Pendahuluan
Penemuan bakteri dalam spesimen urine seringkali memicu kekhawatiran dan dorongan untuk segera memberikan terapi antibiotik. Namun, dalam praktik kedokteran berbasis bukti terkini, keberadaan bakteri dalam urine tanpa disertai gejala klinis infeksi saluran kemih—yang dikenal sebagai bakteriuria asimptomatik—tidak selalu memerlukan intervensi antimikroba, terutama pada populasi lanjut usia. Pemahaman yang tepat mengenai konsep ini menjadi sangat penting dalam era pengendalian resistensi antimikroba, mengingat penggunaan antibiotik yang tidak tepat berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya beban resistensi antimikroba global.
Definisi dan Prevalensi Bakteriuria Asimptomatik
Bakteriuria asimptomatik didefinisikan sebagai kondisi ditemukannya pertumbuhan bakteri signifikan dalam kultur urine (umumnya ≥10⁵ CFU/mL) pada pasien yang tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi saluran kemih. Berbeda dengan infeksi saluran kemih simptomatik yang ditandai dengan disuria, urgensi berkemih, frekuensi berkemih meningkat, nyeri suprapubik, atau demam, bakteriuria asimptomatik tidak menimbulkan keluhan subjektif maupun manifestasi klinis objektif yang mengarah pada infeksi aktif.
Prevalensi bakteriuria asimptomatik sangat bervariasi bergantung pada karakteristik populasi. Pada populasi lanjut usia, prevalensi bakteriuria asimptomatik mengalami peningkatan yang bermakna. Berdasarkan pedoman World Health Organization (WHO) dalam dokumen AWaRe Antibiotic Book, kolonisasi bakteri pada urine merupakan temuan yang sangat umum, terutama pada perempuan, lansia dari kedua jenis kelamin, dan individu dengan kelainan urologi yang mendasari. Fenomena ini mencerminkan perubahan fisiologis yang terjadi seiring bertambahnya usia, termasuk perubahan anatomi saluran kemih, penurunan fungsi imunitas lokal, dan peningkatan komorbiditas yang mempengaruhi mekanisme pertahanan host.
Patofisiologi Bakteriuria Asimptomatik pada Lansia
Untuk memahami mengapa bakteriuria asimptomatik tidak memerlukan terapi antibiotik, penting untuk terlebih dahulu memahami patofisiologi yang mendasarinya. Pada populasi lanjut usia, terjadi berbagai perubahan anatomi dan fisiologi sistem genitourinaria yang meningkatkan risiko kolonisasi bakteri tanpa menimbulkan infeksi klinis. Perubahan tersebut meliputi penurunan elastisitas kandung kemih, gangguan pengosongan kandung kemih yang sempurna, perubahan komposisi mukosa saluran kemih, dan penurunan produksi substansi antimikroba endogen seperti immunoglobulin A sekretori.
Kolonisasi bakteri pada saluran kemih bagian bawah tidak selalu bermakna patologis. Dalam kondisi bakteriuria asimptomatik, bakteri yang mengkolonisasi saluran kemih umumnya memiliki virulensi rendah dan tidak memicu respons inflamasi yang cukup untuk menimbulkan gejala klinis. Sistem imun lokal mampu mencapai keseimbangan dengan mikroorganisme kolonisasi, sehingga tidak terjadi invasi jaringan yang lebih dalam atau respons sistemik yang bermakna. Keseimbangan ekologis ini sebenarnya dapat bersifat protektif, karena bakteri kolonisasi dengan virulensi rendah dapat mencegah kolonisasi oleh patogen yang lebih virulen melalui mekanisme kompetisi nutrisi dan tempat perlekatan pada epitel saluran kemih.
Bukti Ilmiah: Mengapa Bakteriuria Asimptomatik Tidak Memerlukan Antibiotik
Paradigma terkini dalam tata laksana bakteriuria asimptomatik sangat jelas menyatakan bahwa kondisi ini tidak memerlukan terapi antibiotik, kecuali pada kondisi khusus yang sangat spesifik. Prinsip ini didukung oleh bukti ilmiah yang kuat dan telah diadopsi oleh berbagai pedoman internasional terkemuka.
Pedoman Organisasi Kesehatan Dunia
Berdasarkan WHO AWaRe Antibiotic Book yang merupakan pedoman global untuk penggunaan antibiotik yang rasional, dinyatakan dengan tegas bahwa kultur urine positif pada pasien asimptomatik mengindikasikan kolonisasi bakteri dan tidak memerlukan pengobatan, kecuali pada ibu hamil atau pada pasien yang akan menjalani prosedur urologi invasif di mana perdarahan diantisipasi. Pedoman ini menekankan bahwa leukosituria atau keberadaan leukosit esterase positif tanpa gejala klinis juga bukan merupakan indikasi untuk terapi antibiotik.
Rekomendasi ini didasarkan pada pemahaman bahwa bakteriuria asimptomatik merupakan kondisi kolonisasi, bukan infeksi. Kolonisasi bakteri tanpa invasi jaringan dan tanpa respons inflamasi yang bermakna tidak memerlukan eradikasi melalui antibiotik. Pemberian antibiotik pada kondisi bakteriuria asimptomatik justru dapat menimbulkan kerugian yang lebih besar daripada manfaat yang diperoleh.
Pedoman Centers for Disease Control and Prevention
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dalam dokumen Core Elements of Hospital Antibiotic Stewardship Programs menegaskan pentingnya menghindari kultur urine yang tidak diperlukan untuk memastikan bahwa kultur positif lebih mungkin merepresentasikan infeksi daripada kolonisasi kandung kemih. CDC merekomendasikan untuk menghindari terapi antibiotik pada bakteriuria asimptomatik kecuali pada kondisi klinis tertentu seperti ibu hamil atau pasien yang akan menjalani prosedur genitourinaria invasif.
CDC juga menekankan pentingnya menetapkan kriteria yang jelas untuk membedakan antara bakteriuria asimptomatik dan bakteriuria simptomatik. Pada pasien lansia dengan gejala urinarius pre-eksisting, gejala yang paling dapat diandalkan untuk mengindikasikan infeksi adalah perubahan akut pada pola berkemih dibandingkan dengan kondisi dasar pasien. Gejala nonspesifik seperti delirium, mual, dan muntah harus diinterpretasikan dengan hati-hati karena memiliki spesifisitas yang rendah untuk infeksi saluran kemih pada populasi lansia.
Evidensi dari Penelitian Ilmiah Terkini
Penelitian terkini yang dipublikasikan dalam jurnal internasional terindeks memberikan dukungan kuat terhadap prinsip tidak memberikan antibiotik pada bakteriuria asimptomatik. Berdasarkan artikel yang dipublikasikan dalam Infection, Disease & Health pada tahun 2025, ditemukan bahwa sebagian besar kasus bakteriuria pada pasien rawat inap merupakan bakteriuria asimptomatik, namun masih banyak terjadi overprescribing antibiotik yang tidak tepat dengan durasi terapi yang berkepanjangan (DOI: 10.1016/j.idh.2025.04.003). Temuan ini menggarisbawahi pentingnya implementasi program antimicrobial stewardship untuk mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak rasional pada bakteriuria asimptomatik.
Studi retrospektif yang dipublikasikan dalam World Journal of Urology tahun 2025 menunjukkan bahwa pada pasien yang menjalani pemeriksaan urodinamik, pasien dengan bakteriuria asimptomatik yang menerima terapi antibiotik selama 3 hari tidak menunjukkan perbedaan bermakna dalam angka kejadian infeksi saluran kemih pasca prosedur dibandingkan dengan pendekatan profilaksis yang lebih selektif (DOI: 10.1007/s00345-025-05979-6). Hal ini memperkuat konsep bahwa eradikasi bakteriuria asimptomatik tidak memberikan manfaat klinis yang signifikan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Infection tahun 2025 pada populasi pasien transplantasi ginjal menunjukkan perubahan paradigma penting dalam protokol terapi, termasuk pergeseran dari praktik mengobati bakteriuria asimptomatik menjadi pendekatan yang lebih konservatif (DOI: 10.1007/s15010-025-02493-0). Perubahan kebijakan ini didasarkan pada bukti bahwa pengobatan bakteriuria asimptomatik tidak mencegah komplikasi jangka panjang dan justru meningkatkan risiko resistensi antimikroba.
Alasan Mendasar: Mengapa Antibiotik Tidak Diperlukan
Terdapat beberapa alasan fundamental mengapa bakteriuria asimptomatik pada lansia tidak memerlukan terapi antibiotik, dan setiap alasan ini didukung oleh pemahaman mendalam tentang mikrobiologi, farmakologi, dan prinsip stewardship antimikroba.
Tidak Ada Manfaat Klinis yang Terbukti
Penelitian-penelitian berkualitas tinggi telah secara konsisten menunjukkan bahwa pemberian antibiotik pada bakteriuria asimptomatik tidak memberikan manfaat klinis yang bermakna. Eradikasi bakteri dari urine pada pasien tanpa gejala tidak mengurangi risiko berkembangnya infeksi saluran kemih simptomatik di masa mendatang, tidak mencegah komplikasi sistemik seperti bakteremia atau sepsis, dan tidak memperbaiki luaran kesehatan pasien secara keseluruhan.
Pada populasi lansia, pengobatan bakteriuria asimptomatik bahkan tidak terbukti mengurangi morbiditas atau mortalitas. Studi-studi menunjukkan bahwa lansia dengan bakteriuria asimptomatik yang tidak diobati memiliki prognosis yang tidak berbeda dengan mereka yang menerima terapi antibiotik. Hal ini disebabkan karena bakteriuria asimptomatik merupakan kolonisasi fisiologis yang telah mencapai keseimbangan dengan sistem pertahanan tubuh host, bukan suatu kondisi patologis yang memerlukan intervensi farmakologis.
Risiko Efek Samping Antibiotik
Setiap pemberian antibiotik memiliki risiko efek samping yang perlu dipertimbangkan dalam konteks analisis risiko-manfaat. Pada populasi lanjut usia, risiko efek samping antibiotik menjadi lebih signifikan karena berbagai faktor seperti penurunan fungsi ginjal, polifarmasi, dan peningkatan sensitivitas terhadap efek samping obat.
Efek samping yang mungkin timbul dari pemberian antibiotik tidak diperlukan meliputi gangguan gastrointestinal seperti mual, muntah, dan diare yang dapat menyebabkan dehidrasi dan gangguan elektrolit pada lansia. Antibiotik spektrum luas dapat menimbulkan kolitis pseudomembranosa yang disebabkan oleh infeksi Clostridioides difficile, suatu komplikasi serius yang meningkatkan mortalitas pada populasi geriatri. Selain itu, penggunaan antibiotik tertentu seperti fluorokuinolon telah dikaitkan dengan peningkatan risiko tendinopati, neuropati perifer, dan gangguan pada sistem saraf pusat terutama pada lansia.
Risiko reaksi alergi dan hipersensitivitas obat juga perlu dipertimbangkan. Reaksi alergi dapat berkisar dari ruam kulit ringan hingga reaksi anafilaksis yang mengancam jiwa. Pada lansia dengan riwayat alergi antibiotik yang tidak terdokumentasi dengan baik, pemberian antibiotik yang tidak diperlukan dapat mengekspos pasien pada risiko yang tidak perlu.
Dampak terhadap Resistensi Antimikroba
Resistensi antimikroba merupakan salah satu ancaman kesehatan global terbesar pada abad ke-21. Berdasarkan data dari Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Sektor Kesehatan Indonesia tahun 2025-2029 yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, situasi resistensi antimikroba di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Data dari 20 rumah sakit sentinel menunjukkan bahwa pada tahun 2021, sekitar 38% isolat Staphylococcus aureus dalam darah resisten terhadap metisilin, dan sekitar 71% isolat Escherichia coli resisten terhadap sefalosporin generasi ketiga.
Setiap paparan antibiotik yang tidak perlu berkontribusi terhadap seleksi dan proliferasi bakteri resisten. Ketika antibiotik diberikan pada bakteriuria asimptomatik, tekanan selektif yang ditimbulkan oleh antibiotik dapat mengakibatkan eliminasi bakteri yang sensitif dan memfasilitasi pertumbuhan strain yang resisten. Bakteri resisten ini kemudian dapat mengkolonisasi tidak hanya saluran kemih tetapi juga saluran pencernaan dan kulit, membentuk reservoir resistensi pada individu tersebut.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada individu yang bersangkutan tetapi juga pada populasi yang lebih luas. Bakteri resisten dapat ditransmisikan antar individu melalui kontak langsung atau melalui kontaminasi lingkungan, terutama di fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan panti jompo. Penyebaran bakteri resisten secara horizontal ini mengamplifikasi masalah resistensi antimikroba di tingkat komunitas dan institusi.
Dampak jangka panjang dari resistensi antimikroba sangat serius. Infeksi oleh bakteri resisten lebih sulit diobati, memerlukan antibiotik lini kedua atau ketiga yang umumnya lebih toksik dan mahal, meningkatkan durasi rawat inap, dan meningkatkan mortalitas. Dalam konteks bakteriuria asimptomatik, pemberian antibiotik yang tidak perlu hari ini dapat menyebabkan kegagalan terapi antibiotik pada infeksi yang sebenarnya memerlukan pengobatan di masa mendatang.
Disrupsi Mikrobiota Normal
Mikrobiota normal saluran kemih dan saluran pencernaan memainkan peran penting dalam mempertahankan kesehatan dan mencegah kolonisasi oleh patogen. Pemberian antibiotik sistemik tidak hanya mempengaruhi bakteri target di saluran kemih tetapi juga menimbulkan efek kolateral yang luas terhadap mikrobiota normal di berbagai situs tubuh, terutama saluran pencernaan.
Disrupsi mikrobiota usus oleh antibiotik dapat menimbulkan berbagai konsekuensi kesehatan. Mikrobiota usus yang sehat berperan dalam sintesis vitamin, metabolisme nutrisi, modulasi sistem imun, dan proteksi terhadap kolonisasi patogen melalui mekanisme resistensi kolonisasi. Ketika antibiotik mengeliminasi bakteri komensal yang bermanfaat, niche ekologis yang kosong dapat diisi oleh mikroorganisme patogen oportunistik.
Pada populasi lansia, pemulihan mikrobiota setelah paparan antibiotik seringkali lebih lambat dan mungkin tidak lengkap. Perubahan komposisi mikrobiota yang persisten dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi berulang, tidak hanya di saluran kemih tetapi juga di lokasi lain. Fenomena ini menciptakan siklus yang merugikan di mana pengobatan antibiotik yang tidak perlu justru meningkatkan risiko infeksi di masa mendatang.
Kondisi Khusus: Pengecualian Terhadap Prinsip Umum
Meskipun prinsip umum menyatakan bahwa bakteriuria asimptomatik tidak memerlukan antibiotik, terdapat dua kondisi khusus yang merupakan pengecualian dan memerlukan pertimbangan terapi antimikroba.
Kehamilan
Ibu hamil dengan bakteriuria asimptomatik memerlukan terapi antibiotik karena berbagai penelitian telah menunjukkan asosiasi antara bakteriuria asimptomatik yang tidak diobati dengan peningkatan risiko pielonefritis akut, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah. Berdasarkan tinjauan yang dipublikasikan dalam Clinical Microbiology and Infection tahun 2022, terdapat bukti kualitas rendah hingga sedang yang menunjukkan bahwa pengobatan bakteriuria asimptomatik pada kehamilan menghasilkan reduksi insiden kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah (DOI: 10.1016/j.cmi.2022.08.015).
Namun demikian, pedoman terkini merekomendasikan pendekatan skrining tunggal pada trimester pertama kehamilan dengan kultur urine. Jika hasil kultur positif menunjukkan bakteriuria asimptomatik, terapi antibiotik yang dipilih sebaiknya adalah beta-laktam, nitrofurantoin, atau fosfomisin dengan durasi pendek. Pemilihan antibiotik harus mempertimbangkan profil keamanan pada kehamilan dan pola resistensi lokal.
Penting untuk dicatat bahwa beberapa penelitian terkini mulai mempertanyakan manfaat universal dari pendekatan skrining dan terapi bakteriuria asimptomatik pada kehamilan. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa bukti asosiasi antara bakteriuria asimptomatik yang tidak diobati dengan pielonefritis akut tidak sekuat yang sebelumnya diasumsikan. Namun, sampai tersedia bukti yang lebih konklusif, rekomendasi untuk mengobati bakteriuria asimptomatik pada kehamilan masih dipertahankan mengingat potensi konsekuensi serius yang mungkin timbul.
Prosedur Urologi Invasif
Pasien yang akan menjalani prosedur urologi invasif di mana perdarahan mukosa diantisipasi merupakan pengecualian lain terhadap prinsip tidak mengobati bakteriuria asimptomatik. Prosedur seperti reseksi transuretra prostat, litotripsi, atau biopsi ginjal dapat menyebabkan bakteremia transien ketika bakteri yang mengkolonisasi saluran kemih memasuki aliran darah melalui mukosa yang mengalami trauma.
Penelitian yang dipublikasikan dalam The French Journal of Urology tahun 2024 mengevaluasi praktik pemberian antibiotik preoperatif untuk bakteriuria sebelum prosedur urologi (DOI: 10.1016/j.fjurol.2024.102745). Penelitian ini menekankan bahwa tujuan terapi antibiotik preoperatif adalah sterilisasi urine bukan pengobatan parenkim, dan pemilihan antibiotik yang tepat berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas sangat penting untuk mengurangi tekanan selektif dan resistensi antimikroba.
Pada konteks ini, pemberian antibiotik profilaksis atau terapi antibiotik jangka pendek sebelum prosedur bertujuan untuk mengurangi risiko bakteremia dan sepsis pasca prosedur. Pemilihan antibiotik harus disesuaikan dengan hasil kultur urine dan uji sensitivitas, dan durasi terapi sebaiknya dibatasi hingga maksimal 48 jam pasca prosedur kecuali terdapat indikasi klinis untuk perpanjangan.
Implikasi terhadap Program Pengendalian Resistensi Antimikroba
Penerapan prinsip tidak mengobati bakteriuria asimptomatik merupakan salah satu komponen penting dalam program Antimicrobial Stewardship atau Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di fasilitas kesehatan. Berdasarkan pedoman yang diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia (PERDALIN), interpretasi hasil kultur mikrobiologi dan uji kepekaan antibiotik tidak selalu sederhana dan memerlukan pertimbangan kondisi klinis pasien secara individual.
PERDALIN menekankan bahwa ekspertise dalam interpretasi hasil pemeriksaan kultur dan sensitivitas antibiotik harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, terapi antibiotik yang sudah diberikan dan respons klinis yang terjadi, kompetensi sistem imun penderita, karakteristik epidemiologi setempat, dan kondisi spesimen pemeriksaan. Dalam konteks bakteriuria asimptomatik, hasil kultur positif harus selalu dikorelasikan dengan ada tidaknya gejala klinis sebelum keputusan terapi dibuat.
Program PPRA di rumah sakit perlu mengimplementasikan strategi untuk mengurangi permintaan kultur urine yang tidak diperlukan dan untuk mencegah pengobatan bakteriuria asimptomatik yang tidak tepat. Strategi tersebut dapat meliputi penetapan kriteria klinis yang jelas untuk permintaan kultur urine, edukasi berkelanjutan kepada tenaga kesehatan tentang perbedaan antara kolonisasi dan infeksi, audit dan umpan balik terhadap praktik peresepan antibiotik, serta penggunaan sistem peringatan dalam rekam medis elektronik untuk mengidentifikasi kasus bakteriuria asimptomatik yang tidak memerlukan terapi.
Tantangan dalam Implementasi
Meskipun bukti ilmiah sangat jelas mendukung prinsip tidak mengobati bakteriuria asimptomatik, implementasi prinsip ini dalam praktik klinis sehari-hari menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah ekspektasi pasien dan keluarga yang seringkali menganggap bahwa setiap hasil laboratorium abnormal memerlukan pengobatan. Edukasi pasien dan keluarga tentang perbedaan antara kolonisasi dan infeksi menjadi sangat penting.
Tantangan lain adalah kekhawatiran klinis tentang potensi progresivitas dari bakteriuria asimptomatik menjadi infeksi simptomatik. Meskipun kekhawatiran ini dapat dipahami, bukti ilmiah menunjukkan bahwa mayoritas kasus bakteriuria asimptomatik tidak berkembang menjadi infeksi simptomatik, dan bahwa pengobatan profilaktik tidak efektif mencegah progresivitas tersebut. Observasi klinis yang cermat dan edukasi kepada pasien tentang gejala-gejala yang harus diwaspadai lebih bermanfaat daripada pemberian antibiotik profilaktik.
Di fasilitas kesehatan, tekanan untuk memberikan antibiotik seringkali berasal dari berbagai sumber termasuk kebijakan institusional yang belum diperbarui, kurangnya waktu untuk edukasi pasien yang komprehensif, dan kekhawatiran medikolegal. Untuk mengatasi tantangan-tantangan ini, diperlukan komitmen institusional yang kuat terhadap program stewardship antimikroba, dukungan dari pimpinan klinis, dan ketersediaan protokol klinis berbasis bukti yang jelas.
Rekomendasi Praktis untuk Tenaga Kesehatan
Berdasarkan bukti ilmiah dan pedoman internasional yang telah diuraikan, berikut adalah rekomendasi praktis untuk tenaga kesehatan dalam mengelola bakteriuria asimptomatik pada populasi lanjut usia.
Pertama, hindari melakukan kultur urine kecuali terdapat indikasi klinis yang jelas berupa gejala dan tanda infeksi saluran kemih. Kultur urine pada pasien tanpa gejala akan sering menghasilkan hasil positif yang tidak memerlukan pengobatan, namun dapat memicu cascade terapi yang tidak perlu. Jika kultur urine telah dilakukan dan menunjukkan pertumbuhan bakteri pada pasien asimptomatik, langkah selanjutnya adalah evaluasi klinis yang cermat untuk memastikan tidak adanya gejala infeksi.
Kedua, pada pasien lansia dengan gejala nonspesifik seperti perubahan status mental atau kelemahan umum, hindari atribusi gejala tersebut kepada bakteriuria tanpa evaluasi menyeluruh untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab lain yang lebih mungkin. Gejala nonspesifik pada lansia dapat disebabkan oleh berbagai kondisi medis, dan bakteriuria asimptomatik yang kebetulan ditemukan tidak boleh menjadi penyebab gejala secara otomatis.
Ketiga, apabila terdapat keraguan tentang ada tidaknya gejala infeksi saluran kemih pada lansia, observasi klinis dengan monitoring ketat lebih direkomendasikan dibandingkan pemberian antibiotik empiris. Evolusi gejala dalam 24-48 jam dapat membantu membedakan antara bakteriuria asimptomatik dengan infeksi saluran kemih awal yang masih belum menunjukkan gejala khas.
Keempat, dokumentasikan dengan jelas dalam rekam medis ketika keputusan untuk tidak memberikan antibiotik pada bakteriuria asimptomatik telah dibuat. Dokumentasi ini penting untuk komunikasi antar tenaga kesehatan dan untuk menghindari inisiasi terapi antibiotik oleh klinisi lain yang mungkin mereview hasil laboratorium tanpa mengetahui konteks klinis lengkap.
Kelima, edukasi pasien dan keluarga tentang konsep bakteriuria asimptomatik sebagai kondisi kolonisasi normal yang tidak memerlukan pengobatan. Jelaskan bahwa tidak memberikan antibiotik pada kondisi ini merupakan praktik medis terbaik berdasarkan bukti ilmiah, bukan kelalaian atau kurangnya perhatian medis.
Penutup
Bakteriuria asimptomatik pada populasi lanjut usia merupakan kondisi kolonisasi fisiologis yang umum terjadi dan tidak memerlukan terapi antibiotik pada sebagian besar kasus. Prinsip ini didukung oleh bukti ilmiah yang kuat dari berbagai penelitian berkualitas tinggi dan telah diadopsi oleh pedoman internasional terkemuka termasuk WHO, CDC, dan berbagai organisasi profesi medis.
Pemberian antibiotik pada bakteriuria asimptomatik tidak memberikan manfaat klinis yang terbukti, namun mengekspos pasien pada risiko efek samping antibiotik, berkontribusi terhadap resistensi antimikroba global, dan mengganggu keseimbangan mikrobiota normal. Pengecualian terhadap prinsip ini hanya berlaku pada ibu hamil dan pasien yang akan menjalani prosedur urologi invasif dengan antisipasi perdarahan mukosa.
Implementasi prinsip tidak mengobati bakteriuria asimptomatik merupakan bagian integral dari program pengendalian resistensi antimikroba dan memerlukan komitmen dari seluruh tenaga kesehatan, dukungan institusional, serta edukasi berkelanjutan kepada pasien dan keluarga. Dengan penerapan prinsip ini secara konsisten, kita dapat berkontribusi pada upaya global untuk memerangi resistensi antimikroba sekaligus memberikan pelayanan kesehatan yang optimal dan berbasis bukti terkini kepada populasi lanjut usia.
Referensi
- World Health Organization. (2023). The WHO AWaRe (Access, Watch, Reserve) Antibiotic Book. WHO Press.
- World Health Organization. (2023). Buku Antibiotik WHO AWaRe (Access, Watch, Reserve) – Edisi Bahasa Indonesia. WHO Press.
- Centers for Disease Control and Prevention. Core Elements of Hospital Antibiotic Stewardship Programs. CDC.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Strategi Nasional Pengendalian Resistensi Antimikroba Sektor Kesehatan Tahun 2025-2029. Jakarta: Kemenkes RI.
- Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia (PERDALIN). (2021). Peranan Dokter Spesialis Patologi Klinik dalam Penerapan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit.
- Alghamdi, A. (2025). Evaluating antibiotic prescribing practices for patients with asymptomatic bacteriuria in Saudi Arabia: The need for stewardship initiatives. Infection, Disease & Health, 30(4), 322-326. DOI: 10.1016/j.idh.2025.04.003
- Schwarztuch Gildor, O., et al. (2025). Does SUFU’s best practice policy statement regarding antibiotic prophylaxis predict urinary tract infection after urodynamic study? Evidence from a retrospective cohort. World Journal of Urology, 43(1), 596. DOI: 10.1007/s00345-025-05979-6
- Weber, P., et al. (2025). Antibiotic resistance of urinary pathogens after kidney transplantation: a 10-year single-center survey in Germany. Infection, 53(5), 1755-1768. DOI: 10.1007/s15010-025-02493-0
- Garnier, T., et al. (2024). Appropriate antimicrobial prescribing for bacteriuria before urological procedures: A room for improvement. The French Journal of Urology, 34(13), 102745. DOI: 10.1016/j.fjurol.2024.102745
- Ansaldi, Y., & Martinez de Tejada Weber, B. (2022). Urinary tract infections in pregnancy. Clinical Microbiology and Infection, 29(10), 1249-1253. DOI: 10.1016/j.cmi.2022.08.015
- Koucky, M., et al. (2020). A global perspective on management of bacterial infections in pregnancy: a systematic review of international guidelines. The Journal of Maternal-Fetal & Neonatal Medicine, 35(19), 3751-3760. DOI: 10.1080/14767058.2020.1839879
- Germano, C., et al. (2022). Maternal Origins of Neonatal Infections: What Do Obstetrician-Gynecologist Should/Could Do? American Journal of Perinatology, 39(S01), S31-S41. DOI: 10.1055/s-0042-1758858
Artikel ini disusun berdasarkan pedoman global terpercaya dan jurnal kedokteran internasional terindeks PubMed/SCOPUS, serta publikasi organisasi kesehatan Indonesia termasuk Kementerian Kesehatan RI dan PERDALIN, dengan tujuan memberikan informasi berbasis bukti untuk praktik klinis yang optimal.

Tinggalkan komentar