Kessler Psychological Distress Scale (K10) adalah instrumen self-report yang dikembangkan oleh Ronald Kessler dan timnya pada tahun 2002 untuk mendeteksi distres psikologis non-spesifik dalam populasi umum. K10 telah menjadi salah satu alat skrining yang paling banyak digunakan secara global dalam survei epidemiologi dan praktik klinis karena kemampuannya mengidentifikasi gejala depresi dan kecemasan secara bersamaan dalam format yang singkat dan mudah digunakan.
Karakteristik dan Struktur K10
K10 terdiri dari 10 pertanyaan yang menilai frekuensi gejala kecemasan dan depresi selama 4 minggu terakhir. Setiap item menggunakan skala 5-point dari 1 (tidak pernah) hingga 5 (sepanjang waktu), menghasilkan skor total berkisar antara 10-50. Instrumen ini memiliki struktur empat faktor yang dapat dikelompokkan menjadi dua faktor utama: gejala kecemasan (nervous, restless, fidgety, everything an effort) dan gejala depresi (tired, hopeless, depressed, worthless, sad).
Item K10 yang khas meliputi: “Seberapa sering Anda merasa lelah tanpa alasan yang jelas?”, “Seberapa sering Anda merasa gugup?”, “Seberapa sering Anda merasa putus asa?”, dan “Seberapa sering Anda merasa tidak berharga?”.
Keunikan K10 adalah pada pertanyaan nomor 3 dan 6 yang bersifat kondisional – tidak perlu ditanyakan jika jawaban pertanyaan sebelumnya adalah “tidak pernah”, dalam hal ini otomatis mendapat skor 1.
Interpretasi Skor K10
| Skor K10 | Tingkat Distres | Kemungkinan Gangguan Mental |
|---|---|---|
| 10-19 | Rendah | Kemungkinan sehat |
| 20-24 | Ringan | Kemungkinan gangguan mental ringan |
| 25-29 | Sedang | Kemungkinan gangguan mental sedang |
| 30-50 | Berat | Kemungkinan gangguan mental berat |
Sekitar 13% populasi dewasa memiliki skor ≥20, sementara sekitar 25% pasien di pelayanan primer memiliki skor ≥20, menunjukkan prevalensi distres yang signifikan dalam setting klinis.
Validasi K10 di Indonesia
K10 telah divalidasi secara komprehensif di Indonesia dengan hasil yang sangat baik. Penelitian pada remaja Indonesia (n=196, usia 16-18 tahun) di Jakarta menunjukkan reliabilitas internal yang tinggi (Cronbach’s α >0,8) dan akurasi diagnostik yang baik (AUC 0,78-0,86) untuk deteksi gangguan depresi dan kecemasan.
Cut-off optimal K10 untuk Indonesia:
- ≥18 untuk deteksi gangguan depresi/kecemasan apapun (sensitivitas 85,7%, spesifisitas 74,7%)
- K6 ≥12 (versi 6 item) juga menunjukkan performa baik (sensitivitas 81,0%, spesifisitas 76,6%)
Validitas dan reliabilitas K10 versi Indonesia telah dikonfirmasi dalam berbagai studi dengan nilai validitas item berkisar 0,459-0,786 dan reliabilitas Cronbach’s alpha 0,897-0,942.
Aplikasi K10 dalam Konteks Indonesia
Penelitian Epidemiologi Nasional: K10 digunakan dalam World Mental Health Survey koordinasi WHO untuk mengukur prevalensi distres psikologis lintas negara. Di Indonesia, K10 digunakan dalam berbagai survei kesehatan mental nasional dan regional.
Puskesmas dan Pelayanan Primer: K10 sangat cocok untuk skrining massal di puskesmas karena waktu administrasi yang singkat (2-3 menit) dan tidak memerlukan pelatihan khusus. Dengan implementasi digitalisasi puskesmas melalui aplikasi Good Care dan integrasi dengan PCare BPJS, K10 dapat menjadi bagian dari sistem skrining kesehatan mental rutin.
Monitoring Program Kesehatan Mental: K10 berguna untuk evaluasi efektivitas intervensi karena sensitivitasnya terhadap perubahan gejala. Skor biasanya menurun dengan terapi yang efektif, dan pasien dengan skor tetap >24 setelah terapi perlu evaluasi ulang atau rujukan spesialis.
Populasi Khusus: K10 telah digunakan dalam berbagai populasi Indonesia termasuk mahasiswa, pekerja, dan populasi klinis dengan reliabilitas yang konsisten tinggi.
Versi K10 yang Tersedia
K6: Versi singkat 6 item yang mempertahankan akurasi diagnostik K10 namun lebih efisien untuk administrasi, telah terbukti valid pada remaja Indonesia.
K10+: Versi 14 item dengan tambahan 4 pertanyaan tentang dampak distres terhadap aktivitas sehari-hari.
K10 Cross-Cultural: Studi lintas budaya di Afrika menunjukkan K10 umumnya ekuivalen lintas negara, meskipun item “depressed” mungkin perlu adaptasi budaya.
Keunggulan dan Keterbatasan K10
Keunggulan:
- Self-administered, tidak memerlukan klinisi terlatih
- Waktu singkat (2-3 menit administrasi)
- Reliabilitas tinggi di berbagai populasi (α >0,85)
- Validitas lintas budaya yang baik termasuk di Indonesia
- Sensitif untuk monitoring terapi
- Mendeteksi kecemasan dan depresi bersamaan
Keterbatasan:
- Bukan instrumen diagnostik, memerlukan evaluasi klinis lanjutan
- Non-spesifik – tidak membedakan jenis gangguan mental spesifik
- Item “depressed” mungkin perlu adaptasi budaya pada beberapa populasi
- Periode recall 4 minggu dapat dipengaruhi recall bias
K10 dalam Sistem Kesehatan Digital Indonesia
Dengan transformasi digital layanan kesehatan primer Indonesia melalui platform SATUSEHAT dan aplikasi terintegrasi seperti Good Care serta PCare BPJS, K10 dapat diimplementasikan sebagai skrining rutin otomatis dalam sistem rekam medis elektronik. Hal ini memungkinkan deteksi dini masalah kesehatan mental pada skala populasi dengan overhead minimal bagi tenaga kesehatan.
Kesimpulan
K10 merupakan instrumen skrining distres psikologis yang sangat valuable untuk sistem kesehatan Indonesia karena kemudahan penggunaan, validitas yang terbukti, dan kemampuan deteksi simultan untuk gejala depresi dan kecemasan. Dengan cut-off ≥18 yang telah divalidasi pada populasi Indonesia dan reliabilitas yang konsisten tinggi, K10 ideal untuk implementasi di puskesmas, klinik primer, survei kesehatan masyarakat, dan sistem kesehatan digital terintegrasi. Fleksibilitas format (K10, K6, atau K10+) memungkinkan adaptasi sesuai kebutuhan spesifik setting pelayanan kesehatan di Indonesia.

Tinggalkan komentar