Pendahuluan
Laringitis akut merupakan kondisi inflamasi pada laring yang sangat umum dijumpai dalam praktik klinis, ditandai dengan gejala khas berupa suara serak (hoarseness) yang muncul secara mendadak. Meskipun umumnya bersifat self-limiting, pemahaman yang tepat mengenai etiologi, tatalaksana, dan indikasi rujukan sangat penting untuk memberikan pelayanan optimal dan mengidentifikasi kondisi yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
Definisi dan Epidemiologi
Laringitis akut adalah inflamasi pada laring yang berlangsung kurang dari 3 minggu, dengan gejala predominan berupa disfonia atau perubahan kualitas suara. Kondisi ini dapat menyerang semua kelompok usia, namun lebih sering pada dewasa muda dan anak-anak. Insidensi meningkat pada musim dingin dan awal musim semi, sejalan dengan pola penyakit infeksi saluran napas atas lainnya.
Etiologi
Lebih dari 90% kasus laringitis akut disebabkan oleh infeksi virus, menjadikannya penyebab tersering dari kondisi ini. Virus-virus yang paling sering menginfeksi meliputi:
Virus Penyebab Utama:
- Rhinovirus (penyebab tersering common cold)
- Adenovirus
- Virus influenza A dan B
- Virus parainfluenza
- Respiratory syncytial virus (RSV)
- Coronavirus
- Metapneumovirus
Penyebab Non-Viral (Jarang):
- Bakteri (Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae, Bordetella pertussis)
- Trauma vokal (penggunaan suara berlebihan)
- Iritasi lingkungan (asap, polutan)
- Reaksi alergi
- Refluks laringofaringeal
Manifestasi Klinis
Gejala laringitis akut biasanya berkembang dalam 2-3 hari dan mencakup:
Gejala Utama:
- Suara serak (hoarseness) – gejala kardinal
- Disfonia hingga afonia (kehilangan suara total)
- Sensasi tidak nyaman di tenggorokan
- Batuk kering yang dapat menjadi produktif
Gejala Penyerta (infeksi virus sistemik):
- Rhinorrhea dan kongesti nasal
- Odinofagia ringan
- Demam low-grade
- Malaise
- Myalgia
Pada pemeriksaan fisik, pita suara dapat tampak eritematosa dan edema pada laringoskopi, meskipun pemeriksaan ini jarang diperlukan untuk kasus uncomplicated.
Diagnosis
Diagnosis laringitis akut umumnya bersifat klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik:
Kriteria Diagnosis:
- Onset akut suara serak (<3 minggu)
- Riwayat infeksi saluran napas atas
- Tidak ada red flags (lihat bagian rujukan)
Pemeriksaan Penunjang:
Umumnya tidak diperlukan untuk laringitis akut uncomplicated. Laringoskopi atau videostroboskopi hanya diindikasikan jika:
- Gejala persisten >2-3 minggu
- Kecurigaan penyebab struktural
- Riwayat merokok atau faktor risiko keganasan
- Hemoptisis
Tatalaksana
Perawatan Suportif (Cornerstone Therapy)
Karena etiologi predominan adalah viral, manajemen laringitis akut berfokus pada perawatan suportif:
1. Istirahat Suara (Voice Rest)
- Kurangi penggunaan suara seminimal mungkin
- Hindari berbisik (justru lebih traumatik pada pita suara)
- Batasi berbicara hanya untuk keperluan esensial
- Durasi: minimal 3-5 hari atau hingga gejala membaik
2. Hidrasi Adekuat
- Minum air putih minimal 8-10 gelas per hari
- Menjaga kelembaban mukosa laring
- Hindari alkohol dan kafein (bersifat diuretik)
3. Humidifikasi
- Gunakan humidifier atau vaporizer di ruangan
- Hirup uap hangat 2-3 kali sehari (steam inhalation)
- Mandi air hangat untuk meningkatkan kelembaban saluran napas
4. Hindari Merokok dan Iritan
- Berhenti merokok – sangat penting untuk penyembuhan
- Hindari paparan asap rokok pasif
- Kurangi paparan polutan dan iritan lingkungan
- Hindari berteriak atau mengejan suara
Pengobatan Simptomatik
Pilihan Utama untuk Mengurangi Ketidaknyamanan:
Paracetamol (Acetaminophen):
- Dosis: 500-1000 mg setiap 4-6 jam
- Maksimal: 4 gram per hari
- Aman untuk nyeri tenggorokan dan demam ringan
NSAIDs (Non-Steroidal Anti-Inflammatory Drugs):
- Ibuprofen: 200-400 mg setiap 4-6 jam (maksimal 2400 mg/hari)
- Naproxen: 250-500 mg setiap 12 jam
- Efek anti-inflamasi dapat membantu mengurangi edema laring
Terapi Tambahan (Evidence Terbatas):
- Pelega tenggorokan (lozenges)
- Berkumur dengan air garam hangat
- Madu (untuk meredakan batuk)
Terapi yang TIDAK Direkomendasikan:
- Antibiotik: Tidak efektif untuk laringitis viral dan tidak direkomendasikan kecuali ada bukti infeksi bakteri sekunder
- Kortikosteroid: Tidak ada bukti manfaat yang konsisten untuk laringitis akut uncomplicated
- Antitusif: Penggunaan terbatas dan tidak rutin direkomendasikan
Diagnosis Banding dan Red Flags
Gejala harus membaik dalam 7-10 hari. Jika gejala persisten atau progresif, pertimbangkan diagnosis alternatif:
Penyebab Lain yang Harus Disingkirkan:
1. Laringitis Kronis (>3 minggu)
- Refluks laringofaringeal (LPR)
- Penggunaan suara berlebihan kronis
- Paparan iritan kronik
- Alergi
2. Kondisi Struktural
- Nodul pita suara
- Polip vokal
- Kista pita suara
- Granuloma kontak
3. Kondisi Serius
- Karsinoma laring (terutama pada perokok >50 tahun)
- Papilomatosis laring
- Paralisis pita suara
- Tuberculosis laring (pada daerah endemik)
4. Kondisi Sistemik
- Hipotiroidisme
- Artritis reumatoid (krikoaretenoid involvement)
- Sarkoidosis
- Amiloidosis
Indikasi Rujukan ke Rumah Sakit
Rujukan Segera (Emergensi):
Gejala Berat yang Mengancam Jalan Napas:
- Stridor (suara napas abnormal)
- Dispnea atau kesulitan bernapas
- Sianosis
- Drooling (tidak dapat menelan saliva)
- Kecurigaan epiglotitis atau croup berat pada anak
Rujukan Elektif (Konsultasi THT):
Indikasi:
- Suara serak persisten >10-15 hari tanpa perbaikan
- Gejala progresif setelah 2 minggu
- Riwayat merokok >10 pack-years dengan hoarseness baru
- Hemoptisis
- Disfagia atau odinofagia yang signifikan
- Benjolan leher
- Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan
- Riwayat keganasan kepala-leher sebelumnya
- Pasien dengan profesi yang bergantung pada suara (penyanyi, guru, dll.) yang tidak membaik dengan terapi konservatif
Evaluasi Spesialis dapat mencakup:
- Laringoskopi indirect atau fiberoptik
- Videostroboskopi
- Biopsi jika ada lesi yang mencurigakan
Edukasi Pasien
Pasien harus diedukasi mengenai:
- Ekspektasi penyembuhan: Gejala biasanya membaik dalam 7-10 hari
- Pentingnya istirahat suara: Jangan memaksakan berbicara
- Hidrasi: Minum banyak cairan
- Kapan harus kembali: Jika tidak ada perbaikan setelah 2 minggu atau muncul red flags
- Pencegahan: Hindari merokok, cuci tangan untuk mencegah infeksi virus
Kesimpulan
Laringitis akut adalah kondisi self-limiting yang predominan disebabkan oleh infeksi virus (>90%). Manajemen utama bersifat suportif dengan penekanan pada istirahat suara, hidrasi adekuat, humidifikasi, dan penghindaran merokok. Pengobatan simptomatik dengan paracetamol atau NSAIDs dapat membantu mengurangi ketidaknyamanan. Antibiotik tidak diindikasikan untuk kasus viral. Klinisi harus waspada terhadap gejala yang persisten melebihi 7-10 hari dan segera merujuk pasien dengan gejala berat atau tanpa perbaikan setelah 10-15 hari untuk evaluasi lebih lanjut guna menyingkirkan penyebab lain yang lebih serius.
Referensi
Reveiz, L., Cardona, A. F., & Ospina, E. G. (2015). Antibiotics for acute laryngitis in adults. Cochrane Database of Systematic Reviews, (5), CD004783. https://doi.org/10.1002/14651858.CD004783.pub5
Schwartz, S. R., Cohen, S. M., Dailey, S. H., Rosenfeld, R. M., Deutsch, E. S., Gillespie, M. B., Granieri, E., Hapner, E. R., Kimball, E. E., Krouse, H. J., McMurray, J. S., Medina, S., O’Brien, K., Ouellette, D. R., Messinger-Rapport, B. J., Stachler, R. J., Strode, S., Thompson, D. M., Stemple, J. C., … Nnacheta, L. C. (2009). Clinical practice guideline: Hoarseness (dysphonia). Otolaryngology–Head and Neck Surgery, 141(3 Suppl), S1-S31. https://doi.org/10.1016/j.otohns.2009.06.744
Wood, J. M., Athanasiadis, T., & Allen, J. (2014). Laryngitis. BMJ, 349, g5827. https://doi.org/10.1136/bmj.g5827
Dworkin-Valenti, J. P., Sugden, S. G., & Palmer, P. M. (2019). Acute laryngitis. In R. T. Sataloff (Ed.), Professional voice: The science and art of clinical care (4th ed., pp. 853-858). Plural Publishing.
Rosen, C. A., Lee, A. S., Osborne, J., Zullo, T., & Murry, T. (2004). Development and validation of the Voice Handicap Index-10. Laryngoscope, 114(9), 1549-1556. https://doi.org/10.1097/00005537-200409000-00009
Koufman, J. A., & Blalock, P. D. (1991). Vocal fatigue and dysphonia in the professional voice user: Bogart-Bacall syndrome. Laryngoscope, 101(10), 1-9. https://doi.org/10.1288/00005537-199107000-00001
Sulica, L., & Blitzer, A. (2006). Vocal fold paresis: Evidence and controversies. Current Opinion in Otolaryngology & Head and Neck Surgery, 14(3), 143-149. https://doi.org/10.1097/01.moo.0000193201.32038.2f

Tinggalkan komentar