- Pendahuluan
- Konsep Dasar Metode Gyssens
- Kategori Penilaian Metode Gyssens
- Kategori 0: Penggunaan Antibiotik Tepat dan Rasional
- Kategori I: Tidak Tepat Waktu (Timing) Pemberian Antibiotik
- Kategori II: Tidak Tepat Regimen Dosis
- Kategori III: Tidak Tepat Durasi Pemberian
- Kategori IV: Tidak Tepat Pilihan Antibiotik
- Kategori V: Tidak Ada Indikasi Pemberian Antibiotik
- Kategori VI: Data Tidak Lengkap
- Flowchart Metode Gyssens
- Langkah-langkah Implementasi Audit dengan Metode Gyssens
- Aplikasi Praktis: Contoh Kasus
- Keuntungan dan Keterbatasan Metode Gyssens
- Interpretasi dan Tindak Lanjut Hasil Audit
- Integrasi dengan Komponen PPRA Lainnya
- Kesimpulan
- Referensi
Pendahuluan
Resistensi antimikroba (AMR) telah menjadi ancaman global terhadap kesehatan masyarakat. World Health Organization (WHO) memprediksikan bahwa pada tahun 2050, akan ada 10 juta kematian per tahun akibat resistensi obat jika tidak ada tindakan komprehensif yang diambil. Salah satu faktor utama penyebab resistensi antimikroba adalah penggunaan antibiotik yang tidak rasional di fasilitas pelayanan kesehatan.
Di Indonesia, data surveilans Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa penggunaan antimikroba secara kualitatif yang optimal dan bijak hanya sekitar 20%, sedangkan 80% sisanya merupakan penggunaan yang berlebihan (overuse) atau tidak tepat (misuse). Kondisi ini menggarisbawahi pentingnya evaluasi kualitas penggunaan antibiotik secara sistematis dan terstandarisasi.
Metode Gyssens (Gyssens Flowchart/Algorithm) telah diakui secara internasional sebagai instrumen yang valid dan reliabel untuk menilai kualitas peresepan antibiotik. Metode ini dikembangkan oleh Dr. Inge C. Gyssens dan telah direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 Tahun 2015 sebagai salah satu metode standar untuk audit kualitas penggunaan antibiotik di rumah sakit.
Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang metode Gyssens, mulai dari konsep dasar, kategori penilaian, langkah-langkah implementasi, hingga aplikasi praktis dan interpretasi hasil.
Konsep Dasar Metode Gyssens
Definisi dan Tujuan
Metode Gyssens adalah alat evaluasi kualitatif yang dirancang untuk menilai ketepatan penggunaan antibiotik secara retrospektif melalui review rekam medis pasien. Metode ini menggunakan pendekatan algoritma flowchart yang sistematis untuk mengevaluasi berbagai aspek penggunaan antibiotik, mulai dari ada tidaknya indikasi hingga ketepatan regimen terapi.
Tujuan utama metode Gyssens:
- Mengidentifikasi pola penggunaan antibiotik yang tidak rasional di rumah sakit
- Memberikan feedback objektif kepada klinisi tentang kualitas peresepan antibiotik
- Memantau dampak intervensi program pengendalian resistensi antimikroba (PPRA)
- Meningkatkan kualitas penggunaan antibiotik melalui continuous quality improvement
- Sebagai dasar pengembangan kebijakan dan panduan penggunaan antibiotik lokal
Prinsip Dasar Evaluasi
Metode Gyssens didasarkan pada prinsip evaluasi komprehensif terhadap enam aspek utama penggunaan antibiotik, yang dikenal dengan 6 “Tepat”:
- Tepat Indikasi – apakah benar-benar ada infeksi bakteri yang memerlukan antibiotik
- Tepat Pemilihan – apakah jenis antibiotik yang dipilih sudah sesuai dengan mikroorganisme penyebab infeksi
- Tepat Dosis – apakah dosis yang diberikan sudah sesuai dengan kondisi pasien
- Tepat Interval – apakah interval pemberian sudah tepat berdasarkan farmakokinetik antibiotik
- Tepat Rute – apakah rute pemberian (oral, intravena, intramuskular) sudah tepat
- Tepat Durasi – apakah lama pemberian antibiotik sudah sesuai dengan panduan terapi
Selain itu, metode Gyssens juga mempertimbangkan aspek efektivitas, keamanan, biaya, dan spektrum antibiotik dalam evaluasinya.
Kategori Penilaian Metode Gyssens
Metode Gyssens mengklasifikasikan penggunaan antibiotik ke dalam 7 kategori utama (Kategori 0-VI), dengan beberapa kategori memiliki subkategori. Berikut adalah penjelasan detail setiap kategori:
Kategori 0: Penggunaan Antibiotik Tepat dan Rasional
Definisi: Penggunaan antibiotik yang memenuhi semua kriteria penggunaan yang rasional.
Kriteria:
- Ada indikasi yang jelas untuk pemberian antibiotik (infeksi bakteri terbukti atau sangat mungkin)
- Pemilihan antibiotik tepat berdasarkan etiologi yang diperkirakan atau terbukti
- Dosis, interval, dan rute pemberian sudah benar
- Waktu pemberian (timing) sudah tepat
- Durasi terapi sesuai dengan panduan
- Tidak ada alternatif antibiotik yang lebih baik (lebih efektif, lebih aman, lebih murah, atau spektrum lebih sempit)
Interpretasi: Ini adalah kategori target atau ideal dalam penggunaan antibiotik. Peningkatan persentase kategori 0 merupakan salah satu indikator keberhasilan PPRA.
Kategori I: Tidak Tepat Waktu (Timing) Pemberian Antibiotik
Definisi: Antibiotik yang dipilih sudah tepat, tetapi waktu pemberian tidak optimal.
Contoh kasus:
- Antibiotik profilaksis bedah diberikan terlalu dini (>2 jam sebelum insisi) atau terlalu lambat (setelah insisi)
- Antibiotik empiris untuk sepsis tidak diberikan dalam “golden hour” pertama
- Interval pemberian antibiotik tidak konsisten (misalnya antibiotik yang seharusnya diberikan setiap 8 jam tetapi diberikan dengan interval yang tidak teratur)
Implikasi klinis: Timing yang tidak tepat dapat mengurangi efektivitas terapi, terutama pada kondisi kritis seperti sepsis atau untuk profilaksis bedah.
Kategori II: Tidak Tepat Regimen Dosis
Kategori II terbagi menjadi tiga subkategori:
Kategori IIA: Tidak Tepat Dosis
Definisi: Dosis antibiotik yang diberikan tidak sesuai dengan rekomendasi.
Contoh kasus:
- Dosis terlalu rendah: Pasien dengan berat badan 80 kg mendapat Gentamicin 80 mg setiap 24 jam (seharusnya 5-7 mg/kg/hari = 400-560 mg)
- Dosis terlalu tinggi: Pasien dengan klirens kreatinin 30 mL/menit mendapat dosis penuh Ceftriaxone tanpa penyesuaian
- Tidak memperhitungkan kondisi khusus: Pasien obesitas tidak mendapat penyesuaian dosis untuk antibiotik yang dosisnya berdasarkan berat badan
Implikasi klinis: Dosis yang terlalu rendah dapat menyebabkan kegagalan terapi dan mendorong resistensi, sedangkan dosis berlebihan meningkatkan risiko toksisitas.
Kategori IIB: Tidak Tepat Interval Pemberian
Definisi: Frekuensi atau interval pemberian antibiotik tidak sesuai dengan farmakokinetik obat.
Contoh kasus:
- Ceftriaxone (waktu paruh panjang) diberikan 3 kali sehari, padahal cukup 1-2 kali sehari
- Amoksisilin (waktu paruh pendek) diberikan 2 kali sehari, seharusnya 3 kali sehari
- Antibiotik time-dependent (seperti beta-laktam) tidak diberikan dalam interval yang tepat untuk mempertahankan kadar di atas MIC
Implikasi klinis: Interval yang tidak tepat dapat menyebabkan kadar obat suboptimal atau justru berlebihan, mengurangi efektivitas terapi atau meningkatkan risiko efek samping.
Kategori IIC: Tidak Tepat Rute Pemberian
Definisi: Jalur pemberian antibiotik tidak sesuai dengan kondisi klinis pasien.
Contoh kasus:
- Pasien dengan fungsi saluran cerna baik dan dapat minum oral tetap diberikan antibiotik intravena (IV)
- Antibiotik diberikan secara intramuskular (IM) padahal pasien memiliki akses IV yang baik
- Tidak dilakukan IV to oral switch meskipun kondisi pasien sudah membaik dan dapat minum oral
Implikasi klinis: Penggunaan rute IV yang tidak perlu meningkatkan biaya perawatan, risiko infeksi nosokomial (flebitis, infeksi bloodstream terkait kateter), dan lama rawat inap.
Kategori III: Tidak Tepat Durasi Pemberian
Kategori III terbagi menjadi dua subkategori:
Kategori IIIA: Pemberian Antibiotik Terlalu Lama
Definisi: Durasi terapi antibiotik melebihi rekomendasi panduan atau tidak ada justifikasi klinis untuk perpanjangan terapi.
Contoh kasus:
- Pneumonia komunitas ringan-sedang diberikan antibiotik selama 14 hari (seharusnya 5-7 hari)
- Profilaksis bedah dilanjutkan >24 jam post-operasi tanpa indikasi
- Infeksi saluran kemih tidak berkomplikasi diobati selama 10 hari (seharusnya 3-5 hari)
Implikasi klinis: Durasi terapi yang berlebihan meningkatkan:
- Risiko efek samping obat
- Tekanan selektif terhadap bakteri (mendorong resistensi)
- Risiko infeksi sekunder (misalnya Clostridioides difficile)
- Biaya perawatan
Catatan penting: Studi di berbagai negara menunjukkan bahwa kategori IIIA adalah salah satu kategori ketidaktepatan yang paling sering ditemukan, dengan prevalensi mencapai 31% dalam beberapa penelitian.
Kategori IIIB: Pemberian Antibiotik Terlalu Singkat
Definisi: Durasi terapi antibiotik kurang dari rekomendasi panduan atau dihentikan terlalu dini tanpa justifikasi klinis.
Contoh kasus:
- Bakteremia Staphylococcus aureus diobati hanya 7 hari (seharusnya minimal 14 hari, bisa sampai 4-6 minggu jika ada komplikasi)
- Tuberkulosis dihentikan sebelum regimen lengkap 6 bulan
- Osteomielitis akut diobati kurang dari 4-6 minggu
Implikasi klinis: Durasi terapi yang terlalu singkat dapat menyebabkan:
- Kegagalan terapi
- Relaps atau kekambuhan infeksi
- Pembentukan resistensi antibiotik
- Komplikasi jangka panjang
Kategori IV: Tidak Tepat Pilihan Antibiotik
Kategori IV merupakan kategori yang paling kompleks dengan empat subkategori, masing-masing mengevaluasi aspek pemilihan antibiotik yang berbeda:
Kategori IVA: Ada Alternatif Antibiotik yang Lebih Efektif
Definisi: Terdapat antibiotik lain yang lebih efektif untuk mikroorganisme penyebab infeksi.
Contoh kasus:
- Pasien dengan pneumonia Streptococcus pneumoniae (hasil kultur) diberikan Ceftriaxone, padahal hasil uji kepekaan menunjukkan sensitif terhadap Amoksisilin yang lebih efektif untuk kuman ini
- Infeksi Pseudomonas aeruginosa yang resisten terhadap Ceftazidime tetap diberikan Ceftazidime, padahal hasil antibiogram menunjukkan sensitif terhadap Meropenem
- Terapi empiris MRSA (Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus) menggunakan Vancomycin oral untuk bakteremia (seharusnya IV)
Prinsip de-eskalasi: Kategori IVA seringkali terkait dengan kegagalan melakukan de-eskalasi terapi dari antibiotik spektrum luas empiris ke antibiotik spektrum sempit definitif setelah hasil kultur tersedia.
Implikasi klinis: Penggunaan antibiotik yang kurang efektif dapat menyebabkan kegagalan terapi, perpanjangan masa rawat, dan peningkatan morbiditas/mortalitas.
Kategori IVB: Ada Alternatif Antibiotik yang Lebih Aman
Definisi: Terdapat antibiotik lain dengan profil keamanan yang lebih baik (toksisitas lebih rendah).
Contoh kasus:
- Pasien dengan gangguan fungsi ginjal ringan diberikan Gentamicin (nefrotoksik), padahal bisa menggunakan Ceftriaxone yang tidak nefrotoksik untuk indikasi yang sama
- Pasien dengan riwayat perpanjangan interval QT diberikan Moxifloxacin (dapat memperpanjang QT), padahal ada alternatif yang lebih aman
- Wanita hamil trimester pertama diberikan Fluoroquinolone (kategori C/D), padahal tersedia beta-laktam yang lebih aman (kategori B)
Populasi berisiko tinggi: Evaluasi aspek keamanan sangat penting pada:
- Pasien geriatri
- Pasien dengan gangguan fungsi ginjal atau hati
- Wanita hamil dan menyusui
- Pasien dengan kondisi komorbid multiple
- Pasien dengan riwayat alergi atau efek samping obat
Implikasi klinis: Pemilihan antibiotik yang kurang aman meningkatkan risiko adverse drug reactions (ADR), dapat memperpanjang masa rawat, dan meningkatkan biaya perawatan.
Kategori IVC: Ada Alternatif Antibiotik yang Lebih Murah
Definisi: Terdapat antibiotik lain dengan efektivitas dan keamanan yang setara tetapi harga lebih ekonomis.
Contoh kasus:
- Pasien dengan faringitis streptokokus diberikan Azithromycin (Rp 150.000), padahal Amoksisilin (Rp 15.000) sama efektifnya
- Infeksi saluran kemih tidak berkomplikasi diberikan Levofloxacin generasi baru (mahal), padahal Ciprofloxacin generik sama efektifnya dengan harga jauh lebih murah
- Pasien dengan bakteremia E. coli sensitif terhadap Ampicillin tetapi diberikan Meropenem
Pertimbangan farmakoekonomik: Evaluasi aspek biaya sangat penting dalam konteks:
- Sustainability program PPRA
- Rasionalisasi anggaran rumah sakit
- Keadilan akses pengobatan (tidak semua pasien mampu membayar antibiotik mahal)
- National drug policy
Catatan penting: Kategori IVC hanya berlaku jika antibiotik alternatif memiliki efektivitas dan keamanan yang setara. Tidak boleh mengorbankan efektivitas atau keamanan hanya demi biaya.
Kategori IVD: Ada Alternatif Antibiotik dengan Spektrum Lebih Sempit
Definisi: Terdapat antibiotik lain yang sama efektifnya tetapi memiliki spektrum yang lebih sempit (lebih spesifik).
Contoh kasus:
- Pasien dengan kultur darah menunjukkan Streptococcus pneumoniae sensitif terhadap Penicillin, tetapi tetap diberikan Meropenem (antibiotik spektrum sangat luas)
- Infeksi Staphylococcus aureus yang sensitif Methicillin (MSSA) diberikan Vancomycin
- Terapi empiris yang dilanjutkan meskipun hasil kultur sudah tersedia dan menunjukkan mikroorganisme yang sensitif terhadap antibiotik spektrum sempit
Prinsip “Narrow Spectrum Therapy”: Penggunaan antibiotik spektrum sempit sangat penting untuk:
- Mengurangi tekanan selektif terhadap bakteri (collateral damage)
- Menjaga flora normal tubuh
- Mengurangi risiko infeksi oportunistik (misalnya C. difficile)
- Memperlambat perkembangan resistensi antimikroba
Implikasi ekologis: Kategori IVD memiliki implikasi ekologis yang sangat penting dalam jangka panjang. Penggunaan antibiotik spektrum luas yang berlebihan adalah salah satu faktor utama munculnya multidrug-resistant organisms (MDROs).
Kategori V: Tidak Ada Indikasi Pemberian Antibiotik
Definisi: Antibiotik diberikan tanpa adanya bukti atau kemungkinan kuat infeksi bakteri.
Contoh kasus:
- Infeksi virus (ISPA atas, influenza, COVID-19 tanpa bukti superinfeksi bakteri) diberikan antibiotik
- Demam tanpa fokus infeksi pada pasien dengan kondisi umum baik diberikan antibiotik profilaksis
- Kolonisasi bakteri (bakteriuria asimptomatik, MRSA nasal swab positif tanpa infeksi aktif) diberikan antibiotik
- Penggunaan “antibiotik profilaksis” pada kondisi yang tidak memerlukan (misalnya operasi bersih tanpa implant)
“Drugs of Fear”: Istilah ini merujuk pada pemberian antibiotik karena ketidakpastian diagnosis atau kekhawatiran berlebihan dokter, bukan karena indikasi medis yang jelas. Studi menunjukkan bahwa sekitar 15% peresepan antibiotik di rumah sakit termasuk dalam kategori ini.
Implikasi klinis dan ekologis: Kategori V adalah kategori paling serius karena:
- Tidak memberikan manfaat apapun kepada pasien
- Meningkatkan risiko efek samping tanpa benefit
- Memberikan tekanan selektif yang tidak perlu terhadap bakteri
- Pemborosan sumber daya
- Melanggar prinsip dasar “do no harm”
Target PPRA: Menurunkan persentase kategori V merupakan salah satu indikator utama keberhasilan program pengendalian resistensi antimikroba.
Kategori VI: Data Tidak Lengkap
Definisi: Rekam medis tidak memiliki informasi yang cukup untuk menilai ketepatan penggunaan antibiotik.
Data yang sering tidak lengkap:
- Hasil pemeriksaan penunjang (laboratorium, radiologi)
- Hasil kultur dan uji kepekaan
- Justifikasi klinis pemilihan antibiotik
- Evaluasi respons terapi
- Alasan perubahan atau penghentian antibiotik
Penanganan: Kasus kategori VI biasanya dikeluarkan dari analisis atau dilaporkan secara terpisah. Tingginya persentase kategori VI menunjukkan kualitas dokumentasi rekam medis yang buruk dan perlu perbaikan sistem.
Implikasi untuk continuous quality improvement: Kategori VI memberikan feedback penting tentang kualitas dokumentasi medis, yang merupakan komponen penting dalam patient safety dan kontinuitas perawatan.
Flowchart Metode Gyssens
Metode Gyssens menggunakan algoritma flowchart yang mengalir secara hierarkis, dimulai dari pertanyaan paling fundamental (apakah data lengkap? apakah ada indikasi?) hingga pertanyaan yang lebih spesifik tentang regimen terapi.
Alur Evaluasi
Langkah 1: Kelengkapan Data
- Apakah data rekam medis lengkap?
- TIDAK → Kategori VI (stop)
- YA → Lanjut ke Langkah 2
Langkah 2: Indikasi
- Apakah ada indikasi pemberian antibiotik?
- TIDAK → Kategori V (stop)
- YA → Lanjut ke Langkah 3
Langkah 3: Pemilihan Antibiotik – Efektivitas
- Apakah ada alternatif yang lebih efektif?
- YA → Kategori IVA (stop)
- TIDAK → Lanjut ke Langkah 4
Langkah 4: Pemilihan Antibiotik – Keamanan
- Apakah ada alternatif yang lebih aman/tidak toksik?
- YA → Kategori IVB (stop)
- TIDAK → Lanjut ke Langkah 5
Langkah 5: Pemilihan Antibiotik – Biaya
- Apakah ada alternatif yang lebih murah?
- YA → Kategori IVC (stop)
- TIDAK → Lanjut ke Langkah 6
Langkah 6: Pemilihan Antibiotik – Spektrum
- Apakah ada alternatif dengan spektrum lebih sempit?
- YA → Kategori IVD (stop)
- TIDAK → Lanjut ke Langkah 7
Langkah 7: Durasi Terapi
- Apakah pemberian terlalu lama?
- YA → Kategori IIIA (stop)
- TIDAK → Lanjut ke Langkah 8
Langkah 8: Durasi Terapi
- Apakah pemberian terlalu singkat?
- YA → Kategori IIIB (stop)
- TIDAK → Lanjut ke Langkah 9
Langkah 9: Dosis
- Apakah dosis tepat?
- TIDAK → Kategori IIA (stop)
- YA → Lanjut ke Langkah 10
Langkah 10: Interval
- Apakah interval tepat?
- TIDAK → Kategori IIB (stop)
- YA → Lanjut ke Langkah 11
Langkah 11: Rute
- Apakah rute pemberian tepat?
- TIDAK → Kategori IIC (stop)
- YA → Lanjut ke Langkah 12
Langkah 12: Waktu/Timing
- Apakah waktu pemberian tepat?
- TIDAK → Kategori I (stop)
- YA → Kategori 0 (penggunaan tepat dan rasional)
Urutan Hierarkis
Penting untuk dipahami bahwa flowchart Gyssens bersifat hierarkis. Artinya, jika suatu kasus memenuhi kriteria untuk kategori tertentu, evaluasi berhenti di kategori tersebut meskipun mungkin ada masalah lain dalam peresepan.
Contoh: Seorang pasien dengan viral upper respiratory tract infection (URTI) diberikan Amoksisilin 500 mg 3 kali sehari selama 10 hari.
- Meskipun dosis, interval, dan rute pemberian sudah benar, kasus ini akan dikategorikan sebagai Kategori V (tidak ada indikasi) karena URTI atas disebabkan oleh virus, bukan bakteri.
- Evaluasi berhenti di Kategori V, tidak perlu melanjutkan ke evaluasi dosis, interval, dll.
Urutan hierarkis ini memastikan bahwa masalah paling fundamental (seperti tidak ada indikasi) diidentifikasi terlebih dahulu sebelum masalah teknis yang lebih detail.
Langkah-langkah Implementasi Audit dengan Metode Gyssens
Persiapan
1. Pembentukan Tim Reviewer
Komposisi tim:
- Minimal 2 orang reviewer untuk setiap kasus (untuk meningkatkan reliabilitas)
- Tim sebaiknya terdiri dari:
- Dokter (idealnya dokter spesialis penyakit infeksi atau internist dengan training infeksi)
- Farmasis klinis dengan expertise di bidang infectious diseases
- Patologi klinik/mikrobiologi (untuk konsultasi hasil laboratorium)
Kualifikasi reviewer:
- Memiliki pengetahuan yang baik tentang:
- Penyakit infeksi dan antimikroba
- Farmakokinetik dan farmakodinamik antibiotik
- Panduan terapi antibiotik (nasional dan internasional)
- Interpretasi hasil pemeriksaan mikrobiologi
- Sudah mengikuti pelatihan tentang metode Gyssens
- Memiliki akses ke referensi dan panduan yang diperlukan
2. Persiapan Referensi dan Panduan
Dokumen yang diperlukan:
- Pedoman Penggunaan Antibiotik (PPAB) rumah sakit
- Panduan Praktik Klinis (PPK/Clinical Pathways) untuk penyakit infeksi
- Formularium Nasional dan Formularium Rumah Sakit
- Antibiogram lokal (pola kepekaan antibiotik rumah sakit)
- Guideline internasional yang relevan (IDSA, ESCMID, dll.)
- Informasi farmakokinetik antibiotik (British National Formulary, Sanford Guide, dll.)
3. Penentuan Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Kriteria inklusi:
- Pasien rawat inap yang mendapat terapi antibiotik
- Rekam medis dengan data yang relatif lengkap
- Periode waktu tertentu (misalnya 3-6 bulan)
Kriteria eksklusi:
- Pasien dengan data rekam medis yang sangat tidak lengkap
- Pasien yang dirujuk atau meninggal dalam <24 jam perawatan
- Kasus khusus yang memerlukan expertise sangat spesifik
4. Penentuan Target Antibiotik atau Diagnosis
Untuk efisiensi, audit dapat difokuskan pada:
Berdasarkan antibiotik:
- Antibiotik kelompok Reserve (misalnya: Meropenem, Vancomycin, Colistin)
- Antibiotik kelompok Watch sesuai klasifikasi AWaRe WHO
- Antibiotik dengan consumption tertinggi
- Antibiotik dengan biaya tertinggi
Berdasarkan diagnosis:
- Pneumonia (community-acquired atau hospital-acquired)
- Sepsis
- Infeksi saluran kemih
- Profilaksis bedah
- Diagnosis dengan prevalensi tinggi di rumah sakit
Pelaksanaan Audit
Langkah 1: Pengumpulan Data
Informasi yang dikumpulkan dari rekam medis:
Data Demografi Pasien:
- Nomor rekam medis
- Usia, jenis kelamin
- Berat badan, tinggi badan (untuk perhitungan dosis)
- Ruang perawatan
Data Klinis:
- Diagnosis utama dan diagnosis sekunder
- Tanda vital (suhu, tekanan darah, nadi, respirasi)
- Tanda dan gejala infeksi
- Riwayat alergi obat
- Komorbiditas
- Kondisi khusus (kehamilan, gangguan fungsi organ)
Data Pemeriksaan Penunjang:
- Hasil laboratorium:
- Hematologi lengkap (leukosit, shift to the left, dll.)
- Fungsi ginjal (kreatinin, ureum, eGFR)
- Fungsi hati (SGOT, SGPT, bilirubin)
- Marker inflamasi (CRP, procalcitonin jika tersedia)
- Hasil radiologi (X-ray, CT scan, USG)
- Hasil mikrobiologi:
- Jenis spesimen (darah, urin, sputum, pus, dll.)
- Hasil pewarnaan Gram
- Hasil kultur
- Hasil uji kepekaan antibiotik (antibiogram)
Data Terapi Antibiotik:
- Nama antibiotik (generik)
- Indikasi pemberian
- Tanggal mulai terapi
- Tanggal selesai terapi (atau tanggal evaluasi untuk pasien masih dalam terapi)
- Dosis yang diberikan
- Rute pemberian (IV, oral, IM)
- Frekuensi/interval pemberian
- Justifikasi pemilihan (empiris atau definitif)
- Perubahan antibiotik (jika ada) dan alasannya
- Hasil terapi (sembuh, membaik, tidak ada perubahan, memburuk, meninggal)
Langkah 2: Review dan Penilaian Menggunakan Flowchart Gyssens
Setiap reviewer melakukan penilaian secara independen mengikuti algoritma flowchart:
Tahap 1: Verifikasi Kelengkapan Data
- Periksa apakah semua data esensial tersedia
- Jika data tidak lengkap → Kategori VI
Tahap 2: Evaluasi Indikasi
- Tinjau diagnosis dan bukti klinis/laboratorium infeksi
- Tentukan apakah infeksi disebabkan oleh bakteri atau kemungkinan besar bakteri
- Jika tidak ada indikasi → Kategori V
Tahap 3-6: Evaluasi Pemilihan Antibiotik
- Bandingkan antibiotik yang diberikan dengan panduan terapi
- Evaluasi hasil kultur (jika ada) dan antibiogram
- Pertimbangkan alternatif yang lebih efektif, aman, murah, atau spektrum sempit
- Tentukan kategori IVA, IVB, IVC, atau IVD jika ada alternatif yang lebih baik
Tahap 7-8: Evaluasi Durasi
- Bandingkan durasi terapi dengan rekomendasi panduan
- Pertimbangkan respons klinis dan hasil pemeriksaan penunjang
- Tentukan kategori IIIA (terlalu lama) atau IIIB (terlalu singkat) jika tidak sesuai
Tahap 9-11: Evaluasi Regimen Dosis
- Hitung dosis berdasarkan berat badan, fungsi ginjal, fungsi hati
- Verifikasi interval pemberian dengan farmakokinetik obat
- Evaluasi kesesuaian rute pemberian dengan kondisi pasien
- Tentukan kategori IIA, IIB, atau IIC jika ada ketidaktepatan
Tahap 12: Evaluasi Timing
- Untuk profilaksis bedah: waktu pemberian relatif terhadap insisi
- Untuk terapi: kecepatan inisiasi terapi pada kondisi kritis
- Tentukan kategori I jika timing tidak tepat
Tahap Final:
- Jika lolos semua evaluasi → Kategori 0
Langkah 3: Diskusi Panel (Consensus Meeting)
Jika terdapat perbedaan penilaian yang signifikan antar reviewer:
Prosedur diskusi:
- Kedua reviewer mempresentasikan penilaian dan justifikasinya
- Diskusi dipimpin oleh ketua tim atau reviewer senior
- Tinjau kembali data klinis, panduan terapi, dan evidence
- Capai konsensus melalui diskusi
- Jika konsensus tidak tercapai, dapat melibatkan reviewer ketiga atau pakar eksternal
- Dokumentasikan hasil konsensus dan rasionalisasinya
Analisis Data dan Pelaporan
1. Analisis Kuantitatif
Perhitungan persentase setiap kategori:
Persentase Kategori X = (Jumlah kasus Kategori X / Total kasus yang dinilai) × 100%
Pengelompokan untuk analisis:
- Penggunaan Rasional: Kategori 0 + Kategori I
- Penggunaan Tidak Rasional: Kategori II, III, IV, V
- Tidak dapat dinilai: Kategori VI
Analisis stratifikasi: Analisis dapat distratifikasi berdasarkan:
- Ruang perawatan (ICU vs ruang reguler)
- Departemen/SMF (Interna, Bedah, Anak, dll.)
- Jenis antibiotik
- Diagnosis
- Karakteristik dokter peresep
2. Identifikasi Pola dan Tren
Analisis trend temporal:
- Perbandingan hasil audit antar periode
- Evaluasi dampak intervensi
- Monitoring continuous quality improvement
Analisis pola kesalahan:
- Identifikasi kategori ketidaktepatan yang paling sering
- Identifikasi antibiotik yang paling sering salah digunakan
- Identifikasi diagnosis dengan penggunaan antibiotik paling tidak tepat
3. Benchmarking
Internal benchmarking:
- Perbandingan antar ruangan/departemen dalam rumah sakit yang sama
- Identifikasi best practice internal
External benchmarking:
- Perbandingan dengan rumah sakit lain (jika ada data)
- Perbandingan dengan standar nasional atau internasional
4. Penyusunan Laporan
Komponen laporan:
Executive Summary:
- Tujuan audit
- Metode singkat
- Temuan utama
- Rekomendasi kunci
Metodologi:
- Periode audit
- Kriteria inklusi/eksklusi
- Jumlah sampel
- Metode penilaian
Hasil:
- Distribusi kategori Gyssens (dalam bentuk tabel dan grafik)
- Analisis stratifikasi
- Trend jika ada data historis
- Kasus-kasus menarik (contoh kategori V atau kategori 0 yang baik)
Pembahasan:
- Interpretasi hasil
- Perbandingan dengan literatur
- Identifikasi area yang perlu perbaikan
- Hambatan yang ditemukan
Rekomendasi:
- Rekomendasi spesifik berdasarkan temuan
- Rencana perbaikan (action plan)
- Timeline implementasi
- Indikator untuk monitoring
Lampiran:
- Contoh form pengumpulan data
- Flowchart Gyssens yang digunakan
- Referensi yang digunakan
Feedback kepada Klinisi
Pemberian feedback merupakan komponen krusial dalam audit:
Prinsip feedback yang efektif:
- Tepat Waktu: Berikan feedback sesegera mungkin setelah audit
- Spesifik: Fokus pada kasus konkret dengan data yang jelas
- Konstruktif: Hindari blame culture, fokus pada pembelajaran
- Actionable: Berikan rekomendasi yang dapat diterapkan
- Dua Arah: Beri kesempatan klinisi untuk klarifikasi atau diskusi
Metode feedback:
Feedback Individual:
- Untuk kasus dengan ketidaktepatan kategori IV atau V yang signifikan
- Diskusi langsung dengan prescriber
- Dokumentasikan hasil diskusi dan penerimaan feedback
Feedback Kelompok:
- Presentasi hasil audit di forum KSM (Kelompok Staf Medis)
- Diskusi kasus dalam forum kajian kasus infeksi terintegrasi (FORKKIT)
- Grand round atau mortality-morbidity conference
Feedback Sistem:
- Laporan berkala ke komite medis dan direksi
- Penyusunan atau revisi panduan berdasarkan temuan
- Update clinical pathways atau order sets
Aplikasi Praktis: Contoh Kasus
Kasus 1: Kategori 0 (Penggunaan Tepat dan Rasional)
Skenario: Pasien laki-laki, 45 tahun, dirawat dengan diagnosis Community-Acquired Pneumonia (CAP) berat di ICU.
Data Klinis:
- Demam 39.2°C, batuk produktif, sesak napas
- Chest X-ray: infiltrat di lobus kanan bawah
- Leukosit: 18.000/μL dengan shift to the left
- Procalcitonin: 5.2 ng/mL
- Kultur sputum: Streptococcus pneumoniae sensitif Penicillin
Terapi:
- Empiris (Hari 1-3): Ceftriaxone 2 g IV setiap 24 jam + Azithromycin 500 mg IV setiap 24 jam
- Definitif (Hari 4-7): Setelah hasil kultur, di-de-eskalasi menjadi Penicillin G 2 juta unit IV setiap 4 jam
- Switch to oral (Hari 6-7): Amoxicillin 500 mg PO setiap 8 jam (pasien sudah bisa minum oral, kondisi membaik)
- Total durasi: 7 hari
Evaluasi Gyssens:
- ✅ Data lengkap
- ✅ Ada indikasi (CAP berat dengan bukti klinis dan laboratorium)
- ✅ Tidak ada alternatif lebih efektif (de-eskalasi ke Penicillin sudah optimal untuk S. pneumoniae sensitif Penicillin)
- ✅ Tidak ada alternatif lebih aman (Penicillin/Amoxicillin sudah pilihan teraman)
- ✅ Tidak ada alternatif lebih murah (Penicillin/Amoxicillin sudah paling ekonomis)
- ✅ Tidak ada alternatif spektrum lebih sempit (Penicillin sudah spektrum sempit untuk S. pneumoniae)
- ✅ Durasi tidak terlalu lama (7 hari sesuai panduan CAP)
- ✅ Durasi tidak terlalu singkat
- ✅ Dosis tepat
- ✅ Interval tepat (Penicillin G setiap 4 jam untuk infeksi serius, Amoxicillin setiap 8 jam)
- ✅ Rute tepat (IV saat kondisi berat, switch to oral saat membaik)
- ✅ Timing tepat (terapi dimulai <4 jam sejak masuk RS)
Kesimpulan: Kategori 0 – Penggunaan antibiotik tepat dan rasional.
Learning Points:
- Praktek de-eskalasi yang baik (dari Ceftriaxone ke Penicillin)
- IV to oral switch yang tepat waktu
- Durasi terapi sesuai panduan
Kasus 2: Kategori IVD (Alternatif Spektrum Lebih Sempit)
Skenario: Pasien perempuan, 68 tahun, dirawat dengan urosepsis.
Data Klinis:
- Demam 38.8°C, nyeri pinggang, disuria
- Urinalisis: leukosit >100/LPB, bakteriuria
- Kultur urin: E. coli sensitif terhadap Ampicillin, Ceftriaxone, Ciprofloxacin, Meropenem
Terapi:
- Empiris (Hari 1-2): Meropenem 1 g IV setiap 8 jam
- Setelah hasil kultur tersedia (Hari 3-7): Tetap dilanjutkan Meropenem 1 g IV setiap 8 jam
- Total durasi: 7 hari
Evaluasi Gyssens:
- ✅ Data lengkap
- ✅ Ada indikasi (urosepsis dengan bukti klinis dan laboratorium)
- ✅ Tidak ada alternatif lebih efektif (semua antibiotik dalam antibiogram efektif)
- ✅ Tidak ada alternatif lebih aman
- ✅ Tidak ada alternatif lebih murah (ada: Ampicillin, tetapi aspek biaya di-override oleh spektrum)
- ❌ Ada alternatif spektrum lebih sempit: Hasil kultur menunjukkan E. coli sensitif Ampicillin (spektrum sempit) atau Ceftriaxone (spektrum lebih sempit dari Meropenem). Seharusnya dilakukan de-eskalasi dari Meropenem.
Kesimpulan: Kategori IVD – Ada alternatif dengan spektrum lebih sempit.
Rekomendasi:
- De-eskalasi ke Ampicillin atau Ceftriaxone setelah hasil kultur tersedia
- Edukasi tentang pentingnya de-eskalasi untuk mengurangi collateral damage
- Pertimbangkan untuk memasukkan automatic stop order untuk karbapenem setelah hasil kultur
Kasus 3: Kategori V (Tidak Ada Indikasi)
Skenario: Pasien laki-laki, 35 tahun, dirawat dengan diagnosis dengue fever tanpa warning signs.
Data Klinis:
- Demam hari ke-4
- Trombosit: 95.000/μL (turun dari 180.000 dua hari sebelumnya)
- Hematokrit stabil
- Tidak ada perdarahan
- NS1 antigen positif
- Tidak ada tanda infeksi bakteri sekunder
- Leukosit: 3.500/μL (leukopeniai sesuai dengan dengue)
- Chest X-ray: normal, tidak ada infiltrat
Terapi:
- Ceftriaxone 2 g IV setiap 24 jam selama 5 hari
- Justifikasi tertulis: “Profilaksis infeksi sekunder”
Evaluasi Gyssens:
- ✅ Data lengkap
- ❌ Tidak ada indikasi: Pasien didiagnosis dengue fever, tidak ada bukti klinis atau laboratorium infeksi bakteri. Leukopenia konsisten dengan infeksi virus, bukan bakteri. Tidak ada indikasi untuk “profilaksis infeksi sekunder” pada dengue tanpa komplikasi.
Kesimpulan: Kategori V – Tidak ada indikasi pemberian antibiotik.
Rekomendasi:
- Edukasi tentang perbedaan infeksi virus vs bakteri
- Edukasi bahwa antibiotik tidak mencegah infeksi bakteri sekunder
- Penyusunan panduan pengelolaan dengue yang jelas (kapan perlu antibiotik, kapan tidak)
- Monitoring dan audit penggunaan antibiotik pada kasus dengue
Kasus 4: Kategori IIIA (Pemberian Terlalu Lama)
Skenario: Pasien perempuan, 28 tahun, post-sectio caesaria elektif.
Data Klinis:
- Operasi bersih-kontaminasi
- Tidak ada komplikasi intraoperatif
- Lama operasi: 45 menit
- Post-operasi: kondisi baik, tidak ada demam
- Luka operasi bersih, tidak ada tanda infeksi
Terapi:
- Profilaksis bedah: Cefazolin 2 g IV 30 menit sebelum insisi
- Post-operasi: Cefazolin 1 g IV setiap 8 jam dilanjutkan selama 5 hari
- Luka sembuh dengan baik, pasien pulang hari ke-3 post-op dengan antibiotik oral 2 hari lagi
Evaluasi Gyssens:
- ✅ Data lengkap
- ✅ Ada indikasi (profilaksis bedah untuk sectio caesaria)
- ✅ Tidak ada alternatif lebih efektif (Cefazolin adalah pilihan utama untuk profilaksis bedah)
- ✅ Tidak ada alternatif lebih aman
- ✅ Tidak ada alternatif lebih murah
- ✅ Tidak ada alternatif spektrum lebih sempit
- ❌ Pemberian terlalu lama: Profilaksis bedah untuk sectio caesaria elektif seharusnya diberikan single dose atau maksimal dilanjutkan sampai 24 jam post-operasi. Pemberian selama 5 hari (termasuk 2 hari oral setelah pulang) adalah berlebihan.
Kesimpulan: Kategori IIIA – Pemberian antibiotik terlalu lama.
Rekomendasi:
- Edukasi tentang panduan profilaksis bedah (single dose untuk operasi ❤ jam)
- Implementasi automatic stop order untuk profilaksis bedah >24 jam
- Update clinical pathway sectio caesaria
- Sosialisasi panduan profilaksis bedah ke departemen Obgyn dan Anestesi
Keuntungan dan Keterbatasan Metode Gyssens
Keuntungan
1. Terstandarisasi dan Tervalidasi
- Metode yang sudah divalidasi dan digunakan secara luas di berbagai negara
- Memiliki reliabilitas dan validitas yang baik
- Hasil dapat dibandingkan antar rumah sakit atau antar negara
2. Komprehensif
- Mengevaluasi multiple aspek penggunaan antibiotik (indikasi, pemilihan, dosis, durasi, dll.)
- Menangkap berbagai jenis kesalahan peresepan
- Pendekatan holistik terhadap kualitas penggunaan antibiotik
3. Hierarkis dan Logis
- Flowchart yang hierarkis memastikan identifikasi masalah paling fundamental terlebih dahulu
- Alur evaluasi yang logis dan mudah diikuti
- Menghindari redundansi dalam penilaian
4. Educational Value
- Proses audit sendiri merupakan pembelajaran bagi reviewer
- Feedback kepada prescriber bersifat edukatif
- Meningkatkan awareness tentang prinsip penggunaan antibiotik rasional
5. Mendukung Continuous Quality Improvement
- Hasil audit dapat digunakan untuk monitoring trend
- Identifikasi area yang perlu improvement
- Evaluasi dampak intervensi
6. Fleksibel
- Dapat diterapkan untuk berbagai jenis antibiotik
- Dapat diterapkan untuk berbagai diagnosis
- Dapat disesuaikan dengan konteks lokal dengan tetap mempertahankan struktur dasar
Keterbatasan
1. Time-Consuming
- Memerlukan waktu yang cukup lama untuk review setiap kasus secara detail
- Tidak feasible untuk audit real-time
- Memerlukan alokasi waktu khusus bagi reviewer
2. Memerlukan Expertise
- Reviewer harus memiliki pengetahuan yang baik tentang penyakit infeksi dan antimikroba
- Interpretasi yang akurat memerlukan pengalaman klinis
- Hasil dapat bervariasi tergantung expertise reviewer
3. Retrospektif
- Evaluasi dilakukan setelah terapi selesai, sehingga tidak dapat mengintervensi terapi real-time
- Bergantung pada kualitas dokumentasi rekam medis
- Tidak dapat menangkap konteks klinis yang mungkin tidak terdokumentasi dengan baik
4. Subjektivitas dalam Beberapa Aspek
- Meskipun terstandarisasi, beberapa penilaian masih memerlukan clinical judgment
- Dapat terjadi perbedaan interpretasi antar reviewer, terutama untuk kasus kompleks
- Kategori IV (pemilihan antibiotik) seringkali memerlukan diskusi untuk mencapai konsensus
5. Tidak Mengukur Outcome Klinis Langsung
- Metode Gyssens menilai proses (quality of prescribing), bukan outcome klinis langsung
- Penggunaan antibiotik yang dikategorikan “tidak tepat” tidak selalu berkorelasi dengan outcome buruk
- Tidak memperhitungkan clinical response atau adverse events secara eksplisit
6. Ketergantungan pada Kualitas Dokumentasi
- Tingginya kategori VI dapat menjadi limitasi besar jika dokumentasi rekam medis buruk
- Informasi penting untuk penilaian mungkin tidak terdokumentasi
- Kesulitan menilai justifikasi klinis jika tidak dituliskan dalam rekam medis
7. Tidak Menangkap Semua Aspek Antimicrobial Stewardship
- Tidak menilai aspek infection prevention and control
- Tidak mengevaluasi aspek diagnostic stewardship
- Tidak menangkap aspek komunikasi dengan pasien/keluarga
Interpretasi dan Tindak Lanjut Hasil Audit
Benchmark dan Target
Tidak ada standar universal untuk persentase “acceptable” untuk setiap kategori Gyssens, karena sangat bergantung pada konteks rumah sakit, case-mix pasien, dan tingkat implementasi PPRA. Namun, beberapa benchmark umum dapat dipertimbangkan:
Kategori 0 (Rasional):
- Target minimal: >50%
- Good practice: 60-70%
- Excellent: >75%
Kategori V (Tidak ada indikasi):
- Target maksimal: <5%
- Acceptable: 5-10%
- Perlu perbaikan segera: >10%
Kategori IIIA (Durasi terlalu lama):
- Seringkali menjadi kategori ketidaktepatan paling tinggi (20-35% dalam berbagai studi)
- Target: <20%
Kategori IVD (Spektrum terlalu luas):
- Target: <15%
- Indikator keberhasilan program de-eskalasi
Tindak Lanjut Berdasarkan Temuan
1. Jika Kategori V Tinggi (>10%)
Root Cause Analysis:
- Ketidakpastian diagnosis
- Ketakutan terhadap infeksi (prescribing as “insurance”)
- Tekanan dari pasien atau keluarga
- Kurangnya pemahaman tentang perbedaan infeksi virus vs bakteri
Intervensi:
- Educational sessions tentang diagnosis infeksi
- Pengembangan clinical decision support tools
- Implementasi antibiotic timeout
- Peer comparison feedback kepada prescriber dengan tingkat kategori V tinggi
2. Jika Kategori IIIA Tinggi (>30%)
Root Cause Analysis:
- Kurangnya pemahaman tentang durasi terapi optimal
- Tidak ada protocol untuk evaluasi continuation of therapy
- Inersia klinis (“kalau sudah membaik, kenapa harus dihentikan?”)
Intervensi:
- Update clinical pathways dengan durasi terapi yang jelas
- Implementasi antibiotic timeout rutin (hari 3-5)
- Automatic stop orders
- Education tentang risiko terapi berkepanjangan
3. Jika Kategori IVD Tinggi (>20%)
Root Cause Analysis:
- Kegagalan melakukan de-eskalasi setelah hasil kultur
- Preferensi terhadap broad-spectrum antibiotics
- Ketidaktersediaan antibiotik spektrum sempit
Intervensi:
- Strengthening prospective audit and feedback
- Implementasi mandatory consultation untuk antibiotik reserve
- Education tentang collateral damage dari broad-spectrum antibiotics
- Ensure availability of narrow-spectrum alternatives di formularium
4. Jika Kategori IIA Tinggi
Root Cause Analysis:
- Kurangnya pemahaman tentang dose adjustment
- Ketidaktersediaan informasi farmakokinetik yang mudah diakses
- Tidak ada protocol untuk dose adjustment pada kondisi khusus (obesitas, gangguan fungsi ginjal)
Intervensi:
- Pengembangan dose calculator atau nomogram
- Integration of CrCl calculation dalam sistem EMR
- Clinical pharmacist involvement dalam dose optimization
- Education tentang pharmacokinetics/pharmacodynamics
Strategi Continuous Quality Improvement
Siklus PDSA (Plan-Do-Study-Act):
Plan:
- Identifikasi area yang perlu improvement berdasarkan hasil audit
- Tentukan target improvement yang spesifik dan measurable
- Rancang intervensi yang akan dilakukan
Do:
- Implementasi intervensi
- Dokumentasi proses implementasi
- Monitor adherence terhadap intervensi
Study:
- Audit ulang setelah periode tertentu (3-6 bulan)
- Analisis perubahan distribusi kategori Gyssens
- Evaluasi faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan/kegagalan intervensi
Act:
- Jika berhasil: standardisasi dan ekspansi intervensi
- Jika belum berhasil: identifikasi hambatan dan modifikasi intervensi
- Dokumentasi lessons learned
- Mulai siklus baru dengan target improvement berikutnya
Integrasi dengan Komponen PPRA Lainnya
Audit kualitas dengan metode Gyssens tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian integral dari Program Pengendalian Resistensi Antimikroba. Integrasinya dengan komponen PPRA lainnya:
1. Audit Kuantitatif
Sinergi:
- Audit kuantitatif (DDD/DOT) mengidentifikasi antibiotik yang paling banyak digunakan
- Audit kualitatif (Gyssens) mengevaluasi ketepatan penggunaan antibiotik tersebut
- Kombinasi keduanya memberikan gambaran lengkap tentang pola penggunaan antibiotik
Contoh integrasi:
- Jika audit kuantitatif menunjukkan konsumsi Meropenem sangat tinggi, audit Gyssens dapat mengevaluasi apakah penggunaannya sudah tepat atau banyak yang masuk kategori IVD (ada alternatif spektrum lebih sempit)
2. Surveilans Resistensi Antimikroba
Sinergi:
- Data pola kepekaan (antibiogram) digunakan dalam evaluasi Gyssens untuk menentukan kategori IVA (ada alternatif lebih efektif)
- Hasil audit Gyssens (terutama kategori IVD) dapat menjelaskan trend resistensi yang meningkat
Contoh integrasi:
- Jika resistensi terhadap Fluoroquinolone meningkat, audit Gyssens dapat mengidentifikasi apakah ada overuse Fluoroquinolone (kategori IVD – seharusnya bisa pakai spektrum lebih sempit)
3. Prospective Audit and Feedback (PPAF)
Sinergi:
- Temuan dari audit retrospektif (Gyssens) dapat menginformasikan fokus prospective audit
- PPAF dapat mencegah kesalahan yang teridentifikasi dari audit Gyssens
Contoh integrasi:
- Jika audit Gyssens menunjukkan tingginya kategori V untuk kasus dengue, PPAF dapat fokus pada review penggunaan antibiotik pada pasien dengan suspek dengue
4. Formulary Restriction
Sinergi:
- Hasil audit Gyssens dapat menginformasikan keputusan tentang antibiotik mana yang perlu restricted
- Monitoring kategori IVD dapat mengevaluasi efektivitas formulary restriction
Contoh integrasi:
- Jika audit menunjukkan banyak penggunaan Meropenem yang masuk kategori IVD, dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan level restriction (dari restricted menjadi reserved dengan mandatory consultation)
5. Education dan Training
Sinergi:
- Hasil audit Gyssens mengidentifikasi gap pengetahuan yang perlu diatasi melalui edukasi
- Kasus-kasus dari audit dapat digunakan sebagai materi pembelajaran (case-based learning)
Contoh integrasi:
- Jika audit menunjukkan tingginya kategori IIIA untuk profilaksis bedah, dapat dilakukan focused educational session tentang panduan profilaksis bedah
Kesimpulan
Metode Gyssens merupakan instrumen yang powerful, terstandarisasi, dan tervalidasi untuk evaluasi kualitas penggunaan antibiotik di rumah sakit. Dengan pendekatan flowchart yang sistematis dan kategori yang komprehensif, metode ini mampu mengidentifikasi berbagai aspek ketidaktepatan dalam peresepan antibiotik, mulai dari tidak ada indikasi hingga ketidaktepatan dalam regimen dosis.
Keberhasilan implementasi audit dengan metode Gyssens bergantung pada beberapa faktor kunci:
- Komitmen institusi untuk menyediakan sumber daya (waktu, SDM, finansial)
- Kompetensi reviewer yang memiliki expertise di bidang infectious diseases dan antimikroba
- Kualitas dokumentasi rekam medis yang memadai
- Ketersediaan panduan dan referensi yang up-to-date
- Budaya pembelajaran yang konstruktif, bukan budaya menyalahkan
- Follow-up yang konsisten terhadap temuan audit dengan tindakan perbaikan konkret
Lebih dari sekadar tool untuk evaluasi, metode Gyssens merupakan instrumen edukasi yang kuat. Proses audit itu sendiri meningkatkan awareness reviewer tentang prinsip-prinsip penggunaan antibiotik rasional, dan feedback kepada prescriber memberikan pembelajaran yang berharga untuk perbaikan praktik di masa depan.
Dalam konteks ancaman global resistensi antimikroba, audit kualitas dengan metode Gyssens bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Setiap rumah sakit yang serius dalam Program Pengendalian Resistensi Antimikroba harus mengimplementasikan audit kualitatif secara berkala, menggunakan hasilnya untuk continuous quality improvement, dan berkontribusi dalam upaya global mengendalikan resistensi antimikroba.
Sebagaimana tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 8 Tahun 2015, peningkatan penggunaan antibiotik secara rasional (kategori 0 Gyssens) dan penurunan penggunaan antibiotik tanpa indikasi (kategori V Gyssens) merupakan indikator mutu kunci keberhasilan PPRA di rumah sakit. Mari kita bersama-sama mengimplementasikan audit kualitatif dengan metode Gyssens untuk mewujudkan penggunaan antibiotik yang bijak dan mengendalikan resistensi antimikroba.
Referensi
Sumber Nasional:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2015). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Panduan Penatagunaan Antimikroba di Rumah Sakit. Jakarta: Direktorat Pelayanan Kesehatan Rujukan.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit.
Sumber Internasional:
- Gyssens, I.C. (2005). Audits for Monitoring the Quality of Antimicrobial Prescriptions. In: Gould IM, van der Meer JWM (eds) Antibiotic Policies: Theory and Practice. Springer, Boston, MA. https://doi.org/10.1007/0-306-47783-4_11
- van der Meer, J.W.M., & Gyssens, I.C. (2001). Quality of Antimicrobial Drug Prescription in Hospital. Clinical Microbiology and Infection, 7(Suppl 6), 12-15.
- Adani, S., et al. (2017). Inappropriate Antibiotic Use and Mortality in Sepsis Patients in ICU. Indonesian Journal of Clinical Pharmacy, 6(2).
- Nelwan, E.J., Guterres, H., Pasaribu, A.I., et al. (2022). The Comparison of Point Prevalence Survey (PPS) and Gyssens Flowchart Approach on Antimicrobial Use Surveillance in Indonesian National Referral Hospital. Acta Medica Indonesiana, 54(1), 75-83.
- Evaluation of Antibiotic Usage Using the Gyssens Qualitative Method in Pediatric Inpatients with Diarrhea at a Teaching Hospital in North Jakarta. (2024). Journal of Vocational Health Studies, 7(3).
- Qualitative and Quantitative Analysis of Antibiotics in the Intensive Care Unit (ICU) of Dr. M. Djamil Central General Hospital Padang. (2021). Pharmaceutics, 3(2).
- A Review of Antibiotic Consumptions at Moewardi Municipality Hospital Dental Ward Surakarta, Indonesia Using Algorithm Gyssens. (2022). Journal of Medicinal and Chemical Sciences, 5(3), 430-443.
- World Health Organization. (2019). Antimicrobial Stewardship Programmes in Health-care Facilities in Low- and Middle-income Countries: A WHO Practical Toolkit. Geneva: WHO.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2019). The Core Elements of Hospital Antibiotic Stewardship Programs. Atlanta, GA: US Department of Health and Human Services, CDC.
Artikel ini disusun untuk kepentingan edukasi profesional kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas penggunaan antibiotik di rumah sakit melalui audit sistematis dengan metode Gyssens.
Catatan: Anda dapat belajar menggunakan bagan alur Gyssens secara interaktif melalui artifak yang kami sediakan di tautan ini: Gyssens’ Flowchart.

Tinggalkan komentar