Rekan-rekan tenaga medis,
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah salah satu kasus infeksi bakteri paling umum yang kita tangani, baik di layanan primer maupun rumah sakit. Namun, tata laksananya kian menantang dengan meningkatnya angka resistensi antimikroba.
Kementerian Kesehatan RI telah menerbitkan Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Infeksi Saluran Kemih (Nomor HK.01.07/MENKES/762/2025). Pedoman komprehensif ini hadir untuk menjadi acuan kita bersama, menyeragamkan diagnosis, dan yang terpenting, mendorong penggunaan antibiotik yang bijak (Penatagunaan Antimikroba – PGA).
Tulisan ini akan merangkum poin-poin klinis terpenting dari PNPK tersebut, khususnya pada alur diagnosis dan panduan terapi.
Bagian 1: Alur Diagnosis ISK
Kapan Curiga dan Apa yang Diperiksa?
PNPK menekankan pentingnya alur diagnosis yang sistematis untuk menghindari over-diagnosis dan terapi yang tidak perlu.
1. Curiga ISK: Anamnesis & Pemeriksaan Fisik
Diagnosis dimulai dari kecurigaan klinis berdasarkan gejala:
| Lokasi Infeksi | Manifestasi Klinis |
|---|---|
| ISK Bawah (Sistitis) | • Disuria (nyeri saat BAK) • Frekuensi (sering BAK) • Urgensi (tidak bisa menahan BAK) • Nyeri suprapubik • Hematuria |
| ISK Atas (Pielonefritis) | Gejala sistitis DITAMBAH: • Demam (>38°C) • Menggigil • Nyeri pinggang/CVA tenderness • Mual dan muntah |
2. Pemeriksaan Penunjang Awal: Urinalisis
Urinalisis menggunakan carik celup (dipstick) adalah alat skrining yang cepat dan esensial.
| Parameter | Signifikansi Klinis | Karakteristik Diagnostik |
|---|---|---|
| Nitrit (+) | Sangat spesifik untuk bakteri Gram-negatif (Enterobacterales, mis. E. coli) yang mereduksi nitrat | Spesifisitas: 96-99% |
| Leukosit Esterase (+) | Mendeteksi piuria (sel darah putih) sebagai tanda inflamasi | Sensitivitas: 80-92% |
Alur Pikir Klinis Sederhana:
Gejala Klinis (+)
↓
Urinalisis: Nitrit (+) ATAU Leukosit Esterase (+)
↓
Sangat Sugestif ISK
3. Standar Emas: Kultur Urin
PNPK menegaskan bahwa Kultur Urin adalah diagnosis definitif. Namun, tidak semua pasien memerlukannya.
Kapan Kultur Urin WAJIB Dilakukan?
✅ Indikasi Utama:
- Dugaan Pielonefritis (gejala sistemik/atas)
- Wanita Hamil (skrining dan gejala)
- Semua pasien Pria (ISK pada pria selalu dianggap komplikata)
- Gejala tidak khas (atipikal)
- Gejala gagal membaik atau kambuh (rekuren) setelah terapi
- Pasien dengan faktor ISK Komplikata lainnya
Kriteria Bakteriuria Bermakna
| Metode Koleksi | Kriteria Kuantitatif (CFU/mL) |
|---|---|
| Urin Porsi Tengah (Wanita, sistitis akut) | ≥10³ |
| Urin Porsi Tengah (Pielonefritis) | ≥10⁴ |
| Urin Porsi Tengah (Pria, simtomatis) | ≥10³ |
| Urin Porsi Tengah (Asimtomatik) | ≥10⁵ |
| Aspirasi Suprapubik | Berapapun pertumbuhannya |
Bagian 2: Klasifikasi ISK
Kunci Penentu Strategi Terapi
PNPK secara tegas membagi ISK berdasarkan faktor risiko. Klasifikasi ini adalah penentu utama strategi terapi Anda.
| Tipe ISK | Definisi Klinis | Contoh Pasien | Implikasi Terapi |
|---|---|---|---|
| Bakteriuria Asimtomatik (ABU) | Bakteriuria bermakna TANPA gejala ISK | Ditemukan insidental saat check-up | ❌ JANGAN DIOBATI (kecuali hamil/prosedur) |
| Sistitis Nonkomplikata | ISK bawah tanpa faktor penyulit | Wanita sehat, tidak hamil, premenopause, tanpa kelainan urologi | Terapi oral jangka pendek (3-5 hari) |
| Pielonefritis Nonkomplikata | ISK atas tanpa faktor penyulit | Wanita sehat dengan demam & nyeri CVA | Fluoroquinolone oral atau IV → oral (7 hari) |
| ISK Komplikata | ISK dengan faktor penyulit anatomis/fungsional | Semua Pria, Ibu Hamil, Diabetes, Kateter, Batu, Obstruksi, Gagal ginjal, Imunosupresi | Terapi lebih agresif, durasi lebih lama (7-14 hari) |
| Urosepsis | ISK → disfungsi organ (qSOFA ≥2) | Pasien ISK dengan hipotensi, altered mental status, takipnea | 🚨 KEDARURATAN: Antibiotik IV <1 jam + kontrol sumber |
Bagian 3: Panduan Terapi Sesuai PNPK
The Clinical Playbook
1. Terapi Bakteriuria Asimtomatik (ABU)
| Rekomendasi | Detail |
|---|---|
| Aturan Emas | ❌ JANGAN DIOBATI (Rekomendasi Kuat) |
| Rasional | Tidak terbukti bermanfaat; justru ↑ risiko resistensi antibiotik dan infeksi C. difficile |
| PENGECUALIAN (WAJIB OBATI) | ✅ Ibu Hamil (cegah pielonefritis, BBLR, prematur) ✅ Pasien yang akan menjalani prosedur urologi dengan risiko trauma mukosa (TURP, endoskopi) |
2. Terapi Sistitis Nonkomplikata
Tujuan: Resolusi gejala cepat dengan terapi jangka pendek
| Lini Terapi | Antibiotik | Dosis & Durasi | Catatan |
|---|---|---|---|
| Lini Pertama (Rekomendasi Kuat) | Fosfomycin trometamol | 3 gram, dosis tunggal (PO) | ⭐ Pilihan terbaik: efektif, dosis tunggal, resistensi rendah |
| Nitrofurantoin | 100 mg, 2×/hari × 5 hari (PO) | Hindari jika GFR <30 mL/min | |
| Alternatif | TMP-SMX | 160/800 mg, 2×/hari × 3 hari (PO) | ⚠️ Hati-hati jika resistensi lokal >20% |
| Fluoroquinolone (Ciprofloxacin/Levofloxacin) | 3 hari (PO) | 💡 Simpan untuk kasus lebih berat (pielonefritis) |
3. Terapi Pielonefritis Nonkomplikata
⚠️ Kultur Urin WAJIB!
A. Rawat Jalan (Klinis stabil, bisa minum obat)
| Antibiotik | Dosis & Durasi |
|---|---|
| Ciprofloxacin | 500 mg, 2×/hari × 7 hari (PO) ATAU 1000 mg ER, 1×/hari × 7 hari |
| Levofloxacin | 750 mg, 1×/hari × 5 hari (PO) |
B. Rawat Inap (Klinis tidak stabil, mual/muntah hebat, demam tinggi)
| Fase | Regimen | Durasi |
|---|---|---|
| Terapi Empiris IV Awal | Ceftriaxone 1-2 gram, 1×/hari (IV) ATAU Aminoglikosida (Gentamicin/Tobramycin) ± Ampicillin (IV) | Hingga afebris 24-48 jam |
| De-eskalasi | Switch ke antibiotik oral sesuai hasil kultur | Lanjutkan hingga total 7-14 hari |
4. Terapi ISK Komplikata
Prinsip: Terapi lebih agresif, durasi lebih lama
⚠️ Kultur Urin WAJIB! Ambil sampel sebelum antibiotik.
| Setting | Regimen Empiris (Rekomendasi Kuat: Kombinasi) | Durasi |
|---|---|---|
| Rawat Inap/Gejala Sistemik | Amoksisilin + Aminoglikosida ATAU Sefalosporin Gen-2/Gen-3 + Aminoglikosida | 7-14 hari (14 hari pada pria jika ada prostatitis) |
| Kasus Berat/Dugaan ESBL | Piperacillin/Tazobactam atau Carbapenem (Sesuaikan dengan pola kuman lokal) |
🔑 Fokus Tambahan:
- ✅ Kelola faktor penyulit (lepas kateter, atasi obstruksi, kontrol gula darah)
- ✅ Sesuaikan dengan antibiogram lokal
5. Terapi Urosepsis
🚨 INI ADALAH KEDARURATAN MEDIS! (Manajemen Sepsis + ISK)
| Timeline | Tindakan Kunci | Detail |
|---|---|---|
| < 1 JAM | 🩸 Ambil Kultur | • 2 set kultur darah • 1 kultur urin |
| < 1 JAM | 💊 Antibiotik IV Spektrum Luas | • Piperacillin/Tazobactam • Carbapenem • Sefalosporin spektrum luas (DOSIS TINGGI) |
| SEGERA | 🔧 Kontrol Sumber Infeksi | • Dekompresi obstruksi (kateter/nefrostomi) • Drainase abses ⚠️ SANGAT PENTING! |
| SEGERA | 💧 Resusitasi & Suportif | • Cairan IV agresif • Vasopresor (jika perlu) • Sesuai Surviving Sepsis Campaign |
Kesimpulan untuk Praktik Klinis
PNPK Tata Laksana ISK 2025 memberikan kita alur yang jelas:
📋 Algoritma 4-Langkah:
1. DIAGNOSIS TEPAT
└→ Urinalisis (skrining cepat)
└→ Kultur urin (standar emas - pahami indikasinya!)
2. KLASIFIKASI TEPAT
└→ ABU vs Nonkomplikata vs Komplikata vs Urosepsis
└→ Klasifikasi = Kunci Strategi Terapi
3. TERAPI BIJAK
├→ ABU: JANGAN OBATI (kecuali hamil/prosedur)
├→ Sistitis-NK: Fosfomycin/Nitrofurantoin (jangka pendek)
├→ Pielonefritis-NK: Fluoroquinolone oral/IV
├→ ISK-K: Terapi kombinasi, lebih lama (7-14 hari)
└→ Urosepsis: <1 jam antibiotik IV + kontrol sumber!
4. SESUAIKAN LOKAL
└→ Gunakan antibiogram fasilitas Anda
└→ Monitor pola resistensi
💡 Pesan Kunci:
✅ Simpan Fluoroquinolone dan antibiotik spektrum luas untuk kasus berat
✅ Hindari terapi ABU yang tidak perlu
✅ Prioritaskan kontrol sumber pada urosepsis
✅ Sesuaikan dengan pola resistensi lokal
Mari bersama-sama menerapkan PNPK ini untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan memerangi resistensi antimikroba di Indonesia.
Referensi: Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Infeksi Saluran Kemih. Nomor HK.01.07/MENKES/762/2025.

Tinggalkan komentar