A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Konsep dan Definisi
    1. Definisi Prospective Audit and Feedback
    2. Perbedaan dengan Strategi Lain
  3. Landasan Ilmiah dan Regulasi
    1. Bukti Ilmiah Efektivitas
    2. Regulasi Indonesia
  4. Mekanisme dan Metodologi Prospective Audit and Feedback
    1. Prinsip Dasar Pelaksanaan
    2. Tahapan Pelaksanaan
      1. 1. Identifikasi Pasien untuk Audit
      2. 2. Review dan Analisis Kasus
      3. 3. Formulasi Rekomendasi
      4. 4. Pemberian Feedback kepada Prescriber
      5. 5. Dokumentasi
      6. 6. Monitoring dan Follow-up
    3. Target Antimikroba untuk Audit
  5. Model Implementasi Prospective Audit and Feedback
    1. Model Berdasarkan Waktu
    2. Model Berdasarkan Setting
    3. Model Berdasarkan Profesi Pelaksana
  6. Sumber Daya yang Diperlukan
    1. Sumber Daya Manusia
    2. Sumber Daya Teknologi
    3. Sumber Daya Finansial
  7. Integrasi dengan Komponen Stewardship Lain
    1. Integrasi dengan Pedoman Pengobatan Lokal
    2. Integrasi dengan Mikrobiologi Klinik
    3. Integrasi dengan Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
  8. Evaluasi Outcome Prospective Audit and Feedback
    1. Process Measures
    2. Antimicrobial Use Outcomes
    3. Clinical Outcomes
    4. Safety Outcomes
    5. Resistance Outcomes
    6. Economic Outcomes
  9. Tantangan dalam Implementasi
    1. Tantangan Operasional
    2. Tantangan Interpersonal
    3. Tantangan Teknologi
    4. Tantangan Metodologi
  10. Best Practices dan Rekomendasi
    1. Strategi untuk Meningkatkan Acceptance
    2. Strategi Handshake Stewardship
    3. Strategi untuk Resource-limited Settings
    4. Continuous Quality Improvement
  11. Studi Kasus dan Pengalaman Implementasi
    1. Pengalaman di Critical Care
    2. Pengalaman Perbandingan dengan Preauthorization
    3. Impact terhadap De-eskalasi
  12. Arah Masa Depan
    1. Artificial Intelligence dan Machine Learning
    2. Real-time Clinical Decision Support
    3. Telemedicine dan Remote Stewardship
    4. Implementation Science
  13. Kesimpulan

Pendahuluan

Resistansi antimikroba (AMR) telah menjadi salah satu ancaman kesehatan global terbesar di abad ke-21, sementara pengembangan antibiotik baru mengalami perlambatan signifikan. Dalam menghadapi tantangan ini, program antimicrobial stewardship (penatagunaan antimikroba/PGA) menjadi strategi krusial untuk mengoptimalkan penggunaan antibiotik dan mengendalikan resistansi. Di antara berbagai intervensi dalam program stewardship, prospective audit and feedback merupakan salah satu strategi paling efektif dan paling banyak diimplementasikan di rumah sakit di seluruh dunia.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menetapkan prospective audit and feedback sebagai intervensi prioritas dalam Core Elements of Hospital Antibiotic Stewardship Programs, dengan bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa strategi ini merupakan salah satu dari dua intervensi paling efektif dalam program antimicrobial stewardship di rumah sakit.

Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang konsep, metodologi, implementasi, evaluasi, serta tantangan dalam pelaksanaan prospective audit and feedback di fasilitas pelayanan kesehatan.

Konsep dan Definisi

Definisi Prospective Audit and Feedback

Prospective audit and feedback adalah tinjauan eksternal terhadap terapi antibiotik oleh ahli dalam penggunaan antibiotik, disertai dengan saran untuk mengoptimalkan penggunaan, pada suatu waktu setelah agen tersebut diresepkan. Berbeda dengan “antibiotic timeout” yang dilakukan oleh tim yang merawat pasien, prospective audit and feedback dilakukan oleh program antimicrobial stewardship.

Prospective audit and feedback merupakan intervensi antimicrobial stewardship yang paling banyak dipraktikkan di seluruh dunia. Meskipun memerlukan tenaga yang intensif, strategi ini lebih mudah diterima oleh dokter dibandingkan dengan pembatasan formularium dan strategi preauthorization, serta memiliki potensi lebih tinggi untuk memberikan kesempatan edukasi.

Perbedaan dengan Strategi Lain

Prospective audit and feedback berbeda dengan beberapa strategi antimicrobial stewardship lainnya:

Versus Preauthorization: Preauthorization memerlukan persetujuan sebelum penggunaan antibiotik tertentu, sementara prospective audit and feedback dilakukan setelah antibiotik diresepkan. Preauthorization berfokus pada optimalisasi terapi empirik awal, sedangkan prospective audit and feedback dapat mengoptimalkan kelanjutan terapi.

Versus Antibiotic Timeout: Antibiotic timeout dilakukan oleh tim yang merawat pasien sebagai bagian dari evaluasi rutin, sementara prospective audit and feedback dilakukan oleh tim stewardship yang independen dengan keahlian khusus.

Versus Formulary Restriction: Pembatasan formularium mengontrol akses terhadap antibiotik tertentu, sementara prospective audit and feedback memberikan pendekatan edukatif dan konsultatif.

Landasan Ilmiah dan Regulasi

Bukti Ilmiah Efektivitas

Dua studi yang membandingkan kedua intervensi ini secara langsung menemukan bahwa prospective audit and feedback lebih efektif daripada preauthorization. Namun, banyak ahli menyarankan bahwa kedua intervensi ini harus menjadi prioritas untuk implementasi karena preauthorization dapat membantu mengoptimalkan inisiasi antibiotik dan prospective audit and feedback dapat membantu mengoptimalkan terapi lanjutan.

Studi kuasi-eksperimental di Veterans Affairs Medical Center menunjukkan bahwa program prospective audit and feedback dikaitkan dengan penurunan median lama rawat inap 1 hari, penurunan signifikan penggunaan antibiotik spektrum luas (-11,3%), fluorokuinolon (-27,0%), dan anti-pseudomonal (-15,6%).

Regulasi Indonesia

Panduan Penatagunaan Antimikroba di Rumah Sakit yang diterbitkan Kementerian Kesehatan RI tahun 2021 menetapkan bahwa audit kuantitas dan kualitas serta umpan balik oleh Komite/Tim Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) merupakan salah satu strategi penting dalam penatagunaan antimikroba.

KPRA harus melaporkan kegiatan audit kuantitatif dan kualitatif setiap 3-6 bulan kepada pimpinan rumah sakit, yang mencakup evaluasi ketepatan penggunaan antimikroba berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

Mekanisme dan Metodologi Prospective Audit and Feedback

Prinsip Dasar Pelaksanaan

Prospective audit and feedback dapat diimplementasikan dalam berbagai cara, tergantung pada tingkat keahlian yang tersedia:

Program dengan Keahlian Penyakit Infeksi Terbatas: Dapat memfokuskan review dengan membandingkan terapi yang diresepkan dengan rekomendasi dalam pedoman pengobatan spesifik rumah sakit, dan fokus pada kondisi umum seperti pneumonia komunitas, infeksi saluran kemih, atau infeksi kulit dan jaringan lunak.

Program dengan Keahlian Penyakit Infeksi Lebih Maju: Dapat memilih untuk mereview terapi antibiotik yang lebih kompleks dan kasus-kasus yang menantang.

Efektivitas prospective audit and feedback dapat ditingkatkan dengan memberikan umpan balik dalam pertemuan tatap muka dengan prescriber, yang disebut sebagai “handshake stewardship”.

Tahapan Pelaksanaan

1. Identifikasi Pasien untuk Audit

Program “Day 3 Reflections” yang dikembangkan di Sunnybrook Health Sciences Centre dirancang untuk secara sistematis memicu reassessment terhadap antibiotik spektrum luas spesifik dan memberikan umpan balik kasus per kasus kepada staf medis dan farmasi critical care.

Kriteria pemilihan pasien meliputi:

  • Pasien yang menerima antibiotik target (spektrum luas, reserve, atau antimikroba kritis lainnya)
  • Hari ke-3 atau waktu spesifik lain setelah inisiasi terapi
  • Pasien dengan kultur darah positif (sesuai persyaratan Joint Commission)
  • Pasien dengan infeksi spesifik yang menjadi target program
  • Pasien di unit perawatan tertentu (ICU, medical ward, surgical ward)

2. Review dan Analisis Kasus

Tim stewardship melakukan review komprehensif yang mencakup:

Review Klinis:

  • Diagnosis infeksi dan site of infection
  • Tingkat keparahan penyakit
  • Status imunologis pasien
  • Komorbiditas dan kondisi klinis terkini
  • Respons terhadap terapi

Review Mikrobiologis:

  • Hasil kultur dan sensitivitas
  • Validitas spesimen
  • Interpretasi pola resistensi
  • Data antibiogram lokal

Review Farmakologis:

  • Ketepatan pemilihan antibiotik
  • Kesesuaian dosis dengan fungsi organ
  • Rute pemberian
  • Interval pemberian
  • Durasi terapi yang direncanakan
  • Potensi interaksi obat
  • Pertimbangan farmakokinetik-farmakodinamik

Evaluasi Kualitas dengan Metode Gyssens:

Metode Gyssens yang disebutkan dalam Panduan Penatagunaan Antimikroba di Rumah Sakit menggunakan flowchart untuk menentukan kategori kualitas penggunaan setiap antibiotik:

  • Kategori 0: Penggunaan antibiotik tepat dan rasional
  • Kategori I: Tidak tepat saat (timing) pemberian antibiotik
  • Kategori II A: Tidak tepat dosis pemberian antibiotik
  • Kategori II B: Tidak tepat interval pemberian antibiotik
  • Kategori II C: Tidak tepat rute pemberian antibiotik
  • Kategori III A: Pemberian antibiotik terlalu lama
  • Kategori III B: Pemberian antibiotik terlalu singkat
  • Kategori IV A: Tidak tepat pilihan antibiotik karena ada antibiotik lain yang lebih efektif
  • Kategori IV B: Tidak tepat pilihan antibiotik karena ada antibiotik lain yang lebih aman
  • Kategori IV C: Tidak tepat pilihan antibiotik karena ada antibiotik lain yang lebih murah
  • Kategori IV D: Tidak tepat pilihan antibiotik karena ada antibiotik lain dengan spektrum lebih sempit
  • Kategori V: Tidak ada indikasi pemberian antibiotik
  • Kategori VI: Data tidak lengkap sehingga penggunaan antibiotik tidak dapat dinilai

3. Formulasi Rekomendasi

Berdasarkan hasil review, tim stewardship merumuskan rekomendasi yang dapat meliputi:

De-eskalasi Terapi:

  • Perubahan dari spektrum luas ke spektrum sempit
  • Perubahan dari kombinasi ke monoterapi
  • Penyesuaian berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas

Optimalisasi Dosis:

  • Adjustment dosis berdasarkan fungsi ginjal atau hati
  • Optimalisasi dosis untuk mencapai target farmakodinamik
  • Rekomendasi therapeutic drug monitoring

Perubahan Rute Pemberian:

  • Konversi dari intravena ke oral (IV to PO conversion)
  • Pemilihan rute yang lebih sesuai dengan kondisi pasien

Modifikasi Durasi:

  • Pemendekan durasi terapi berdasarkan bukti terkini
  • Penentuan endpoint terapi yang jelas

Penghentian Terapi:

  • Diskontinuasi antibiotik yang tidak diperlukan
  • Penghentian profilaksis yang berkepanjangan

Pemeriksaan Tambahan:

  • Rekomendasi kultur atau pemeriksaan diagnostik tambahan
  • Konsultasi dengan spesialis lain jika diperlukan

4. Pemberian Feedback kepada Prescriber

Prospective feedback sering diberikan oleh tim antimicrobial stewardship atau farmasis kepada prescriber. Sebelum peluncuran program, pemimpin stewardship harus mengomunikasikan tujuan program dan mengatasi kekhawatiran yang ada.

Metode Pemberian Feedback:

Farmasis lebih cenderung menggunakan komunikasi sinkron dibandingkan dokter dalam model yang disesuaikan (farmasis vs dokter: 63,8% vs 52,5%), dan farmasis melakukan intervensi dengan tindakan langsung (yaitu, menyesuaikan pesanan obat) pada 6,6% intervensi, sedangkan dokter jarang melakukannya (0,4%).

Komunikasi Sinkron (Real-time):

  • Tatap muka langsung (“handshake stewardship”)
  • Komunikasi telepon
  • Rounding bersama dengan tim medis
  • Diskusi di ruang perawat atau ICU

Komunikasi Asinkron:

  • Catatan dalam rekam medis elektronik
  • Email atau pesan elektronik
  • Formulir intervensi tertulis
  • Dashboard atau sistem peringatan elektronik

Prinsip Komunikasi Efektif:

  • Bersikap kolaboratif, bukan konfrontatif
  • Menyajikan data dan bukti ilmiah
  • Menghormati keputusan klinis prescriber
  • Memberikan rasionalisasi yang jelas
  • Menawarkan alternatif jika diperlukan
  • Mendokumentasikan diskusi dan keputusan

5. Dokumentasi

Sumber daya teknologi mungkin diperlukan untuk menghasilkan daftar pasien yang perlu di-review dan menyediakan workflow untuk mendokumentasikan review dan intervensi farmasis.

Dokumentasi harus mencakup:

  • Identitas pasien
  • Antibiotik yang di-audit
  • Temuan audit (diagnosis, mikrobiologi, dosis, durasi)
  • Rekomendasi yang diberikan
  • Metode komunikasi yang digunakan
  • Respons prescriber
  • Acceptance atau rejection terhadap rekomendasi
  • Alasan rejection jika ada
  • Outcome klinis (jika memungkinkan)

6. Monitoring dan Follow-up

Tim stewardship melakukan monitoring terhadap:

  • Implementasi rekomendasi
  • Respons klinis pasien
  • Efek samping atau komplikasi
  • Perubahan status mikrobiologis
  • Kebutuhan reassessment lebih lanjut

Target Antimikroba untuk Audit

Pemilihan antimikroba yang akan menjadi target audit harus strategis dan berdasarkan data lokal. Antimikroba target dapat dipilih berdasarkan:

Klasifikasi AWaRe WHO:

  • Antibiotik kategori Watch (yang memerlukan monitoring ketat)
  • Antibiotik kategori Reserve (yang harus dijaga untuk kasus khusus)

Spektrum Aktivitas:

  • Antibiotik spektrum luas
  • Anti-MRSA agents (vancomycin, linezolid)
  • Carbapenem
  • Antibiotik anti-pseudomonal

Data Penggunaan Lokal:

  • Antibiotik dengan konsumsi tinggi
  • Antibiotik dengan variabilitas penggunaan tinggi
  • Antibiotik yang sering digunakan tidak tepat

Pertimbangan Toksisitas dan Biaya:

  • Antibiotik dengan potensi toksisitas tinggi
  • Antibiotik dengan biaya tinggi
  • Antibiotik yang memerlukan monitoring khusus

Model Implementasi Prospective Audit and Feedback

Model Berdasarkan Waktu

Day 3 (atau Day 2) Review: Program “Day 3 Reflections” dirancang untuk memicu reassessment pada hari ke-3 setelah inisiasi terapi, waktu ketika hasil mikrobiologi awal biasanya sudah tersedia dan kondisi klinis pasien lebih jelas.

Daily Review: Sejak pengenalan formal, anggota tim inti memberikan prospective audit and feedback untuk setiap pasien yang dirawat dengan pesanan antimikroba aktif (Senin-Jumat).

Triggered Review: Review yang dipicu oleh kondisi spesifik seperti kultur darah positif, penggunaan antibiotik tertentu, atau durasi terapi yang berkepanjangan.

Model Berdasarkan Setting

Intensive Care Unit (ICU): Program dimulai dengan pilot di tiga ICU level III, dengan fokus pada pasien medis, bedah, trauma, dan kardiovaskular. ICU memerlukan perhatian khusus karena tingginya penggunaan antibiotik spektrum luas dan prevalensi mikroorganisme resisten.

Medical dan Surgical Wards: Program dapat diperluas ke bangsal medis dan bedah dengan metodologi yang sama, dengan penyesuaian pada antibiotik target dan frekuensi review.

Emergency Department: Review terhadap inisiasi antibiotik empirik di IGD untuk memastikan ketepatan pemilihan dan dosing awal.

Model Berdasarkan Profesi Pelaksana

Mayoritas review dilakukan oleh farmasis (90,7%), diikuti oleh dokter (9,2%) dan advanced practice provider (<1%). Intervensi farmasis memiliki tingkat penerimaan 85,5%, sementara intervensi dokter memiliki tingkat penerimaan 77,3%.

Pharmacist-led Model:

  • Farmasis klinis dengan pelatihan infectious diseases
  • Dapat melakukan direct action dalam beberapa kasus
  • Lebih sering menggunakan komunikasi sinkron
  • Tingkat acceptance yang tinggi

Physician-led Model:

  • Dokter spesialis penyakit infeksi
  • Memberikan konsultasi untuk kasus kompleks
  • Authority yang lebih tinggi dalam pengambilan keputusan klinis

Multidisciplinary Model:

  • Kolaborasi antara farmasis dan dokter
  • Pembagian tanggung jawab berdasarkan kompleksitas kasus
  • Integrasi dengan tim mikrobiologi dan infection control

Sumber Daya yang Diperlukan

Sumber Daya Manusia

Implementasi prospective feedback memerlukan waktu yang didedikasikan oleh pemberi feedback untuk mereview pesanan antimikroba. Reviewer tidak boleh dibebani dengan aktivitas lain seperti verifikasi pesanan atau dispensing obat. Kepemimpinan farmasi juga harus menyediakan coverage untuk akhir pekan dan liburan untuk memastikan kontinuitas program.

Tim Inti:

  • Dokter spesialis penyakit infeksi (minimal 0.5 FTE)
  • Farmasis klinis dengan fellowship ID (minimal 1.0 FTE)
  • Mikrobiolog klinik (konsultatif)
  • Infection control practitioner (kolaboratif)

Tim Pendukung:

  • Pharmacy fellows atau residents
  • Physician fellows
  • Database analyst
  • Administrative support

Sumber Daya Teknologi

Sistem informasi yang diperlukan meliputi:

  • Electronic health record (EHR) terintegrasi
  • Clinical decision support system (CDSS)
  • Antimicrobial stewardship software
  • Database untuk tracking dan analisis
  • Dashboard untuk monitoring real-time

Sumber Daya Finansial

Kebutuhan pendanaan mencakup:

  • Gaji dan benefit untuk tim stewardship
  • Sistem teknologi dan software
  • Pelatihan dan pengembangan profesional
  • Material edukasi
  • Program evaluasi dan penelitian

Integrasi dengan Komponen Stewardship Lain

Integrasi dengan Pedoman Pengobatan Lokal

Pedoman pengobatan spesifik fasilitas juga dianggap sebagai prioritas karena dapat sangat meningkatkan efektivitas baik prospective audit and feedback maupun preauthorization dengan menetapkan rekomendasi yang jelas untuk penggunaan antibiotik optimal di rumah sakit.

Pedoman lokal harus mencakup:

  • Rekomendasi antibiotik empirik berdasarkan antibiogram lokal
  • Durasi terapi yang optimal untuk berbagai infeksi
  • Kriteria untuk konversi IV ke oral
  • Indikasi untuk therapeutic drug monitoring
  • Protokol de-eskalasi terapi

Integrasi dengan Mikrobiologi Klinik

Kolaborasi dengan laboratorium mikrobiologi meliputi:

  • Akses real-time ke hasil kultur dan sensitivitas
  • Interpretasi hasil mikrobiologi dalam konteks klinis
  • Selective reporting untuk mendukung de-eskalasi
  • Pelaporan hasil kritis termasuk MDRO
  • Data antibiogram terkini

Integrasi dengan Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi

Sinergi dengan PPIRS mencakup:

  • Identifikasi kasus MDRO
  • Implementasi strategi isolasi dan dekolonisasi
  • Monitoring healthcare-associated infections
  • Pencegahan outbreak
  • Edukasi tentang hand hygiene dan infection prevention

Evaluasi Outcome Prospective Audit and Feedback

Process Measures

Acceptance Rate: Dari 9.034 intervensi dengan outcome yang didokumentasikan, 7.326 (85,5%) intervensi farmasis diterima dan 360 (77,3%) intervensi dokter diterima. Pasien di ICU memiliki tingkat penerimaan intervensi yang secara signifikan lebih rendah (non-ICU vs ICU: 86,6% vs 78,0%).

Intervention Rate: Persentase pasien atau pesanan antibiotik yang menerima intervensi dari jumlah total yang di-review.

Timeliness of Feedback: Waktu dari identifikasi masalah hingga pemberian feedback kepada prescriber.

Documentation Completeness: Kelengkapan dokumentasi intervensi dan outcome.

Antimicrobial Use Outcomes

Days of Therapy (DOT): Perubahan dalam total days of therapy per 1000 patient-days untuk antibiotik target atau total antibiotik.

Defined Daily Doses (DDD): Perubahan konsumsi antibiotik yang diukur dalam DDD per 100 atau 1000 patient-days.

Appropriateness of Use: Peningkatan persentase penggunaan antibiotik yang sesuai dengan pedoman atau indikasi.

De-escalation Rate: Frekuensi de-eskalasi dari spektrum luas ke sempit atau dari kombinasi ke monoterapi.

Duration Optimization: Pemendekan durasi terapi yang tidak perlu panjang.

Clinical Outcomes

Length of Stay: Median lama rawat inap 1 hari lebih pendek setelah implementasi program (5 hari vs 4 hari, p<0,001).

Mortality: Mortalitas 30-hari atau in-hospital mortality.

Clinical Cure Rate: Tingkat kesembuhan klinis dari infeksi.

Readmission Rate: Tingkat readmission terkait infeksi dalam 30 hari.

Safety Outcomes

Adverse Drug Events: Penurunan kejadian efek samping obat terkait antibiotik.

Clostridioides difficile Infection: Penurunan insiden CDI sebagai indikator pengurangan tekanan antibiotik.

Nephrotoxicity dan Hepatotoxicity: Penurunan kejadian toksisitas organ.

Resistance Outcomes

Antimicrobial Resistance Patterns: Perubahan dalam pola resistensi mikroorganisme di rumah sakit.

MDRO Incidence: Penurunan insiden infeksi atau kolonisasi MDRO.

Antibiogram Changes: Perbaikan dalam pola sensitivitas antibiotik lokal.

Economic Outcomes

Drug Acquisition Costs: Penghematan biaya pembelian antibiotik.

Length of Stay Costs: Penghematan dari pemendekan lama rawat inap.

Adverse Event Costs: Penghematan dari pencegahan efek samping dan komplikasi.

Cost-effectiveness: Analisis cost per QALY atau cost per life saved.

Tantangan dalam Implementasi

Tantangan Operasional

Workload dan Time Commitment: Prospective audit and feedback adalah intervensi yang labor-intensive, memerlukan dedikasi waktu signifikan dari tim stewardship.

Coverage dan Continuity: Memastikan coverage 7 hari seminggu dan selama liburan merupakan tantangan besar untuk program yang berkelanjutan.

Integration dengan Workflow Klinik: Menyelaraskan aktivitas stewardship dengan workflow tim medis dan keperawatan tanpa mengganggu perawatan pasien.

Tantangan Interpersonal

Physician Resistance: Beberapa dokter mungkin merasa terancam atau defensif terhadap rekomendasi dari tim stewardship.

Communication Barriers: Kesulitan dalam berkomunikasi secara efektif, terutama dalam situasi yang sensitif atau kompleks.

Hierarchical Issues: Dinamika kekuasaan antara berbagai profesi dan tingkat senioritas.

Tantangan Teknologi

EHR Limitations: Keterbatasan dalam sistem rekam medis elektronik untuk mendukung workflow stewardship.

Data Accessibility: Kesulitan mengakses data real-time tentang penggunaan antibiotik, hasil mikrobiologi, dan parameter klinis.

Interoperability: Kurangnya integrasi antara berbagai sistem informasi (farmasi, laboratorium, klinik).

Tantangan Metodologi

Mayoritas besar studi antimicrobial stewardship yang dipublikasikan, termasuk sebagian besar publikasi yang merinci strategi prospective audit and feedback, menggunakan desain kuasi-eksperimental—biasanya studi before-and-after implementation di mana alokasi “treatment” dan faktor perancu potensial lainnya tidak dikontrol.

Study Design: Kesulitan dalam melakukan randomized controlled trials karena alasan etis dan praktis.

Confounding Factors: Banyak faktor yang dapat mempengaruhi outcome selain intervensi stewardship.

Long-term Sustainability: Mempertahankan efek program dalam jangka panjang dan mencegah “intervention fatigue”.

Best Practices dan Rekomendasi

Strategi untuk Meningkatkan Acceptance

Building Relationships: Membangun hubungan saling percaya dengan prescribers melalui konsistensi, keandalan, dan profesionalisme.

Evidence-based Approach: Selalu menyertakan bukti ilmiah dan data lokal dalam setiap rekomendasi.

Collaborative Decision-making: Melibatkan prescriber dalam proses pengambilan keputusan, bukan mendikte.

Timely Communication: Memberikan feedback sesegera mungkin setelah identifikasi masalah.

Acknowledgment of Complexity: Mengakui kompleksitas kasus dan ketidakpastian yang melekat dalam praktik klinis.

Strategi Handshake Stewardship

Efektivitas prospective audit and feedback dapat ditingkatkan dengan memberikan umpan balik dalam pertemuan tatap muka dengan providers, yang disebut sebagai “handshake stewardship”.

Prinsip handshake stewardship:

  • Komunikasi tatap muka langsung dengan prescriber
  • Diskusi real-time tentang kasus pasien
  • Kesempatan untuk klarifikasi dan pendidikan
  • Membangun rapport dan trust
  • Case-based learning yang efektif

Strategi untuk Resource-limited Settings

Untuk rumah sakit dengan sumber daya terbatas:

  • Mulai dengan fokus pada infeksi umum dan antibiotik prioritas
  • Gunakan pharmacist-led model dengan konsultasi physician selektif
  • Implementasikan program bertahap (phased implementation)
  • Manfaatkan teknologi sederhana seperti spreadsheet untuk tracking
  • Fokus pada high-impact, low-resource interventions
  • Berkolaborasi dengan program regional atau nasional

Continuous Quality Improvement

Program prospective audit and feedback harus terus berkembang melalui:

  • Regular review dari process dan outcome metrics
  • Feedback dari prescribers tentang program
  • Benchmarking dengan institusi lain
  • Adaptasi terhadap perubahan pola resistensi dan epidemiologi
  • Update pedoman berdasarkan bukti terkini
  • Pelatihan berkelanjutan untuk tim stewardship

Studi Kasus dan Pengalaman Implementasi

Pengalaman di Critical Care

Di Sunnybrook Health Sciences Centre, program “Day 3 Reflections” berhasil dilaksanakan di ICU dengan workflow yang dapat diterima oleh semua anggota tim. Pengembangan database antimicrobial stewardship memungkinkan ekspansi program ke unit medis dan bedah tambahan.

Pembelajaran kunci dari implementasi di ICU:

  • Kolaborasi erat dengan staf critical care dalam design program
  • Joint development dari definisi appropriate dan inappropriate use
  • Systematic triggering untuk reassessment antibiotik spektrum luas
  • Case-by-case feedback kepada medical dan pharmacy staff
  • Evaluasi formal menggunakan interrupted time series methods

Pengalaman Perbandingan dengan Preauthorization

Studi komparatif di academic medical center menunjukkan bahwa ketika banyak antimikroba tidak dibatasi dan prospective audit diimplementasikan untuk cefepime, piperacillin/tazobactam, dan vancomycin, terjadi peningkatan signifikan dalam konsumsi antimikroba total dan antimikroba spektrum luas anti-gram-negatif.

Pembelajaran penting:

  • Pemilihan antibiotik untuk audit harus strategis
  • Kombinasi preauthorization dan prospective audit mungkin optimal
  • Monitoring berkelanjutan diperlukan untuk mendeteksi unintended consequences
  • Flexibility dalam strategi berdasarkan data lokal

Impact terhadap De-eskalasi

Implementasi prospective audit and feedback oleh tim antimicrobial stewardship multidisiplin memperpendek waktu untuk de-eskalasi anti-MRSA agents, menunjukkan efektivitas strategi dalam optimalisasi terapi antimikroba.

Arah Masa Depan

Artificial Intelligence dan Machine Learning

Pengembangan AI dan machine learning dapat membantu:

  • Prediksi pasien yang berisiko tinggi untuk penggunaan antibiotik tidak tepat
  • Automated identification dari opportunities untuk de-eskalasi
  • Natural language processing untuk ekstraksi data dari rekam medis
  • Predictive modeling untuk outcome pasien

Real-time Clinical Decision Support

Evolusi CDSS yang lebih canggih dapat memberikan:

  • Alert real-time untuk prescribers
  • Integration dengan antibiogram dan patient-specific factors
  • Dosing recommendations berdasarkan pharmacokinetic/pharmacodynamic models
  • Automated tracking dari compliance dengan recommendations

Telemedicine dan Remote Stewardship

Pemanfaatan teknologi telemedicine untuk:

  • Remote consultation dengan infectious diseases specialists
  • Virtual handshake stewardship
  • Support untuk rumah sakit kecil atau rural
  • Regional atau national stewardship networks

Implementation Science

Penerapan prinsip implementation science untuk:

  • Memahami barriers dan facilitators untuk adoption
  • Developing tailored implementation strategies
  • Measuring fidelity dan adaptation
  • Sustainability planning

Kesimpulan

Prospective audit and feedback merupakan strategi inti yang efektif dalam program antimicrobial stewardship di rumah sakit, dengan bukti ilmiah kuat yang menunjukkan dampak positif terhadap penggunaan antibiotik, outcome klinis, dan pengendalian resistensi antimikroba. Meskipun implementasinya memerlukan sumber daya yang signifikan dan menghadapi berbagai tantangan, strategi ini menawarkan pendekatan edukatif dan kolaboratif yang lebih mudah diterima oleh prescribers dibandingkan strategi restriktif.

Keberhasilan prospective audit and feedback memerlukan komitmen institusi yang kuat, tim multidisiplin yang kompeten, sistem informasi yang mendukung, serta budaya kolaborasi interprofesional. Integrasi dengan komponen stewardship lainnya seperti pedoman pengobatan lokal, preauthorization, dan FORKKIT akan meningkatkan efektivitas program secara keseluruhan.

Dengan perencanaan yang matang, implementasi bertahap, continuous quality improvement, dan adaptasi terhadap konteks lokal, rumah sakit dapat mengembangkan program prospective audit and feedback yang efektif dan berkelanjutan. Program ini tidak hanya berkontribusi pada optimalisasi penggunaan antibiotik dan outcome pasien, tetapi juga pada upaya global dalam memerangi ancaman resistensi antimikroba.


Referensi:

  1. Centers for Disease Control and Prevention. Core Elements of Hospital Antibiotic Stewardship Programs: 2019. Atlanta, GA: US Department of Health and Human Services, CDC; 2019.
  2. Kementerian Kesehatan RI. Panduan Penatagunaan Antimikroba di Rumah Sakit. Jakarta; 2021.
  3. Ng CK, Wu TC, Chan WM, Leung YS, Li CK, Tsang DN, et al. Antimicrobial stewardship: a review of prospective audit and feedback systems and an objective evaluation of outcomes. Virulence. 2013;4(2):151-157.
  4. Lo-Ten-Foe JR, van Gastel MD, Huisman-Stes H, et al. Prospective audit and feedback of antimicrobial stewardship in critical care: program implementation, experience, and challenges. Can J Hosp Pharm. 2012;65(1):31-36.
  5. Okamoto K, Tatsuno K, Ikeda M, et al. Prospective audit and feedback implementation by a multidisciplinary antimicrobial stewardship team shortens the time to de-escalation of anti-MRSA agents. PLOS ONE. 2022;17(8):e0272667.
  6. Storey DF, Pate PG, Nguyen AT, Chang F. Implementation of an antimicrobial stewardship program on the medical-surgical service of a 100-bed community hospital. Antimicrob Resist Infect Control. 2012;1(1):32.
  7. Dellit TH, Owens RC, McGowan JE Jr, et al. Infectious Diseases Society of America and the Society for Healthcare Epidemiology of America guidelines for developing an institutional program to enhance antimicrobial stewardship. Clin Infect Dis. 2007;44(2):159-177.
  8. DiazGranados CA, Zimmer SM, Klein M, Jernigan JA. Comparison of mortality associated with vancomycin-resistant and vancomycin-susceptible enterococcal bloodstream infections: a meta-analysis. Clin Infect Dis. 2005;41(3):327-333.
  9. Patel SJ, Saiman L, Duchon JM, et al. Development of an antimicrobial stewardship intervention using a model of actionable feedback. J Pediatric Infect Dis Soc. 2012;1(4):289-298.
  10. Wolters Kluwer. Implementing preauthorization and prospective feedback in your antimicrobial stewardship program. December 2023.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar