A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

IMPLEMENTASI 5 PILAR PROGRAM PPRA: PANDUAN OPERASIONAL LENGKAP

GAMBARAN UMUM DAN TIMELINE

Lima pilar program PPRA dapat dan sebaiknya dijalankan secara paralel, namun dengan intensitas yang berbeda-beda tergantung fase implementasi. Berikut gambaran timeline keseluruhan:

BULAN 1-3 (FASE INISIASI):
├─ Pilar 1 (Edukasi): INTENSIF ████████ (Pelatihan massal)
├─ Pilar 2 (PGA): PILOT PROJECT ████ (Dimulai di 1 ruangan)
├─ Pilar 3 (Surveilans Penggunaan): PERSIAPAN ██ (Setup sistem)
├─ Pilar 4 (Surveilans Resistensi): PERSIAPAN ██ (Baseline data)
└─ Pilar 5 (FORKKIT): PREPARATION ██ (Identifikasi kasus)

BULAN 4-6 (FASE EKSPANSI):
├─ Pilar 1 (Edukasi): MAINTENANCE ███ (Refresher berkala)
├─ Pilar 2 (PGA): EKSPANSI ██████ (2-3 ruangan)
├─ Pilar 3 (Surveilans Penggunaan): AKTIF ██████ (Running)
├─ Pilar 4 (Surveilans Resistensi): AKTIF ██████ (Running)
└─ Pilar 5 (FORKKIT): REGULER ██████ (Bulanan)

BULAN 7-12 (FASE KONSOLIDASI):
├─ Pilar 1 (Edukasi): CONTINUOUS ████ (Ongoing)
├─ Pilar 2 (PGA): FULL IMPLEMENTATION ████████
├─ Pilar 3 (Surveilans Penggunaan): OPTIMASI ████████
├─ Pilar 4 (Surveilans Resistensi): OPTIMASI ████████
└─ Pilar 5 (FORKKIT): RUTIN ████████ (Bulanan + Ad-hoc)


PILAR 1: PENINGKATAN PEMAHAMAN DAN KESADARAN (EDUKASI DAN PELATIHAN)

Tujuan:

Memastikan semua stakeholder memahami pentingnya penggunaan antibiotik bijak dan dapat berperan aktif dalam PPRA.

Target Audience:

  1. Dokter (semua spesialisasi)
  2. Perawat (semua unit)
  3. Apoteker dan asisten apoteker
  4. Analis laboratorium
  5. Staf non-medis (administrasi, cleaning service, security)
  6. Pasien dan keluarga

TAHAP 1.1: PEMETAAN KEBUTUHAN PELATIHAN (Minggu 1-2)

Langkah-langkah:

A. Identifikasi Gap Kompetensi

Tim PPRA melakukan asesmen untuk mengetahui tingkat pemahaman saat ini:

Metode Asesmen:

  • Kuesioner Pre-test: Buat soal pilihan ganda 10-15 pertanyaan Contoh pertanyaan: 1. Antibiotik efektif untuk mengobati: a) Flu biasa b) COVID-19 c) Infeksi saluran kemih akibat bakteri (✓) d) Semua penyakit infeksi 2. Waktu yang tepat pengambilan kultur: a) Setelah antibiotik diberikan 3 hari b) Sebelum antibiotik diberikan (✓) c) Kapan saja d) Tidak perlu kultur
  • Focus Group Discussion (FGD): Dengan perwakilan dari setiap profesi untuk mendengar kebutuhan mereka
  • Analisis Insiden: Review kasus-kasus penggunaan antibiotik yang tidak tepat di 6 bulan terakhir

Output:

  • Laporan asesmen kebutuhan pelatihan per kelompok
  • Prioritas topik yang perlu dibahas
  • Identifikasi champion (orang-orang yang sudah paham dan bisa jadi peer educator)

TAHAP 1.2: PENYUSUNAN MATERI EDUKASI (Minggu 3-4)

Koordinasi:

  • Penanggung Jawab: Koordinator Bidang Edukasi (biasanya anggota Tim PPRA yang punya kemampuan komunikasi baik)
  • Tim Penyusun: Dokter (konten klinis), Apoteker (konten farmasi), Ahli komunikasi/QA (metodologi)

Materi yang Harus Disiapkan:

A. Untuk Tenaga Kesehatan:

1. Modul Dasar PPRA (2-3 jam):

  • Apa itu resistensi antimikroba dan mengapa penting
  • Epidemiologi resistensi (data global dan lokal)
  • Prinsip-prinsip antibiotik bijak
  • Peran masing-masing profesi dalam PPRA
  • Regulasi PPRA di rumah sakit

2. Modul Lanjut untuk Dokter (4 jam):

  • Cara membaca dan menggunakan panduan antibiotik RS
  • Interpretasi hasil kultur dan uji kepekaan
  • Cara menggunakan antibiogram
  • Sistem approval antibiotik restricted
  • Prinsip de-eskalasi dan streamlining
  • Studi kasus interaktif

3. Modul Lanjut untuk Perawat (3 jam):

  • Teknik pengambilan spesimen yang benar
  • Cara pemberian antibiotik yang aman
  • Monitoring efek samping
  • Dokumentasi pemberian antibiotik
  • Peran perawat dalam mencegah transmisi MDRO

4. Modul Lanjut untuk Farmasi (3 jam):

  • Sistem dispensing antibiotik restricted
  • Cara melakukan surveilans kuantitatif (DDD)
  • Automatic stop order
  • Konseling pasien tentang antibiotik
  • Monitoring adverse drug reaction

5. Modul untuk Laboratorium (2 jam):

  • Standar pengambilan dan pengiriman spesimen
  • Quality control pemeriksaan mikrobiologi
  • Cara menyusun antibiogram
  • Pelaporan hasil kritis (MDRO)

B. Untuk Pasien dan Keluarga:

1. Leaflet Sederhana:

  • “Antibiotik: Kapan Perlu, Kapan Tidak”
  • “Bahaya Resistensi Antibiotik”
  • “Cara Minum Antibiotik yang Benar”

2. Video Edukasi (2-3 menit):

  • Animasi tentang bagaimana resistensi terjadi
  • Testimoni pasien yang mengalami infeksi MDRO

Format Materi:

  • PowerPoint untuk presentasi
  • Handbook/modul cetak (portable)
  • Video pembelajaran (untuk yang tidak bisa hadir)
  • E-learning modules (untuk pembelajaran mandiri)

Contoh Slide Menarik:

[SLIDE OPENING - GAMBAR DRAMATIS]
Judul: "ANCAMAN TERSEMBUNYI DI RUMAH SAKIT KITA"
Gambar: Bakteri dengan tameng vs antibiotik
Statistik: "71% E.coli di RS kita resisten terhadap sefalosporin"

[SLIDE INTERACTIVE - POLLING]
"Menurut Anda, berapa % resep antibiotik di Indonesia yang sebenarnya tidak perlu?"
a) 10-20%
b) 30-40%
c) 50-60% (jawaban benar)
d) >70%

Tantangan:

Masalah: Materi terlalu teoritis dan membosankan, peserta tidak engaged.

Solusi:

  • Gunakan storytelling: mulai dengan kasus nyata yang pernah terjadi di RS
  • Buat materi interaktif: quiz, polling, diskusi kelompok kecil
  • Gunakan visual yang menarik: infografis, video, animasi
  • Sederhanakan bahasa medis yang rumit
  • Contoh kasus lokal lebih relatable daripada contoh dari luar negeri

TAHAP 1.3: PELAKSANAAN PELATIHAN (Bulan 2-3)

A. Pelatihan Inti Tim PPRA (TOT – Training of Trainers)

Prioritas Pertama: Sebelum melatih orang lain, pastikan Tim PPRA sendiri sangat paham.

Metode:

  • Kirim 3-5 anggota inti ke pelatihan nasional PPRA (jika ada budget)
  • Undang narasumber eksternal untuk in-house training intensif 2-3 hari
  • Self-learning dari modul Kemenkes dan WHO

Biaya: ±Rp 15-25 juta (narasumber + akomodasi)


B. Pelatihan Massal Tenaga Kesehatan

Strategi: Bertahap per kelompok, bukan semua sekaligus (untuk tidak mengganggu operasional RS)

Jadwal Contoh:

MINGGU 1-2: DOKTER
- Batch 1: Dokter SMF Penyakit Dalam & Anak (Senin pagi, 4 jam)
- Batch 2: Dokter SMF Bedah & Anestesi (Selasa pagi, 4 jam)
- Batch 3: Dokter SMF ObGyn & Lainnya (Rabu pagi, 4 jam)

MINGGU 3-4: PERAWAT
- Batch 1: Perawat ICU & IGD (Kamis sore, 3 jam)
- Batch 2: Perawat Ruang Rawat Inap (Jumat sore, 3 jam - 2 sesi)

MINGGU 5: FARMASI & LABORATORIUM
- Sabtu pagi: Gabungan Farmasi & Lab (3 jam)

ONGOING: STAF NON-MEDIS
- Orientasi 30 menit setiap rapat bulanan unit

Lokasi: Ruang aula/auditorium RS

Logistik:

  • Snack & makan siang (jika full day)
  • Sertifikat e-SKP (Satuan Kredit Profesi) jika memungkinkan
  • Buku panduan antibiotik untuk setiap peserta
  • Name tag & daftar hadir

Metode Pembelajaran:

1. Interactive Lecture (40%):

  • Presentasi dengan banyak visual
  • Polling real-time pakai aplikasi (Mentimeter, Kahoot)

2. Case-Based Discussion (30%):

Contoh Kasus untuk Diskusi Dokter:

"Tn. Budi, 65 tahun, diabetes, demam 3 hari. 
Diagnosis: Pneumonia komunitas.
Dokter meresepkan: Meropenem 1g IV 3x1

Pertanyaan:
1. Apakah pilihan antibiotik ini tepat?
2. Antibiotik apa yang seharusnya diberikan?
3. Apa konsekuensi pemberian meropenem empirik untuk CAP?"

Diskusi kelompok 10 menit → Presentasi → Feedback dari narasumber

3. Role Play (15%):

  • Simulasi konsultasi antibiotik restricted
  • Simulasi pengambilan kultur
  • Simulasi konseling pasien

4. Workshop (15%):

  • Cara menggunakan buku panduan antibiotik
  • Cara membaca antibiogram
  • Cara mengisi form permintaan antibiotik restricted

Evaluasi:

  • Pre-test sebelum pelatihan
  • Post-test setelah pelatihan
  • Evaluasi kepuasan peserta (kuesioner)

Target: Minimal 90% tenaga kesehatan mengikuti pelatihan dalam 3 bulan pertama


C. Edukasi Pasien dan Keluarga

Metode Berkelanjutan:

1. Materi Cetak:

  • Leaflet di ruang tunggu, ruang rawat inap, apotek
  • Poster di koridor: “Antibiotik Bukan Untuk Semua Penyakit”
  • Stiker di meja resepsi: “Tanyakan Dokter: Apakah Saya Perlu Antibiotik?”

2. Media Digital:

  • Video edukasi di TV ruang tunggu (loop terus menerus)
  • Infografis di Instagram/Facebook RS
  • WhatsApp blast ke grup pasien RS

3. Konseling Langsung:

  • Apoteker wajib konseling saat dispensing antibiotik
  • Perawat edukasi saat memberikan antibiotik pertama kali
  • Dokter jelaskan alasan pemberian/tidak pemberian antibiotik

Contoh Skrip Konseling Apoteker:

"Bapak/Ibu mendapat antibiotik [nama obat]. Ini penting untuk Bapak/Ibu:
1. Minum sesuai jadwal: [X] kali sehari, setiap [Y] jam
2. Habiskan semuanya, meski sudah merasa sembuh. Kalau tidak habis, bakterinya bisa kebal
3. Jangan simpan untuk nanti atau bagikan ke orang lain
4. Kalau ada efek samping seperti [X], segera hubungi dokter
5. Antibiotik ini hanya untuk infeksi bakteri, tidak untuk flu biasa

Ada yang ingin ditanyakan?"

Koordinasi:

  • Penanggung jawab: Koordinator Edukasi Tim PPRA
  • Eksekutor: Semua tenaga kesehatan
  • Supporting: Humas RS untuk media sosial

D. Refresher Training (Ongoing)

Pelatihan bukan one-time event. Harus ada pengulangan berkala.

Strategi:

1. Morning Report/Journal Reading (Bulanan):

  • Presentasi artikel terbaru tentang PPRA
  • Sharing kasus menarik dari FORKKIT bulan lalu
  • Update guideline terbaru

2. Micro-learning (Mingguan):

  • Blast email/WA dengan “TIP MINGGU INI” "TIP MINGGU INI: Profilaksis bedah cukup 1 dosis, diberikan 30-60 menit sebelum insisi. Perpanjangan >24 jam meningkatkan risiko resistensi tanpa manfaat tambahan."

3. E-learning Modules:

  • Platform online (Moodle, Google Classroom)
  • Wajib untuk karyawan baru
  • Refresher tahunan

4. Kompetisi:

  • Quiz bulanan dengan hadiah
  • “Dokter/Perawat/Apoteker Antibiotik Bijak Terbaik Bulan Ini”

TAHAP 1.4: EVALUASI EFEKTIVITAS EDUKASI (Setiap 3-6 Bulan)

Indikator Keberhasilan:

A. Indikator Proses:

  • % peserta yang mengikuti pelatihan: Target >90%
  • Rata-rata skor post-test: Target >80
  • Kepuasan peserta: Target >4/5

B. Indikator Outcome:

  • Peningkatan kepatuhan pengambilan kultur sebelum antibiotik
  • Penurunan penggunaan antibiotik spektrum luas untuk indikasi ringan
  • Peningkatan penggunaan antibiogram dalam keputusan klinis

Metode Evaluasi:

  • Observasi langsung di ruangan
  • Audit rekam medis
  • Survei berkala

TANTANGAN UMUM PILAR 1 DAN SOLUSINYA

Tantangan 1: Dokter senior tidak mau ikut pelatihan, merasa sudah berpengalaman.

Solusi:

  • Jangan sebut “pelatihan”, tapi “workshop” atau “diskusi ilmiah”
  • Libatkan dokter senior sebagai narasumber/moderator (bukan hanya peserta)
  • SKP (Satuan Kredit Profesi) sebagai insentif
  • Direktur mengeluarkan surat wajib (soft power) dengan bahasa persuasif bukan memaksa

Tantangan 2: Shift perawat berbeda-beda, sulit kumpulkan semua.

Solusi:

  • Buat multiple batch di waktu berbeda (pagi/sore/malam)
  • Rekam video pelatihan, yang tidak bisa hadir wajib tonton + quiz online
  • Pelatihan singkat saat handover shift (15 menit micro-learning)

Tantangan 3: Budget terbatas untuk narasumber dan logistik.

Solusi:

  • Maksimalkan narasumber internal (Tim PPRA sendiri jadi trainer)
  • Partnership dengan fakultas kedokteran/farmasi terdekat (mereka bisa jadi narasumber gratis/murah sebagai pengabdian masyarakat)
  • Materi digital (video, e-learning) bisa dipakai berulang kali tanpa biaya tambahan
  • Snack sederhana/potluck, yang penting konten berkualitas

Tantangan 4: Pasien tidak baca leaflet, video tidak ditonton.

Solusi:

  • Konseling langsung lebih efektif daripada materi pasif
  • Buat materi yang eye-catching: warna cerah, bahasa sederhana, font besar
  • Video pendek (max 2 menit), bukan ceramah panjang
  • Gamify: quiz dengan hadiah voucher diskon apotek

PILAR 2: OPTIMALISASI PENGGUNAAN ANTIMIKROBA (PENATAGUNAAN ANTIMIKROBA/PGA)

Tujuan:

Memastikan setiap pasien mendapatkan antibiotik yang tepat: jenis tepat, dosis tepat, rute tepat, waktu tepat, durasi tepat.

Prinsip Dasar PGA:

PGA adalah strategi operasional untuk membimbing dokter dalam penggunaan antibiotik di titik pelayanan (point of care).


TAHAP 2.1: PILOT PROJECT – PEMILIHAN RUANGAN PERCONTOHAN (Minggu 1-2)

Prinsip: Jangan langsung implement ke seluruh RS. Mulai dari 1 ruangan sebagai pembelajaran.

Kriteria Pemilihan Ruangan Pilot:

Pertimbangan:

  1. Tingkat penggunaan antibiotik tinggi: ICU atau ruang bedah
  2. Tim yang kooperatif: Ada champion (dokter/perawat yang supportive)
  3. Dokumentasi relatif baik: Rekam medis terstruktur
  4. Case-mix bervariasi: Banyak kasus infeksi

Contoh Pilihan:

  • Pilihan 1: ICU (karena kasus berat, antibiotik kompleks, dokumentasi ketat)
  • Pilihan 2: Ruang Penyakit Dalam (karena banyak kasus infeksi, dokter umumnya open-minded terhadap evidence-based)

Koordinasi:

  • Tim PPRA approach Kepala Ruangan/Kepala SMF
  • Presentasikan rencana pilot project
  • Minta komitmen dan dukungan
  • Tunjuk “PGA Champion” di ruangan tersebut (biasanya dokter muda atau residen yang antusias)

Output:

  • MoU/kesepakatan tertulis
  • Identifikasi PGA Champion di ruangan pilot

TAHAP 2.2: BASELINE ASSESSMENT (Minggu 3-4)

Sebelum implementasi, harus tahu kondisi awal untuk bisa diukur perubahannya.

Data yang Dikumpulkan:

A. Data Kuantitatif:

  • Jumlah penggunaan antibiotik (dalam DDD atau rupiah)
  • Jenis antibiotik yang paling sering digunakan (top 10)
  • % penggunaan antibiotik spektrum luas vs spektrum sempit
  • % penggunaan antibiotik restricted

Cara Mengumpulkan:

  • Dari data farmasi: permintaan antibiotik per hari
  • Manual: catat dari rekam medis 50 pasien terakhir

B. Data Kualitatif:

  • % pasien yang dilakukan kultur sebelum antibiotik
  • % antibiotik yang sesuai guideline
  • Rata-rata durasi pemberian antibiotik

Cara Mengumpulkan:

  • Audit rekam medis 30-50 kasus

Contoh Temuan Baseline:

BASELINE DATA ICU (30 HARI OBSERVASI):
- Total pasien: 45 orang
- Pasien yang mendapat antibiotik: 42 (93%)
- Antibiotik terbanyak:
  1. Meropenem: 25 pasien
  2. Levofloxacin: 18 pasien
  3. Ceftriaxone: 15 pasien
- Kultur diambil sebelum antibiotik: 12/42 (29%) ❌
- Antibiotik sesuai guideline: 20/42 (48%) ❌
- Rata-rata durasi antibiotik: 12 hari (range 5-21 hari)

Output:

  • Laporan baseline assessment
  • Identifikasi problem areas yang perlu diperbaiki

TAHAP 2.3: STRATEGI IMPLEMENTASI PGA (Bulan 2-3)

Berdasarkan Panduan PGA Kemenkes, ada beberapa strategi yang bisa dipilih. Tidak harus semua sekaligus—pilih 2-3 strategi prioritas dulu.

STRATEGI A: PRA-OTORISASI (Pre-authorization)

Definisi: Antibiotik tertentu (restricted) hanya boleh diresepkan setelah mendapat persetujuan dari Tim PPRA.

Langkah Implementasi:

1. Tetapkan Antibiotik Yang Di-restrict

Gunakan klasifikasi WHO AWaRe:

  • Access: Bebas (non-restricted)
  • Watch: Restricted, perlu approval
  • Reserve: Highly restricted, perlu approval senior consultant

Contoh Daftar:

ANTIBIOTIK ACCESS (BEBAS):
- Amoksisilin, Amoksisilin-klavulanat
- Ampisilin, Ampisilin-sulbaktam
- Sefalexin, Cefadroxil
- Sefazolin (profilaksis bedah)
- Metronidazol, Kotrimoksazol
- Doksisiklin

ANTIBIOTIK WATCH (RESTRICTED):
- Sefalosporin generasi 3 (Ceftriaxone, Cefotaxime, Ceftazidime)
- Sefalosporin generasi 4 (Cefepime)
- Fluorokuinolon (Ciprofloxacin, Levofloxacin, Moxifloxacin)
- Makrolid parenteral (Azithromycin IV)

ANTIBIOTIK RESERVE (HIGHLY RESTRICTED):
- Karbapenem (Meropenem, Imipenem, Ertapenem)
- Glikopeptida (Vancomycin, Teicoplanin)
- Linezolid, Daptomycin
- Colistin, Polymyxin B
- Tigecycline

2. Buat Alur Approval

[DOKTER IDENTIFIKASI PASIEN BUTUH ANTIBIOTIK RESTRICTED]
         ↓
[ISI FORM PERMINTAAN]
- Data pasien
- Diagnosis
- Hasil laboratorium/kultur (jika ada)
- Alasan memilih antibiotik ini
- Riwayat antibiotik sebelumnya
         ↓
[HUBUNGI TIM PPRA]
- Urgent (<2 jam): Telepon/WA on-call PPRA
- Non-urgent (<24 jam): Form tertulis
         ↓
[TIM PPRA REVIEW]
├─ SETUJU → Farmasi dispensing
├─ SETUJU DENGAN MODIFIKASI → Diskusi dengan DPJP
└─ TIDAK SETUJU → Berikan alternatif + alasan
         ↓
[DOKUMENTASI]
- Catat di rekam medis
- Log book PPRA
         ↓
[FOLLOW-UP 48-72 JAM]
- Evaluasi respon klinis
- Pertimbangkan de-eskalasi

3. Setup Tim On-Call

Buat jadwal jaga 24/7:

JADWAL ON-CALL TIM PPRA (CONTOH)

SENIN-JUMAT (08.00-16.00): 
- Dr. Ani (HP: 0812xxx) - Primary
- Dr. Budi (HP: 0813xxx) - Backup

SENIN-JUMAT (16.00-08.00):
- Dr. Citra (HP: 0821xxx)

SABTU-MINGGU:
- Dr. Deni (HP: 0822xxx) 

GRUP WA PPRA: "PPRA RS XYZ - KONSULTASI"

4. Sosialisasi Alur ke Dokter dan Farmasi

  • Workshop khusus: simulasi pengisian form dan approval
  • Poster alur di nurse station dan ruang dokter
  • Number on-call ditempel di tempat strategis

Contoh Form Permintaan:

FORM PERMINTAAN ANTIBIOTIK RESTRICTED

Tanggal: ___________  Jam: _______
Ruangan: ___________

DATA PASIEN:
Nama: ________________  No.RM: _________
Umur/JK: _____ tahun / L/P
Diagnosis: _____________________________

ANTIBIOTIK YANG DIMINTA:
Nama: ______________  Dosis: ________
Rute: ______________ Frekuensi: _______
Durasi rencana: _____ hari

ALASAN PERMINTAAN:
☐ Empirik untuk infeksi berat/sepsis
☐ Definitif berdasarkan hasil kultur
☐ Terapi sebelumnya gagal
☐ Alergi terhadap antibiotik lini pertama
☐ Lainnya: _________________________

HASIL KULTUR (jika ada):
Bakteri: ______________  Kepekaan: ___________
Tanggal kultur: _____________

ANTIBIOTIK SEBELUMNYA:
1. ____________ (_____ hari), respon: _______
2. ____________ (_____ hari), respon: _______

RIWAYAT ALERGI OBAT: ☐ Tidak  ☐ Ya: _______

FUNGSI GINJAL:
Creatinine: ______ mg/dL   eGFR: ______ mL/min

TANDA TANGAN DPJP: _________________

---UNTUK DIISI TIM PPRA---

KEPUTUSAN:
☐ DISETUJUI
☐ DISETUJUI dengan modifikasi: ______________
☐ TIDAK DISETUJUI, alternatif: _______________

CATATAN TIM PPRA: _________________________
________________________________________

NAMA & TTD PPRA: ______________ Tanggal: ____

Tantangan Strategi Pra-Otorisasi:

Masalah 1: Dokter komplain ribet, urgent tapi Tim PPRA susah dihubungi.

Solusi:

  • Approval by phone untuk kasus urgent, form menyusul
  • Sistem backup: jika primary on-call tidak angkat dalam 15 menit, hubungi backup
  • Untuk kasus life-threatening sepsis: boleh mulai dulu, konsul dalam 2 jam
  • Sederhanakan form: maksimal 1 halaman, checkbox lebih banyak daripada isian panjang

Masalah 2: Tim PPRA tidak merasa qualified untuk approve/reject, takut salah.

Solusi:

  • Buat algoritma decision tree sederhana untuk situasi umum
  • Tim PPRA tidak sendirian: boleh konsul ke senior consultant atau ketua tim
  • Mindset: PGA bukan melarang, tapi membimbing. Jika ragu, approve dulu sambil follow-up ketat

STRATEGI B: REVIEW PROSPEKTIF DAN UMPAN BALIK (Prospective Audit & Feedback)

Definisi: Tim PGA melakukan kunjungan rutin ke ruangan, review penggunaan antibiotik, dan memberikan rekomendasi.

Langkah Implementasi:

1. Jadwal Rutin Ward Round Bersama

JADWAL WARD ROUND TIM PGA DI ICU (PILOT)

SETIAP HARI RABU & JUMAT, JAM 08.00-10.00

TIM PGA:
- Dokter PPRA (lead)
- Farmasis Klinis
- Mikrobiolog (jika ada kasus MDRO)

AGENDA:
1. Review semua pasien yang mendapat antibiotik
2. Diskusi dengan DPJP ICU
3. Rekomendasi (jika ada)
4. Dokumentasi

2. Proses Review

Untuk setiap pasien yang review:

CHECKLIST REVIEW PGA:

☐ Apakah diagnosis infeksi tepat? (vs kolonisasi/kontaminasi)
☐ Apakah spesimen kultur sudah diambil sebelum antibiotik?
☐ Apakah pilihan antibiotik empirik sesuai guideline?
☐ Apakah ada hasil kultur? 
   └─ Jika ya: Apakah bisa de-eskalasi?
☐ Apakah dosis antibiotik tepat? (sesuai fungsi ginjal/hati)
☐ Apakah rute pemberian tepat? (IV vs oral)
   └─ Jika IV >3 hari dan pasien stabil: Pertimbangkan IV-to-oral switch
☐ Apakah durasi sudah sesuai? (automatic stop order hari ke-7?)
☐ Apakah ada interaksi obat atau adverse effect?

3. Dokumentasi Rekomendasi

Buat form konsultasi yang ditempel di rekam medis:

KONSULTASI TIM PGA

Tanggal: ___________
Pasien: ____________ No.RM: _______

ANTIBIOTIK SAAT INI:
1. ________________ (hari ke-___)
2. ________________ (hari ke-___)

REKOMENDASI TIM PGA:
☐ Lanjutkan terapi saat ini
☐ De-eskalasi ke: __________________
☐ Stop antibiotik (alasan: _________)
☐ Switch IV → oral: _______________
☐ Adjustment dosis: _______________
☐ Lakukan pemeriksaan: ___________
☐ Lainnya: _______________________

ALASAN: _____________________________

DPJP RESPONSE:
☐ Setuju, dilaksanakan
☐ Tidak setuju (alasan: ___________)
☐ Akan dipertimbangkan

TTD DPJP: __________ Tgl: _____
TTD Tim PGA: ________ Tgl: _____

4. Follow-up Outcome

  • Catat apakah DPJP menerima rekomendasi atau tidak
  • Track outcome pasien (sembuh/membaik/memburuk)
  • Feedback ke DPJP tentang hasil

Koordinasi:

  • Tim PGA koordinasi dengan Kepala ICU untuk jadwal ward round
  • Hindari jam-jam sibuk (handover, visite besar)
  • Komunikasi non-menggurui: “Kami ingin diskusi bersama” bukan “Kami akan koreksi”

Tantangan Strategi Review Prospektif:

Masalah: DPJP merasa “diawasi” atau merasa Tim PGA menggurui.

Solusi:

  • Framing komunikasi:
    Jangan: “Dok, ini penggunaan antibiotiknya salah”
    Lakukan: “Dok, kita lihat bersama ya. Berdasarkan kultur, sepertinya bisa kita narrow down ke seftriakson. Bagaimana menurut Dokter?”
  • Gunakan pendekatan kolaboratif: “Kita partner, bukan auditor”
  • Tunjukkan value: “Kami bantu track kultur, monitoring fungsi ginjal untuk adjustment dosis, dll”
  • Apresiasi yang baik: “Wah, Dok ini sudah bagus langsung ambil kultur sebelum antibiotik”

Masalah: Tim PGA tidak punya waktu untuk ward round karena kesibukan lain.

Solusi:

  • Alokasikan protected time: 2-4 jam/minggu khusus PGA, tidak ada tugas lain
  • Beri insentif: honorarium atau poin kinerja
  • Delegasi: tidak harus ketua tim, bisa anggota lain atau farmasis klinis yang lead

STRATEGI C: AUTOMATIC STOP ORDER

Definisi: Antibiotik otomatis dihentikan oleh farmasi setelah durasi tertentu jika tidak ada evaluasi ulang dari dokter.

Contoh:

  • Antibiotik profilaksis bedah: automatic stop setelah 24 jam
  • Antibiotik empirik: automatic stop setelah hari ke-7 jika tidak ada evaluasi ulang

Langkah Implementasi:

1. Buat Kebijakan Tertulis

KEBIJAKAN AUTOMATIC STOP ORDER ANTIBIOTIK

1. Profilaksis Bedah:
   - Dihentikan otomatis 24 jam pascaoperasi
   - Perpanjangan hanya jika ada tanda infeksi dan dengan approval DPJP

2. Terapi Empirik:
   - Dihentikan otomatis hari ke-7
   - Perpanjangan memerlukan evaluasi tertulis DPJP dengan justifikasi
   
3. Mekanisme:
   - Farmasi tidak dispensing setelah batas waktu
   - DPJP dihubungi 24 jam sebelum automatic stop
   - Jika DPJP ingin lanjutkan: tulis order baru dengan justifikasi

2. Koordinasi Farmasi-DPJP

ALUR AUTOMATIC STOP ORDER:

HARI KE-6 TERAPI ANTIBIOTIK:
- Farmasi cek rekam medis: apakah ada evaluasi ulang?
- Jika tidak ada → Farmasi telepon DPJP/ruangan:
  "Dok, Tn. Budi besok masuk hari ke-7 antibiotik meropenem. 
   Mohon evaluasi apakah perlu dilanjutkan?"
         ↓
DPJP EVALUASI PASIEN:
├─ Sudah sembuh → Stop antibiotik ✓
├─ Perlu lanjut → Tulis order baru + justifikasi
└─ Tidak yakin → Konsul Tim PPRA
         ↓
HARI KE-7:
- Jika tidak ada order baru → Farmasi TIDAK dispensing
- Dokumentasi di sistem

3. Exception Handling

Ada kondisi yang boleh >7 hari tanpa automatic stop:

  • Osteomyelitis, endokarditis, meningitis (butuh terapi panjang)
  • Immunocompromised

Untuk kondisi ini, DPJP harus mencantumkan di awal: “Rencana terapi 4-6 minggu”

Tantangan Automatic Stop Order:

Masalah: DPJP lupa evaluasi, pasien tiba-tiba tidak dapat antibiotik, kondisi memburuk.

Solusi:

  • Reminder 24-48 jam sebelumnya (bukan mendadak di hari H)
  • Jika DPJP tidak respons reminder: farmasi tetap dispensing 1 hari lagi sambil eskalasi ke Kepala SMF/Direktur Pelayanan
  • Sistem IT: notifikasi otomatis ke DPJP (jika sudah ada SIMRS canggih)

STRATEGI D: IV-TO-ORAL SWITCH

Definisi: Mengubah rute pemberian antibiotik dari intravena (IV) ke oral jika kondisi pasien membaik dan saluran cerna berfungsi.

Manfaat:

  • Hemat biaya (oral lebih murah)
  • Kurangi risiko infeksi akibat akses vena
  • Tingkatkan kenyamanan pasien
  • Mempercepat pulang

Kriteria Switch:

KRITERIA IV-TO-ORAL SWITCH:

KLINIS:
☐ Demam turun, stabil >24 jam
☐ Leukosit menurun/normal
☐ Hemodinamik stabil (tidak syok, tidak perlu vasopressor)
☐ Saluran cerna berfungsi (bisa makan/minum)
☐ Tidak muntah-muntah

ANTIBIOTIK:
☐ Ada antibiotik oral dengan bioavailabilitas baik
☐ Sudah terapi IV minimal 48-72 jam dengan respon baik

CONTOH PASANGAN IV → ORAL:
- Ceftriaxone IV → Cefixime oral
- Levofloxacin IV → Levofloxacin oral
- Metronidazole IV → Metronidazole oral
- Ampicilin-sulbaktam IV → Amoksisilin-klavulanat oral

Langkah Implementasi:

1. Farmasis Skrining Harian

Setiap pagi, farmasis klinis review pasien dengan antibiotik IV >3 hari:

  • Apakah memenuhi kriteria switch?
  • Jika ya → Buat rekomendasi untuk DPJP

2. Diskusi dengan DPJP

Farmasis: “Dok, Ibu Siti sudah hari ke-4 levofloxacin IV, demam sudah turun, sudah bisa makan. Bagaimana kalau kita switch ke levofloxacin oral supaya lebih nyaman?”

3. Dokumentasi

Catat setiap kali ada switch dan outcome-nya.

Tantangan IV-to-Oral Switch:

Masalah: DPJP tidak percaya antibiotik oral sama efektifnya dengan IV.

Solusi:

  • Edukasi: Tunjukkan evidence bahwa untuk fluorokuinolon, bioavailabilitas oral hampir 100% (sama dengan IV)
  • Sequential therapy evidence-based: banyak guideline internasional merekomendasikan
  • Start small: pilih antibiotik dengan bioavailabilitas tinggi (fluorokuinolon, metronidazole, linezolid) dulu

TAHAP 2.4: MONITORING DAN EVALUASI PGA (Bulanan)

Indikator Proses:

  • Jumlah permintaan antibiotik restricted per bulan
  • % permintaan yang disetujui vs ditolak
  • Waktu rata-rata approval
  • % penerimaan rekomendasi Tim PGA oleh DPJP

Indikator Outcome:

  • Perubahan penggunaan antibiotik (DDD/100 hari rawat)
  • % pasien yang diambil kultur sebelum antibiotik (target >70%)
  • % de-eskalasi setelah hasil kultur (target >60%)
  • Average length of stay (LOS)
  • Mortality rate
  • Biaya antibiotik

Cara Monitoring:

LAPORAN BULANAN PGA ICU

BULAN: APRIL 2025

DATA PENGGUNAAN ANTIBIOTIK:
- Meropenem: 45 DDD/100 hari rawat (↓ 30% vs baseline)
- Levofloxacin: 28 DDD/100 hari rawat (↔ sama)
- Ceftriaxone: 35 DDD/100 hari rawat (↑ 15%)

PROSES PGA:
- Permintaan antibiotik restricted: 38 kasus
- Disetujui: 32 (84%)
- Modifikasi: 4 (11%)
- Ditolak: 2 (5%)
- Rata-rata waktu approval: 1,2 jam ✓

- Ward round: 8x (2x/minggu)
- Rekomendasi diberikan: 25 kasus
- Diterima DPJP: 21 (84%) ✓
- Ditolak: 4 (16%)

KULTUR:
- Kultur diambil: 28/42 pasien (67%) ✓ (baseline 29%)
- Culture-positive: 18/28 (64%)
- De-eskalasi dilakukan: 11/18 (61%) ✓

IV-TO-ORAL SWITCH:
- Kandidat: 15 pasien
- Dilakukan switch: 12 (80%) ✓

OUTCOME:
- Rata-rata LOS: 8 hari (baseline 10 hari) ✓
- Mortality: 15% (baseline 18%)
- Biaya antibiotik: Rp 85 juta (baseline Rp 120 juta) ✓

KESIMPULAN:
PGA berjalan baik dengan penerimaan DPJP tinggi. 
Penggunaan meropenem turun signifikan. 
Perlu perhatian: peningkatan ceftriaxone (investigasi lebih lanjut).

Diskusi dalam Rapat Bulanan:

  • Presentasikan data ke tim
  • Identifikasi kendala
  • Rencanakan improvement untuk bulan depan

TAHAP 2.5: EKSPANSI KE RUANGAN LAIN (Bulan 4-6)

Setelah pilot project berhasil di 1 ruangan, expand bertahap:

FASE EKSPANSI:

BULAN 4: Tambah 1 ruangan
- Pilihan: Ruang Penyakit Dalam atau Bedah

BULAN 5-6: Tambah 2-3 ruangan
- Ruang bedah
- Ruang anak
- IGD

BULAN 7-12: Full implementation semua ruangan

Lessons Learned dari Pilot: Bagikan ke ruangan baru untuk mempercepat adopsi.


PILAR 3: SURVEILANS PENGGUNAAN ANTIMIKROBA

Tujuan:

Memantau pola dan tren penggunaan antibiotik di RS untuk mendeteksi masalah dan evaluasi program.

Dua Jenis Surveilans:

  1. Kuantitatif: Berapa banyak antibiotik digunakan (DDD/100 hari rawat)
  2. Kualitatif: Seberapa tepat antibiotik digunakan (Metode Gyssens)

TAHAP 3.1: SURVEILANS KUANTITATIF (METODE DDD)

Definisi DDD (Defined Daily Dose):

  • Standar WHO untuk mengukur konsumsi obat
  • DDD = dosis pemeliharaan rata-rata per hari untuk indikasi utama pada dewasa
  • Dinyatakan dalam DDD/100 patient-days (hari rawat)

Rumus:

DDD/100 hari rawat = (Total gram antibiotik digunakan ÷ DDD standar WHO) ÷ Total hari rawat × 100

Contoh Perhitungan:

MEROPENEM DI ICU BULAN JANUARI:

1. Data farmasi: Total meropenem dispensing = 900 gram
2. DDD meropenem (WHO) = 2 gram/hari
3. Total hari rawat ICU Januari = 450 hari

HITUNG:
DDD = 900 g ÷ 2 g = 450 DDD
DDD/100 hari rawat = 450 ÷ 450 × 100 = 100 DDD/100 hari rawat

INTERPRETASI:
Rata-rata, setiap hari ada 1 pasien di ICU yang mendapat meropenem.


LANGKAH IMPLEMENTASI SURVEILANS KUANTITATIF:

Step 1: Setup Sistem Pencatatan (Minggu 1-2)

Koordinasi:

  • Penanggung Jawab: Koordinator Surveilans Tim PPRA
  • Eksekutor: Instalasi Farmasi
  • Supporting: IT SIMRS (jika ada sistem)

Pilihan Metode:

A. Manual (untuk RS tanpa SIMRS canggih):

Buat tabel Excel sederhana:

FORM PENCATATAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK BULANAN

Bulan: _________ Tahun: _______
Ruangan: __________________

| No | Nama Antibiotik | Sediaan | Qty | Total Gram |
|----|----------------|---------|-----|------------|
| 1  | Meropenem      | 1g/vial | 120 | 120 g      |
| 2  | Ceftriaxone    | 1g/vial | 250 | 250 g      |
| 3  | Levofloxacin   | 500mg   | 180 | 90 g       |
| ... | ...           | ...     | ... | ...        |

Total Hari Rawat Bulan Ini: _____ hari

Farmasi mengisi setiap hari atau akhir bulan dari stok keluar.

B. Semi-Otomatis (SIMRS Simple):

Jika SIMRS bisa export data dispensing:

  • Export bulanan data antibiotik
  • Import ke Excel template
  • Hitung otomatis dengan formula

C. Fully Automated (SIMRS Advanced):

Dashboard real-time yang langsung hitung DDD (ideal tapi jarang ada di RS Indonesia)


Step 2: Buat Database DDD Standar WHO

Download dari situs WHO ATC/DDD Index: https://www.whocc.no/atc_ddd_index/

Buat tabel referensi:

TABEL REFERENSI DDD

| Antibiotik | DDD (gram) |
|------------|-----------|
| Amoksisilin | 1,5      |
| Ampisilin   | 2        |
| Ceftriaxone | 2        |
| Cefotaxime  | 4        |
| Meropenem   | 2        |
| Levofloxacin| 0,5      |
| Vancomycin  | 2        |
| ...         | ...      |

Catatan: DDD bisa berbeda dengan dosis actual yang digunakan di RS. Itu wajar. DDD hanya alat ukur, bukan rekomendasi dosis.


Step 3: Pengumpulan Data Rutin (Bulanan)

Alur:

SETIAP AKHIR BULAN:

1. FARMASI:
   - Rekap total penggunaan antibiotik (per ruangan jika bisa)
   - Kirim data ke Tim PPRA
   
2. TIM PPRA (KOORDINATOR SURVEILANS):
   - Input data ke Excel/sistem
   - Hitung DDD/100 hari rawat
   - Buat grafik tren
   
3. PRESENTASI:
   - Laporan bulanan ke Direktur
   - Diskusi dalam rapat Tim PPRA

Timeline: 1-7 hari setelah akhir bulan (jangan terlambat, data harus fresh)


Step 4: Analisis dan Interpretasi

A. Bandingkan Antar Waktu:

TREN PENGGUNAAN MEROPENEM ICU

Jan: 120 DDD/100 hari rawat
Feb: 110 DDD/100 hari rawat (↓ 8%)
Mar: 95 DDD/100 hari rawat (↓ 14%)
Apr: 88 DDD/100 hari rawat (↓ 7%)

INTERPRETASI:
✓ Tren menurun konsisten sejak implementasi PGA
✓ Penurunan total 27% dalam 4 bulan
✓ Indikasi: Program berhasil mengurangi penggunaan karbapenem

B. Bandingkan Antar Ruangan:

DDD/100 HARI RAWAT APRIL 2025:

ICU: 450 (tinggi - wajar karena kasus berat)
Penyakit Dalam: 85 (sedang)
Bedah: 120 (tinggi - investigasi: apakah profilaksis terlalu lama?)
Anak: 60 (rendah - baik)

ACTION:
- Review penggunaan antibiotik profilaksis di ruang bedah

C. Benchmarking:

Bandingkan dengan RS lain (jika ada data) atau standar internasional.

MEROPENEM DDD/100 HARI RAWAT:

RS Kita (ICU): 88
RS Referensi A (ICU): 65
RS Referensi B (ICU): 120
Median literatur internasional: 75

INTERPRETASI:
- Penggunaan kita di atas median, tapi tidak ekstrem
- Masih ada ruang perbaikan


Tantangan Surveilans Kuantitatif:

Masalah 1: Data farmasi tidak lengkap atau berantakan, sulit dijumlahkan.

Solusi:

  • Libatkan IT: buat modul sederhana di SIMRS untuk auto-record dispensing antibiotik
  • Jika manual: buat form yang sangat simple, 1 halaman, hanya isi qty keluar per antibiotik
  • Fokus pada 10-15 antibiotik prioritas dulu (tidak perlu semua jenis antibiotik)

Masalah 2: Tidak punya data total hari rawat per ruangan.

Solusi:

  • Koordinasi dengan Bagian Rekam Medis/Sensus Harian
  • Rumus sederhana: Total hari rawat = Jumlah pasien × rata-rata LOS
  • Atau lebih mudah: pakai BOR (Bed Occupancy Rate) Hari rawat = Jumlah tempat tidur × BOR% × 30 hariContoh: ICU 10 TT, BOR 80% → 10 × 0,8 × 30 = 240 hari rawat/bulan

Masalah 3: Interpretasi: Apakah DDD kita tinggi atau rendah? Tidak ada pembanding.

Solusi:

  • Gunakan baseline sendiri sebagai pembanding: yang penting tren (naik/turun)
  • Cari data dari RS lain (networking dengan PERSI, dinas kesehatan)
  • Fokus pada tren internal dulu, benchmarking eksternal belakangan

TAHAP 3.2: SURVEILANS KUALITATIF (METODE GYSSENS)

Tujuan: Menilai kualitas/ketepatan penggunaan antibiotik pada level individu pasien.

Metode Gyssens: Algoritma/flowchart untuk menilai apakah penggunaan antibiotik rasional.


KATEGORI PENILAIAN GYSSENS:

KATEGORI 0: TEPAT & RASIONAL ✓

KATEGORI I: TIDAK TEPAT TIMING
- Contoh: Profilaksis bedah diberikan 3 jam sebelum operasi (seharusnya 30-60 menit)

KATEGORI II: TIDAK TEPAT DOSIS/RUTE/INTERVAL
- IIA: Dosis salah (terlalu rendah/tinggi)
- IIB: Interval salah (harusnya 3x/hari tapi dikasih 2x/hari)
- IIC: Rute salah (harusnya oral tapi masih IV padahal pasien sudah bisa makan)

KATEGORI III: TIDAK TEPAT DURASI
- IIIA: Terlalu lama (profilaksis bedah 5 hari)
- IIIB: Terlalu pendek (pneumonia cuma 3 hari)

KATEGORI IV: PILIHAN ANTIBIOTIK TIDAK TEPAT
- IVA: Ada alternatif lebih efektif
- IVB: Ada alternatif lebih aman
- IVC: Ada alternatif lebih murah
- IVD: Ada alternatif spektrum lebih sempit

KATEGORI V: TIDAK ADA INDIKASI
- Contoh: Antibiotik untuk flu biasa

KATEGORI VI: DATA TIDAK LENGKAP (tidak bisa dinilai)


LANGKAH IMPLEMENTASI SURVEILANS KUALITATIF:

Step 1: Pemilihan Sampel (Bulanan/Triwulanan)

Tidak perlu semua pasien di-audit. Pilih sampel representatif:

Kriteria Sampling:

  • Random sampling: 30-50 rekam medis per bulan
  • Atau targeted sampling: pilih antibiotik tertentu (misalnya semua pasien yang pakai meropenem)

Contoh:

AUDIT KUALITATIF APRIL 2025

TARGET: 40 rekam medis
- ICU: 15 RM (semua yang pakai karbapenem)
- Penyakit Dalam: 15 RM (random)
- Bedah: 10 RM (fokus profilaksis bedah)


Step 2: Review Rekam Medis

Tim Reviewer:

  • 2-3 orang (untuk inter-rater reliability)
  • Dokter + Apoteker/Farmasis klinis
  • Sudah terlatih metode Gyssens

Tools:

  • Flowchart Gyssens (print atau digital)
  • Form audit

Proses:

UNTUK SETIAP REKAM MEDIS:

1. Identifikasi semua antibiotik yang digunakan
2. Untuk setiap antibiotik, tanyakan:
   
   ❓ Apakah BENAR infeksi bakteri?
      ├─ TIDAK → Kategori V (tidak ada indikasi)
      └─ YA → Lanjut
   
   ❓ Apakah antibiotik yang TEPAT?
      ├─ TIDAK → Kategori IV (ada alternatif lebih baik)
      └─ YA → Lanjut
   
   ❓ Apakah DOSIS, RUTE, INTERVAL tepat?
      ├─ TIDAK → Kategori II
      └─ YA → Lanjut
   
   ❓ Apakah TIMING tepat?
      ├─ TIDAK → Kategori I
      └─ YA → Lanjut
   
   ❓ Apakah DURASI tepat?
      ├─ TIDAK → Kategori III
      └─ YA → Kategori 0 (TEPAT!) ✓

3. Jika beda pendapat antar reviewer → Diskusi panel

Contoh Kasus:

KASUS 1:
Tn. A, 45 tahun, appendisitis akut, appendektomi.
Antibiotik: Seftriakson 2g IV 1x/hari dimulai 2 jam sebelum operasi, 
            dilanjutkan 5 hari pascaoperasi.

AUDIT:
- Indikasi: ✓ (ada infeksi)
- Pilihan: ✗ Seharusnya sefazolin (spektrum lebih sempit, IVD)
- Timing: ✗ Seharusnya 30-60 menit sebelum insisi (Kategori I)
- Durasi: ✗ Profilaksis max 24 jam (Kategori IIIA)

KATEGORI GYSSENS: IVD (ada alternatif spektrum lebih sempit)


Step 3: Kompilasi dan Analisis Data

Output:

HASIL AUDIT KUALITATIF APRIL 2025 (40 KASUS)

DISTRIBUSI KATEGORI:
- Kategori 0 (TEPAT): 18 kasus (45%) ✓
- Kategori I: 2 kasus (5%)
- Kategori IIA: 3 kasus (7,5%)
- Kategori IIB: 1 kasus (2,5%)
- Kategori IIC: 4 kasus (10%)
- Kategori IIIA: 6 kasus (15%) ❌
- Kategori IIIB: 0 kasus
- Kategori IVA-IVD: 5 kasus (12,5%)
- Kategori V: 1 kasus (2,5%)
- Kategori VI: 0 kasus

TEMUAN UTAMA:
1. Problem terbesar: Durasi terlalu lama (15%) - fokus edukasi automatic stop order
2. IV-to-oral switch belum optimal (10%) - reminder farmasis
3. Pilihan spektrum terlalu luas (12,5%) - sosialisasi guideline

REKOMENDASI:
- Workshop khusus tentang durasi antibiotik
- Intensifkan peran farmasis dalam IV-to-oral switch
- Review guideline antibiotik bedah (banyak kasus profilaksis terlalu lama)


Step 4: Umpan Balik (Feedback Loop)

Hasil audit harus dikembalikan ke klinisi untuk perbaikan.

Metode Feedback:

A. Agregat (Grup):

  • Presentasi dalam rapat SMF/grand round
  • “Bulan lalu, 15% kasus profilaksis bedah terlalu lama. Mari kita perbaiki bersama.”
  • Tidak menyebut nama dokter spesifik (non-punitive)

B. Individual (Private):

  • Jika ada dokter dengan banyak kasus kategori IV atau V
  • Approach personal, bukan menghakimi: “Dok, kami notice beberapa kasus [X]. Apakah ada kendala dalam menggunakan guideline? Kami bisa bantu.”

Prinsip Feedback:

  • Non-punitive: Bukan mencari kesalahan, tapi pembelajaran
  • Konstruktif: Berikan solusi, bukan hanya kritik
  • Timely: Segera, jangan tunggu berbulan-bulan
  • Specific: Konkret, bukan umum

Tantangan Surveilans Kualitatif:

Masalah 1: Review rekam medis sangat time-consuming, tidak ada waktu.

Solusi:

  • Alokasikan waktu khusus: 1 hari per bulan untuk audit (bukan sambil kerja lain)
  • Bagi tugas: masing-masing reviewer hanya 10-15 RM
  • Sederhanakan: tidak perlu detail sempurna, tangkap major issue saja

Masalah 2: Rekam medis tidak lengkap, data tidak cukup untuk assess (Kategori VI banyak).

Solusi:

  • Feedback ke SMF tentang pentingnya dokumentasi lengkap
  • Pilih sampel dari ruangan dengan dokumentasi relatif baik dulu
  • Fokus pada data yang ada, jangan stuck di data yang hilang

Masalah 3: Setelah audit, tidak ada tindak lanjut atau perbaikan.

Solusi:

  • Buat action plan konkret dari setiap temuan
  • Assign PIC (person in charge) untuk tiap action
  • Follow-up di bulan berikutnya: apakah ada improvement?

PILAR 4: SURVEILANS RESISTENSI ANTIMIKROBA

Tujuan:

Memantau pola dan tren resistensi bakteri di RS untuk memandu terapi empirik dan deteksi dini outbreak MDRO.

Dua Komponen Utama:

  1. Penyusunan Antibiogram: Peta kepekaan bakteri terhadap antibiotik
  2. Surveilans MDRO: Monitoring bakteri multi-resistant

TAHAP 4.1: OPTIMALISASI LABORATORIUM MIKROBIOLOGI

Sebelum surveilans resistensi bisa jalan, laboratorium mikrobiologi harus siap.

Asesmen Kapasitas Lab (Minggu 1-2):

Checklist:

☐ Apakah lab bisa kultur bakteri? (blood, urine, pus, sputum)
☐ Apakah lab bisa uji kepekaan antibiotik?
☐ Metode uji kepekaan: Disk diffusion? Automated system?
☐ Apakah ada quality control rutin?
☐ Apakah ada SOP pengambilan spesimen?
☐ Turn-around-time (TAT) kultur: berapa hari?
☐ Apakah hasil kultur dilaporkan lengkap (bakteri + antibiogram)?

Jika Ada Gap:

Masalah: Lab tidak bisa kultur (hanya bisa Gram stain).

Solusi (Bertahap):

  • Short-term: Kirim spesimen ke lab rujukan (RS lain/lab swasta)
  • Mid-term: Investasi alat kultur minimal (incubator, media dasar)
  • Long-term: Rekrut mikrobiolog/analis terlatih, upgrade lab

Masalah: TAT kultur terlalu lama (>5 hari), hasil tidak relevan lagi.

Solusi:

  • Review workflow lab: di mana bottleneck?
  • Tambah SDM jika understaffed
  • Prioritaskan spesimen urgent (darah untuk sepsis)
  • Target: TAT ≤3 hari

Koordinasi dengan Laboratorium:

Rapat Koordinasi Tim PPRA – Lab:

Agenda:

  1. Jelaskan pentingnya lab dalam PPRA
  2. Diskusikan kapasitas dan keterbatasan lab
  3. Sepakati:
    • Target TAT
    • Format pelaporan hasil (template standar)
    • Pelaporan hasil kritis (MDRO) → lapor ke Tim PPRA dan PPI segera
    • Frekuensi pembuatan antibiogram (6 bulan atau 1 tahun)

Output:

  • MoU/kesepakatan kerja sama
  • SOP pelaporan hasil kultur untuk PPRA

TAHAP 4.2: PENINGKATAN KEPATUHAN PENGAMBILAN KULTUR

Antibiogram dan surveilans MDRO hanya bisa bagus jika banyak kultur yang diambil.

Target: >70% pasien dengan infeksi berat dilakukan kultur sebelum antibiotik

Strategi:

A. Edukasi Berulang:

  • Workshop cara pengambilan spesimen yang benar (untuk dokter dan perawat)
  • Reminder visual: poster “KULTUR DULU, BARU ANTIBIOTIK”

B. Sistem Reminder:

  • Form resep antibiotik restricted wajib ada kolom: “Apakah kultur sudah diambil? Ya/Tidak”
  • Jika “Tidak” → harus ada alasan

C. Monitoring:

  • Surveilans: % pasien sepsis yang diambil kultur darah
  • Feedback bulanan per SMF

D. Fasilitas:

  • Sediakan kultur set lengkap 24/7 (botol kultur darah, pot urin steril, dll)
  • Pastikan logistik lancar: spesimen cepat sampai lab

TAHAP 4.3: PENYUSUNAN ANTIBIOGRAM (Setiap 6-12 Bulan)

Definisi Antibiogram: Tabel yang menunjukkan % kepekaan bakteri terhadap berbagai antibiotik di RS tertentu dalam periode tertentu.

Contoh Antibiogram:

ANTIBIOGRAM RS XYZ
PERIODE: JANUARI - JUNI 2025

                    ANTIBIOTIK
BAKTERI      AMP  AMC  CTX  CAZ  MEM  LVX  GEN  CIP
-----------------------------------------------------
E. coli      30%  75%  45%  60%  95%  70%  80%  65%
(n=120)

K. pneumo    10%  40%  35%  55%  90%  60%  70%  50%
(n=85)

S. aureus    -    -    -    -    -    80%  85%  75%
MSSA (n=45)

P. aeru      -    -    -    70%  85%  75%  65%  80%
(n=50)

Keterangan:
AMP=Ampisilin, AMC=Amoksisilin-klavulanat, CTX=Ceftriaxone,
CAZ=Ceftazidime, MEM=Meropenem, LVX=Levofloxacin, 
GEN=Gentamicin, CIP=Ciprofloxacin
Angka = % SENSITIF (semakin tinggi semakin baik)


LANGKAH PENYUSUNAN ANTIBIOGRAM:

Step 1: Pengumpulan Data (Ongoing)

Lab mikrobiologi menyimpan semua hasil kultur dan uji kepekaan dalam database.

Format Database:

| No | Tgl  | No.RM | Nama | Spesimen | Bakteri      | AMP | AMC | CTX | ... |
|----|------|-------|------|----------|--------------|-----|-----|-----|-----|
| 1  | 1/1  | 12345 | Tn.A | Darah    | E.coli       | R   | S   | S   | ... |
| 2  | 3/1  | 12346 | Ny.B | Urin     | E.coli       | R   | S   | I   | ... |
| 3  | 5/1  | 12347 | Tn.C | Pus      | S.aureus     | -   | -   | -   | S   |

Keterangan: S=Sensitif, I=Intermediate, R=Resisten

Tool: Excel atau software lab (LIS)


Step 2: Cleaning dan Validasi Data (Minggu 1-2)

Prinsip:

  • Satu pasien, satu isolat: Jika pasien yang sama kultur berulang, hanya ambil isolat pertama (hindari duplikasi)
  • Exclude kontaminan: Bakteri yang jelas kontaminasi (misalnya kultur kulit multiple flora) dibuang
  • Minimal sample size: Untuk masuk antibiogram, minimal 30 isolat per bakteri (agar statistik valid)

Koordinasi:

  • Mikrobiolog/analis lab yang cleaning data
  • Tim PPRA supervisi dan validasi

Step 3: Analisis dan Kompilasi (Minggu 3)

Hitung % Sensitif:

% Sensitif = (Jumlah isolat S) ÷ (Jumlah isolat S + I + R) × 100%

Contoh:
E. coli terhadap Amoksisilin-klavulanat:
- Sensitif (S): 90 isolat
- Intermediate (I): 10 isolat
- Resisten (R): 20 isolat
- Total: 120 isolat

% Sensitif = 90 ÷ 120 × 100% = 75%

Lakukan untuk semua kombinasi bakteri-antibiotik.


Step 4: Interpretasi dan Rekomendasi (Minggu 4)

Tentukan Cut-off untuk Terapi Empirik:

INTERPRETASI:

% Sensitif ≥80% → Masih BISA dipakai empirik ✓
% Sensitif 60-79% → PERTIMBANGKAN dengan hati-hati ⚠️
% Sensitif <60% → HINDARI untuk empirik ❌

Contoh Rekomendasi untuk ISK (E.coli):
- Ampisilin (30%) → ❌ JANGAN pakai empirik
- Amoksisilin-klavulanat (75%) → ⚠️ Bisa dipertimbangkan
- Ceftriaxone (45%) → ❌ JANGAN pakai empirik
- Meropenem (95%) → ✓ Efektif, tapi jangan first-line (save for severe)
- Levofloxacin (70%) → ⚠️ Alternatif

REKOMENDASI TERAPI EMPIRIK ISK KOMUNITAS:
Lini 1: Amoksisilin-klavulanat atau Levofloxacin
Lini 2: Cefixime (jika ada data oral)
Reserve: Meropenem (hanya untuk sepsis urosepsis berat)


Step 5: Diseminasi Antibiogram

Format:

  • Buku saku (pocket guide) untuk dokter
  • Poster di ruang dokter, nurse station
  • PDF di grup WA dokter
  • Integrate ke SIMRS (pop-up saat resep antibiotik)

Sosialisasi:

  • Workshop penggunaan antibiogram
  • Include di panduan antibiotik RS

Tantangan Penyusunan Antibiogram:

Masalah 1: Jumlah kultur sedikit, tidak cukup untuk buat antibiogram (misalnya hanya 50 kultur dalam 6 bulan).

Solusi:

  • Perpanjang periode: kumpulkan data 1 tahun penuh
  • Fokus pada bakteri-bakteri paling sering (E.coli, S.aureus, K.pneumoniae, P.aeruginosa)
  • Jika tetap tidak cukup: pakai antibiogram regional dari dinas kesehatan atau RS terdekat sebagai panduan sementara

Masalah 2: Antibiogram sudah dibuat tapi tidak dipakai dokter.

Solusi:

  • Integrasi ke panduan antibiotik: “Untuk ISK empirik, lihat antibiogram lokal halaman X”
  • Reminder saat approval antibiotik restricted: “Dok, berdasarkan antibiogram kita, E.coli di RS kita hanya 45% sensitif ke ceftriaxone”
  • Case-based learning: presentasikan kasus nyata di mana penggunaan antibiogram membantu

TAHAP 4.4: SURVEILANS MDRO (MULTI-DRUG RESISTANT ORGANISM)

Definisi MDRO: Bakteri yang resisten terhadap ≥3 golongan antibiotik.

Contoh MDRO Prioritas (Sesuai WHO):

  • MRSA: Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus
  • ESBL: Extended-Spectrum Beta-Lactamase (E.coli, Klebsiella)
  • CRE: Carbapenem-Resistant Enterobacteriaceae
  • MDR Pseudomonas: Resisten ke ≥3 golongan
  • MDR Acinetobacter: Resisten ke ≥3 golongan
  • VRE: Vancomycin-Resistant Enterococcus

LANGKAH SURVEILANS MDRO:

Step 1: Definisi Operasional

Buat kriteria jelas MDRO yang akan dimonitor.

Contoh:

DEFINISI MDRO DI RS XYZ:

1. ESBL (E.coli/Klebsiella):
   - Resisten terhadap sefalosporin generasi 3 (ceftriaxone/cefotaxime)
   
2. MRSA:
   - S. aureus resisten terhadap methicillin/oxacillin/cefoxitin

3. Carbapenem-Resistant:
   - Resisten terhadap meropenem atau imipenem atau ertapenem

4. MDR Pseudomonas:
   - Resisten terhadap ≥3 dari: antipseudomonal penicillin, 
     ceftazidime, cefepime, carbapenem, fluorokuinolon, aminoglikosida


Step 2: Deteksi MDRO oleh Laboratorium

Alur:

LAB MENEMUKAN BAKTERI RESISTEN:
         ↓
CEK: Apakah memenuhi kriteria MDRO?
         ↓ YA
LAPOR SEGERA (NILAI KRITIS):
- Telepon DPJP pasien
- Telepon Tim PPI (untuk isolasi)
- Telepon Tim PPRA (untuk surveilans)
         ↓
DOKUMENTASI:
- Catat di log book MDRO
- Lapor ke sistem surveilans nasional (AMRIN - jika RS sentinel)

Timeline: Lapor hari yang sama ditemukan MDRO


Step 3: Response terhadap MDRO

Tidak cukup hanya deteksi, harus ada tindak lanjut.

Koordinasi Tim PPI dan PPRA:

SETELAH MDRO TERDETEKSI:

TIM PPI:
- Pasien diisolasi (contact precaution)
- Screening kontak jika diperlukan (terutama ICU)
- Investigasi: apakah ada outbreak? (≥2 kasus serupa dalam waktu singkat)

TIM PPRA:
- Konsultasi DPJP: apakah terapi antibiotik perlu disesuaikan?
- Review penggunaan antibiotik sebelumnya: apakah ada faktor risiko?
- Edukasi: DPJP dan perawat tentang MDRO ini

JIKA OUTBREAK (≥3 KASUS TERKAIT):
- Rapat darurat Tim PPI + PPRA
- Investigasi sumber (lingkungan? Transmisi antar-pasien?)
- Bundle intervention:
  * Hand hygiene campaign intensif
  * Audit kepatuhan APD
  * Environmental cleaning
  * Cohorting pasien MDRO


Step 4: Monitoring Tren MDRO (Bulanan/Triwulanan)

Buat Dashboard MDRO:

LAPORAN MDRO TRIWULAN II 2025 (APRIL-JUNI)

TOTAL KASUS MDRO: 18 kasus

DISTRIBUSI PER JENIS:
- ESBL (E.coli): 8 kasus (44%)
- MRSA: 5 kasus (28%)
- Carbapenem-Resistant (K.pneumoniae): 3 kasus (17%)
- MDR Acinetobacter: 2 kasus (11%)

DISTRIBUSI PER RUANGAN:
- ICU: 10 kasus (56%) ⚠️
- Ruang Penyakit Dalam: 5 kasus (28%)
- Ruang Bedah: 3 kasus (17%)

TREN:
Triwulan I: 12 kasus
Triwulan II: 18 kasus (↑ 50%) ❌

ANALISIS:
- Peningkatan kasus terutama di ICU
- Tidak ada outbreak (kasus sporadis)
- Faktor risiko: penggunaan karbapenem tinggi di ICU

REKOMENDASI:
1. Intensifkan bundle PPI di ICU
2. Review indikasi karbapenem di ICU (PGA)
3. Pertimbangkan screening aktif MDRO pada pasien risiko tinggi

Presentasi:

  • Rapat gabungan Tim PPRA + PPI bulanan
  • Lapor ke Direktur triwulanan
  • Sharing dengan SMF terkait

Step 5: Pelaporan Nasional (Jika RS Sentinel)

Jika RS terdaftar sebagai rumah sakit sentinel untuk AMR (AMRIN – Antimicrobial Resistance in Indonesia):

Kewajiban:

  • Input data MDRO ke portal AMRIN secara berkala
  • Mengikuti standar pelaporan nasional
  • Ikut survei nasional

Benefit:

  • Dapat data benchmarking nasional
  • Akses ke technical support dari Kemenkes
  • Kontribusi ke data resistensi nasional

Tantangan Surveilans MDRO:

Masalah 1: Lab tidak bisa identifikasi MDRO (misalnya tidak bisa test ESBL).

Solusi:

  • Gunakan definisi proxy sederhana: jika resisten ke ceftriaxone → anggap ESBL (cukup untuk surveilans)
  • Upgrade lab bertahap: kirim pelatihan analis, investasi reagen
  • Kolaborasi dengan lab rujukan untuk konfirmasi kasus kompleks

Masalah 2: MDRO ditemukan tapi DPJP/perawat tidak respon (tetap tidak isolasi).

Solusi:

  • Eskalasi: Tim PPI langsung ke Kepala Ruangan atau Direktur Pelayanan
  • Audit kepatuhan: % kasus MDRO yang diisolasi → dilaporkan bulanan
  • Edukasi ulang tentang transmisi MDRO dan risiko outbreak

Masalah 3: Terlalu banyak MDRO, overwhelmed, tidak tahu fokus ke mana.

Solusi:

  • Prioritas: Fokus pada MDRO yang paling sering atau paling berbahaya (ESBL, CRE, MRSA)
  • Root cause analysis: identifikasi 1-2 faktor risiko utama (misalnya penggunaan sefalosporin generasi 3 berlebihan)
  • Targeted intervention: intervensi spesifik untuk faktor risiko tersebut (misalnya restrict ceftriaxone)

PILAR 5: FORUM KAJIAN KASUS INFEKSI TERINTEGRASI (FORKKIT)

Tujuan:

  • Membahas kasus infeksi kompleks secara multidisiplin
  • Memberikan rekomendasi tata laksana berbasis evidence
  • Media pembelajaran bagi seluruh staf
  • Evaluasi pelaksanaan PPRA

KARAKTERISTIK FORKKIT:

Bukan:

  • Visite rutin harian
  • Konsultasi individual dokter ke dokter

Adalah:

  • Forum diskusi multidisiplin terstruktur
  • Fokus pada kasus pembelajaran (interesting/challenging cases)
  • Melibatkan berbagai expertise

TAHAP 5.1: PERSIAPAN FORKKIT (Minggu 1-4)

Step 1: Penetapan Struktur

A. Frekuensi:

  • Minimal 1x per bulan
  • Ideal 2x per bulan atau 1x per 2 minggu

B. Durasi:

  • 60-90 menit per sesi
  • 2-3 kasus per sesi (max 30 menit per kasus)

C. Waktu:

  • Pilih waktu yang paling banyak dokter bisa hadir
  • Contoh: Kamis jam 13.00-14.30 (setelah visite pagi, sebelum poli sore)

D. Lokasi:

  • Ruang rapat yang nyaman
  • Proyektor dan screen
  • Whiteboard
  • Akses rekam medis (jika ada EMR, bawa laptop)

Step 2: Pembentukan Struktur Tim FORKKIT

STRUKTUR TIM FORKKIT:

KOORDINATOR: Sekretaris Tim PPRA
- Mengumpulkan kasus
- Menjadwalkan FORKKIT
- Mengirim undangan
- Menyiapkan logistik

MODERATOR (rotating): Anggota Tim PPRA bergantian
- Memimpin diskusi
- Time keeper
- Memastikan semua expert contribute

NOTULEN: Anggota Tim PPRA
- Mencatat diskusi
- Menulis rekomendasi
- Follow-up outcome

PESERTA TETAP:
- Ketua Tim PPRA
- Dokter Spesialis Penyakit Dalam/Anak (expertise infeksi)
- Farmasis Klinis
- Mikrobiolog/Patologi Klinik
- Perwakilan Tim PPI
- DPJP kasus yang dibahas

PESERTA TIDAK TETAP (sesuai kasus):
- Dokter Spesialis terkait (Bedah, Obgyn, dll)
- Intensivist (jika kasus ICU)
- Radiolog (jika ada imaging kompleks)
- Residen/PPDS (untuk pembelajaran)


Step 3: Kriteria Pemilihan Kasus

Jenis Kasus yang Cocok untuk FORKKIT:

A. Kasus Kompleks/Challenging:

  • Infeksi tidak respons terapi >72 jam
  • Sepsis dengan fokus tidak jelas
  • Multiple MDRO
  • Infeksi pada immunocompromised
  • Infeksi dengan komplikasi berat

B. Kasus Pembelajaran:

  • Kasus langka (interesting case)
  • Kasus dengan diagnostic dilemma
  • Kasus yang melibatkan prosedur invasif untuk sumber kontrol

C. Kasus untuk Evaluasi PPRA:

  • Penggunaan antibiotik yang questionable
  • Kasus MDRO outbreak
  • Adverse drug reaction antibiotik berat

Sumber Kasus:

DARI MANA KASUS DATANG?

1. Konsultasi DPJP ke Tim PPRA:
   "Tim, ada pasien sepsis sulit ini, bisa dibahas di FORKKIT?"
   
2. Ward round Tim PGA:
   Tim PGA menemukan kasus kompleks saat visit ruangan
   
3. Laporan MDRO:
   Lab laporkan MDRO → otomatis masuk kandidat FORKKIT
   
4. Referral dari SMF:
   Dokter bedah konsul: "Pasien ini infeksi luka operasi sulit"
   
5. Spontan dari anggota Tim PPRA:
   "Kemarin saya tangani kasus menarik, boleh kita bahas?"


Step 4: Persiapan Logistik

A. Template Undangan:

UNDANGAN FORKKIT

Kepada Yth.
Sejawat Tim PPRA dan SMF Terkait

Dengan hormat,
Kami mengundang Bapak/Ibu untuk hadir dalam:

FORUM KAJIAN KASUS INFEKSI TERINTEGRASI (FORKKIT)
Sesi ke-5 Tahun 2025

Hari/Tanggal: Kamis, 15 Mei 2025
Waktu: 13.00 - 14.30 WIB
Tempat: Ruang Rapat Lantai 3

KASUS YANG AKAN DIBAHAS:
1. Tn. B (RM 12345) - Sepsis ec. Pneumonia MRSA, tidak respons vancomycin
   Presenter: dr. Ani (DPJP)
   
2. Ny. C (RM 67890) - Healthcare-associated meningitis post-craniotomy
   Presenter: dr. Budi (DPJP)

Mohon kehadiran Bapak/Ibu untuk sharing expertise.
Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,
Koordinator FORKKIT
dr. Citra

B. Persiapan Kasus oleh Presenter:

DPJP yang akan presentasi diberikan template presentasi:

TEMPLATE PRESENTASI KASUS FORKKIT

SLIDE 1: IDENTITAS PASIEN
- Nama inisial, umur, jenis kelamin
- No. RM, tanggal masuk RS

SLIDE 2: KELUHAN UTAMA & RIWAYAT PENYAKIT
- Singkat, kronologis
- Fokus pada aspek infeksi

SLIDE 3: RIWAYAT PENYAKIT DAHULU & FAKTOR RISIKO
- Komorbid
- Riwayat rawat RS sebelumnya
- Riwayat antibiotik sebelumnya
- Faktor risiko infeksi (DM, imunosupresi, dll)

SLIDE 4: PEMERIKSAAN FISIK
- Vital signs
- Fokus infeksi (paru, abdomen, kulit, dll)

SLIDE 5: PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Lab: Darah lengkap, kimia darah, inflamatory markers
- Mikrobiologi: Hasil kultur & uji kepekaan
- Radiologi: Foto toraks, CT scan, dll

SLIDE 6: DIAGNOSIS & TATA LAKSANA
- Diagnosis kerja
- Antibiotik yang sudah diberikan (jenis, dosis, durasi)
- Terapi suportif lainnya
- Intervensi bedah (jika ada)

SLIDE 7: PERJALANAN PENYAKIT
- Timeline: hari ke-1, ke-3, ke-5, dst
- Respon terapi
- Komplikasi yang terjadi

SLIDE 8: PERMASALAHAN/PERTANYAAN
- "Antibiotik apa yang tepat sekarang?"
- "Apakah perlu debridement?"
- "Berapa lama terapi harus diberikan?"

DURASI: Maksimal 10 menit presentasi


TAHAP 5.2: PELAKSANAAN FORKKIT

Agenda FORKKIT (90 Menit):

13.00-13.05 (5 menit): PEMBUKAAN
- Koordinator buka acara
- Perkenalan singkat peserta baru (jika ada)
- Overview kasus hari ini

13.05-13.35 (30 menit): KASUS 1
├─ 13.05-13.15 (10 menit): Presentasi kasus
├─ 13.15-13.30 (15 menit): Diskusi
│   • Klarifikasi data
│   • Input dari berbagai disiplin:
│     - Mikrobiolog: interpretasi kultur
│     - Farmasis: pharmacokinetics, drug interaction
│     - Intensivist: hemodynamic management
│     - Bedah: source control
│     - PPI: isolasi dan pencegahan transmisi
└─ 13.30-13.35 (5 menit): Kesimpulan & Rekomendasi

13.35-14.05 (30 menit): KASUS 2
(Format sama seperti Kasus 1)

14.05-14.20 (15 menit): UPDATE & EVALUASI
- Follow-up kasus FORKKIT bulan lalu: Outcome pasien
- Review data PPRA bulan ini (highlight):
  * Penggunaan antibiotik restricted
  * MDRO terbaru
  * Temuan audit kualitatif
- Reminder: kebijakan baru, guideline update

14.20-14.30 (10 menit): PENUTUP
- Kesimpulan moderator
- Announcement: jadwal FORKKIT berikutnya
- Foto bersama (optional)


Prinsip Diskusi:

A. Structured Discussion:

Moderator memandu dengan pertanyaan sistematis:

1. "Mari kita mulai dari diagnosis: Apakah benar ini infeksi bakteri?"
   → Dokter klinisi, mikrobiolog

2. "Fokus infeksi sudah benar?"
   → Radiolog, dokter klinisi

3. "Apakah ada source yang perlu diintervensi?"
   → Bedah, radiologi intervensi

4. "Pilihan antibiotik saat ini, tepat?"
   → Farmasis, mikrobiolog (lihat hasil uji kepekaan)

5. "Dosis dan rute pemberian optimal?"
   → Farmasis (sesuaikan fungsi ginjal, distribusi obat)

6. "Berapa lama terapi perlu diberikan?"
   → Konsensus berdasarkan guideline

7. "Apakah ada intervensi PPI yang perlu?"
   → Tim PPI (jika MDRO, isolasi)

B. Evidence-Based:

  • Bawa guideline/literature terkait
  • Jika ada kontroversi, cari evidence: “Menurut guideline IDSA 2023…”
  • Hindari “menurut saya” tanpa dasar

C. Respectful:

  • Tidak menghakimi DPJP
  • Fokus pada pembelajaran, bukan mencari kesalahan
  • Apresiasi: “Dok sudah bagus langsung ambil kultur”

D. Action-Oriented:

  • Jangan hanya diskusi tanpa kesimpulan
  • Must have: Rekomendasi konkret yang actionable

Contoh Diskusi Kasus:


KASUS: Tn. D, 60 th, DM, sepsis ec. infeksi kaki diabetik

MIKROBIOLOG:
"Kultur pus: E. coli ESBL. Sensitif hanya ke meropenem, amikacin, fosfomycin. 
Resisten ke semua sefalosporin dan fluorokuinolon."

FARMASIS:
"Saat ini pasien dapat meropenem 1g IV 3x/hari. Fungsi ginjal normal. 
Secara farmakokinetik sudah tepat. Tapi ini hari ke-12, mungkin bisa 
kita pertimbangkan de-eskalasi ke fosfomycin oral jika luka sudah membaik?"

DPJP:
"Luka sudah jauh lebih baik, pus berkurang, demam sudah turun sejak 5 hari lalu."

BEDAH:
"Dari aspek bedah, debridement sudah adekuat. Tidak perlu intervensi lagi. 
Tinggal wound care rutin."

MODERATOR:
"Baik, jadi konsensusnya: pasien sudah respons baik, luka terkontrol, 
bisa kita de-eskalasi. Farmasis, tolong bantu hitung dosis fosfomycin?"

FARMASIS:
"Fosfomycin 3 gram oral setiap 48 jam, bisa untuk infeksi complicated UTI dan 
soft tissue. Untuk kasus ini bisa dicoba 3 gram tiap 2 hari, total 3-4 minggu."

TIM PPI:
"Karena ESBL, pasien sudah isolasi contact precaution. Jangan lupa 
hand hygiene sebelum dan sesudah kontak. Apakah keluarga sudah diedukasi?"

DPJP:
"Sudah. Baik, saya akan switch ke fosfomycin oral sesuai rekomendasi. 
Terima kasih tim!"

MODERATOR:
"Excellent. Mari kita dokumentasikan rekomendasi kita..."


Step 3: Dokumentasi

A. Notulen FORKKIT:

NOTULEN FORKKIT #5/2025
Tanggal: 15 Mei 2025

PESERTA HADIR: (15 orang)
dr. Ani (Ketua PPRA), dr. Budi (SpPD), dr. Citra (SpPK), 
Apt. Deni (Farmasis), dr. Eka (SpB), dr. Fitri (SpAn), 
dan lain-lain.

KASUS 1: Tn. D (RM 12345)
Diagnosis: Sepsis ec. diabetic foot infection ESBL

PEMBAHASAN:
- Kultur menunjukkan E. coli ESBL, sensitif meropenem
- Pasien sudah respons baik hari ke-12 terapi
- Debridement adekuat, tidak perlu intervensi bedah lagi
- Fungsi ginjal normal

REKOMENDASI:
1. DE-ESKALASI: Switch meropenem → fosfomycin 3g oral tiap 48 jam
2. DURASI: Total terapi 3-4 minggu
3. MONITORING: Darah lengkap, CRP tiap minggu
4. PPI: Lanjutkan isolasi hingga kultur kontrol negatif
5. EDUKASI: Kontrol gula darah ketat, perawatan luka

TINDAK LANJUT: dr. Budi (DPJP) akan implementasi hari ini

KASUS 2: Ny. C (RM 67890)
[Similar format...]

NEXT MEETING: 29 Mei 2025, 13.00 WIB

B. Form Rekomendasi untuk Rekam Medis:

Rekomendasi FORKKIT dituangkan dalam form konsultasi yang ditempel di RM pasien:

KONSULTASI TIM PPRA - FORKKIT

Tanggal: 15 Mei 2025
Pasien: Tn. D, 60 tahun     No.RM: 12345

TELAH DIBAHAS DALAM FORKKIT

REKOMENDASI:
1. Switch antibiotik: Meropenem STOP → Fosfomycin 3g PO tiap 48 jam
2. Durasi total: 3-4 minggu
3. Monitoring: DL, CRP tiap minggu
4. Lanjutkan isolasi contact precaution
5. Edukasi keluarga tentang ESBL

DPJP RESPONSE:
☑ SETUJU, akan dilaksanakan
☐ Tidak setuju (alasan: ____________)

TTD DPJP: _____________ Tgl: _______
TTD Ketua FORKKIT: _____________ 


TAHAP 5.3: FOLLOW-UP DAN EVALUASI

A. Follow-up Outcome Pasien (2-4 Minggu Kemudian)

Koordinator FORKKIT melakukan tracking:

  • Apakah rekomendasi diikuti?
  • Apakah pasien membaik?
  • Apakah ada komplikasi?
  • Kapan pasien pulang/meninggal?
FOLLOW-UP KASUS FORKKIT #5

KASUS 1: Tn. D
- Rekomendasi diikuti: ✓ Ya
- Outcome: Sembuh, pulang hari rawat ke-25
- Kultur kontrol: Steril
- Komentar DPJP: "Terima kasih, de-eskalasi sangat membantu. 
  Biaya juga jauh lebih hemat."

KASUS 2: Ny. C
- Rekomendasi diikuti: ✓ Sebagian (masih pakai vancomycin, 
  belum switch ke linezolid karena tidak tersedia)
- Outcome: Membaik perlahan, masih rawat
- Follow-up FORKKIT berikutnya

Presentasikan follow-up ini di FORKKIT bulan depan → Closure dan pembelajaran


B. Evaluasi Proses FORKKIT (Triwulanan)

Indikator Keberhasilan FORKKIT:

Proses:

  • Frekuensi: Target ≥12x per tahun (minimal 1x/bulan) ✓
  • Kehadiran peserta: Target rata-rata >10 orang per sesi
  • Ketepatan waktu: Mulai dan selesai on time

Outcome:

  • % rekomendasi yang diikuti DPJP: Target >80%
  • % pasien yang outcome-nya membaik: Target >70%
  • Kepuasan peserta: Survey sederhana

Survey Kepuasan:

EVALUASI FORKKIT

Mohon beri penilaian (1-5):

1. Kasus yang dibahas relevan dan menarik: 1 2 3 4 5
2. Diskusi interaktif dan produktif: 1 2 3 4 5
3. Rekomendasi membantu klinis: 1 2 3 4 5
4. Waktu dan durasi sesuai: 1 2 3 4 5
5. Saya akan hadir di FORKKIT berikutnya: 1 2 3 4 5

Saran perbaikan: _________________________


TAHAP 5.4: INOVASI DAN PENGEMBANGAN FORKKIT

Setelah berjalan rutin, FORKKIT bisa dikembangkan:

A. FORKKIT Virtual (Hybrid)

Jika dokter sulit hadir fisik:

  • Zoom/Google Meet untuk peserta yang tidak bisa datang
  • Rekam sesi untuk yang tidak bisa hadir (on-demand learning)
  • Share slide di grup WA setelah sesi

B. Telemedicine Consultation

Untuk kasus sangat kompleks:

  • Undang konsultan infeksi dari RS lain via video call
  • Konsultasi ke pusat rujukan nasional

C. Journal Reading Integration

Setiap FORKKIT, tambahkan 10 menit journal reading:

  • 1 artikel terbaru tentang PPRA/infeksi
  • Relevan dengan kasus yang dibahas
  • Presented by: Residen/dokter muda (untuk pembelajaran)

D. Grand Round Integration

FORKKIT bisa jadi bagian dari grand round RS:

  • 1x per bulan, buka untuk umum (tidak hanya Tim PPRA)
  • Undang dokter lain, mahasiswa, perawat untuk belajar
  • Dokumentasi sebagai CME (Continuing Medical Education)

TANTANGAN UMUM FORKKIT DAN SOLUSINYA

Tantangan 1: Dokter sibuk, sulit hadir, FORKKIT sering batal atau peserta sedikit.

Solusi:

  • Jadwal tetap (misalnya: setiap Kamis kedua setiap bulan) sehingga dokter bisa block calendar
  • Hybrid: boleh join online jika tidak bisa datang
  • Insentif: SKP (Satuan Kredit Profesi), sertifikat, atau snack/makan siang
  • Eskalasi: Direktur mengeluarkan edaran bahwa FORKKIT adalah kegiatan wajib (soft power)
  • Start on time, end on time: jangan molor, hargai waktu orang

Tantangan 2: Tidak ada kasus menarik untuk dibahas (kasus sepi).

Solusi:

  • Expand kriteria: tidak harus super kompleks, kasus edukatif juga boleh
  • Retrospective case: bahas kasus lama yang menarik sebagai pembelajaran
  • Case-based scenario: buat kasus hipotesis untuk diskusi (jika memang tidak ada kasus real)
  • Variasi agenda: kalau tidak ada kasus, isi dengan:
    • Update guideline terbaru
    • Presentasi data PPRA bulanan
    • Workshop: cara membaca hasil kultur, cara hitung DDD, dll

Tantangan 3: Diskusi tidak produktif: terlalu panjang, tidak ada kesimpulan, atau didominasi 1-2 orang saja.

Solusi:

  • Moderator harus tegas: time keeper, potong diskusi yang melebar
  • Struktur diskusi jelas (pakai template pertanyaan seperti di atas)
  • Actively invite quiet participants: “Dr. X, bagaimana pendapat dari sisi mikrobiologi?”
  • Parking lot: isu yang terlalu detail/di luar topik → dicatat untuk diskusi terpisah
  • Action-oriented: “Jadi, keputusannya apa? Siapa yang akan eksekusi?”

Tantangan 4: Rekomendasi FORKKIT tidak diikuti oleh DPJP.

Solusi:

  • Track dan report: % acceptance rekomendasi → dilaporkan ke direktur
  • Feedback loop: tanyakan ke DPJP kenapa tidak diikuti, apakah ada kendala?
  • Improve quality rekomendasi: pastikan evidence-based dan practical
  • Soft approach: jangan memaksa, tapi jelaskan rasional dengan baik
  • Jika DPJP consistently ignore: diskusi dengan Ketua SMF atau Komite Medik

Tantangan 5: FORKKIT jadi monoton dan membosankan setelah beberapa bulan.

Solusi:

  • Variasi format:
    • Bulan ini: case-based
    • Bulan depan: journal reading
    • Bulan lain: workshop
  • Guest speaker: undang narasumber eksternal
  • Gamification: quiz interaktif dengan hadiah
  • Site visit: 1-2x setahun, FORKKIT di RS lain (benchmarking + networking)

INTEGRASI DAN KOORDINASI 5 PILAR

Kelima pilar tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling mendukung dan terintegrasi:

INTEGRASI 5 PILAR PPRA:

PILAR 1 (EDUKASI) → Foundasi untuk semua pilar
    ↓
PILAR 2 (PGA) → Implementasi di lapangan
    ↓ (menghasilkan data)
PILAR 3 (SURVEILANS PENGGUNAAN) → Monitoring kuantitas & kualitas
    ↓ (deteksi masalah)
PILAR 4 (SURVEILANS RESISTENSI) → Monitoring outcome
    ↓ (identifikasi kasus kompleks)
PILAR 5 (FORKKIT) → Problem solving & pembelajaran
    ↓ (feedback loop)
KEMBALI KE PILAR 1 (EDUKASI) → Continuous improvement


CONTOH INTEGRASI KONKRET:

Skenario: Meningkatnya Kasus ESBL di Ruang Penyakit Dalam

BULAN 1-2:
• PILAR 4 (Surveilans Resistensi): Lab melaporkan 8 kasus E. coli ESBL 
  dalam 2 bulan di ruang Penyakit Dalam (↑ 100% vs baseline)

BULAN 2:
• PILAR 3 (Surveilans Penggunaan): Data menunjukkan penggunaan 
  ceftriaxone meningkat signifikan di ruang tersebut
• ANALISIS: Kemungkinan penggunaan ceftriaxone yang tinggi 
  → tekanan selektif → munculnya ESBL

BULAN 3:
• PILAR 5 (FORKKIT): Kasus ESBL dibahas dalam FORKKIT
  - Rekomendasi: 
    1) Review indikasi ceftriaxone
    2) Strict antibiogram-based therapy
    3) Isolasi pasien ESBL
    4) Bundle PPI

• PILAR 2 (PGA): Implementasi rekomendasi
  - Restrict ceftriaxone untuk indikasi tertentu saja
  - Promosi antibiotik alternatif (ampicilin-sulbaktam, fluorokuinolon)
  - Ward round intensif untuk review penggunaan antibiotik

BULAN 4-6:
• PILAR 1 (EDUKASI): Workshop khusus untuk dokter di ruang Penyakit Dalam
  - Topik: "ESBL: Pencegahan dan Tata Laksana"
  - Sosialisasi antibiogram
  - Pentingnya antibiotic stewardship

BULAN 6:
• EVALUASI:
  - PILAR 4: Kasus ESBL turun menjadi 2 kasus per bulan (↓ 75%) ✓
  - PILAR 3: Penggunaan ceftriaxone turun 40% ✓
  - PILAR 2: Kepatuhan menggunakan antibiogram meningkat dari 50% → 85% ✓

SUCCESS STORY!


MONITORING DAN EVALUASI KESELURUHAN PROGRAM

Dashboard PPRA Komprehensif (Bulanan/Triwulanan)

Buat laporan terintegrasi yang menggabungkan data dari 5 pilar:

LAPORAN PPRA TRIWULAN II 2025

═══════════════════════════════════════════════════════

I. PILAR 1: EDUKASI DAN PELATIHAN
   • Pelatihan dilaksanakan: 4 sesi (dokter, perawat, farmasi, lab)
   • Total peserta: 185 orang (92% target) ✓
   • Rata-rata skor post-test: 83/100 ✓
   • Kepuasan peserta: 4.3/5

═══════════════════════════════════════════════════════

II. PILAR 2: PENATAGUNAAN ANTIMIKROBA (PGA)
   A. RUANGAN PILOT (ICU):
      • Permintaan antibiotik restricted: 112 kasus
      • Approval rate: 86%
      • Waktu approval rata-rata: 1.8 jam
      • Ward round: 24x (2x/minggu konsisten) ✓
      • Rekomendasi diterima DPJP: 88% ✓
   
   B. EKSPANSI:
      • PGA dimulai di Ruang Penyakit Dalam (Mei 2025)
      • Persiapan PGA di Ruang Bedah (Juni 2025)

═══════════════════════════════════════════════════════

III. PILAR 3: SURVEILANS PENGGUNAAN ANTIMIKROBA
    A. KUANTITATIF (DDD/100 hari rawat):
       Antibiotik        Q1-2025  Q2-2025  Perubahan
       -----------------------------------------------
       Meropenem (ICU)     120      88      ↓ 27% ✓
       Ceftriaxone (PD)     95      75      ↓ 21% ✓
       Levofloxacin (all)   65      68      ↑ 5%
       
    B. KUALITATIF (Metode Gyssens):
       • Total kasus di-audit: 120 kasus
       • Kategori 0 (TEPAT): 54% ✓ (baseline 40%)
       • Problem utama: Durasi terlalu lama (18%)
       
    C. BIAYA ANTIBIOTIK:
       • Q1: Rp 350 juta
       • Q2: Rp 280 juta (↓ 20%) ✓
       • Saving: Rp 70 juta per triwulan!

═══════════════════════════════════════════════════════

IV. PILAR 4: SURVEILANS RESISTENSI ANTIMIKROBA
    A. ANTIBIOGRAM:
       • Antibiogram periode Jan-Jun 2025 telah dipublikasi
       • Distribusi ke seluruh SMF ✓
       • Sosialisasi dalam 3 workshop
    
    B. MDRO:
       • Total kasus MDRO: 35 kasus
       • ESBL: 18 kasus (51%)
       • MRSA: 10 kasus (29%)
       • CRE: 5 kasus (14%)
       • MDR Acinetobacter: 2 kasus (6%)
       
       Tren: Q1 = 22 kasus, Q2 = 35 kasus (↑ 59%) ❌
       → PERLU PERHATIAN!
       
    C. KULTUR COMPLIANCE:
       • % kultur diambil sebelum antibiotik: 71% ✓ (baseline 29%)

═══════════════════════════════════════════════════════

V. PILAR 5: FORKKIT
   • Jumlah sesi: 6 sesi (1x per 2 minggu) ✓
   • Total kasus dibahas: 15 kasus
   • Rata-rata peserta: 12 orang/sesi ✓
   • Rekomendasi diikuti: 85%
   • Outcome pasien: 80% membaik/sembuh ✓

═══════════════════════════════════════════════════════

VI. OUTCOME KLINIS (seluruh RS)
    Parameter              Baseline  Q2-2025  Perubahan
    ----------------------------------------------------
    Mortality sepsis         18%      14%     ↓ 22% ✓
    Avg LOS (infeksi)       12 hari   10 hari ↓ 17% ✓
    HAI rate                 8/1000    6/1000  ↓ 25% ✓
    Re-admission rate        15%      12%     ↓ 20% ✓

═══════════════════════════════════════════════════════

VII. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

KEBERHASILAN:
✓ Program PGA berjalan baik dengan acceptance rate tinggi
✓ Penggunaan karbapenem turun signifikan
✓ Kultur compliance meningkat drastis
✓ Outcome klinis membaik (mortality ↓, LOS ↓)
✓ Cost saving Rp 70 juta per triwulan

CONCERN:
❌ Kasus MDRO meningkat, terutama ESBL di Ruang Penyakit Dalam
❌ Levofloxacin usage sedikit naik (investigasi lebih lanjut)

ACTION PLAN Q3-2025:
1. Fokus intervensi ESBL di Ruang Penyakit Dalam:
   - Audit penggunaan sefalosporin generasi 3
   - Intensifkan bundle PPI
2. Ekspansi PGA ke Ruang Bedah dan Anak
3. Pelatihan refresher untuk karyawan baru
4. Evaluasi penggunaan fluorokuinolon

═══════════════════════════════════════════════════════

Laporan disusun oleh: Tim PPRA RS XYZ
Tanggal: 5 Juli 2025


KESIMPULAN: ROADMAP IMPLEMENTASI 12 BULAN

TIMELINE IMPLEMENTASI 5 PILAR PPRA

BULAN 1-3: FASE INISIASI
├─ Regulasi selesai & disahkan
├─ Tim PPRA terbentuk
├─ Pelatihan massal semua staf
├─ Pilot PGA di 1 ruangan (ICU)
├─ Setup sistem surveilans
└─ FORKKIT perdana

BULAN 4-6: FASE EKSPANSI
├─ Edukasi maintenance & refresher
├─ PGA ekspansi ke 2-3 ruangan
├─ Surveilans berjalan rutin
├─ Antibiogram periode 1 selesai
└─ FORKKIT reguler (2x/bulan)

BULAN 7-9: FASE KONSOLIDASI
├─ PGA full implementation semua ruangan
├─ Audit kualitatif rutin
├─ MDRO surveillance established
├─ Workshop lanjutan
└─ Evaluasi mid-year: adjustment

BULAN 10-12: FASE EVALUASI & IMPROVEMENT
├─ Evaluasi komprehensif 1 tahun
├─ Antibiogram periode 2
├─ Benchmarking dengan RS lain
├─ Publikasi hasil (artikel/konferensi)
└─ Rencana program tahun depan

BEYOND YEAR 1: SUSTAINABILITAS
├─ Program menjadi rutinitas (business as usual)
├─ Continuous quality improvement
├─ Scale up: expand ke klinik rawat jalan
└─ Mentoring RS lain (jadi RS rujukan PPRA)


CRITICAL SUCCESS FACTORS

10 Kunci Keberhasilan Implementasi PPRA:

  1. Komitmen Top Management – Tanpa dukungan direktur, program tidak akan jalan
  2. Champion di Lapangan – Perlu doctor champion yang passionate di setiap unit
  3. Data-Driven Decision – Gunakan data untuk memandu kebijakan, bukan asumsi
  4. Multidisiplin Collaboration – PPRA bukan program dokter saja, tapi semua profesi
  5. Start Small, Scale Fast – Pilot project dulu, jangan langsung serentak
  6. Education, Education, Education – Edukasi berulang-ulang sampai jadi kultur
  7. Feedback Loop – Monitoring → Evaluasi → Perbaikan → Monitoring lagi
  8. Non-Punitive Approach – Fokus pembelajaran, bukan mencari kesalahan
  9. Celebrate Wins – Rayakan setiap pencapaian, sekecil apapun
  10. Persistence – Jangan menyerah jika ada hambatan, adjust dan terus maju

PENUTUP: PESAN UNTUK TIM PPRA

Implementasi 5 pilar PPRA adalah marathon, bukan sprint. Tidak akan sempurna di bulan pertama, kedua, bahkan keenam. Yang penting adalah progress, bukan perfection.

Beberapa wisdom untuk perjalanan ini:

🔹 “Done is better than perfect” – Jangan stuck di planning terlalu lama. Launch dengan yang ada, improve sambil jalan.

🔹 “People support what they help create” – Libatkan stakeholder sejak awal, jangan dictate dari atas.

🔹 “What gets measured gets managed” – Data adalah kunci. Track, report, act.

🔹 “Culture eats strategy for breakfast” – Program terbaik sekalipun akan gagal jika kultur RS tidak mendukung. Investasi waktu untuk change management.

🔹 “It takes a village” – PPRA bukan program satu tim, tapi seluruh rumah sakit. Kolaborasi adalah kunci.

Ketika merasa overwhelmed (dan pasti akan merasa overwhelmed di beberapa titik), ingat MENGAPA kita melakukan ini:

💙 Untuk pasien kita, agar mereka mendapat antibiotik yang tepat dan sembuh lebih cepat 💙 Untuk generasi mendatang, agar antibiotik masih efektif 10, 20, 50 tahun lagi 💙 Untuk rumah sakit, agar outcome membaik dan biaya terkendali 💙 Untuk kita sendiri sebagai tenaga kesehatan, agar bangga memberikan pelayanan terbaik

Selamat berjuang, Tim PPRA! 💪


LAMPIRAN: CHECKLIST IMPLEMENTASI

Untuk memastikan tidak ada yang terlewat, gunakan checklist ini:

☐ PERSIAPAN AWAL
  ☐ SK Tim PPRA
  ☐ Kebijakan PPRA
  ☐ Panduan Antibiotik
  ☐ Paket SPO (minimal 8 SPO)
  ☐ Form-form pendukung
  ☐ Budget dialokasikan

☐ PILAR 1: EDUKASI
  ☐ Asesmen kebutuhan pelatihan
  ☐ Materi pelatihan (dokter, perawat, farmasi, lab)
  ☐ Jadwal pelatihan tersusun
  ☐ Logistik pelatihan siap
  ☐ Pelatihan dilaksanakan (target >90% peserta)
  ☐ Post-test & evaluasi
  ☐ Materi edukasi pasien (leaflet, video, poster)
  ☐ Jadwal refresher training

☐ PILAR 2: PGA
  ☐ Ruangan pilot dipilih
  ☐ Champion PGA di ruangan pilot ditunjuk
  ☐ Baseline data dikumpulkan
  ☐ Daftar antibiotik restricted ditetapkan
  ☐ Form permintaan antibiotik tersedia
  ☐ Jadwal on-call Tim PPRA dibuat
  ☐ Sistem approval berjalan
  ☐ Ward round rutin dimulai
  ☐ Monitoring & evaluasi bulanan
  ☐ Rencana ekspansi ke ruangan lain

☐ PILAR 3: SURVEILANS PENGGUNAAN
  ☐ Sistem pencatatan penggunaan antibiotik (manual/IT)
  ☐ Tabel referensi DDD WHO
  ☐ Data hari rawat tersedia
  ☐ Perhitungan DDD/100 hari rawat dimulai
  ☐ Grafik tren dibuat
  ☐ Sampel untuk audit kualitatif dipilih
  ☐ Tim reviewer dilatih metode Gyssens
  ☐ Audit kualitatif dilakukan
  ☐ Feedback ke klinisi
  ☐ Laporan bulanan

☐ PILAR 4: SURVEILANS RESISTENSI
  ☐ Asesmen kapasitas lab mikrobiologi
  ☐ SOP pengambilan spesimen tersedia
  ☐ Campaign kultur compliance
  ☐ Database hasil kultur & uji kepekaan
  ☐ Definisi MDRO ditetapkan
  ☐ Sistem pelaporan MDRO ke Tim PPRA & PPI
  ☐ Bundle response MDRO (isolasi, dll)
  ☐ Data kultur 6 bulan terkumpul
  ☐ Antibiogram disusun
  ☐ Antibiogram didistribusikan & disosialisasikan
  ☐ Monitoring tren MDRO

☐ PILAR 5: FORKKIT
  ☐ Struktur tim FORKKIT
  ☐ Jadwal tetap FORKKIT (minimal 1x/bulan)
  ☐ Kriteria pemilihan kasus
  ☐ Template presentasi kasus
  ☐ Ruang dan logistik FORKKIT
  ☐ Sistem pengumpulan kasus
  ☐ FORKKIT perdana dilaksanakan
  ☐ Notulen & dokumentasi
  ☐ Follow-up outcome pasien
  ☐ Evaluasi proses FORKKIT

☐ MONITORING & EVALUASI KESELURUHAN
  ☐ Dashboard PPRA bulanan
  ☐ Laporan triwulanan ke Direktur
  ☐ Rapat evaluasi internal Tim PPRA
  ☐ Adjustment program berdasarkan data
  ☐ Laporan tahunan
  ☐ Publikasi hasil (internal/eksternal)


Dengan mengikuti tahapan-tahapan di atas secara sistematis dan fleksibel, implementasi 5 pilar PPRA akan berjalan dengan baik dan berkelanjutan. Kunci utamanya: mulai, terus belajar, terus perbaiki, jangan menyerah! 🚀


Catatan: Nama, data, tempat dan kejadian hanya contoh saja. Jika ada kesamaan dengan kondisi nyata, maka hanya kebetulan belaka.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. asrohmandar69 Avatar

    Sehatkan kami 👯

    Suka

Tinggalkan komentar