Hamilton Depression Rating Scale (HDRS) adalah instrumen penilaian depresi yang dikembangkan oleh Max Hamilton pada tahun 1960, kemudian direvisi beberapa kali hingga tahun 1980. HDRS juga dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale for Depression (HRSD) atau disingkat HAM-D, merupakan salah satu alat penilaian depresi paling banyak digunakan oleh klinisi untuk mengukur tingkat keparahan depresi dan memantau respons terapi.
Karakteristik HDRS
HDRS dirancang khusus untuk penilaian oleh klinisi terlatih, bukan untuk self-assessment seperti PHQ-9. Versi asli HDRS-17 terdiri dari 17 item yang dinilai berdasarkan wawancara klinis terstruktur atau semi-terstruktur, dengan waktu administrasi sekitar 15-30 menit. Terdapat juga versi HDRS-21 dengan 21 item, namun hanya 17 item pertama yang dihitung dalam skor total.
Setiap item dinilai dengan skala 3-point (0-2) atau 5-point (0-4) tergantung pada jenis gejala yang dievaluasi. Instrumen ini menilai berbagai aspek depresi termasuk mood terdepresi, perasaan bersalah, ide bunuh diri, gangguan tidur, agitasi atau retardasi, kecemasan, penurunan berat badan, dan gejala somatik.
Interpretasi Skor HDRS
Rentang skor total HDRS adalah 0-52 untuk versi 17 item, dengan interpretasi sebagai berikut:
| Skor HDRS | Tingkat Depresi | Rekomendasi Klinis |
|---|---|---|
| 0-7 | Normal/Remisi | Tidak ada gejala signifikan |
| 8-13 | Depresi Ringan | Observasi dan psikoedukasi |
| 14-18 | Depresi Sedang | Terapi farmakologi/psikoterapi |
| 19-22 | Depresi Berat | Terapi intensif |
| ≥23 | Depresi Sangat Berat | Evaluasi risiko bunuh diri, rawat inap |
Untuk keperluan penelitian klinis, biasanya diperlukan skor ≥20 sebagai kriteria inklusi, sementara skor ≤7 dianggap sebagai indikator remisi klinis.
Validitas dan Reliabilitas HDRS di Indonesia
HDRS telah divalidasi dan menunjukkan reliabilitas yang baik di Indonesia. Penelitian tahun 2013 menunjukkan HDRS memiliki validitas dengan nilai korelasi 0,406-0,769 dan reliabilitas dengan nilai Cronbach’s alpha >0,7 hingga 0,901. Studi lain di Indonesia juga mengkonfirmasi reliabilitas yang sangat baik (excellent reliability) setelah pelatihan proper untuk administrator.
Penggunaan HDRS di berbagai populasi Indonesia telah terbukti efektif, termasuk pada ibu dengan anak berkebutuhan khusus di YPAC Manado yang menunjukkan 80% mengalami depresi dengan berbagai tingkatan, serta pada caregiver demensia di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
Aplikasi HDRS dalam Praktik Klinis
Puskesmas dan Fasilitas Kesehatan Primer: HDRS dapat diintegrasikan dalam sistem informasi puskesmas dan aplikasi Primary Care (P-Care) BPJS untuk dokumentasi yang sistematis. Dengan digitalisasi layanan primer yang sedang dikembangkan Kementerian Kesehatan melalui platform SATUSEHAT, HDRS dapat menjadi bagian dari rekam medis elektronik.
Monitoring Terapi: HDRS sangat berguna untuk memantau progres pengobatan antidepresan atau psikoterapi dengan melakukan penilaian berkala setiap 2 minggu. Penurunan skor HDRS yang signifikan menunjukkan respons terapi yang baik.
Penelitian Klinis: HDRS tetap menjadi gold standard dalam uji klinis antidepresan karena sensitivitasnya terhadap perubahan gejala inti depresi, meskipun PHQ-9 mulai digunakan sebagai alternatif yang lebih praktis.
Populasi Khusus: HDRS dapat diaplikasikan pada berbagai kondisi medis komorbid seperti diabetes melitus, penyakit jantung, atau kondisi neurologis dimana depresi sering menjadi komorbiditas.
Keunggulan dan Keterbatasan HDRS
Keunggulan:
- Penilaian komprehensif oleh klinisi terlatih
- Reliabilitas tinggi dengan pelatihan yang memadai
- Telah terbukti valid di populasi Indonesia
- Sensitive terhadap perubahan klinis
Keterbatasan:
- Memerlukan pelatihan khusus untuk administrator
- Waktu administrasi relatif lama (15-30 menit)
- Kurang praktis untuk skrining massal dibanding PHQ-9
- Lebih menekankan gejala melankolis dan somatik
Kesimpulan
HDRS tetap menjadi instrumen penting dalam penilaian depresi di Indonesia, terutama untuk evaluasi klinis yang mendalam dan monitoring terapi. Meskipun PHQ-9 lebih praktis untuk skrining, HDRS memberikan penilaian yang lebih komprehensif oleh klinisi terlatih dan sangat berguna dalam setting rumah sakit, puskesmas dengan tenaga terlatih, serta penelitian klinis. Integrasi HDRS dalam sistem informasi kesehatan digital dapat meningkatkan standarisasi penilaian depresi di fasilitas pelayanan kesehatan primer maupun sekunder.

Tinggalkan komentar