Pendahuluan
Sinusitis akut atau rinosinusitis akut merupakan inflamasi pada mukosa sinus paranasal dan kavum nasal yang berlangsung kurang dari 4 minggu. Kondisi ini merupakan salah satu diagnosis tersering dalam praktik klinis, dengan dampak signifikan terhadap kualitas hidup dan produktivitas pasien. Pemahaman yang tepat mengenai pembedaan etiologi viral dan bakterial, serta strategi tatalaksana yang rasional, sangat penting untuk menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu dan mencegah resistensi antimikroba.
Definisi dan Klasifikasi
Definisi
Rinosinusitis akut adalah inflamasi pada mukosa hidung dan sinus paranasal dengan durasi gejala kurang dari 4 minggu. Istilah “rinosinusitis” lebih akurat daripada “sinusitis” karena inflamasi sinus hampir selalu disertai inflamasi mukosa nasal.
Klasifikasi Berdasarkan Durasi:
- Akut: <4 minggu
- Subakut: 4-12 minggu
- Kronik: >12 minggu
- Rekuren: ≥4 episode per tahun, masing-masing berlangsung ≥7 hari, dengan periode bebas gejala di antaranya
Epidemiologi
- Insidensi: 15-20% populasi dewasa per tahun
- Komplikasi dari 0.5-2% kasus common cold
- Penyebab utama kehilangan hari kerja
- Biaya kesehatan miliaran rupiah per tahun
- Puncak insidensi: musim dingin dan awal musim semi
Anatomi dan Patofisiologi
Sinus Paranasal:
- Sinus maksilaris (paling sering terkena)
- Sinus ethmoidalis
- Sinus frontalis
- Sinus sphenoidalis
Patofisiologi:
- Infeksi viral saluran napas atas → edema mukosa
- Obstruksi ostium sinus → gangguan drainase dan ventilasi
- Stasis sekret dalam sinus → lingkungan ideal untuk pertumbuhan bakteri
- Infeksi bakterial sekunder (pada sebagian kecil kasus)
Etiologi
Sinusitis Viral (90% Kasus)
Mayoritas sinusitis akut (sekitar 90%) disebabkan oleh virus, sebagai komplikasi dari common cold atau infeksi saluran pernapasan atas viral. Virus penyebab meliputi:
- Rhinovirus (paling sering)
- Coronavirus
- Adenovirus
- Virus influenza dan parainfluenza
- Respiratory syncytial virus (RSV)
- Enterovirus
Sinusitis viral umumnya bersifat self-limiting dan membaik dalam 7-10 hari tanpa antibiotik.
Sinusitis Bakterial (5-10% Kasus)
Sinusitis bakterial akut terjadi pada minoritas kasus, biasanya sebagai komplikasi superinfeksi bakterial pada sinusitis viral. Patogen bakterial utama:
1. Streptococcus pneumoniae (30-40%)
- Penyebab tersering sinusitis bakterial
- Dapat menyebabkan komplikasi intrakranial
- Resistensi penisilin meningkat di beberapa wilayah
2. Haemophilus influenzae (20-30%)
- Terutama strain non-typeable
- Sering memproduksi beta-laktamase
3. Patogen Lain:
- Moraxella catarrhalis (15-20%)
- Streptococcus pyogenes
- Staphylococcus aureus (jarang, kecuali sinusitis nosokomial)
- Anaerobes (sinusitis odontogenik atau kronik)
Faktor Risiko Sinusitis Bakterial:
- Infeksi dental (gigi molar atas)
- Obstruksi anatomis (deviasi septum, polip nasal)
- Rinitis alergi
- Asma
- Imunodefisiensi
- Cystic fibrosis
- Ciliary dyskinesia
- Paparan asap rokok
Manifestasi Klinis
Gejala Mayor:
1. Nyeri/Tekanan Wajah
- Unilateral atau bilateral
- Lokasi: pipi (maksilaris), dahi (frontalis), antara mata (ethmoidalis)
- Bertambah saat membungkuk ke depan
2. Kongesti/Obstruksi Nasal
- Hidung tersumbat
- Kesulitan bernapas melalui hidung
3. Discharge Nasal (Anterior atau Posterior)
- Rhinorrhea: Jernih, mukoid, atau purulen
- Post-nasal drip: Sekret mengalir ke tenggorokan
- Warna discharge hijau/kuning BUKAN indikator pasti infeksi bakteri
4. Hiposmia/Anosmia
- Penurunan atau kehilangan kemampuan penciuman
Gejala Minor:
- Demam (lebih umum pada bakterial)
- Halitosis (bau mulut)
- Fatigue
- Dental pain (terutama gigi molar atas)
- Batuk (akibat post-nasal drip)
- Otalgia atau pressure telinga
- Sakit kepala
Pemeriksaan Fisik:
- Inspeksi nasal: Edema mukosa, discharge purulen
- Transilluminasi sinus: Sensitivitas dan spesifisitas rendah, jarang digunakan
- Palpasi/perkusi sinus: Nyeri tekan pada area sinus
- Pemeriksaan dental: Menyingkirkan etiologi odontogenik
Diagnosis
Diagnosis Klinis
Diagnosis rinosinusitis akut bersifat klinis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Kriteria Diagnosis (EPOS/IDSA Guidelines):
Rinosinusitis akut didiagnosis jika terdapat:
- Onset mendadak dari ≥2 gejala berikut:
- Obstruksi/kongesti nasal
- Discharge nasal (anterior atau posterior)
- Nyeri/tekanan wajah
- Gangguan penciuman (pada dewasa) atau batuk (pada anak)
- Durasi gejala <12 minggu
- Konfirmasi endoskopi atau imaging (untuk kasus tertentu, lihat di bawah)
Membedakan Sinusitis Viral vs Bakterial
Kriteria untuk Sinusitis Bakterial Akut (American Academy of Otolaryngology):
Diagnosis sinusitis bakterial akut memerlukan salah satu dari:
1. Gejala Persisten tanpa Perbaikan (≥10 hari):
- Gejala nasal atau post-nasal discharge
- Kongesti nasal
- Nyeri wajah
- Tidak ada perbaikan setelah 7-10 hari dari onset gejala ISPA
2. Gejala Severe (onset sejak awal):
- Demam ≥39°C
- Discharge purulen
- Nyeri wajah unilateral severe
- Durasi minimal 3-4 hari berturut-turut
3. “Double Worsening” atau “Double Sickening”:
- Perbaikan awal gejala ISPA viral
- Kemudian memburuk kembali dalam 10 hari
- Peningkatan kongesti nasal, discharge, atau nyeri wajah
- Onset demam baru
Catatan Penting:
- Warna discharge (hijau/kuning) saja BUKAN indikator pasti bakterial
- Gejala <7 hari kemungkinan besar masih viral
- Pertimbangkan bakterial setelah 7-10 hari gejala persisten
Pemeriksaan Penunjang
Umumnya TIDAK diperlukan untuk sinusitis akut uncomplicated dalam praktik primer.
Imaging (CT Scan Sinus):
Indikasi terbatas:
- Kecurigaan komplikasi (orbital, intrakranial)
- Sinusitis nosokomial atau pada pasien immunocompromised
- Persiapan prosedur bedah
- Kegagalan terapi berulang
- Evaluasi sinusitis kronik atau rekuren
TIDAK direkomendasikan untuk:
- Diagnosis rutin sinusitis akut uncomplicated
- Evaluasi response terapi awal
Catatan: CT scan dapat menunjukkan abnormalitas pada hingga 40% individu asimtomatik dengan riwayat recent common cold.
Nasal Endoscopy:
Indikasi:
- Evaluasi sinusitis rekuren atau kronik
- Kegagalan terapi multiple
- Kecurigaan obstruksi anatomis atau polip
- Pre-operatif assessment
Kultur (Aspirasi Sinus):
Indikasi sangat terbatas:
- Sinusitis nosokomial
- Immunocompromised
- Komplikasi severe
- Kegagalan terapi multiple
- Bukan prosedur rutin
Tatalaksana
A. Perawatan Suportif (First-Line untuk Semua Kasus)
Supportive care merupakan pilihan utama, terutama untuk sinusitis viral dan untuk observasi awal sinusitis yang diduga bakterial.
1. Analgesia dan Antipiretik
Paracetamol (Acetaminophen):
- Dewasa: 500-1000 mg setiap 4-6 jam (maksimal 4 gram/hari)
- Anak: 10-15 mg/kg setiap 4-6 jam
NSAIDs:
- Ibuprofen:
- Dewasa: 400-600 mg setiap 6-8 jam
- Anak >6 bulan: 5-10 mg/kg setiap 6-8 jam
- Naproxen: Dewasa 250-500 mg setiap 12 jam
Indikasi: Nyeri wajah, sakit kepala, demam
2. Nasal Saline Irrigation
Sangat direkomendasikan – evidence kuat untuk efektivitas:
- Isotonic atau hypertonic saline
- Metode: Neti pot, squeeze bottle, atau nasal spray
- Frekuensi: 2-4 kali per hari
- Manfaat: Membersihkan sekret, mengurangi edema mukosa, memperbaiki clearance mukosilier
Cara penggunaan:
- Gunakan air steril, distilled, atau yang sudah direbus dan didinginkan
- Miringkan kepala ke samping, alirkan saline melalui satu nostril dan keluarkan melalui nostril lainnya
3. Intranasal Corticosteroids
Sangat efektif untuk mengurangi inflamasi dan edema:
- Mometasone furoate: 2 semprot per nostril sekali sehari
- Fluticasone propionate: 2 semprot per nostril sekali atau dua kali sehari
- Budesonide: 2 semprot per nostril dua kali sehari
Indikasi:
- Sinusitis viral dan bakterial (sebagai adjunctive therapy)
- Riwayat rinitis alergi
- Gejala kongesti predominan
Durasi: 2-3 minggu atau hingga resolusi gejala
Manfaat: Mengurangi inflamasi, edema mukosa, dan memperbaiki drainase sinus
4. Dekongestan
Oral Dekongestan:
- Pseudoephedrine: 30-60 mg setiap 4-6 jam atau 120 mg extended-release setiap 12 jam
- Phenylephrine: 10 mg setiap 4 jam
- Durasi maksimal: 3-5 hari
- Kontraindikasi: Hipertensi tidak terkontrol, penyakit jantung
Topical Dekongestan (Nasal Spray):
- Oxymetazoline atau xylometazoline: 2 semprot per nostril setiap 12 jam
- PERINGATAN KERAS: Jangan gunakan >3 hari (risiko rhinitis medicamentosa)
Manfaat: Mengurangi kongesti, memperbaiki drainase
5. Terapi Suportif Lainnya
- Hidrasi adekuat: Minum air putih 8-10 gelas/hari
- Humidifikasi: Steam inhalation atau humidifier
- Istirahat cukup
- Kompres hangat pada area sinus yang nyeri
- Hindari iritan: Asap rokok, polutan
- Elevasi kepala saat tidur
6. Terapi yang TIDAK Direkomendasikan
Antihistamin:
- Tidak efektif untuk sinusitis akut non-alergi
- Dapat mengentalkan sekret dan memperburuk drainase
- Pengecualian: Jika ada rinitis alergi comorbid
Mucolytic/Expectorant:
- Evidence sangat terbatas untuk efektivitas pada sinusitis
- Tidak rutin direkomendasikan
B. Observasi Awal (Watchful Waiting)
Untuk sebagian besar pasien dengan diagnosis awal rinosinusitis akut:
Indikasi Observasi:
- Gejala ringan hingga sedang
- Durasi <7 hari
- Tidak ada kriteria sinusitis bakterial berat
- Pasien dapat follow-up
Strategi:
- Terapi suportif komprehensif
- Re-evaluasi dalam 7-10 hari
- Mulai antibiotik jika:
- Tidak ada perbaikan setelah 7-10 hari
- Memburuk kapan saja
- Muncul tanda bakterial berat
C. Antibiotik untuk Kasus Persisten atau Bakterial Non-Severe
Indikasi Antibiotik:
- Gejala persisten ≥10 hari tanpa perbaikan
- “Double worsening” (memburuk setelah sempat membaik)
- Memenuhi kriteria bakterial (lihat bagian diagnosis)
Pilihan Pertama: Amoxicillin
Dosis:
- Dewasa: 500 mg tiga kali sehari ATAU 875 mg dua kali sehari
- Anak: 45-90 mg/kg/hari dibagi 2 dosis (dosis tinggi untuk area resistensi tinggi)
- Durasi: 5-7 hari (bukti menunjukkan durasi lebih pendek sama efektifnya dengan 10 hari)
Rasional:
- Spektrum sempit, efektif terhadap S. pneumoniae dan H. influenzae yang tidak memproduksi beta-laktamase
- Profil keamanan baik
- Cost-effective
Antibiotik Alternatif jika Tidak Ada Perbaikan (48-72 Jam):
Jika tidak ada perbaikan setelah 48-72 jam amoxicillin, pertimbangkan:
Amoxicillin-Clavulanate:
- Dewasa: 875 mg/125 mg dua kali sehari atau 2000 mg/125 mg (extended-release) dua kali sehari
- Anak: 45-90 mg/kg/hari (komponen amoxicillin) dibagi 2 dosis
- Durasi: 5-7 hari
- Indikasi switch: Suspek beta-laktamase producing organisms
Alternatif untuk Alergi Beta-Laktam:
Alergi Non-Anafilaksis (Type IV hypersensitivity):
Doxycycline:
- Dewasa: 100 mg dua kali sehari atau 200 mg sekali sehari
- Durasi: 5-7 hari
- Kontraindikasi: Kehamilan, anak <8 tahun (staining gigi)
Levofloxacin atau Moxifloxacin (Respiratory Fluoroquinolones):
- Levofloxacin: 500 mg sekali sehari selama 5-7 hari
- Moxifloxacin: 400 mg sekali sehari selama 5-7 hari
- Perhatian: Efek samping serius (tendon rupture, QT prolongation, neuropati)
- Reserved untuk kasus resisten atau alergi berat
Alergi Anafilaksis (Type I hypersensitivity):
Levofloxacin atau Moxifloxacin (seperti di atas)
Atau kombinasi:
- Doxycycline + Metronidazole (jika suspek anaerobes)
Trimethoprim-Sulfamethoxazole:
- Tidak lagi direkomendasikan sebagai first-line karena resistensi tinggi S. pneumoniae
Macrolides (Azithromycin, Clarithromycin):
- Tidak direkomendasikan untuk sinusitis akut karena resistensi S. pneumoniae yang tinggi (>30%)
D. Antibiotik untuk Kasus Severe
Kriteria Sinusitis Bakterial Severe:
- Demam ≥39°C
- Discharge purulen unilateral yang severe
- Nyeri wajah severe dan unilateral
- Toxic appearance
- Onset gejala severe sejak awal (minimal 3-4 hari berturut-turut)
Pilihan Utama: Amoxicillin-Clavulanate (Co-amoxiclav)
Dosis:
- Dewasa:
- 875 mg/125 mg dua kali sehari
- ATAU 2000 mg/125 mg extended-release dua kali sehari (untuk kasus lebih severe)
- Anak:
- 90 mg/kg/hari (komponen amoxicillin) dibagi 2 dosis
- Gunakan formulasi dengan rasio 14:1 atau 7:1 untuk meminimalkan dosis clavulanate (mengurangi diare)
- Durasi: 5-7 hari
Rasional:
- Spektrum luas terhadap S. pneumoniae (termasuk resisten penisilin), H. influenzae, dan M. catarrhalis
- Efektif melawan beta-laktamase producing organisms
Alternatif untuk Alergi Beta-Laktam (Kasus Severe):
Respiratory Fluoroquinolones:
- Levofloxacin: 750 mg sekali sehari selama 5 hari
- Moxifloxacin: 400 mg sekali sehari selama 5-7 hari
Atau kombinasi:
- Doxycycline 200 mg loading dose, kemudian 100 mg dua kali sehari
- PLUS Metronidazole jika diperlukan coverage anaerobes
Catatan: Untuk kasus severe dengan alergi beta-laktam, pertimbangkan konsultasi spesialis atau rujukan.
E. Kegagalan Terapi (Treatment Failure)
Definisi: Tidak ada perbaikan atau perburukan setelah 48-72 jam terapi antibiotik adekuat
Langkah:
- Re-evaluasi diagnosis:
- Pastikan diagnosis sinusitis bakterial akut (bukan viral, alergi, atau kronik)
- Pertimbangkan diagnosis alternatif
- Switch antibiotik:
- Dari amoxicillin → amoxicillin-clavulanate
- Dari amoxicillin-clavulanate → fluoroquinolone atau ceftriaxone
- Imaging (CT scan sinus): Evaluasi komplikasi atau obstruksi anatomis
- Konsultasi THT:
- Pertimbangkan nasal endoscopy
- Pertimbangkan sinus aspiration untuk kultur (jarang)
- Evaluasi faktor predisposisi: Rinitis alergi, asma, anomali anatomis
Komplikasi
Meskipun jarang (<5% kasus bakterial yang tidak diobati), komplikasi dapat mengancam nyawa:
Komplikasi Orbital (Paling Sering):
- Selulitis periorbital/preseptal
- Selulitis orbital/postseptal
- Abses subperiosteal
- Abses orbital
- Trombosis sinus kavernosus
Tanda klinis:
- Edema periorbital
- Proptosis
- Oftalmoplegi (gangguan gerakan mata)
- Penurunan visus
- Nyeri dengan gerakan mata
Komplikasi Intrakranial:
- Meningitis
- Abses epidural atau subdural
- Abses otak
- Trombosis sinus venosus
- Empiema subdural
Tanda klinis:
- Sakit kepala severe
- Kaku kuduk
- Penurunan kesadaran
- Kejang
- Defisit neurologis fokal
- Demam tinggi
Komplikasi Lokal:
- Osteomyelitis (tulang frontal atau maksilaris)
- Mucocele atau pyocele
Indikasi Rujukan ke Rumah Sakit
Rujukan Segera (Emergensi):
1. Komplikasi Orbital:
- Proptosis (bola mata menonjol)
- Oftalmoplegi (keterbatasan gerakan mata)
- Penurunan visus
- Diplopia (penglihatan ganda)
- Edema periorbital severe dengan eritema
- Kemosis (edema konjungtiva)
2. Komplikasi Intrakranial:
- Sakit kepala severe yang tidak membaik dengan analgesik
- Kaku kuduk atau tanda meningeal positif
- Penurunan kesadaran atau altered mental status
- Kejang
- Defisit neurologis fokal
- Tanda peningkatan tekanan intrakranial
3. Gejala Severe/Toxic Appearance:
- Demam tinggi (>39.5°C) yang persisten
- Pasien tampak sangat sakit (toxic appearance)
- Sepsis atau tanda syok
- Dehidrasi berat
4. Sinusitis Frontal atau Sphenoid Severe:
- Risiko komplikasi intrakranial lebih tinggi
- Nyeri severe yang tidak teratasi
Rujukan Elektif (Konsultasi THT):
1. Kegagalan Terapi Berulang:
- Tidak response terhadap 2-3 regimen antibiotik berbeda
- Multiple recurrence
2. Sinusitis Rekuren:
- ≥4 episode sinusitis akut per tahun
- Perlu evaluasi etiologi (rinitis alergi, anomali anatomis, imunodefisiensi)
3. Sinusitis Kronik:
- Gejala persisten >12 minggu
- Perlu evaluasi endoskopi dan imaging
- Pertimbangan terapi bedah (functional endoscopic sinus surgery – FESS)
4. Sinusitis Nosokomial atau pada Immunocompromised:
- Risiko patogen resisten atau fungi
- Memerlukan kultur dan terapi spesifik
5. Suspek Obstruksi Anatomis:
- Deviasi septum severe
- Polip nasal
- Tumor
- Konka hipertrofi
6. Sinusitis Odontogenik:
- Memerlukan evaluasi dental dan manajemen sumber infeksi
Pencegahan
Strategi Preventif:
1. Hygiene Tangan:
- Mencegah transmisi infeksi viral (penyebab sinusitis)
2. Manajemen Rinitis Alergi:
- Intranasal corticosteroids
- Antihistamin
- Allergen avoidance
3. Hindari Iritan:
- Berhenti merokok
- Hindari paparan asap dan polutan
4. Nasal Saline Irrigation Regular:
- Terutama untuk pasien dengan sinusitis rekuren
5. Hidrasi Adekuat
6. Manajemen Kondisi Predisposisi:
- Asma
- GERD
- Imunodefisiensi
7. Vaksinasi:
- Pneumococcal vaccine (terutama kelompok risiko tinggi)
- Influenza vaccine (annual)
8. Koreksi Anatomi:
- Septoplasty untuk deviasi septum severe
- Polipektomi jika ada polip nasal
Edukasi Pasien
Informasi penting untuk pasien:
- Mayoritas sinusitis adalah viral dan tidak memerlukan antibiotik
- Gejala biasanya membaik dalam 7-10 hari dengan perawatan suportif
- Warna discharge hijau/kuning BUKAN indikasi pasti bakterial
- Nasal saline irrigation sangat membantu dan aman
- Intranasal corticosteroids efektif mengurangi gejala
- Antibiotik hanya diperlukan jika gejala tidak membaik >10 hari atau severe
- Dekongestan spray maksimal 3 hari untuk hindari rebound congestion
- Follow-up jika tidak ada perbaikan setelah 7-10 hari atau memburuk
- Red flags: Kembali segera jika ada edema mata, penurunan visus, sakit kepala severe, atau kaku kuduk
Prognosis
Dengan tatalaksana yang tepat:
- Sinusitis viral: Resolusi spontan dalam 7-10 hari
- Sinusitis bakterial dengan antibiotik: Perbaikan signifikan dalam 48-72 jam, resolusi dalam 5-7 hari
- Komplikasi: Sangat jarang jika terdeteksi dan ditatalaksana dengan tepat
Kesimpulan
Sinusitis akut predominan disebabkan oleh virus (90% kasus), dengan sebagian kecil kasus berkembang menjadi infeksi bakterial sekunder terutama oleh Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Perawatan suportif dengan analgesia, nasal saline irrigation, dan intranasal corticosteroids merupakan pilihan utama untuk semua kasus. Antibiotik diindikasikan untuk kasus persisten (≥10 hari tanpa perbaikan), “double worsening”, atau tanda bakterial severe. Amoxicillin 5-7 hari merupakan pilihan pertama untuk kasus non-severe, sementara amoxicillin-clavulanate 5-7 hari direkomendasikan untuk kasus severe. Alternatif tersedia untuk pasien dengan alergi beta-laktam. Kriteria bakterial sebaiknya dipertimbangkan setelah 7-10 hari gejala persisten. Rujukan ke rumah sakit diindikasikan untuk komplikasi orbital atau intrakranial, gejala severe, atau kegagalan terapi berulang. Pendekatan yang rasional dengan watchful waiting awal dan penggunaan antibiotik yang bijaksana dapat mengoptimalkan luaran klinis sekaligus meminimalkan resistensi antimikroba.
Referensi
Chow, A. W., Benninger, M. S., Brook, I., Brozek, J. L., Goldstein, E. J., Hicks, L. A., Pankey, G. A., Seleznick, M., Volturo, G., Wald, E. R., & File, T. M. (2012). IDSA clinical practice guideline for acute bacterial rhinosinusitis in children and adults. Clinical Infectious Diseases, 54(8), e72-e112. https://doi.org/10.1093/cid/cir1043
Fokkens, W. J., Lund, V. J., Hopkins, C., Hellings, P. W., Kern, R., Reitsma, S., Toppila-Salmi, S., Bernal-Sprekelsen, M., Mullol, J., Alobid, I., Terezinha Anselmo-Lima, W., Bachert, C., Baroody, F., von Buchwald, C., Cervin, A., Cohen, N., Constantinidis, J., De Gabory, L., Desrosiers, M., … Thomas, M. (2020). European position paper on rhinosinusitis and nasal polyps 2020. Rhinology, 58(Suppl S29), 1-464. https://doi.org/10.4193/Rhin20.600
Rosenfeld, R. M., Piccirillo, J. F., Chandrasekhar, S. S., Brook, I., Ashok Kumar, K., Kramper, M., Orlandi, R. R., Palmer, J. N., Patel, Z. M., Peters, A., Walsh, S. A., & Corrigan, M. D. (2015). Clinical practice guideline (update): Adult sinusitis. Otolaryngology–Head and Neck Surgery, 152(2 Suppl), S1-S39. https://doi.org/10.1177/0194599815572097
Wald, E. R., Applegate, K. E., Bordley, C., Darrow, D. H., Glode, M. P., Marcy, S. M., Nelson, C. E., Rosenfeld, R. M., Shaikh, N., Smith, M. J., Williams, P. V., & Weinberg, S. T. (2013). Clinical practice guideline for the diagnosis and management of acute bacterial sinusitis in children aged 1 to 18 years. Pediatrics, 132(1), e262-e280. https://doi.org/10.1542/peds.2013-1071
Ah-See, K. W., & Evans, A. S. (2007). Sinusitis and its management. BMJ, 334(7589), 358-361. https://doi.org/10.1136/bmj.39093.466065.BE
Ahovuo-Saloranta, A., Rautakorpi, U. M., Borisenko, O. V., Liira, H., Williams, J. W., & Mäkelä, M. (2014). Antibiotics for acute maxillary sinusitis in adults. Cochrane Database of Systematic Reviews, (2), CD000243. https://doi.org/10.1002/14651858.CD000243.pub3
King, D., Mitchell, B., Williams, C. P., & Spurling, G. K. (2015). Saline nasal irrigation for acute upper respiratory tract infections. Cochrane Database of Systematic Reviews, (4), CD006821. https://doi.org/10.1002/14651858.CD006821.pub3
Meltzer, E. O., Bachert, C., & Staudinger, H. (2005). Treating acute rhinosinusitis: Comparing efficacy and safety of mometasone furoate nasal spray, amoxicillin, and placebo. Journal of Allergy and Clinical Immunology, 116(6), 1289-1295. https://doi.org/10.1016/j.jaci.2005.08.044
Gwaltney, J. M., Scheld, W. M., Sande, M. A., & Sydnor, A. (1992). The microbial etiology and antimicrobial therapy of adults with acute community-acquired sinusitis: A fifteen-year experience at the University of Virginia and review of other selected studies. Journal of Allergy and Clinical Immunology, 90(3 Pt 2), 457-461. https://doi.org/10.1016/0091-6749(92)90177-2
Lemiengre, M. B., van Driel, M. L., Merenstein, D., Liira, H., Mäkelä, M., & De Sutter, A. I. (2018). Antibiotics for acute rhinosinusitis in adults. Cochrane Database of Systematic Reviews, (9), CD006089. https://doi.org/10.1002/14651858.CD006089.pub5

Tinggalkan komentar