A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Zung Self-Rating Depression Scale (SDS) adalah instrumen self-report yang dikembangkan oleh Dr. William W.K. Zung pada tahun 1965 untuk mengukur derajat keparahan gejala depresi pada pasien dewasa. SDS banyak digunakan di berbagai layanan kesehatan primer maupun sekunder karena kesederhanaannya dan cakupan gejala afektif, psikologis, dan somatik.

Struktur dan Cara Administrasi

SDS terdiri dari 20 item yang dinilai dengan skala 1–4 berdasarkan frekuensi gejala dalam minggu terakhir, di mana:

  • 1 = Jarang atau tidak pernah
  • 2 = Kadang-kadang
  • 3 = Sering
  • 4 = Hampir sepanjang waktu

Sepuluh item dirumuskan secara positif dan sepuluh item secara negatif; item positif di-reverse score sebelum dijumlahkan. Skor total SDS adalah jumlah skor mentah (20–80) atau index score (25–100) setelah dikalikan 1,25.

Interpretasi Skor

Skor MentahSkor IndexKategori Depresi
20–4425–55Normal/Remisi
45–5956–74Depresi Ringan
60–6975–86Depresi Sedang
≥70≥87Depresi Berat

Berdasarkan penelitian, raw score ≥50 memberikan keseimbangan optimal antara sensitivitas dan spesifisitas untuk mendeteksi depresi klinis.

Validitas dan Reliabilitas

Studi populasi lanjut usia Finlandia (n=520) menunjukkan cut-off raw score 39 sensitif 79,2% dan spesifik 72,2% untuk deteksi depresi mayor (AUC=0,85). Reliability SDS dilaporkan Cronbach’s α=0,87 pada sampel SCI dan α=0,73–0,81 pada sampel umum.

Adaptasi dan Validasi SDS di Indonesia

Versi Bahasa Indonesia SDS telah diterjemahkan dan divalidasi untuk populasi spesifik, misalnya pasien TBC pulmonar, menunjukkan validitas item r=0,463–0,745 dan reliabilitas Cronbach’s α=0,887 (n=…). SDS Indonesia mudah diadministrasikan (<10 menit) dan cocok untuk screening mandiri di puskesmas atau klinik primer tanpa memerlukan klinisi terlatih.

Aplikasi Klinis di Indonesia

  • Pelayanan Primer (Puskesmas/Klinik): SDS dapat digunakan sebagai bagian dari asesmen awal pasien dewasa untuk deteksi dini depresi dan rujukan lebih lanjut.
  • Monitoring Progres Terapi: Pasien yang menjalani terapi antidepresan atau psikoterapi dapat mengisi SDS setiap kunjungan untuk memantau perubahan gejala.
  • Penelitian Epidemiologi: SDS digunakan dalam studi populasi untuk mengestimasi prevalensi depresi dan faktor risiko di komunitas.

Keunggulan dan Keterbatasan

Keunggulan

  • Self-administered dan praktis (<10 menit).
  • Mencakup aspek afektif, psikologis, dan somatik.
  • Valid dan reliabel di berbagai populasi dan bahasa.

Keterbatasan

  • Item somatik dapat tumpang tindih dengan kondisi fisik tertentu.
  • Tidak ada item khusus bunuh diri sesuai DSM-IV/DSM-5.
  • Perlu perhatian pada interpretasi cut-off antara raw dan index score.

Kesimpulan

Zung SDS adalah alat skrining depresi yang ringkas, berbasis self-report, dan telah terbukti memiliki validitas serta reliabilitas tinggi. Adaptasi Bahasa Indonesia SDS mempermudah deteksi dini dan monitoring depresi dalam praktik klinis primer tanpa membutuhkan penilaian terstruktur oleh klinisi. Implementasi SDS dalam layanan primer seperti puskesmas dapat meningkatkan screening dan rujukan tepat waktu bagi pasien dengan gejala depresi.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar