Pendahuluan
Faringitis akut merupakan salah satu keluhan tersering yang dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari. Kondisi ini ditandai dengan inflamasi pada faring yang dapat disebabkan oleh berbagai patogen, baik virus maupun bakteri. Pemahaman yang tepat mengenai etiologi, diagnosis, dan tatalaksana faringitis akut sangat penting untuk memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu.
Etiologi Faringitis Akut
Faringitis Viral
Mayoritas kasus faringitis akut disebabkan oleh infeksi virus. Berbagai virus pernapasan dapat menjadi penyebab, termasuk:
- Rhinovirus
- Coronavirus
- Adenovirus
- Virus influenza dan parainfluenza
- Respiratory syncytial virus (RSV)
- Virus Epstein-Barr (penyebab mononukleosis infeksiosa)
Faringitis viral umumnya bersifat self-limiting dan akan membaik dalam 5-7 hari tanpa pengobatan spesifik.
Faringitis Bakterial
Meskipun lebih jarang dibandingkan penyebab viral, faringitis bakterial memerlukan perhatian khusus karena membutuhkan terapi antibiotik. Group A Streptococcus (GAS) atau Streptococcus pyogenes merupakan penyebab predominan faringitis bakterial, bertanggung jawab atas 15-30% kasus pada anak-anak dan 5-15% pada dewasa.
Identifikasi yang akurat terhadap infeksi GAS penting untuk mencegah komplikasi seperti demam reumatik akut, glomerulonefritis pasca-streptokokus, dan abses peritonsilar.
Diagnosis: Kriteria Centor-McIsaac
Untuk menilai kemungkinan infeksi streptokokus, klinisi dapat menggunakan Kriteria Centor-McIsaac, yang merupakan modifikasi dari kriteria Centor dengan menambahkan faktor usia. Sistem skoring ini mencakup:
| Kriteria | Poin |
|---|---|
| Demam (suhu >38°C) | +1 |
| Tidak ada batuk | +1 |
| Eksudat atau pembesaran tonsil | +1 |
| Limfadenopati servikal anterior yang nyeri tekan | +1 |
| Usia 3-14 tahun | +1 |
| Usia 15-44 tahun | 0 |
| Usia ≥45 tahun | -1 |
Interpretasi:
- Skor 0-1: Risiko rendah infeksi GAS (≤10%) – tidak perlu pemeriksaan atau antibiotik
- Skor 2-3: Risiko sedang (15-30%) – pertimbangkan rapid antigen detection test (RADT)
- Skor ≥4: Risiko tinggi (>50%) – lakukan rapid GAS test atau mulai terapi empiris
Pasien dengan 3 atau lebih poin pada kriteria Centor-McIsaac sebaiknya menjalani rapid GAS test untuk mengonfirmasi diagnosis sebelum pemberian antibiotik, guna menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu.
Tatalaksana
Faringitis Viral
Karena sifatnya yang self-limiting, tatalaksana faringitis viral bersifat simptomatik:
Pengobatan pilihan:
- Paracetamol (acetaminophen): 500-1000 mg setiap 4-6 jam (maksimal 4 gram/hari)
- NSAIDs seperti ibuprofen: 200-400 mg setiap 4-6 jam
Tatalaksana suportif tambahan:
- Hidrasi yang adekuat
- Istirahat yang cukup
- Berkumur dengan air garam hangat
- Pelega tenggorokan (throat lozenges)
- Hindari iritan seperti asap rokok
Antibiotik tidak diindikasikan untuk faringitis viral dan tidak akan mempercepat penyembuhan.
Faringitis Bakterial (GAS)
Terapi antibiotik diperlukan untuk faringitis GAS yang terkonfirmasi, dengan tujuan mengurangi durasi gejala, mencegah komplikasi, dan menurunkan transmisi.
Pilihan Pertama:
- Penicillin V (phenoxymethylpenicillin): 250 mg tiga kali sehari atau 500 mg dua kali sehari selama 10 hari (anak: 250 mg 2-3 kali sehari)
- Amoxicillin: 500 mg dua kali sehari atau 1000 mg sekali sehari selama 10 hari (anak: 50 mg/kg/hari dibagi dalam 2 dosis)
Pilihan Kedua (untuk pasien alergi penisilin):
- Cephalosporin (jika tidak ada riwayat reaksi anafilaksis): Cefadroxil atau cephalexin selama 10 hari
- Macrolides: Azithromycin 500 mg hari pertama, dilanjutkan 250 mg hari ke-2 hingga ke-5 (perhatian: resistensi meningkat di beberapa wilayah)
- Clindamycin: 300 mg tiga kali sehari selama 10 hari
Alternatif dosis tunggal:
- Penicillin G benzathine injeksi intramuskular: 1,2 juta unit dosis tunggal (anak <27 kg: 600.000 unit)
Opsi ini berguna untuk pasien dengan kepatuhan rendah atau kesulitan akses follow-up.
Penting: Durasi 10 hari untuk terapi oral harus dipatuhi untuk eradikasi bakteri yang optimal dan pencegahan demam reumatik.
Indikasi Rujukan ke Rumah Sakit
Rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap diperlukan pada kondisi berikut:
Gejala Berat:
- Stridor atau kesulitan bernapas
- Drooling (tidak dapat menelan air liur)
- Trismus (kesulitan membuka mulut)
- Deviasi uvula (kecurigaan abses peritonsilar)
- Suara “hot potato voice”
Komplikasi:
- Abses peritonsilar atau retrofaring
- Dehidrasi berat akibat odinofagia
- Tidak responsif terhadap terapi antibiotik dalam 48-72 jam
- Kecurigaan demam reumatik akut atau glomerulonefritis pasca-streptokokus
Pasien Imunokompromais:
- Keganasan
- HIV/AIDS
- Penggunaan imunosupresan
Kesimpulan
Pendekatan rasional terhadap faringitis akut memerlukan diferensiasi yang cermat antara etiologi viral dan bakterial. Penggunaan kriteria Centor-McIsaac dan rapid GAS test membantu klinisi dalam membuat keputusan yang tepat mengenai pemberian antibiotik. Tatalaksana simptomatik dengan paracetamol atau NSAIDs merupakan pilihan utama untuk faringitis viral, sementara antibiotik golongan penisilin tetap menjadi standar emas untuk infeksi GAS yang terkonfirmasi. Identifikasi dini gejala berat dan komplikasi sangat penting untuk rujukan yang tepat waktu.
Referensi
Bisno, A. L., Gerber, M. A., Gwaltney, J. M., Kaplan, E. L., & Schwartz, R. H. (2002). Practice guidelines for the diagnosis and management of group A streptococcal pharyngitis. Clinical Infectious Diseases, 35(2), 113-125. https://doi.org/10.1086/340949
Centor, R. M., Witherspoon, J. M., Dalton, H. P., Brody, C. E., & Link, K. (1981). The diagnosis of strep throat in adults in the emergency room. Medical Decision Making, 1(3), 239-246. https://doi.org/10.1177/0272989X8100100304
Shulman, S. T., Bisno, A. L., Clegg, H. W., Gerber, M. A., Kaplan, E. L., Lee, G., Martin, J. M., & Van Beneden, C. (2012). Clinical practice guideline for the diagnosis and management of group A streptococcal pharyngitis: 2012 update by the Infectious Diseases Society of America. Clinical Infectious Diseases, 55(10), e86-e102. https://doi.org/10.1093/cid/cis629
McIsaac, W. J., Goel, V., To, T., & Low, D. E. (2000). The validity of a sore throat score in family practice. Canadian Medical Association Journal, 163(7), 811-815.
Pelucchi, C., Grigoryan, L., Galeone, C., Esposito, S., Huovinen, P., Little, P., & Verheij, T. (2012). Guideline for the management of acute sore throat. Clinical Microbiology and Infection, 18(Suppl. 1), 1-28. https://doi.org/10.1111/j.1469-0691.2012.03766.x
Wessels, M. R. (2011). Clinical practice. Streptococcal pharyngitis. New England Journal of Medicine, 364(7), 648-655. https://doi.org/10.1056/NEJMcp1009126

Tinggalkan komentar