Indonesia menghadapi dua tantangan kesehatan serius yang saling berkaitan: lonjakan penderita diabetes mellitus dan risiko penularan hepatitis B melalui alat medis yang dipakai bersama. Data terbaru menunjukkan Indonesia memiliki 20,4 juta penderita diabetes (peringkat ke-4 dunia) dan 2,4% prevalensi hepatitis B yang masih perlu diwaspadai.

Kasus Terbaru yang Mengkhawatirkan
Sebuah kasus terbaru dari Amerika Serikat memberikan peringatan penting bagi tenaga kesehatan di Indonesia. Seorang pasien usia 69 tahun dengan diabetes terdiagnosis akut hepatitis B setelah dirawat di fasilitas keperawatan jangka panjang. Investigasi CDC menemukan bahwa pasien tersebut dan penghuni lain yang memiliki hepatitis B kronis menggunakan glukometer dari satu trolley yang sama, meski sudah ada protokol disinfeksi.
Yang mengejutkan, penularan tetap terjadi meskipun protokol disinfeksi dilakukan karena alat bersentuhan langsung dengan darah, dan hepatitis B sangat mudah menular lewat kontak darah. CDC mencatat bahwa antara tahun 2008–2019, telah terjadi 15 wabah hepatitis B dan C di fasilitas perawatan lanjut usia di AS akibat praktik pembagian alat monitor glukosa darah.
Kondisi Indonesia: Potensi Risiko Tinggi
Prevalensi Diabetes yang Mengkhawatirkan
- 20,4 juta penderita diabetes di Indonesia (2024) – meningkat dari 19,5 juta (2021)
- Prevalensi diabetes 11,3% – lebih tinggi dari rata-rata Asia Tenggara (10,8%)
- Diproyeksikan mencapai 28,6 juta penderita pada 2045
- Hanya 1 dari 4-5 orang penderita yang tahu mereka mengidap diabetes
Status Hepatitis B di Indonesia
- Prevalensi hepatitis B turun dari 7,1% (2013) menjadi 2,4% (2023)
- Indonesia masih peringkat pertama penyandang hepatitis B di Asia Tenggara
- Masih banyak penderita hepatitis B yang tidak terdiagnosis karena tidak terskrining
Praktik Penggunaan Glukometer di Fasilitas Kesehatan
- Banyak Puskesmas, Posyandu, dan rumah sakit menggunakan glukometer bersama untuk skrining dan monitoring
- Keterbatasan alat dan SDM menjadi tantangan, terutama di fasilitas dengan pembiayaan terbatas
- Pemantauan mandiri oleh pasien sering dilakukan dengan alat sendiri, namun di fasilitas pelayanan alat masih digunakan bergantian
Implikasi untuk Tenaga Kesehatan Indonesia
Risiko Penularan yang Nyata
Assisted monitoring of blood glucose (AMBG) menjadi faktor risiko penularan hepatitis B, khususnya bila alat dipakai bergantian. Dengan prevalensi hepatitis B 2,4% dan 20,4 juta penderita diabetes di Indonesia, potensi penularan melalui glukometer bersama menjadi ancaman serius.
Tantangan Khusus di Indonesia
- Densitas pasien tinggi di fasilitas kesehatan publik
- Keterbatasan budget untuk pengadaan alat individual
- Kurangnya kesadaran tentang risiko penularan lewat alat medis
- Protokol disinfeksi yang mungkin tidak selalu konsisten diterapkan
Rekomendasi untuk Tenaga Medis dan Kebijakan PPI
Kebijakan Komite PPI yang Harus Dipertimbangkan
Penggunaan Alat Individual atau Protokol Ketat
- Idealnya setiap pasien memiliki glukometer sendiri atau minimal satu alat per ruangan
- Jika terpaksa sharing, protokol sterilisasi sangat ketat harus diterapkan
- Monitoring pelaksanaan protokol melalui audit internal berkala
Edukasi dan Pelatihan SDM
- Pelatihan rutin tentang risiko penularan penyakit lewat darah
- Edukasi penggunaan APD ketika melakukan pemeriksaan gula darah
- Pengelolaan limbah alat terkontaminasi darah/biologis
Penilaian Risiko Berdasarkan Unit Pelayanan
- Penilaian risiko spesifik di masing-masing ruang atau unit
- Prioritas pada populasi rentan: diabetes, imunosupresi, lansia
- Alokasi SDM dan budget khusus untuk pengendalian infeksi
Saran untuk Pasien dan Keluarga
Kewaspadaan Alat Kesehatan
- Pastikan glukometer tidak dipakai bergantian dengan orang lain
- Tanyakan protokol disinfeksi jika harus memakai alat bersama
- Cuci tangan dengan benar setelah memegang alat medis
Pentingnya Vaksinasi
- Vaksinasi hepatitis B untuk pasien diabetes, terutama yang belum pernah divaksin
- Vaksinasi anggota keluarga yang berisiko
Komunikasi dengan Tenaga Kesehatan
- Jangan ragu bertanya tentang protokol pencegahan infeksi
- Laporkan jika melihat alat digunakan bergantian tanpa disinfeksi memadai
Langkah Strategis ke Depan
Investasi Jangka Panjang
- Pengadaan glukometer individual atau minimal rasio yang memadai
- Sistem tracking dan maintenance alat medis
- Digitalisasi monitoring protokol keamanan
Kolaborasi Multipihak
- Kerja sama dengan produsen alat medis untuk program CSR
- Edukasi masyarakat tentang diabetes care yang aman
- Integrasi dengan program nasional pencegahan hepatitis dan diabetes
Kesimpulan
Kasus penularan hepatitis B melalui glukometer bersama di Amerika Serikat menjadi peringatan keras bagi Indonesia. Dengan 20,4 juta penderita diabetes dan prevalensi hepatitis B 2,4%, risiko penularan melalui praktik pembagian alat medis sangat nyata.
Komite PPI di fasilitas kesehatan Indonesia harus segera mengevaluasi protokol penggunaan glukometer, memprioritaskan pengadaan alat individual atau protokol disinfeksi ketat, dan meningkatkan edukasi serta monitoring pelaksanaan kebijakan keamanan. Pencegahan penularan infeksi melalui praktik sederhana namun konsisten dapat menyelamatkan ribuan nyawa dan mencegah wabah yang tidak perlu terjadi.

Tinggalkan komentar