Setiap tahun pada tanggal 16 November (atau hari Minggu ketiga di bulan November), dunia berhenti sejenak untuk memperingati World Day of Remembrance for Road Traffic Victims (Hari Peringatan Dunia untuk Korban Lalu Lintas Jalan Raya).
Ini bukan sekadar tanggal di kalender. Ini adalah hari untuk mengenang mereka yang perjalanannya berakhir tragis di jalan raya. Ini adalah hari untuk keluarga yang hidupnya berubah selamanya. Dan bagi kita di Indonesia, ini adalah momen untuk refleksi yang tajam: cermin dari kondisi jalanan kita dan ujian berat bagi sistem layanan kesehatan kita.
Tahun ini, mari kita tidak hanya menyalakan lilin. Mari kita audit kenyataan.
Cermin Buram di Aspal Indonesia
Kita tidak bisa lari dari data. Angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia sangat tinggi. Data dari Korlantas Polri menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2024 saja, terjadi lebih dari 220.000 kasus kecelakaan.
Ini bukan sekadar angka statistik. Di balik angka itu ada ratusan ribu keluarga yang terdampak.
Karakteristik kecelakaan di Indonesia pun khas:
- Dominasi Sepeda Motor: Sebagian besar insiden fatal melibatkan pengendara sepeda motor.
- Fatalitas Tinggi: Seringkali, kecelakaan di Indonesia bukan hanya “senggolan”, tapi insiden serius. Sebagai contoh, data regional di Bengkayang hingga Oktober 2025 menunjukkan dari 85 kasus, 30 orang meninggal dunia dan 57 mengalami luka berat. Ini adalah rasio fatalitas dan cedera serius yang sangat mengkhawatirkan.
Setiap kali sebuah insiden terjadi, sebuah hitungan mundur yang kritis dimulai. Hitungan mundur itu bernama: “The Golden Hour”.
Pertaruhan Nyawa di “Golden Hour”: Ujian bagi Layanan Kesehatan Kita
Di sinilah fokus kita beralih—dari aspal jalan ke pintu Unit Gawat Darurat (UGD). Kemampuan korban untuk bertahan hidup tidak hanya ditentukan oleh parahnya tabrakan, tetapi juga oleh kecepatan dan kualitas respons medis yang mereka terima.
Sayangnya, sistem layanan kesehatan kita menghadapi tantangan berlapis dalam menanggulangi korban laka lantas.
1. Tantangan Pra-Rumah Sakit: Menaklukkan Waktu
Golden hour (satu jam pertama setelah trauma) adalah periode emas di mana intervensi medis dapat secara drastis meningkatkan peluang bertahan hidup. Di Indonesia, jam emas ini seringkali “tercuri” oleh:
- Waktu Respons Ambulans: Kemacetan parah di kota besar atau jarak tempuh yang jauh di daerah terpencil menjadi penghalang utama.
- Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT): Meskipun kita memiliki SPGDT, koordinasi di lapangan antara masyarakat, polisi, dan ambulans seringkali belum mulus.
- Minimnya Pertolongan Pertama (P3K): Banyak masyarakat di lokasi kejadian yang ingin menolong, tetapi tidak memiliki pengetahuan P3K yang memadai untuk menstabilkan korban sebelum ambulans tiba.
2. Tantangan di Rumah Sakit: Triage, Identitas, dan Disparitas
Saat korban akhirnya tiba di UGD, pertarungan baru dimulai.
- Masalah Identitas: Salah satu tantangan unik dan krusial di Indonesia adalah banyaknya korban kecelakaan yang datang tanpa identitas. Ini bukan hanya masalah administratif; ini adalah masalah keselamatan pasien. Tanpa identitas, rumah sakit kesulitan melacak riwayat medis, alergi obat, atau bahkan menghubungi keluarga untuk persetujuan tindakan medis kritis.
- Disparitas Fasilitas: Kemampuan UGD di Jakarta tidak bisa disamakan dengan RSUD di kabupaten atau Puskesmas di daerah terpencil. Korban trauma berat seringkali membutuhkan spesialis bedah saraf, ortopedi, atau fasilitas CT scan yang lengkap.
- Sistem Rujukan yang Rumit: Jika rumah sakit pertama tidak mampu menangani, korban harus dirujuk. Proses rujukan ini adalah titik kritis lain yang memakan waktu berharga, menuntut koordinasi sempurna antar-fasilitas yang seringkali sulit dicapai.
Mengenang Bukan Sekadar Angka, Tapi Ajakan Bertindak
Di Hari Peringatan ini, mengenang para korban berarti kita berutang tindakan nyata kepada mereka. Kesedihan harus diubah menjadi kesadaran, dan kesadaran harus diubah menjadi aksi.
Apa yang bisa kita lakukan?
- Bagi Pengendara (Tindakan Individu):
- Ini adalah hal klise yang paling penting: Patuhi aturan. Gunakan helm SNI dengan benar, jangan bermain ponsel saat berkendara, dan jaga batas kecepatan. Ingat, Anda bukan hanya bertanggung jawab atas nyawa Anda, tapi juga nyawa orang lain.
- Bagi Masyarakat (Tindakan Komunitas):
- Belajar P3K: Ikuti pelatihan pertolongan pertama dasar. Mengetahui cara menangani pendarahan atau menstabilkan leher korban dapat menjadi pembeda antara hidup dan mati selagi menunggu ambulans.
- Beri Jalan untuk Ambulans: Setiap detik sangat berharga. Menepilah dan berikan jalan. Sirene itu bukan sekadar kebisingan, itu adalah tanda pertaruhan nyawa.
- Bagi Sistem (Tindakan Struktural):
- Perkuat SPGDT: Koordinasi antara kepolisian, layanan ambulans (118/119), dan UGD rumah sakit harus ditingkatkan. Waktu respons harus menjadi Indikator Kinerja Utama (IKU) yang diawasi ketat.
- Permudah Identifikasi: Rumah sakit dan pihak berwenang perlu sistem yang lebih baik untuk mengidentifikasi korban tanpa identitas secara cepat, mungkin dengan integrasi data biometrik, untuk mempercepat penanganan medis.
Penutup
Hari ini, kita menundukkan kepala untuk mereka yang tidak pernah sampai ke tujuan.
Tapi besok, kita harus mengangkat kepala dan bekerja lebih keras. Jalan raya adalah urat nadi bangsa, ia tidak seharusnya menjadi tempat kita kehilangan generasi penerus. Semoga setiap perjalanan kita berakhir dengan selamat di rumah.

Tinggalkan komentar