).
Penanganan di Fasilitas Kesehatan:
Gigitan ular merupakan kegawatdaruratan medis yang memerlukan penanganan segera di fasilitas kesehatan.17 Langkah awal adalah melakukan triase dan asesmen awal pasien, termasuk penilaian jalan napas, pernapasan, dan sirkulasi (ABC) serta stabilisasi kondisi pasien jika diperlukan.17 Riwayat penyakit yang lengkap harus diperoleh, termasuk waktu kejadian gigitan, keadaan saat kejadian, deskripsi ular (jika memungkinkan), pertolongan pertama yang telah diberikan, dan gejala yang dialami pasien.17 Pemeriksaan fisik menyeluruh harus dilakukan, dengan fokus pada area gigitan (pembengkakan, nyeri, perdarahan, nekrosis) dan tanda-tanda envenomasi sistemik.17 Batas pembengkakan harus ditandai dan dipantau perkembangannya.17 Tingkat keparahan envenomasi harus dinilai berdasarkan tanda lokal, gejala sistemik, dan hasil pemeriksaan laboratorium.25 Klasifikasi Luck dapat digunakan untuk menentukan derajat envenomasi.25
Evaluasi klinis dan pemeriksaan fisik yang lebih rinci meliputi anamnesis yang mendalam mengenai lokasi gigitan, waktu gigitan, aktivitas saat digigit, deskripsi ular, dan gejala saat ini.17 Pemeriksaan fisik dimulai dari area gigitan, mencari pembengkakan, nyeri tekan, drainase limfonodi, memar, dan tanda-tanda nekrosis.17 Palpasi harus dimulai dari bagian proksimal area yang digigit.35 Penilaian tanda-tanda sistemik seperti muntah, penurunan kesadaran, pingsan, perdarahan dari bekas gigitan, dan reaksi anafilaksis juga penting.17 Pemeriksaan penunjang seperti 20-minute whole blood clotting test (20WBCT) dapat digunakan untuk kasus dugaan gigitan ular bandotan di fasilitas dengan sumber daya terbatas untuk menilai koagulopati.13
Penggunaan serum antibisa ular (SABU) merupakan terapi definitif untuk envenomasi sistemik dan envenomasi lokal progresif yang signifikan.10 SABU harus diberikan sesegera mungkin jika ada indikasi.17 Penundaan pemberian dapat mengurangi efektivitasnya.28 Namun, pemberian yang tertunda hingga 24 jam pada gigitan ular bandotan masih mungkin bermanfaat untuk gangguan koagulasi.28 Indikasi pemberian SABU meliputi tanda-tanda sistemik envenomasi (misalnya, perdarahan, koagulopati, tanda-tanda neurotoksik, kelainan kardiovaskular, cedera ginjal akut, mioglobinuria) dan pembengkakan lokal yang signifikan.17 Pembengkakan lokal lebih dari setengah anggota gerak yang digigit dalam 48 jam juga mengindikasikan kebutuhan akan SABU.17
Satu-satunya antibisa yang diproduksi secara lokal di Indonesia adalah Serum Anti Bisa Ular (SABU) polivalen, yang diproduksi oleh Biofarma dan efektif terhadap bisa neurotoksik dari Naja sputatix, Bungarus fasciatus, dan Calloselasma rhodostoma.10 Dosis awal SABU biasanya adalah 2 vial (10 ml) yang diencerkan dalam 100 ml NaCl 0,9% dan diberikan melalui infus intravena lambat selama 30-60 menit.35 Beberapa pedoman menyarankan untuk mencampurkan 2 vial dalam 500 ml larutan Hartmann.35 WHO merekomendasikan pelarutan dalam 5 ml cairan isotonik per kg berat badan atau sekitar 250 ml untuk orang dewasa.25 Pemberian dapat dilakukan melalui injeksi intravena lambat (tidak lebih dari 2 ml/menit) atau infus intravena.17 Pemberian intramuskular tidak dianjurkan karena bioavailabilitas yang buruk dan potensi nyeri serta peningkatan penyerapan bisa.28 Pemberian intraosseus dapat digunakan pada anak-anak dalam kondisi emergensi.28 Dosis untuk anak-anak dan dewasa sama karena jumlah bisa yang masuk biasanya serupa.28 Dosis ulangan mungkin diperlukan setiap 6-8 jam tergantung pada respons pasien dan tingkat keparahan envenomasi.28 Perhatikan tanda-tanda “revenomasi”.43 Persiapan untuk potensi reaksi anafilaksis harus dilakukan sebelum pemberian SABU, termasuk ketersediaan epinefrin.35 Pasien harus dipantau ketat setidaknya selama satu jam setelah pemberian.35 Penggunaan SABU yang tidak tepat harus dihindari karena biaya dan ketersediaannya yang terbatas.10
Terapi suportif dan penanganan komplikasi awal sangat penting. Pastikan oksigenasi yang adekuat (3-5 liter/menit) dan pertimbangkan intubasi serta ventilasi mekanis jika terjadi gagal napas akibat envenomasi neurotoksik.35 Pasang akses intravena dan berikan cairan intravena (misalnya, normal saline) untuk mempertahankan tekanan darah.39 Pantau tanda-tanda vital secara ketat.39 Pertimbangkan posisi Trendelenburg untuk hipotensi.35 Berikan profilaksis tetanus (ATS atau imunoglobulin tetanus manusia).17 Berikan analgesia untuk nyeri, hindari NSAID karena risiko perdarahan.17 Morfin dapat digunakan untuk nyeri berat.43 Paracetamol dapat diberikan untuk nyeri lokal.33 Pertimbangkan antibiotik profilaksis untuk luka nekrotik atau luka dengan manipulasi non-steril.17 Tangani perawatan luka lokal, termasuk aspirasi bula besar jika terancam pecah dan debridemen bedah untuk abses guna mencegah sepsis.17 Hindari intervensi pada luka gigitan yang dapat meningkatkan infeksi atau perdarahan.35 Untuk envenomasi neurotoksik akibat gigitan kobra, pertimbangkan obat antikolinesterase (neostigmin) yang didahului dengan atropin.17 Penyesuaian dosis diperlukan untuk dewasa dan anak-anak.17 Neostigmin dapat diulang setiap 20 menit hingga kekuatan otot pulih, kemudian setiap 2-4 jam sesuai kebutuhan.28 Atasi demam dengan antipiretik seperti paracetamol dan tindakan pendinginan.35
Penanganan di rumah sakit memerlukan pendekatan sistematis, memprioritaskan stabilisasi, penilaian yang akurat, dan pemberian SABU tepat waktu jika diindikasikan, bersama dengan perawatan suportif yang sesuai untuk mencegah dan menangani potensi komplikasi. Protokol yang jelas di fasilitas kesehatan memastikan bahwa pasien menerima intervensi yang diperlukan dengan cepat dan efektif, memaksimalkan peluang pemulihan dan meminimalkan hasil yang merugikan.
Ketersediaan dan Karakteristik Serum Anti Bisa Ular (SABU) di Indonesia
Antibisa utama yang tersedia di Indonesia adalah SABU polivalen yang diproduksi oleh Biofarma, efektif terhadap bisa kobra (Naja sputatix), weling (Bungarus fasciatus), dan ular tanah (Calloselasma rhodostoma).10 Antibisa ini bersifat trispesifik atau trivalen.10 Penelitian menunjukkan bahwa efektivitas SABU bervariasi terhadap berbagai jenis bisa ular. SABU efektif terhadap C. rhodostoma dan B. fasciatus tetapi menunjukkan netralisasi yang lebih lemah terhadap N. sputatix, N. sumatrana, dan B. candidus.10 Hanya ada satu jenis antibisa lokal yang tersedia di Indonesia.35 Keterbatasan spesifisitas dan efikasi SABU saat ini menyoroti perlunya potensi pengembangan atau pengadaan antibisa spesifik spesies untuk meningkatkan hasil pengobatan gigitan dari ular berbisa lain di Indonesia.
Laporan anekdotal menunjukkan bahwa SABU tidak tersedia secara luas di banyak wilayah negara, terutama di daerah pedesaan.10 Keterbatasan ketersediaan antibisa di beberapa daerah merupakan tantangan signifikan dalam penanganan gigitan ular.5 Di Papua, dilaporkan terjadi kekurangan antibisa.5 Meningkatkan distribusi dan aksesibilitas antibisa, terutama di daerah terpencil dan berisiko tinggi, sangat penting untuk memastikan pengobatan tepat waktu dan mengurangi mortalitas serta morbiditas yang terkait dengan gigitan ular.
Mengingat keterbatasan spesifisitas SABU, penilaian klinis berdasarkan tanda dan gejala envenomasi sangat penting untuk memandu penggunaannya.17 Jika ular berhasil diidentifikasi dan bukan salah satu dari tiga spesies yang dicakup oleh SABU, perawatan suportif menjadi lebih penting. Risiko reaksi hipersensitivitas terhadap SABU karena adanya impuritas harus selalu dipertimbangkan, dan kesiapan untuk anafilaksis sangat penting.10 Para profesional kesehatan perlu terlatih dengan baik dalam mengenali tanda dan gejala envenomasi oleh berbagai jenis ular yang lazim di wilayah mereka untuk membuat keputusan yang tepat mengenai penggunaan antibisa, bahkan ketika ular spesifik tidak teridentifikasi.
Potensi Komplikasi Gigitan Ular dan Strategi Penanganannya
Komplikasi lokal akibat gigitan ular dapat berupa nekrosis, infeksi, dan sindrom kompartemen.5 Kerusakan dan nekrosis jaringan lokal dapat terjadi, terutama pada bisa yang bersifat sitotoksik. Infeksi sekunder dapat berkembang di lokasi gigitan, terutama jika metode pertolongan pertama tradisional yang melibatkan manipulasi luka digunakan.9 Sindrom kompartemen (peningkatan tekanan di dalam kompartemen otot) merupakan komplikasi potensial akibat pembengkakan, memerlukan pemantauan ketat dan mungkin memerlukan fasiotomi dalam kasus yang parah setelah kelainan hemostatik dikoreksi.13 Pengenalan dini dan penanganan yang tepat terhadap komplikasi lokal sangat penting untuk meminimalkan disabilitas jangka panjang dan kebutuhan akan intervensi bedah seperti amputasi.
Komplikasi sistemik meliputi gangguan koagulasi, gagal ginjal akut, dan paralisis pernapasan.17 Bisa hemotoksik dapat menyebabkan gangguan perdarahan, yang mengarah pada perdarahan sistemik.6 Koagulasi intravaskular diseminata (KID) merupakan komplikasi parah yang potensial.45 Bisa nefrotoksik dapat menyebabkan cedera ginjal akut dan berpotensi gagal ginjal.17 Bisa neurotoksik dapat menyebabkan kelumpuhan otot, termasuk otot pernapasan, yang menyebabkan gagal napas dan kebutuhan akan ventilasi mekanis.17 Komplikasi sistemik lainnya dapat berupa kelainan kardiovaskular, syok, dan anafilaksis.17 Komplikasi sistemik mengancam jiwa dan memerlukan penanganan medis intensif, termasuk pemantauan ketat tanda-tanda vital, parameter laboratorium, dan fungsi organ, bersama dengan terapi suportif yang sesuai.
Pasien mungkin mengalami efek jangka panjang seperti nyeri, pembengkakan, dan gangguan fungsi pada anggota gerak yang terkena.34 Trauma psikologis, termasuk kecemasan dan ketakutan terhadap ular, juga dapat menjadi konsekuensi jangka panjang.2 Layanan rehabilitasi mungkin diperlukan untuk memulihkan fungsi dan meningkatkan kualitas hidup bagi para penyintas dengan disabilitas residual.39 Penanganan harus melampaui fase akut untuk mengatasi potensi sekuele fisik dan psikologis jangka panjang, menekankan perlunya perawatan lanjutan dan dukungan rehabilitasi.
Strategi Pencegahan Gigitan Ular di Indonesia
Edukasi dan kampanye peningkatan kesadaran masyarakat tentang ular berbisa, habitat, dan perilakunya dapat membantu mengurangi pertemuan dan gigitan.5 Menghilangkan mitos dan kesalahpahaman tentang ular dan pertolongan pertama pada gigitan ular sangat penting.3 Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya mencari pertolongan medis segera di fasilitas kesehatan daripada mengandalkan pengobatan tradisional juga esensial.5 Webinar Kementerian Kesehatan 47 dan buku pedoman 13 merupakan langkah penting dalam mengedukasi para profesional kesehatan. Kampanye kesehatan masyarakat harus menargetkan komunitas berisiko tinggi, seperti pekerja pertanian, dan menekankan tindakan pencegahan praktis serta respons yang tepat terhadap gigitan ular.
Praktik aman di lingkungan berisiko meliputi penggunaan alas kaki pelindung (sepatu bot) dan celana panjang di area yang banyak terdapat ular.6 Hindari berjalan di rumput tinggi atau vegetasi lebat tanpa perlindungan yang memadai.26 Berhati-hati saat bekerja di luar ruangan, terutama di ladang pertanian dan perkebunan.2 Penggunaan kelambu saat tidur terbukti efektif mencegah gigitan ular di malam hari.5 Jaga kebersihan rumah dan area sekitarnya dari sampah dan tikus, yang dapat menarik ular.26 Hindari memegang atau mendekati ular, bahkan jika terlihat mati.13 Gunakan tongkat atau alat lain untuk memindahkan benda daripada tangan di area yang mungkin terdapat ular.31 Mendorong dan menerapkan praktik aman ini di lingkungan berisiko tinggi dapat secara signifikan mengurangi kemungkinan gigitan ular, terutama di kalangan populasi rentan seperti pekerja pertanian.
Peran serta komunitas dan pemerintah daerah juga krusial. Komunitas dapat berperan dalam meningkatkan kesadaran dan mempromosikan tindakan pencegahan.7 Pemerintah daerah bertanggung jawab untuk memastikan ketersediaan antibisa di fasilitas kesehatan di wilayah mereka.5 Dukungan terhadap penelitian tentang bisa ular dan pengembangan antibisa yang relevan dengan wilayah mereka juga penting.5 Pembentukan sistem rujukan yang efisien bagi korban gigitan ular untuk mengakses perawatan medis yang tepat juga diperlukan.5 Upaya terkoordinasi yang melibatkan komunitas, pemerintah daerah, dan otoritas kesehatan nasional sangat penting untuk pencegahan dan penanganan gigitan ular yang efektif dalam skala yang lebih luas.
Kesimpulan dan Rekomendasi untuk Tata Laksana Gigitan Ular yang Lebih Baik di Indonesia
Beban gigitan ular di Indonesia masih tinggi dengan angka mortalitas dan morbiditas yang signifikan. Kementerian Kesehatan telah menerbitkan pedoman nasional pada tahun 2023. Namun, antibisa yang diproduksi secara lokal (SABU) memiliki spesifisitas terbatas dan tantangan dalam distribusinya. Identifikasi ular yang akurat, pertolongan pertama yang tepat, dan penanganan di rumah sakit yang tepat waktu sangat penting. Diperlukan perbaikan dalam data epidemiologi, ketersediaan antibisa, dan strategi pencegahan yang efektif.
Untuk tata laksana gigitan ular yang lebih baik di Indonesia, beberapa rekomendasi dapat diajukan:
- Perkuat sistem surveilans nasional untuk gigitan ular guna memperoleh data epidemiologi yang akurat.
- Tingkatkan produksi, distribusi, dan aksesibilitas antibisa, terutama di daerah pedesaan dan berisiko tinggi. Jelajahi kelayakan pengembangan atau pengadaan antibisa spesifik spesies.
- Tingkatkan pelatihan bagi para profesional kesehatan di semua tingkatan mengenai identifikasi ular berbisa, penanganan klinis gigitan ular, dan pemberian antibisa yang tepat.
- Implementasikan kampanye edukasi kesehatan masyarakat yang komprehensif untuk meningkatkan kesadaran tentang pencegahan gigitan ular dan tindakan pertolongan pertama yang tepat.
- Dukung penelitian lebih lanjut tentang komposisi bisa ular, pengembangan antibisa (termasuk potensi pengobatan alternatif seperti ekstrak biji asam jawa untuk spesies tertentu 51), dan efektivitas protokol pengobatan saat ini dalam konteks Indonesia.
- Integrasikan penanganan gigitan ular ke dalam kurikulum sekolah kedokteran dan keperawatan.
- Dirikan pusat pengendalian racun khusus dengan keahlian dalam toksikologi dan penanganan gigitan ular.5
- Promosikan inisiatif berbasis komunitas untuk pencegahan dan kesadaran gigitan ular.
- Kembangkan protokol nasional yang jelas dan terstandarisasi untuk penanganan gigitan ular di berbagai tingkatan fasilitas kesehatan, selaras dengan pedoman WHO.53
- Lakukan penelitian lebih lanjut tentang dampak sosio-ekonomi gigitan ular di Indonesia untuk mengadvokasi peningkatan sumber daya dan perhatian terhadap penyakit tropis terabaikan ini.2
Rekomendasi ini menekankan pendekatan multi-aspek yang melibatkan peningkatan pengumpulan data, peningkatan kapasitas layanan kesehatan, edukasi publik, dan penelitian berkelanjutan untuk secara signifikan mengurangi beban gigitan ular di Indonesia. Mengatasi masalah kompleks ini memerlukan intervensi di berbagai tingkatan, mulai dari memperkuat sistem kesehatan dan memberdayakan masyarakat hingga mendukung kemajuan ilmiah dalam pengobatan dan pencegahan.
Karya yang dikutip
- -1 – Rancangan KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.01.07/MENKES/1114/2022 TENTANG TIM PENGKAJIAN PENCEGAHAN – Pusat Krisis, diakses April 4, 2025, https://pusatkrisis.kemkes.go.id/download/etgpZ/files16798KMK_No._HK.01.07-MENKES-1114-2022_ttg_Tim_Pengkajian_Pencegahan_dan_Pengendalian_Penyakit_Akibat_Hewan_Berbisa_dan_Tumbuhan_Beracun-signed.pdf
- Neglected Tropical Diseases (NTDs) are widespread in the world’s – Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Indonesia, diakses April 4, 2025, https://journal.uii.ac.id/JKKI/article/download/23904/13683/67789
- perancangan buku saku edukasi – panduan penanganan ular berbisa – Digilib, diakses April 4, 2025, http://digilib.isi.ac.id/19310/2/MUHAMMAD%20RAIHAN%20PRATAMA_2025_BAB%20I.pdf
- Buku Pedoman Penanganan Gigitan, Sengatan Hewan Berbisa dan Keracunan Tumbuhan dan Jamur – WJCTF, diakses April 4, 2025, https://conservation.id/2023/05/30/buku-pedoman-penanganan-gigitan-sengatan-hewan-berbisa-dan-keracunan-tumbuhan-dan-jamur/
- Sleeping with Mosquito Net Effectively Prevents Venomous Snake …, diakses April 4, 2025, https://ugm.ac.id/en/news/sleeping-with-mosquito-net-effectively-prevents-venomous-snake-bites/
- Haemotoxic snake venoms: their functional activity, impact on snakebite victims and pharmaceutical promise – PubMed Central, diakses April 4, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5484289/
- Snakebite Envenomation, Attitudes, and Behavior toward Snakes in …, diakses April 4, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC9404431/
- Snakebite in Indonesia | Adiwinata – Acta Medica Indonesiana, diakses April 4, 2025, https://www.actamedindones.org/index.php/ijim/article/view/30
- systematic literature review (slr): pertolongan pertama pada gigitan ular – ResearchGate, diakses April 4, 2025, https://www.researchgate.net/publication/377721094_SYSTEMATIC_LITERATURE_REVIEW_SLR_PERTOLONGAN_PERTAMA_PADA_GIGITAN_ULAR
- Assessing SABU (Serum Anti Bisa Ular), the sole Indonesian …, diakses April 4, 2025, https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC5116744/
- Situation of snakebite, antivenom market and access to antivenoms in ASEAN countries, diakses April 4, 2025, https://gh.bmj.com/content/7/3/e007639
- PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PERKANTORAN D, diakses April 4, 2025, https://peraturan.bpk.go.id/Home/Download/104043/Permenkes%20Nomor%2048%20Tahun%202016.pdf
- kareumbi.wordpress.com, diakses April 4, 2025, https://kareumbi.wordpress.com/wp-content/uploads/2023/05/buku-pedoman-penangganan-hewan-berbisa-dantumbuhan.pdf
- buku penanganan gigitan,sengatan binatang berbisa dan keracunan tumbuhan dan jamur., diakses April 4, 2025, https://shopee.co.id/buku-penanganan-gigitan-sengatan-binatang-berbisa-dan-keracunan-tumbuhan-dan-jamur.-i.476732901.25577698856
- BUKU PEDOMAN : PENANGANAN GIGITAN, SENGATAN HEWAN BERBISA DAN KERACUNAN TUMBUHAN DAN JAMUR | Fakultas Kedokteran, diakses April 4, 2025, https://elib.kedokteran.unpas.ac.id/index.php?p=show_detail&id=1311&keywords=
- Resensi: Buku Pedoman Penanganan Gigitan, Sengatan Hewan Berbisa dan Keracunan Tumbuhan dan Jamur | MASIGIT – KAREUMBI, diakses April 4, 2025, https://kareumbi.wordpress.com/2023/05/04/resensi-buku-pedoman-penanganan-gigitan-sengatan-hewan-berbisa-dan-keracunan-tumbuhan-dan-jamur/
- repository.lppm.unila.ac.id, diakses April 4, 2025, http://repository.lppm.unila.ac.id/25346/1/Management%20gigitan%20Ular%20juke%202020.pdf
- 2 Cara Membedakan Ular Berbisa dan Pertolongan Pertama Jika Digigit – detikcom, diakses April 4, 2025, https://www.detik.com/jabar/berita/d-7495197/2-cara-membedakan-ular-berbisa-dan-pertolongan-pertama-jika-digigit
- Dangerous Venomous Snakes in Indonesia – Green School, diakses April 4, 2025, https://www.greenschool.org/wp-content/uploads/2011/11/PoisonousSnakesinIndonesia.pdf
- 10 Jenis Ular Berbisa yang Ada di Indonesia – Kompas Lifestyle, diakses April 4, 2025, https://lifestyle.kompas.com/read/2022/08/19/074421720/10-jenis-ular-berbisa-yang-ada-di-indonesia?page=all
- Eks Asisten Panji Meninggal, Ini Daftar 10 Ular Berbisa Tinggi di Indonesia – Espos.id, diakses April 4, 2025, https://news.espos.id/eks-asisten-panji-meninggal-ini-daftar-10-ular-berbisa-tinggi-di-indonesia-1507010
- Mengenal 7 Ular Berbisa yang Mudah Ditemukan di Indonesia – detikcom, diakses April 4, 2025, https://www.detik.com/jabar/berita/d-7491125/mengenal-7-ular-berbisa-yang-mudah-ditemukan-di-indonesia
- 12 Macam-macam Ular dan Pertolongan Pertama Jika Tergigit – blog EIGER, diakses April 4, 2025, https://blog.eigeradventure.com/12-macam-macam-ular/
- Green Tree Pit Viper – Venomous Snake in Bali, diakses April 4, 2025, https://bali.com/bali/travel-guide/nature-guide/green-tree-pit-viper-venomous-snake-bali/
- PENANGANAN GIGITAN ULAR – RS Kariadi Semarang, diakses April 4, 2025, https://rs-kariadi.go.id/news/225/PENANGANAN-GIGITAN-ULAR/Artikel.html
- Snake Bites | Johns Hopkins Medicine, diakses April 4, 2025, https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/snake-bites
- Disorders Caused by Venomous Snakebites and Marine Animal Exposures | Harrison’s Principles of Internal Medicine, 22nd Edition | AccessPharmacy, diakses April 4, 2025, https://accesspharmacy.mhmedical.com/content.aspx?bookid=3541§ionid=293066566
- Gigitan Ular: Manajemen Terkini, diakses April 4, 2025, https://mki-ojs.idionline.org/jurnal/article/download/386/246
- Common krait – Wikipedia, diakses April 4, 2025, https://en.wikipedia.org/wiki/Common_krait
- The Ultimate Guide To Snakes In Bali: Venomous Snakes, Sea Snakes and More – FINNS Beach Club, diakses April 4, 2025, https://finnsbeachclub.com/guides/the-ultimate-guide-to-snakes-in-bali-venomous-snakes-sea-snakes-and-more/
- Wabah Ular: Ketahui Bagaimana Cara Penanganan Pertama pada Gigitan Ular Berbisa – RS UI, diakses April 4, 2025, https://rs.ui.ac.id/umum/berita-artikel/artikel-populer/wabah-ular-ketahui-bagaimana-cara-penanganan-pertama-pada-gigitan-ular-berbisa
- Ciri-ciri Terkena Upas Ular: Kenali Tanda dan Penanganannya – Feeds Liputan6.com, diakses April 4, 2025, https://www.liputan6.com/feeds/read/5813869/ciri-ciri-terkena-upas-ular-kenali-tanda-dan-penanganannya
- Snakebite envenoming – World Health Organization (WHO), diakses April 4, 2025, https://www.who.int/health-topics/snakebite
- Snake Bites: Treatment & Prevention – Cleveland Clinic, diakses April 4, 2025, https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/15647-snake-bites
- cdkjournal.com, diakses April 4, 2025, https://cdkjournal.com/index.php/cdk/article/download/941/872/5490
- Global Snake Envenomation Management – Allogy, diakses April 4, 2025, https://books.allogy.com/v1/tenant/8/books/1ab242cd-0530-47f1-9885-f259ee496fe5
- Pertolongan Pertama, Lakukan Ini Jika Digigit Ular yang Masuk ke Rumah – CNN Indonesia, diakses April 4, 2025, https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20250226073451-284-1202493/pertolongan-pertama-lakukan-ini-jika-digigit-ular-yang-masuk-ke-rumah
- Snake Bites: Symptoms, Causes, and Treatment – American Red Cross, diakses April 4, 2025, https://www.redcross.org/take-a-class/resources/learn-first-aid/venomous-snake-bites
- Snakebite envenoming treatment and rehabilitation – Control of Neglected Tropical Diseases, diakses April 4, 2025, https://www.who.int/teams/control-of-neglected-tropical-diseases/snakebite-envenoming/treatment
- Penanganan Pertama Pada Kasus Gigitan Ular Berbisa – Gudang Jurnal, diakses April 4, 2025, https://gudangjurnal.com/index.php/gjmi/article/download/466/998/2774
- Ketahui Pertolongan Pertama saat Tergigit Ular Cobra – Halodoc, diakses April 4, 2025, https://www.halodoc.com/artikel/ketahui-pertolongan-pertama-saat-tergigit-ular-cobra
- Edukasi Pertolongan Pertama Kegawatdaruratan pada Gigitan Ular – Universitas Nusantara PGRI Kediri, diakses April 4, 2025, https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/abhipraya/article/download/24299/4301/57897
- PSC 119 SATRIA Dinkes Banyumas selenggarakan Lokakarya Penanganan Gigitan Ular, diakses April 4, 2025, http://dinkes.banyumaskab.go.id/news/27976/psc-119-satria-dinkes-banyumas-selenggarakan-lokakarya-penanganan-gigitan-ular
- Tri Maharani Bagikan Ilmu Seputar Toksinologi dalam IMMS 2023 – Universitas Airlangga, diakses April 4, 2025, https://unair.ac.id/tri-maharani-bagikan-ilmu-seputar-toksinologi-dalam-imms-2023/
- (PDF) Pemberian SABU (Serum Anti-Bisa Ular) untuk Kasus Gigitan Ular Awitan Lama dengan Komplikasi Disseminated Intravascular Coagulation (DIC) – ResearchGate, diakses April 4, 2025, https://www.researchgate.net/publication/378752484_Pemberian_SABU_Serum_Anti-Bisa_Ular_untuk_Kasus_Gigitan_Ular_Awitan_Lama_dengan_Komplikasi_Disseminated_Intravascular_Coagulation_DIC
- Snake bite management in a toddler: a case report in Sumbawa Besar | Paediatrica Indonesiana, diakses April 4, 2025, https://paediatricaindonesiana.org/index.php/paediatrica-indonesiana/article/view/2352
- Webinar Safety Handling dan Penatalaksanaan Gigitan Ular – LMS …, diakses April 4, 2025, https://lms.kemkes.go.id/courses/484d625e-58f0-43db-9999-6e5249d42fe1
- (PDF) Perspectives of Snake Owners in Indonesia on …, diakses April 4, 2025, https://www.researchgate.net/publication/387595299_Perspectives_of_Snake_Owners_in_Indonesia_on_Understanding_Information_about_Snakes_and_Snakebites
- Reducing the health burden of snakebite – starting with numbers …, diakses April 4, 2025, https://www.georgeinstitute.org/news-and-media/news/reducing-the-health-burden-of-snakebite-starting-with-numbers
- Investigating snake venom variation to mitigate snakebite envenomation in Indonesia, diakses April 4, 2025, https://www.researchgate.net/publication/379318186_Investigating_snake_venom_variation_to_mitigate_snakebite_envenomation_in_Indonesia
- UGM Students Develop Tamarind Seed Potential as Antidote for …, diakses April 4, 2025, https://ugm.ac.id/en/news/ugm-students-develop-tamarind-seed-potential-as-antidote-for-ground-snake-venom/
- Investigating snake venom variation to mitigate snakebite envenomation in Indonesia – BIO Web of Conferences, diakses April 4, 2025, https://www.bio-conferences.org/articles/bioconf/pdf/2024/13/bioconf_icbs2024_04018.pdf
- Guidelines for the Clinical Management of Snake bites in the South-East Asia Region, diakses April 4, 2025, https://www.who.int/publications/i/item/B0241

Tinggalkan komentar