Pengantar
Antibiotik merupakan obat yang sangat penting dalam dunia kedokteran modern. Namun, terdapat kesalahpahaman yang umum di masyarakat bahwa antibiotik dapat mengobati semua jenis penyakit. Artikel ini bertujuan memberikan edukasi kepada pasien dan orang tua pasien mengenai kapan antibiotik diperlukan dan kapan tidak diperlukan, serta pentingnya penggunaan antibiotik secara bijak.
Apa Itu Antibiotik?
Antibiotik adalah obat yang dirancang khusus untuk melawan infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Antibiotik bekerja dengan cara membunuh bakteri atau menghambat pertumbuhannya, sehingga sistem pertahanan tubuh dapat menghancurkan bakteri yang sudah melemah tersebut.
Hal penting yang perlu dipahami: Antibiotik hanya efektif terhadap infeksi bakteri dan tidak bekerja sama sekali terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus, jamur, atau parasit.
Perbedaan Infeksi Bakteri dan Virus
Infeksi Virus
Sebagian besar penyakit yang umum dialami sehari-hari disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Infeksi virus tidak dapat diobati dengan antibiotik. Kondisi yang disebabkan oleh virus meliputi:
- Batuk dan pilek (termasuk bila lendir berwarna kuning atau hijau)
- Influenza (flu)
- Sebagian besar radang tenggorokan
- Bronkitis akut (batuk dengan dahak)
- Sebagian besar infeksi sinus
- Sebagian besar infeksi telinga
- COVID-19
Pada infeksi virus, tubuh memiliki kemampuan untuk melawan dan sembuh sendiri (self-limited infection). Pemberian antibiotik pada kondisi ini tidak akan memberikan manfaat, tetapi justru dapat menimbulkan efek samping dan risiko resistensi antibiotik.
Infeksi Bakteri
Infeksi bakteri yang memerlukan antibiotik antara lain:
- Radang tenggorokan akibat bakteri Streptococcus (strep throat) yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan laboratorium
- Infeksi saluran kemih (ISK)
- Pneumonia bakteri
- Beberapa jenis infeksi sinus dan infeksi telinga yang berat
- Infeksi kulit tertentu seperti selulitis
- Sepsis (infeksi bakteri yang menyebar ke aliran darah)
Perlu dicatat bahwa tidak semua infeksi bakteri memerlukan antibiotik. Beberapa infeksi bakteri ringan dapat sembuh sendiri dengan bantuan sistem kekebalan tubuh.
Mengapa Antibiotik Tidak Boleh Digunakan Sembarangan?
1. Resistensi Antimikroba (AMR)
Resistensi antimikroba adalah kondisi di mana bakteri, virus, jamur, dan parasit mengalami perubahan sehingga tidak lagi merespons obat-obatan antimikroba. Hal ini membuat infeksi menjadi lebih sulit diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit, penyakit yang lebih berat, bahkan kematian.
Menurut data Kementerian Kesehatan RI melalui Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA), penggunaan antimikroba secara kualitatif yang optimal dan bijak di Indonesia hanya sekitar 20%, sedangkan sebagian besar (80%) merupakan penggunaan yang berlebihan (overuse) dan salah (misuse) atau tanpa indikasi. Data surveilans juga menunjukkan bahwa prevalensi bakteri penghasil ESBL (Extended-Spectrum Beta-Lactamase) meningkat dari 40% pada tahun 2013 menjadi 60% pada tahun 2016.
Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memproyeksikan bahwa resistensi terhadap antibiotik lini terakhir akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2035 dibandingkan dengan tingkat tahun 2005, yang menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan praktik penatalayanan antimikroba yang kuat.
2. Efek Samping
Penggunaan antibiotik dapat menimbulkan berbagai efek samping, mulai dari ringan hingga berat, termasuk:
- Gangguan pencernaan (diare, mual, muntah)
- Reaksi alergi (ruam kulit hingga reaksi alergi berat)
- Infeksi jamur (candidiasis)
- Infeksi Clostridioides difficile (C. diff) yang dapat menyebabkan diare berat dan kerusakan usus besar
- Interaksi dengan obat lain yang sedang dikonsumsi
Pada anak-anak, efek samping antibiotik merupakan penyebab paling umum kunjungan ke unit gawat darurat terkait pengobatan.
3. Mengurangi Efektivitas di Masa Depan
Setiap kali antibiotik digunakan tanpa indikasi yang tepat, bakteri memiliki kesempatan untuk mengembangkan resistensi. Bakteri yang resisten ini dapat menyebar ke orang lain, menciptakan infeksi yang sulit atau bahkan tidak mungkin diobati dengan antibiotik yang tersedia saat ini.
Prinsip Penggunaan Antibiotik Secara Bijak
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit, penggunaan antibiotik secara bijak didefinisikan sebagai:
“Penggunaan antibiotik secara rasional dengan mempertimbangkan dampak munculnya dan menyebarnya mikroba (bakteri) resisten.”
Penggunaan antibiotik secara bijak mencakup:
- Indikasi yang tepat: Antibiotik hanya diberikan pada penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri, dengan didukung data klinis dan hasil pemeriksaan laboratorium yang akurat
- Pemilihan antibiotik yang tepat: Jenis antibiotik dipilih berdasarkan hasil pemeriksaan mikrobiologi atau pola mikroba dan pola kepekaan antibiotik
- Dosis yang tepat: Tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi, disesuaikan dengan kondisi pasien
- Rute pemberian yang tepat: Oral, injeksi, atau intravena sesuai kebutuhan medis
- Waktu dan lama pemberian yang tepat: Sesuai dengan panduan penggunaan antibiotik yang berlaku
Panduan untuk Pasien dan Keluarga
Yang Perlu Dilakukan:
- Jangan meminta dokter meresepkan antibiotik untuk kondisi seperti batuk, pilek, flu, atau sebagian besar radang tenggorokan, karena kondisi ini umumnya disebabkan oleh virus
- Percayakan kepada dokter untuk menentukan apakah kondisi Anda atau anak Anda memerlukan antibiotik. Dokter akan melakukan pemeriksaan klinis dan laboratorium jika diperlukan
- Jika dokter meresepkan antibiotik:
- Minumlah sesuai petunjuk dokter
- Habiskan seluruh antibiotik yang diresepkan, meskipun sudah merasa lebih baik
- Jangan pernah berbagi antibiotik dengan orang lain
- Jangan menyimpan antibiotik untuk digunakan di lain waktu
- Jangan mengonsumsi antibiotik yang diresepkan untuk orang lain
- Tanyakan kepada dokter apa yang dapat Anda lakukan untuk merasa lebih baik saat tubuh melawan infeksi virus
- Hubungi dokter atau tenaga kesehatan jika mengalami efek samping saat mengonsumsi antibiotik
Yang Tidak Boleh Dilakukan:
- Jangan menghentikan antibiotik sebelum waktu yang ditentukan, meskipun sudah merasa lebih baik. Hal ini dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten
- Jangan menyimpan antibiotik sisa untuk digunakan di kemudian hari
- Jangan menggunakan antibiotik tanpa resep dokter atau antibiotik yang diresepkan untuk orang lain
- Jangan memaksa dokter untuk memberikan antibiotik jika kondisi Anda tidak memerlukannya
Alternatif Penanganan untuk Infeksi Virus
Ketika menderita infeksi virus seperti batuk, pilek, atau flu, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk merasa lebih baik:
- Istirahat yang cukup
- Minum banyak cairan (air putih, sup hangat)
- Menggunakan pelembap udara (humidifier)
- Berkumur dengan air garam hangat untuk meredakan sakit tenggorokan
- Mengonsumsi obat pereda nyeri dan demam seperti parasetamol (sesuai dosis yang dianjurkan)
- Menjaga pola makan bergizi
- Menjaga kebersihan dengan mencuci tangan secara teratur
Sebagian besar infeksi virus akan sembuh dengan sendirinya dalam waktu 7-14 hari. Namun, jika gejala memburuk atau tidak membaik setelah beberapa minggu, segera konsultasikan dengan dokter.
Pencegahan Infeksi
Mencegah infeksi adalah strategi terbaik untuk menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu. Beberapa langkah pencegahan meliputi:
- Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama minimal 20 detik, terutama sebelum makan dan setelah dari toilet
- Tutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin dengan tisu atau siku bagian dalam
- Dapatkan vaksinasi sesuai jadwal yang direkomendasikan (misalnya vaksin influenza, pneumonia)
- Hindari kontak dekat dengan orang yang sedang sakit
- Jaga pola hidup sehat dengan konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, dan istirahat cukup untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Kesimpulan
Antibiotik adalah obat yang sangat berharga dan menyelamatkan jiwa ketika digunakan dengan tepat. Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat membahayakan kesehatan individu dan masyarakat melalui resistensi antimikroba.
Sebagai pasien dan keluarga pasien, kita memiliki peran penting dalam mendukung Program Pengendalian Resistensi Antimikroba dengan:
- Memahami bahwa tidak semua penyakit memerlukan antibiotik
- Hanya menggunakan antibiotik ketika diresepkan oleh dokter
- Mengonsumsi antibiotik sesuai petunjuk dan menghabiskannya
- Tidak meminta antibiotik untuk infeksi virus
- Menerapkan langkah-langkah pencegahan infeksi
Mari bersama-sama menggunakan antibiotik secara bijak untuk melindungi kesehatan kita dan generasi mendatang.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2017 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
- Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba Kementerian Kesehatan RI. (2021). Panduan Penatagunaan Antimikroba di Rumah Sakit.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2025). Antibiotic Prescribing and Use: Healthy Habits – Antibiotic Do’s and Don’ts. https://www.cdc.gov/antibiotic-use/
- World Health Organization (WHO). (2023). Antimicrobial Resistance Fact Sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/antimicrobial-resistance
- National Health Service (NHS) Inform. (2024). Antibiotics: Uses and Side Effects. https://www.nhsinform.scot/
- Johns Hopkins Medicine. Antibiotics: When Do You Need Them and When Should You Avoid Them? https://www.hopkinsmedicine.org/health/wellness-and-prevention/antibiotics
- American Academy of Family Physicians (AAFP). (2022). When Antibiotics Can Help With Upper Respiratory Infections.
Artikel ini disusun untuk kepentingan edukasi kesehatan masyarakat. Untuk diagnosis dan pengobatan yang tepat, konsultasikan dengan dokter atau tenaga kesehatan profesional.

Tinggalkan komentar